Dari manakah sebenarnya Islam pertama kali datang ke Nusantara?
Apakah langsung dari Jazirah Arab?
Ataukah melalui Gujarat, Coromandel, Malabar, Bengal, atau bahkan wilayah lain di Anak Benua India?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sejak lama menjadi bahan perdebatan para sejarawan. Setidaknya ada tiga persoalan pokok yang terus dikaji, yaitu: dari mana sumber kedatangan Islam, siapa pembawanya, dan kapan proses Islamisasi itu dimulai.
Namun, mengapa hingga kini belum ada kesepakatan?
Karena setiap teori umumnya hanya menyoroti satu sisi persoalan, sementara proses Islamisasi Nusantara berlangsung sangat panjang, melibatkan banyak pelaku, berbagai jalur perdagangan, serta terjadi dalam beberapa gelombang. Akibatnya, tidak satu pun teori mampu menjelaskan seluruh kompleksitas sejarah tersebut secara utuh.
Teori Gujarat
Salah satu teori yang paling terkenal adalah Teori Gujarat.
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh orientalis Belanda Pijnappel dari Universitas Leiden. Menurutnya, Islam datang ke Nusantara melalui kawasan Gujarat dan Malabar di India. Alasannya, banyak pedagang Arab bermazhab Syafi'i telah bermukim di wilayah-wilayah tersebut sebelum melanjutkan pelayaran ke Kepulauan Melayu. Dari sanalah, menurut Pijnappel, Islam kemudian dibawa ke Nusantara.
Apakah teori ini kemudian diterima begitu saja?
Tidak.
Snouck Hurgronje merevisi pandangan tersebut. Menurutnya, setelah Islam berkembang pesat di kota-kota pelabuhan India Selatan, para pedagang Muslim setempat menjadi penghubung perdagangan antara Timur Tengah dan Nusantara. Mereka dipandang sebagai penyebar Islam pertama, kemudian disusul para ulama dan keturunan Nabi Muhammad ï·º yang bergelar Sayyid atau Syarif yang memperkuat dakwah Islam.
Snouck juga memperkirakan bahwa proses Islamisasi Nusantara mulai berlangsung sekitar abad ke-12 Masehi.
Bukti Batu Nisan
Lalu, bukti apa yang sering digunakan untuk mendukung Teori Gujarat?
Sejarawan Belanda J. P. Moquette mengemukakan bahwa batu nisan Sultan Malik al-Shalih di Pasai memiliki kemiripan dengan batu nisan Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Bahkan, keduanya dianggap serupa dengan batu nisan dari Cambay, Gujarat.
Dari temuan itu, Moquette berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor dari Gujarat. Kemudian ia menarik kesimpulan lebih jauh bahwa apabila batu nisannya berasal dari Gujarat, maka Islam pun pasti berasal dari wilayah yang sama.
Sekilas logika ini tampak sederhana.
Namun, apakah kesimpulan seperti itu cukup kuat?
Belum tentu.
Mengimpor batu nisan tidak otomatis berarti mengimpor agama. Barang dagangan dapat berasal dari satu tempat, sedangkan ide, keyakinan, dan dakwah dapat datang melalui jalur yang berbeda.
Kritik terhadap Teori Gujarat
Karena itulah, S. Q. Fatimi mengkritik keras pendapat Moquette.
Menurut hasil penelitiannya, batu nisan Sultan Malik al-Shalih justru lebih mirip dengan batu nisan dari Bengal (kini Bangladesh), bukan Gujarat.
Berdasarkan temuan tersebut, Fatimi kemudian mengajukan teori baru bahwa Islam di Nusantara berasal dari Bengal.
Menariknya, Fatimi menggunakan pola penalaran yang hampir sama dengan Moquette. Jika Moquette menyimpulkan asal Islam dari Gujarat berdasarkan batu nisan, Fatimi menarik kesimpulan serupa tetapi mengarah ke Bengal.
Hal ini menunjukkan bahwa bukti arkeologis berupa batu nisan saja belum cukup untuk menentukan asal-usul Islamisasi Nusantara secara pasti.
Dukungan terhadap Teori Gujarat
Walaupun mendapat kritik, Teori Gujarat tetap memperoleh banyak pendukung.
Di antaranya adalah Kein, William Winstedt, Bousquet, Vlekke, Gonda, Schrieke, dan Hall.
William Winstedt, misalnya, menunjukkan adanya batu nisan serupa di Bruas, Perak, Semenanjung Malaya. Ia juga mengutip Sejarah Melayu yang menyebutkan adanya kebiasaan masyarakat Melayu mengimpor batu nisan dari India.
Sementara itu, Schrieke lebih menekankan peran penting para pedagang Muslim Gujarat dalam jaringan perdagangan internasional. Menurutnya, hubungan dagang yang intens menjadi jalur efektif bagi penyebaran Islam.
Kritik Morrison
Apakah semua sejarawan menerima teori tersebut?
Tidak.
G. E. Morrison mengajukan kritik yang cukup mendasar.
Menurutnya, meskipun beberapa batu nisan memang berasal dari Gujarat, hal itu tidak membuktikan bahwa Islam juga berasal dari sana.
Ia mengemukakan fakta sejarah yang menarik.
Ketika Sultan Malik al-Shalih wafat pada tahun 698 H/1297 M, Gujarat sendiri masih berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu yang belum sepenuhnya menjadi pusat dakwah Islam.
Wilayah Cambay baru benar-benar dikuasai oleh kaum Muslim sekitar tahun 699 H/1298 M.
Karena itu, Morrison mempertanyakan:
Bagaimana mungkin Gujarat menjadi pusat penyebaran Islam ke Nusantara jika pada saat yang sama wilayah itu sendiri belum sepenuhnya berada di bawah pemerintahan Islam?
Atas dasar itulah Morrison berpendapat bahwa para penyebar Islam lebih mungkin berasal dari Coromandel di pesisir timur India pada akhir abad ke-13.
Pendapat Thomas W. Arnold
Pandangan Morrison ternyata sejalan dengan pendapat Thomas W. Arnold.
Arnold berpendapat bahwa Islam datang ke Nusantara melalui Coromandel dan Malabar.
Apa alasannya?
Ia melihat adanya kesamaan mazhab.
Mayoritas Muslim Nusantara menganut mazhab Syafi'i, demikian pula masyarakat Muslim di Coromandel dan Malabar. Kesamaan ini diperkuat oleh catatan perjalanan Ibnu Battutah yang menyaksikan kuatnya mazhab Syafi'i di kawasan tersebut.
Selain itu, para pedagang dari Coromandel dan Malabar diketahui aktif berdagang ke berbagai pelabuhan Nusantara. Mereka bukan hanya membawa komoditas perdagangan, tetapi juga memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat.
Refleksi
Lalu, teori manakah yang paling benar?
Hingga kini belum ada jawaban yang benar-benar final.
Setiap teori memiliki data pendukung sekaligus kelemahannya masing-masing.
Karena itu, banyak sejarawan modern cenderung memandang bahwa Islamisasi Nusantara merupakan proses yang berlangsung melalui banyak jalur sekaligus. Pedagang Arab, Persia, Gujarat, Coromandel, Malabar, dan berbagai kawasan lain kemungkinan sama-sama berkontribusi dalam penyebaran Islam sesuai ruang dan waktunya masing-masing.
Dengan demikian, perdebatan tentang asal-usul Islam di Nusantara bukan sekadar mencari satu titik asal, melainkan memahami bagaimana jaringan perdagangan, dakwah, budaya, dan interaksi antarmasyarakat membentuk proses Islamisasi yang berlangsung selama berabad-abad hingga akhirnya melahirkan peradaban Islam yang berkembang luas di Kepulauan Nusantara.
0 komentar: