basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Dunia yang Sedang Bingung: Mengapa Kita Membutuhkan 'Poros Tetap' di Tengah Arus Perubahan? ...


Dunia yang Sedang Bingung: Mengapa Kita Membutuhkan 'Poros Tetap' di Tengah Arus Perubahan?

Dalam kebingungan akal dan kelelahan saraf yang melanda peradaban modern, manusia sering kali merasa seperti kehilangan pijakan di atas tanah yang terus bergeser. Ketidakpastian bukan lagi sekadar bumbu kehidupan, melainkan beban yang menyesakkan hati nurani. 

Namun, bagi mereka yang bersedia merenung dengan jernih, kegelisahan ini hanyalah manifestasi dari sebuah hakikat abadi yang melampaui sekat waktu dan tempat. Di tengah riuhnya klaim kemajuan, hidup pada dasarnya hanya berpijak pada dua keadaan mutlak: petunjuk atau kesesatan, kebenaran atau kebatilan, cahaya atau kegelapan.

Premis utama ini mengingatkan kita bahwa di balik kompleksitas dunia yang tampak abu-abu, selalu ada garis batas yang tegas bagi jiwa yang mencari kedamaian sejati.


Paradoks Dua Pilihan: Antara Syariat dan Hawa Nafsu

Islam menawarkan sebuah perspektif yang melampaui relativitas zaman. Di dalamnya, tidak ada ruang bagi kerancuan nilai.

Hanya ada dua alternatif sistem kehidupan yang bisa dipilih manusia: Islam sebagai tatanan rabbani yang bercahaya, atau selainnya—yang tak lain adalah jahiliyah, hawa nafsu, dan kesesatan.

Ini adalah "timbangan Allah yang tetap," sebuah ukuran yang tidak terpengaruh oleh pergantian abad maupun pergeseran geografi.

Di luar kebenaran yang datang dari Sang Pencipta, yang tersisa hanyalah bayang-bayang ilusi yang menyesatkan. Manusia pada hakikatnya hanya bisa melayani satu di antara dua tuan: Syariat yang lurus atau hawa nafsu yang liar.

Hal ini ditegaskan secara absolut dalam firman Allah:

"Maka tidak ada selain kebenaran itu melainkan kesesatan." (QS. Yunus: 32)

"Kemudian Kami jadikan kamu menetapi suatu syari'at (peraturan) dari urusan (agama), maka ikutilah syari'at itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. al-Jatsiah: 18)


Bergerak Tanpa Kehilangan Arah: Konsep Poros yang Tetap

Banyak intelektual modern keliru menganggap bahwa keteguhan pada prinsip adalah bentuk kebekuan. Padahal, dinamika kehidupan yang sehat hanya mungkin terwujud jika ia memiliki kerangka yang stabil. Inilah "gerak di seputar poros yang tetap."

Seperti alam semesta yang terus bergerak namun tunduk pada hukum-hukum dasarnya, kehidupan manusia hanya akan menemukan kelenturan dan kreativitas yang bermakna jika ia bertumpu pada hakikat pokok yang permanen.

Sebaliknya, fleksibilitas tanpa poros adalah resep menuju kehancuran. Kita bisa melihat potret masyarakat Eropa dalam sejarah modernnya; ketika mereka melepaskan diri dari kontrol prinsip-prinsip ketuhanan yang tetap, mereka menjadi seperti planet yang lepas dari garis edarnya, atau sekumpulan ternak yang tersesat menuju tempat kebinasaan yang buntu. 

Tanpa poros yang stabil, gerak manusia bukan lagi "kemajuan," melainkan goncangan keras yang mengacaukan hati nurani dan menghancurkan tatanan sosial.


Mitos "Kemajuan" yang Terbelakang

Terdapat ironi yang tajam dalam arus pemikiran hari ini. Mereka yang paling lantang menyerukan "pembaharuan" dan menganggap agama sebagai artefak kuno, sebenarnya sedang memamerkan kebodohan yang dibangga-banggakan dalam selubung ilmu pengetahuan. 

Banyak dari mereka yang merasa modern sesungguhnya terbelakang dalam pemikiran, sedikitnya setengah abad.

Mereka dengan bangga menelan sisa-sisa produk pemikiran abad ke-18 dan ke-19—seperti materialisme-dialektika Marxis atau evolusi Darwinian—tanpa menyadari bahwa di pusat peradaban Barat sekalipun, pemikiran-pemikiran tersebut mulai ditinggalkan.

Di saat manusia abad ke-20 dan ke-21 mulai kembali mencari agama demi menemukan ketenteraman dan keyakinan spiritual, kelompok yang merasa "progresif" ini justru masih memuja dogma-dogma usang yang gagal menjawab dahaga jiwa.

Mereka menyangka diri mereka sedang berlari di depan, padahal mereka terjebak dalam lorong waktu yang gelap.


Islam Selalu Hidup 

Dalam karyanya yang mendalam, Muhammad Asad (Leopold Weiss) menyingkap sebuah kebenaran fundamental: kebudayaan manusia bersifat organis—ia lahir, tumbuh, matang, lalu layu dan mati. 

Namun, Islam tidak tunduk pada siklus kematian tersebut karena ia bukan produk improvisasi akal manusia, melainkan Syariat Tuhan yang abadi. Islam adalah sistem yang dirancang sempurna untuk komposisi kejiwaan manusia.

Muhammad Asad memberikan pengakuan yang jujur:

"Sesungguhnya ummat manusia belum mampu membangun gagasan persaudaraan berdasarkan asas yang realistis, seperti dilakukan Islam ketika ia membawa gagasan sosialnya yang luhur, yaitu gagasan 'ummat'. Sesungguhnya ummat manusia belum mampu membangun tatanan sosial yang mampu meminimalkan benturan dan perpecahan di antara warganya seperti tatanan sosial yang dibangun Islam. Ummat manusia belum mampu mengangkat martabat manusia dan memberikan ketenangan dalam hatinya, kebahagiaan dan harapan spiritualnya."

Apa yang kini tampak sebagai "kemunduran" di dunia Islam bukanlah kegagalan sistemnya, melainkan cerminan dari kematian dan kekosongan hati para pengikutnya yang tidak lagi mampu mendengar suara abadi dari Tuhan.

 Islam sebagai institusi spiritual dan moral tidak memerlukan perbaikan; kitalah yang memerlukan perbaikan sikap beragama dengan membuang kemalasan dan ketertipuan oleh dunia.


Tanggung Jawab Terhadap Kemanusiaan

Menjaga kemurnian prinsip Islam bukan sekadar tugas teologis bagi kaum Muslim, melainkan bentuk tanggung jawab besar terhadap kelangsungan hidup spesies manusia.

Islam adalah satu-satunya "mata air kebenaran" yang tersisa, tempat manusia dapat mereguk petunjuk rabbani yang murni di tengah gurun materialisme yang gersang.

Barangsiapa yang mencoba menggoyahkan landasan ini dengan dalih pembaharuan atau penyesuaian terhadap kebudayaan asing, sesungguhnya mereka adalah musuh-musuh kemanusiaan. 

Mengapa? Karena mereka sedang mengeruhkan satu-satunya sumber air yang dapat menyelamatkan manusia dari kehancuran. Jika landasan yang kokoh ini dihilangkan, maka seluruh umat manusia akan tercampakkan ke dalam kesesatan yang lebih dalam, yang berujung pada kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia sendiri.


Keselamatan kita di masa depan tidak terletak pada seberapa cepat kita mampu berubah mengikuti tren zaman, melainkan pada seberapa teguh kita menemukan kembali landasan yang aman, stabil, dan menyampaikan kita kepada Sang Pencipta.

Kita tidak membutuhkan "perbaikan" pada Islam, karena ia telah sempurna sejak awal; yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengobati penyakit-penyakit jiwa kita sendiri.

Sebagai bahan refleksi: Di tengah arus yang kita sebut "kemajuan" ini, apakah kita sedang bergerak menuju cahaya petunjuk yang menenangkan, atau justru semakin menjauh dari poros kebenaran dan tersesat dalam kelelahan saraf yang tak berujung?

Pilihan itu tetap sama sejak awal penciptaan: menetap di atas poros yang kokoh, atau hanyut dalam hawa nafsu yang membinasakan.

JEJAK RISALAH PARA NABI HINGGA RASUL TERAKHIR Jika kita menelusuri s...

JEJAK RISALAH PARA NABI HINGGA RASUL TERAKHIR

Jika kita menelusuri sejarah Islam, kita akan menemukan bahwa risalah Nabi Muhammad saw. bukanlah ajaran yang berdiri tanpa akar sejarah. Risalah beliau merupakan kelanjutan dari mata rantai wahyu yang telah disampaikan Allah kepada para nabi dan rasul sebelum beliau.

Allah adalah Tuhan yang satu, dan manusia adalah makhluk yang satu dalam asal penciptaannya. Karena itu, tujuan utama kehidupan manusia pun pada hakikatnya tetap sama: menghambakan diri kepada Allah.

Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Ketaatan manusia tidak menambah kebesaran-Nya, sebagaimana kemaksiatan manusia tidak mengurangi keagungan-Nya. Manusialah yang membutuhkan penghambaan itu, karena hanya dengan mengenal dan tunduk kepada Penciptanya manusia menemukan arah kehidupannya.

Namun, penghambaan kepada Allah tidak diserahkan kepada manusia untuk ditentukan sesuka hati. Bagaimana manusia mengenal Allah, siapa yang harus disembah, bagaimana cara menyembah-Nya, serta bagaimana menjalani kehidupan sebagai hamba, semuanya dijelaskan melalui wahyu yang disampaikan para nabi dan rasul.

Di sinilah kita menemukan benang merah seluruh risalah kenabian.

Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Dawud, Sulaiman, Isa, dan para nabi lainnya diutus oleh Tuhan yang sama. Mereka datang pada masyarakat dan zaman yang berbeda, dengan sebagian ketentuan syariat yang dapat berbeda sesuai keadaan umatnya. Namun, inti seruannya tetap satu:

Menyembah Allah semata dan menaati-Nya.

Dalam perjalanan sejarah, manusia tidak selalu menjaga kemurnian ajaran tersebut. Penyimpangan dapat muncul dalam bentuk penyembahan berhala, khurafat, takhayul, pemalsuan ajaran, atau pengultusan terhadap manusia. Karena itulah Allah terus mengutus para rasul untuk mengembalikan manusia kepada jalan yang lurus.

Kemudian datanglah Nabi Muhammad saw. membawa risalah yang tidak dibatasi oleh satu bangsa, satu wilayah, atau satu masa. Risalah beliau ditujukan kepada seluruh manusia dan menjadi wahyu terakhir yang Allah jaga hingga akhir zaman.

Dengan demikian, memahami Nabi Muhammad saw. berarti pula memahami jejak panjang risalah para nabi sebelumnya.

1. PENCIPTA DAN SIFAT-SIFAT-NYA

Manusia tidak pernah menciptakan dirinya sendiri.

Kita lahir tanpa pernah memilih kapan, di mana, atau dari siapa kita dilahirkan. Kita tidak menciptakan tubuh kita, tidak menentukan hukum yang mengatur jantung agar terus berdetak, dan tidak menciptakan alam yang menjadi tempat kita hidup.

Lalu dari mana semua ini berasal?

Al-Qur'an mengajak manusia menggunakan akalnya:

«أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ»

«"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"
(QS. Ath-Thur: 35)»

Pertanyaan ini sederhana, tetapi mengguncang dasar kesadaran manusia. Jika manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, dan alam tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, maka ada Pencipta yang menjadi asal keberadaan seluruh makhluk.

Allah berfirman:

«ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ»

«"(Yang memiliki sifat-sifat) demikian itu ialah Allah Tuhanmu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu."
(QS. Al-An'am: 102)»

Manusia adalah ciptaan. Allah adalah Pencipta.

Karena itu, hubungan manusia dengan Allah bukanlah hubungan antara dua pihak yang sederajat. Manusia adalah hamba, sedangkan Allah adalah Rabb yang menciptakan, memiliki, mengatur, dan memelihara seluruh alam.

Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya:

«لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ»

«"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
(QS. At-Tin: 4)»

Namun, kemuliaan manusia tidak berarti manusia menjadi sejajar dengan Penciptanya.

Allah Mahasatu dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya:

«قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ»

«"Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.'"
(QS. Al-Ikhlas: 1–4)»

Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia menerima tobat hamba-Nya dan membuka pintu ampunan bagi orang yang kembali kepada-Nya.

Allah berfirman:

«قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ»

«"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"
(QS. Az-Zumar: 53)»

Namun, rahmat Allah tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk mempersekutukan-Nya. Al-Qur'an memberikan peringatan yang sangat tegas:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ»

«"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki."
(QS. An-Nisa': 48)»

Maka, tauhid bukan sekadar salah satu bagian dari ajaran Islam. Tauhid adalah fondasinya.

a. Tujuan Penciptaan Manusia

Jika Allah adalah Pencipta, lalu untuk apa manusia diciptakan?

Al-Qur'an memberikan jawaban yang sangat jelas:

«وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ»

«"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat: 56)»

Ibadah dalam pengertian Islam tidak terbatas pada ritual yang dilakukan di masjid.

Makan, minum, mencari tempat tinggal, bekerja, menikah, mendidik anak, mencari nafkah, dan berbagai aktivitas kehidupan dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan dalam batas-batas yang diridhai Allah.

Dengan demikian, Islam tidak memisahkan kehidupan menjadi wilayah "agama" dan wilayah "bukan agama" secara mutlak.

Seluruh kehidupan seorang mukmin dapat diarahkan kepada satu tujuan: menjadi pengabdian kepada Allah.

Di sinilah makna ibadah menjadi begitu luas. Bukan sekadar apa yang dilakukan manusia beberapa saat dalam sehari, tetapi bagaimana seluruh hidupnya diarahkan kepada Sang Pencipta.

b. Jejak Risalah Para Nabi

Allah tidak membiarkan manusia mencari jalan menuju-Nya tanpa petunjuk.

Di dalam diri manusia terdapat kecenderungan untuk mengenal dan mencari Tuhannya. Namun, lingkungan, hawa nafsu, tradisi, kepentingan, dan penyimpangan pemikiran dapat mengaburkan kecenderungan tersebut.

Karena itu Allah mengutus para rasul.

Al-Qur'an menegaskan:

«وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا»

«"...dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul."
(QS. Al-Isra': 15)»

Para rasul hadir untuk menyampaikan wahyu, menjelaskan jalan kebenaran, memberi peringatan, sekaligus menjadi teladan bagaimana manusia seharusnya hidup sebagai hamba Allah.

Mereka bukan sekadar penyampai teori keagamaan. Kehidupan mereka menjadi contoh nyata dari ajaran yang mereka bawa.

Karena itu, Allah menjaga para utusan-Nya dan mengangkat mereka sebagai teladan bagi umatnya.

Yang menarik adalah bahwa jika kita membaca Al-Qur'an secara menyeluruh, kita akan menemukan satu kalimat yang terus berulang dalam dakwah para nabi:

«فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ»

«"Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku."»

Di balik perbedaan zaman, bangsa, dan sebagian ketentuan syariat, terdapat satu fondasi yang tidak berubah:

Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

Allah berfirman:

«وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ»

«"Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.'"
(QS. Al-Anbiya': 25)»

Inilah kata kunci yang menyatukan risalah para nabi sejak Adam hingga Muhammad saw.:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

Maka, risalah Nabi Muhammad saw. tidak datang untuk memutus mata rantai kenabian sebelumnya. Sebaliknya, Al-Qur'an datang untuk membenarkan wahyu yang masih murni dari Allah, meluruskan penyimpangan, dan menyempurnakan risalah tersebut dalam bentuk wahyu terakhir.

2. RASUL TERAKHIR

Jauh sebelum Nabi Muhammad saw. menerima wahyu, Ibrahim telah berdoa untuk tempat yang kelak menjadi pusat risalah terakhir.

Makkah pada masa itu merupakan lembah yang tandus. Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat tersebut atas perintah Allah, lalu memanjatkan doa:

«رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ»

«"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."
(QS. Al-Baqarah: 129)»

Doa itu tidak langsung terwujud pada masa Ibrahim.

Allah menangguhkan jawabannya hingga waktu yang telah Dia tentukan.

Berabad-abad kemudian, dari bangsa Arab yang hidup di tengah masyarakat jahiliah, lahirlah seorang manusia yang secara manusiawi tampak sederhana: seorang yatim, kemudian menjadi penggembala, tidak membaca dan menulis sebagaimana tradisi kaum terpelajar saat itu.

Namun, justru melalui dirinya Allah menyampaikan wahyu terakhir kepada umat manusia.

Muhammad saw. bukan hanya seorang nabi bagi satu suku atau bangsa. Beliau adalah Rasulullah dan penutup para nabi.

Allah berfirman:

«مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ»

«"Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi."
(QS. Al-Ahzab: 40)»

Kenabian Muhammad saw. juga memiliki karakter yang berbeda dalam jangkauan risalahnya.

Para nabi sebelumnya diutus kepada umat tertentu dalam konteks sejarah tertentu. Adapun Nabi Muhammad saw. diutus untuk seluruh manusia.

Allah berfirman:

«وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ»

«"Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
(QS. Saba': 28)»

Lebih jauh lagi, Allah menyebut misi beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam:

«وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ»

«"Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
(QS. Al-Anbiya': 107)»

Dengan demikian, risalah Muhammad saw. memiliki dimensi universal. Ia tidak terikat oleh batas suku, bangsa, geografis, ataupun zaman.

Risalah yang Satu, Syariat yang Dapat Berbeda

Di sinilah kita dapat memahami hubungan Islam dengan risalah para nabi terdahulu secara lebih jernih.

Islam mengakui bahwa Musa, Isa, dan para nabi Bani Israil adalah bagian dari mata rantai kenabian. Al-Qur'an tidak mengajarkan umat Islam untuk mengingkari para nabi tersebut.

Namun, Islam juga tidak membenarkan seluruh keyakinan dan praktik yang kemudian dinisbatkan kepada mereka.

Sebab ada perbedaan antara wahyu yang Allah turunkan kepada seorang nabi dan pemahaman atau perubahan yang dilakukan manusia setelahnya.

Al-Qur'an mengkritik penyimpangan dalam keyakinan dan praktik keagamaan yang muncul di tengah sebagian Ahli Kitab. Dalam perspektif Islam, para nabi sendiri tidak boleh dituduh dengan berbagai bentuk kesyirikan atau kemaksiatan yang bertentangan dengan kedudukan kenabian mereka.

Demikian pula, konsep ketuhanan yang menisbatkan sifat-sifat makhluk kepada Allah atau menjadikan selain Allah sebagai bagian dari ketuhanan bertentangan dengan prinsip tauhid yang dibawa seluruh nabi.

Maka, ketika Islam berbicara tentang Ahli Kitab, pengakuan terhadap asal-usul wahyu mereka tidak berarti Islam menerima seluruh doktrin yang berkembang kemudian.

Justru salah satu fungsi Al-Qur'an adalah mengembalikan manusia kepada tauhid yang menjadi inti risalah para nabi.

Dari Adam hingga Muhammad: Satu Mata Rantai Tauhid

Jika seluruh perjalanan ini direnungkan, kita akan melihat sebuah garis yang sangat panjang.

Adam mengajarkan penghambaan kepada Allah.

Nuh menyeru kaumnya meninggalkan kesyirikan.

Ibrahim menghancurkan argumentasi penyembah berhala dan menegakkan tauhid.

Ismail meneruskan jalan ayahnya.

Musa menghadapi Fir'aun dan menyeru manusia kepada Rabb semesta alam.

Isa datang membenarkan Taurat dan menyeru Bani Israil kepada Allah.

Kemudian Muhammad saw. datang membawa wahyu terakhir yang membenarkan risalah para nabi sekaligus menyempurnakan tuntunan bagi seluruh manusia.

Bangsa dan zaman boleh berubah.

Bahasa boleh berbeda.

Sebagian hukum praktis dapat berubah sesuai syariat yang Allah tetapkan bagi umat tertentu.

Tetapi pusat risalahnya tetap sama:

Allah satu-satunya Tuhan.

Manusia adalah hamba.

Para rasul adalah pembawa petunjuk.

Kehidupan adalah ujian.

Dan manusia akan kembali kepada Allah.

Karena itu, kedatangan Nabi Muhammad saw. tidak seharusnya dipahami sebagai munculnya agama yang sama sekali baru tanpa hubungan dengan sejarah sebelumnya.

Beliau adalah penutup dari rangkaian panjang kenabian.

Risalah terakhir datang untuk manusia yang tidak lagi dibatasi oleh satu bangsa dan satu wilayah. Ia membawa petunjuk yang ditujukan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman.

Di sinilah letak keistimewaan risalah Muhammad saw.: risalah yang berakar pada tauhid yang sama dengan seluruh nabi, tetapi diberikan dalam bentuk wahyu terakhir yang berlaku universal.

Dan mungkin inilah salah satu pelajaran terpenting dari perjalanan panjang para nabi:

Manusia berkali-kali berubah, tetapi Allah tidak pernah membiarkan manusia tanpa petunjuk.

Ketika manusia menyimpang, Allah mengutus rasul.

Ketika ajaran diselewengkan, Allah mengingatkan kembali.

Dan ketika rangkaian kenabian mencapai akhirnya, Allah mengutus Muhammad saw. membawa risalah yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Sejarah para nabi pada akhirnya bukan sekadar rangkaian kisah masa lalu.

Ia adalah satu pesan yang terus bergema:

Kenalilah Penciptamu, sembahlah Dia semata, ikutilah petunjuk-Nya, dan jangan biarkan perubahan zaman membuatmu kehilangan arah pulang kepada-Nya.

PANGKAL PERSELISIHAN DI BUMI Perselisihan terbesar dalam kehidupan manusia terny...


PANGKAL PERSELISIHAN DI BUMI

Perselisihan terbesar dalam kehidupan manusia ternyata tidak bermula dari perebutan kekuasaan, harta, wilayah, atau kepentingan politik. Pangkalnya jauh lebih tua daripada seluruh sejarah manusia. Ia bermula ketika Iblis menolak perintah Allah karena kesombongan, kedengkian, dan qiyas yang rusak.

Allah menciptakan Adam, kemudian memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan. Allah juga mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu sehingga tampaklah keutamaan dan kemuliaannya.

Namun, Iblis melihat kemuliaan itu dengan kedengkian. Ia tidak menerima keputusan Allah dan menolak perintah-Nya dengan berkata,

«قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ»

«"Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah."
(QS. Al-A'raf: 12)»

Inilah bentuk perselisihan dan pengingkaran pertama.

Iblis tidak sekadar menolak sebuah perintah. Ia membangun cara berpikir yang keliru untuk membenarkan penolakannya. Ia membandingkan asal penciptaan, kemudian menjadikan perbandingan itu sebagai alasan untuk menentang ketetapan Allah. Dari sinilah lahir sebuah pola yang terus berulang dalam kehidupan manusia: ketika kesombongan menguasai hati, akal dapat diperalat untuk mencari pembenaran terhadap pembangkangan.

Karena itu, Iblis menjadi pemimpin bagi para pendurhaka, pemberontak, dan orang-orang yang menyombongkan diri. Ia mengajarkan kepada para pengikutnya bagaimana menentang perintah Allah dan bagaimana memandang ketaatan sebagai sesuatu yang dapat diperdebatkan ketika bertentangan dengan hawa nafsu.

Maka, orang yang bahagia adalah orang yang menyelisihi jalan Iblis, sedangkan orang yang sengsara adalah orang yang mengikuti langkahnya.

Dari Surga Menuju Bumi: Awal Kehidupan yang Penuh Ujian

Setelah itu, Allah memerintahkan Adam dan istrinya untuk menetap di surga. Keduanya memperoleh kenikmatan yang luas, tetapi Allah menguji mereka dengan sebuah larangan: tidak mendekati satu pohon.

Iblis kemudian menggoda keduanya. Dengan tipu daya dan memperdayakan keduanya, ia berhasil membuat Adam dan istrinya memakan buah dari pohon tersebut. Akibatnya, keduanya diturunkan ke bumi.

Bumi kemudian menjadi tempat kehidupan manusia—tempat kesengsaraan dan kebahagiaan, kepayahan dan kemudahan, kerja keras dan ujian, sekaligus tempat manusia menentukan jalan yang akan ditempuhnya.

Allah berfirman:

«"Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan."
(QS. Al-Baqarah: 36)»

Sejak saat itu, kehidupan manusia tidak lagi berlangsung dalam satu keadaan yang seragam. Keturunan Adam berkembang dengan perbedaan agama, akhlak, pekerjaan, tujuan, keinginan, perkataan, dan perbuatan.

Di sinilah kita perlu melihat kisah Adam bukan sekadar sebagai kisah tentang masa lalu. Ia adalah cermin tentang manusia sepanjang zaman.

Adam pernah tergelincir, tetapi ia bertobat. Iblis tergelincir, tetapi ia justru menyombongkan diri dan terus mempertahankan pembangkangannya.

Keduanya menjadi gambaran dua jalan yang selalu terbuka bagi manusia: jalan kembali kepada Allah dan jalan mempertahankan kesalahan karena kesombongan.

Pangkal Dua Jalan: Petunjuk atau Penyimpangan

Dari Adam lahir keturunan yang berbuat baik dan ada pula yang menzalimi dirinya. Demikian pula dari keturunan Iblis terdapat para pengikut yang memilih jalan kekufuran dan pembangkangan.

Karena itu, perselisihan yang terjadi di antara manusia pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang muncul tanpa akar. Al-Qur'an menjelaskan bahwa manusia akan terus berhadapan dengan pilihan antara mengikuti petunjuk atau mengikuti jalan yang menyimpang.

Allah berfirman:

«"Kami berfirman, 'Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.' Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya."
(QS. Al-Baqarah: 38–39)»

Dunia adalah tempat perselisihan dan ujian. Adapun di akhirat, perselisihan itu memperoleh balasannya.

Allah berfirman:

«"Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), 'Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa!'"
(QS. Yasin: 59)»

Dengan demikian, perbedaan yang bermula sebagai pilihan di dunia akan berujung pada pemisahan di akhirat. Dunia adalah tempat manusia menentukan sikap; akhirat adalah tempat setiap pilihan memperoleh balasannya.

Qabil dan Habil: Ketika Kedengkian Berubah Menjadi Darah

Perselisihan kemudian menemukan bentuk yang lebih nyata dalam kisah dua putra Adam: Qabil dan Habil.

Qabil merasa dengki kepada saudaranya, sebagaimana Iblis dahulu merasa iri terhadap Adam. Kedengkian itu berkembang menjadi ancaman pembunuhan.

Habil menjawab dengan ketenangan yang menunjukkan ketakwaannya:

«لَئِنْ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطِ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ»

«"Sungguh, jika engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam."
(QS. Al-Ma'idah: 28)»

Namun, ketakwaan Habil tidak mampu menahan hawa nafsu Qabil yang telah menguasainya. Qabil akhirnya membunuh saudaranya dan menjadi orang yang merugi.

Dari sini tampak sebuah mata rantai yang mengerikan:

kedengkian → kesombongan → pembangkangan → permusuhan → kekerasan → pembunuhan.

Apa yang dahulu dimulai Iblis dalam bentuk penolakan terhadap perintah Allah, kemudian muncul dalam diri manusia sebagai kedengkian terhadap sesama.

Qabil menjadi orang yang pertama kali melakukan pembunuhan. Dengan demikian, perselisihan yang tidak dikendalikan oleh iman dapat mencapai titik paling tragis: hilangnya nyawa manusia.


Dari Adam hingga Nuh: Ketika Perselisihan Belum Menjadi Syirik

Namun, menarik untuk dicermati bahwa perselisihan dalam akidah tidak langsung muncul sejak awal kehidupan manusia.

Allah berfirman:

«كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ»

«"Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus."
(QS. Al-Baqarah: 213)»

Dalam Surah Yunus Allah juga berfirman:

«"Dan manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, pastilah telah diberi keputusan (di dunia) di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu."
(QS. Yunus: 19)»

Ubay bin Ka'ab berkata bahwa Allah mengutus para rasul dan menurunkan Al-Kitab setelah munculnya perselisihan.

Diriwayatkan secara sahih dari Ibnu Abbas bahwa jarak antara Adam dan Nuh adalah sepuluh abad dan seluruhnya berada di atas syariat yang benar. Kemudian mereka berselisih, lalu Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.

Dengan demikian, pada rentang awal tersebut manusia berada dalam keadaan yang lurus: umat yang satu, agama yang satu, dan sembahan yang satu.


Syirik: Perselisihan yang Mengubah Arah Sejarah Manusia

Perselisihan kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Iblis kembali memainkan perannya. Ia memperdaya manusia hingga mereka menyimpang dari tauhid dan terjerumus ke dalam penyembahan berhala serta pengingkaran terhadap kebangkitan.

Inilah yang menjadikan kesyirikan sebagai salah satu bentuk perselisihan paling besar dalam sejarah manusia. Sebab persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan pendapat mengenai perkara dunia, melainkan menyangkut siapa yang disembah, kepada siapa manusia tunduk, dan dari mana manusia menerima petunjuk kehidupan.

Dari penyimpangan akidah kemudian lahir berbagai bentuk kesewenang-wenangan, kelaliman, fitnah, dan bencana. Perselisihan yang tidak dikembalikan kepada kebenaran bahkan dapat berakhir pada pertumpahan darah.

Allah berfirman:

«"...Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya."
(QS. Al-Baqarah: 253)»

Karena itu, pengutusan para rasul bukan sekadar membawa aturan baru. Mereka datang untuk mengingatkan manusia kepada jalan yang benar, mengembalikan mereka kepada tauhid, dan mengajak mereka meninggalkan perselisihan yang telah menyesatkan.

Para rasul mengembalikan manusia kepada pangkal yang pertama: menyembah Allah semata, menerima petunjuk-Nya, dan menjauhi jalan yang dibangun oleh Iblis.

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa Allah memberi petunjuk kepada orang-orang beriman ketika terjadi perselisihan agar mereka kembali kepada kebenaran yang dibawa para rasul sebelum perselisihan itu muncul. Mereka kembali menegakkan perkara pertama yang benar dan menjauhi persengketaan.


Pelajaran Besar: Perselisihan Bermula dari Dalam Diri

Jika kisah Adam, Iblis, Qabil, dan Habil direnungkan sebagai satu rangkaian, kita akan menemukan sebuah pola yang sangat mendalam.

Perselisihan tidak selalu bermula dari perbedaan yang besar. Ia dapat bermula dari sebuah penyakit kecil di dalam hati: kesombongan dan kedengkian.

Iblis tidak menerima kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Qabil tidak menerima keutamaan yang ada pada saudaranya. Dari penolakan itu lahir iri hati. Dari iri hati lahir permusuhan. Dari permusuhan lahir kekerasan.

Karena itu, persoalan terbesar manusia bukan sekadar bagaimana menyelesaikan perselisihan setelah ia terjadi. Yang lebih penting adalah bagaimana mencegah benih perselisihan tumbuh sejak berada di dalam hati.

Iblis mengajarkan manusia untuk mempertahankan kesalahan karena gengsi. Adam mengajarkan manusia untuk kembali kepada Allah ketika melakukan kesalahan.

Iblis berkata, pada intinya, "Aku lebih baik."

Adam menunjukkan sikap yang berbeda: mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah.

Di antara kedua sikap itulah manusia terus memilih sepanjang sejarahnya.

Maka kisah Adam dan Iblis bukan hanya kisah tentang permulaan manusia. Ia adalah kisah tentang pangkal segala perselisihan dan sekaligus petunjuk tentang cara keluar darinya.

Selama kesombongan dan kedengkian dipelihara, perselisihan akan selalu menemukan bentuk baru.

Sebaliknya, selama manusia mau merendahkan diri di hadapan kebenaran, menerima petunjuk Allah, dan kembali kepada-Nya ketika tergelincir, pintu perdamaian akan selalu terbuka.

Sebab persoalan manusia sejak awal bukan karena ia tidak pernah salah.

Persoalan terbesar adalah ketika manusia salah, lalu kesombongan membuatnya enggan kembali kepada kebenaran.

Perubahan Haluan Besar di London: Hal Krusial di Balik "Reset" Hubungan Inggris-Israel Selama 59 tahun terakhir—terhit...


Perubahan Haluan Besar di London: Hal Krusial di Balik "Reset" Hubungan Inggris-Israel


Selama 59 tahun terakhir—terhitung sejak Israel mendirikan pemukiman ilegal pertamanya pada tahun 1967 hingga titik nadir di tahun 2026 ini—hubungan antara London dan Tel Aviv telah menempuh perjalanan panjang dari kemesraan diplomatik menuju ambang perpecahan.

Jika dahulu Inggris adalah arsitek di balik Deklarasi Balfour yang memicu lahirnya Israel, kini di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Andy Burnham, Inggris justru menjadi aktor utama yang mulai membongkar legitimasi ekonomi pendudukan tersebut.

Pergeseran ini bukan sekadar fluktuasi politik biasa. Burnham, yang mengambil alih kekuasaan pada akhir Juli 2026, memulai masa jabatannya dengan permohonan maaf yang berani atas kegagalan Inggris di Gaza, sebuah langkah yang secara tegas memutus retorika ragu-ragu dari era Keir Starmer. 

Pertanyaan besarnya kini: apakah ini sebuah "perceraian" diplomatik permanen, atau sekadar "pertengkaran rumah tangga" yang eskalatif? 

Jawabannya terletak pada istilah "Comprehensive Reset" (Penataan Ulang Menyeluruh) yang dipopulerkan oleh Sekretaris Luar Negeri Ed Miliband—sebuah sinyal bahwa Inggris tidak lagi sekadar mengganti diksi, melainkan merombak total paradigma hubungannya.

Berikut adalah lima poin krusial yang menjelaskan mengapa langkah Inggris kali ini merupakan gempa tektonik dalam lanskap geopolitik global.

1. Bukan Sekadar Retorika, Melainkan Konsekuensi Nyata

Dahulu, diplomasi Inggris terhadap Israel sering kali terjebak dalam siklus "pernyataan keprihatinan mendalam" yang tidak bergigi. 

Puncaknya terjadi pada Maret 2023 dengan penandatanganan "Roadmap 2030" yang mengedepankan kerja sama teknologi dan keamanan. Namun, di bawah Miliband, peta jalan tersebut telah digantikan oleh tindakan hukum konkret.

Langkah ini dianggap seismik karena London beralih dari diplomasi persuasif menjadi penggunaan instrumen kekuasaan negara untuk memberikan sanksi.

"Reset" ini adalah upaya untuk memberikan konsekuensi nyata terhadap kebijakan Israel yang dianggap melanggar hukum internasional, menandai berakhirnya era di mana Inggris hanya bertindak sebagai penonton yang vokal.

"Saya bertekad untuk memimpin kebijakan ini dan melakukan apa pun yang saya bisa untuk menghalangi bukan hanya kegilaan pemukiman Israel, tetapi juga agresinya yang tidak tertandingi terhadap rakyat Palestina." — Ed Miliband


2. Memutus Rantai Ekonomi Pemukiman: Dari Label Hingga Kontrak Miliaran

Pemerintah Inggris kini telah memberlakukan larangan perdagangan yang menyasar langsung jantung ekonomi pemukiman di Tepi Barat. 

Kebijakan ini mencakup larangan impor barang, jasa konstruksi, pendanaan infrastruktur, hingga pelarangan iklan properti pemukiman di media Inggris. Lebih jauh lagi, London mencabut lisensi ekspor senjata yang berkontribusi pada aktivitas pendudukan.

Secara volume, perdagangan langsung dari wilayah pemukiman memang kecil, hanya sekitar £38 juta atau kurang dari 1% dari total perdagangan bilateral. Namun, analisis mendalam menunjukkan dampak yang lebih dalam: Inggris memiliki kontrak senilai £2,1 miliar (sekitar Rp42 triliun) dengan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan pemukiman ilegal.

Dengan memutus rantai ini, Inggris sedang melakukan "pembersihan keterlibatan" yang sangat signifikan. Fokus utama dari langkah ini adalah untuk menghentikan proyek pemukiman E1—wilayah sensitif yang jika terus dibangun akan membagi Tepi Barat menjadi dua bagian yang terputus, secara geografis mematikan harapan bagi solusi dua negara.


3. Efek Domino Global: Inggris Sebagai Pemantik Eropa

Inggris tidak lagi berdiri sendirian di panggung dunia. Langkah berani London telah memicu dukungan dari 12 negara lainnya, termasuk kekuatan besar seperti Prancis dan Kanada, serta Irlandia, Spanyol, dan negara-negara Nordik.

Dalam sebuah pernyataan bersama, mereka menyelaraskan langkah untuk membatasi perdagangan dengan pemukiman ilegal.

Dampak kolektif ini sangat berbahaya bagi posisi ekonomi Israel, mengingat Uni Eropa secara keseluruhan adalah mitra dagang terbesar mereka.

Inggris di sini bertindak sebagai pemantik (catalyst) yang mengubah kecaman verbal menjadi kebijakan restriktif yang seragam di seluruh Eropa. Jika tren ini berlanjut, isolasi ekonomi terhadap industri pemukiman Israel akan menjadi kenyataan global yang tak terelakkan.

4. Reaksi Keras dan Ancaman "Miliaran Dolar" dari Florida

Tel Aviv merespons langkah London dengan eskalasi diplomatik yang asimetris. Israel menutup konsulat Inggris di Yerusalem, menghentikan pelatihan pasukan Otoritas Palestina oleh Inggris, dan melarang masuk 12 anggota parlemen Inggris. Ketegangan ini bahkan menarik kemarahan dari seberang Atlantik.

Randy Fine, Anggota Kongres dari Florida, memberikan ancaman ekonomi yang serius: perusahaan-perusahaan Inggris yang mematuhi boikot tersebut terancam dilarang berbisnis di Florida.

Ini bukan ancaman kosong, mengingat bisnis Inggris di Florida menyokong sekitar 70.000 pekerjaan—atau 1 dari setiap 226 pekerjaan di negara bagian tersebut. Fine mengklaim kebijakan Inggris ini dapat merugikan London "miliaran dolar."

Sentimen keras ini pun meledak dalam retorika para pemimpin:

"Inggris telah menjadi 'Republik Islam Inggris'." — Benjamin Netanyahu

"Warga Inggris telah kehilangan akal sehat mereka. Kebencian terhadap Yahudi (Jew hate) dari pemerintah mereka tidak mengenal batas dan tidak mengenal fakta." — Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel


5. Paradoks Identitas Ed Miliband dan Penolakan BDS

Di tengah pusaran tuduhan antisemitisme, sosok Ed Miliband menghadirkan paradoks yang mendalam. Sebagai seorang Yahudi dan putra dari pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari Nazi, Miliband kini justru dituduh sebagai pembenci bangsanya sendiri.

Namun, Miliband menegaskan sebuah garis batas yang tajam: mengkritik kebijakan pendudukan pemerintah Israel bukan berarti menyerang eksistensi negara tersebut atau komunitas Yahudi.

Secara cerdas, Miliband menyatakan bahwa ia "sepenuhnya menentang kampanye BDS" (Boycott, Divestment, Sanctions)—gerakan global yang menyerukan boikot total terhadap seluruh entitas Israel. Sebaliknya, kebijakan Miliband bersifat bedah dan spesifik: hanya menargetkan wilayah pendudukan yang ilegal menurut hukum internasional. 

Meskipun demikian, tantangan domestik tetap berat, terutama setelah Kepala Rabi Ephraim Mirvis menyebut langkah ini sebagai "hari yang gelap" bagi komunitas Yahudi Inggris, yang merasa semakin terancam oleh meningkatnya tensi politik.


Keberhasilan "Comprehensive Reset" ini tidak akan diukur dari seberapa tajam pidato Ed Miliband di parlemen, melainkan dari perubahan nyata di lapangan—apakah industri pemukiman benar-benar tercekik dan apakah pembangunan di area krusial seperti E1 dapat dihentikan.

Masa depan hubungan ini mungkin terlihat suram selama Benjamin Netanyahu masih berkuasa. Meskipun ada harapan bahwa penggantian kepemimpinan oleh sosok seperti Gadi Eisenkot dapat mencairkan ketegangan, masalah fundamentalnya tetap sama: ini bukan tentang personel, melainkan tentang kebijakan pendudukan itu sendiri.

 Inggris telah memilih untuk berhenti menjadi kontributor pasif bagi ketidakadilan yang telah berlangsung lebih dari setengah abad.

Duri di Balik Aliansi: Pengkhianatan Israel Terhadap Inggris di Pulau Falkland  Dalam teater geopolitik, loyalitas sering kali h...

Duri di Balik Aliansi: Pengkhianatan Israel Terhadap Inggris di Pulau Falkland 


Dalam teater geopolitik, loyalitas sering kali hanyalah sebuah fatamorgana yang memudar begitu kepentingan nasional atau dendam masa lalu menyeruak ke permukaan. Hari ini, kita menyaksikan babak baru dari ketegangan antara London dan Tel Aviv yang kian meruncing.

Rencana Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, untuk memberlakukan boikot terhadap produk dari pemukiman ilegal di Tepi Barat bukanlah sekadar kebijakan ekonomi biasa. Langkah ini merupakan kepatuhan terhadap opini penasihat Mahkamah Internasional (ICJ) Juli 2024 yang menyatakan pendudukan tersebut ilegal—sebuah "pergeseran paradigma" yang memicu kemarahan besar di pihak Israel.

Namun, bagi mereka yang jeli membaca lipatan sejarah, keretakan ini bukanlah fenomena baru. Ketegangan saat ini sebenarnya membangkitkan kembali hantu-hantu dari tahun 1982. 

Melalui deklasifikasi dokumen rahasia Kantor Urusan Luar Negeri Inggris, terungkap sebuah ironi yang menyakitkan: di balik retorika sebagai mitra dekat, Israel secara sistematis memasok mesin perang kepada Argentina tepat saat Inggris sedang berdarah-darah di Kepulauan Falkland.

Senjata Sekutu yang Menikam Prajurit Inggris

Data sejarah menunjukkan betapa mematikannya ambivalensi diplomatik Israel saat itu. Di tengah puncak Perang Falklands, jet-jet tempur Skyhawk yang dipasok Israel menjadi instrumen maut yang menghancurkan armada Kerajaan Inggris.

Serangan udara dari jet-jet inilah yang bertanggung jawab atas tenggelamnya empat kapal perang dan gugurnya 48 prajurit serta pelaut Inggris. Ironisnya, saat London memohon solidaritas, Tel Aviv justru memilih untuk memonetisasi konflik tersebut.

Keterlibatan Israel bahkan hampir mencapai level yang lebih mengancam jika bukan karena intervensi diplomatik tingkat tinggi. Dokumen rahasia mengungkap peran vital Sir Geoffrey Howe, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, yang harus bernegosiasi keras untuk membatalkan rencana Israel menjual pesawat mata-mata (ELINT) ke Argentina.

Pesawat tersebut dirancang khusus untuk mengumpulkan sinyal intelijen dan data elektronik militer Inggris, sebuah tindakan yang jika terjadi, akan menjadi pengkhianatan total terhadap keamanan nasional Inggris.

"Inggris mendapati diri mereka berada dalam situasi terburuk; di satu sisi Israel tampak mengirimkan pesawat ke Argentina, sementara di sisi lain mereka terus-menerus menepis kami dengan bantahan yang berulang." — Catatan Pejabat Kantor Urusan Luar Negeri Inggris.


Jalur Gelap dan "Topeng" Peru dalam Arus Persenjataan

Operasi pasokan senjata ini dijalankan dengan ketangkasan Machiavellian guna menghindari radar intelijen Inggris. 

Sebagaimana dicatat dalam riset Hernan Dobry, Israel menggunakan Peru bukan sekadar sebagai titik transit, melainkan sebagai "masker" diplomatik untuk menutupi asal-usul persenjataan tersebut. Metodologi pengiriman rahasia ini melibatkan skema yang sangat rumit:

Penerbangan Kargo Rahasia: Arus persenjataan dikirim melalui penerbangan cargo gelap yang mendarat di Peru sebelum diteruskan ke Buenos Aires.

Kamuflase Keuangan: Penggunaan perantara di Panama untuk menerbitkan surat kredit melalui Credit Suisse di Zurich demi membiayai transaksi dengan Israeli Aircraft Industries Ltd di Tel Aviv.

Inventaris Perang: Pasokan ini mencakup 20 jet tempur Nesher yang direkondisi, rudal udara-ke-udara, ranjau anti-tank, mortir, hingga tangki bahan bakar tambahan yang krusial bagi daya jangkau jet Skyhawk untuk menyerang posisi Inggris.


Logika "Mata Ganti Mata" dan Dendam dari King David Hotel

Mengapa Israel bersedia arming musuh dari sekutu historisnya? 

Secara permukaan, ini adalah realpolitik transaksional—sebuah peluang pasar senjata senilai $1 miliar.

Namun, secara substansial, tindakan ini adalah bentuk pembalasan atas embargo senjata yang dijatuhkan Margaret Thatcher terhadap Israel pasca-invasi Lebanon 1982. Israel menggunakan argumen "mata ganti mata," mengklaim bahwa Inggris pun memasok senjata ke negara-negara Arab yang dianggap sebagai musuh eksistensial mereka.

Namun, akar dari "pengkhianatan" ini juga bersifat personal. Perdana Menteri Israel saat itu, Menachem Begin, memiliki rekam jejak dendam mendalam terhadap Britania Raya.

Sebagai mantan komandan Irgun, Begin adalah arsitek di balik pengeboman Hotel King David tahun 1946 yang menewaskan 91 orang, termasuk 28 warga Inggris. 

Baginya, mempersenjatai Argentina adalah cara untuk menagih utang lama kepada negara yang pernah menjadi otoritas mandat di tanahnya.

"Pejabat Israel menjustifikasi tindakan mereka dengan mengatakan bahwa Inggris juga telah menjual senjata ke 'musuh' Israel yakni negara-negara Arab."


Sejarah yang Berulang: Falkland sebagai Pion Catur Modern

Memasuki periode 2024-2026, retakan ini kembali menganga. Isu kedaulatan Falkland kini digunakan sebagai pion dalam catur diplomatik untuk merespons tekanan Inggris di Tepi Barat.

Pernyataan Yair Netanyahu yang mendukung klaim Argentina (Malvinas) bukanlah sebuah anomali, melainkan sinyal bahwa Israel siap mengganggu kepentingan strategis Inggris di manapun.

Situasi ini diperparah dengan pergeseran aliansi global. Donald Trump secara mengejutkan memberikan indikasi bahwa AS tidak akan mendukung Inggris jika Argentina kembali menginvasi Falkland.

Trump secara eksplisit menyebutkan kekecewaannya karena Inggris tidak memberikan dukungan memadai saat AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu. 

Di sisi lain, Presiden Argentina Javier Milei mulai merasakan "angin perubahan" ( winds of change ) dan mengancam sanksi bagi perusahaan minyak Inggris, menunjukkan bahwa preseden 1982 bisa terulang kembali dalam bentuk perang ekonomi yang didukung oleh mantan sekutu London sendiri.

Tragedi tahun 1982 dan ketegangan diplomatik hari ini memberikan refleksi pahit tentang etika dalam perdagangan senjata global. 

Hubungan internasional bukanlah sebuah persahabatan yang didasarkan pada moralitas, melainkan sekumpulan kepentingan yang saling bersilangan.

Ketika Inggris memegang prinsip hukum internasional melalui ICJ, Israel merespons dengan bahasa realpolitik yang keras, menggunakan Falkland sebagai daya tawar.

Sejarah mengingatkan kita bahwa dalam diplomasi senjata, "teman" hanyalah mereka yang kepentingannya selaras untuk saat ini.

Masa depan hubungan Inggris-Israel kini berdiri di atas tumpukan dokumen rahasia yang mengungkap bahwa pengkhianatan paling menyakitkan sering kali dilakukan oleh mereka yang duduk bersama di meja perjamuan yang sama. 

Pertanyaannya kemudian: mampukah aliansi ini bertahan, ataukah luka Falkland akan terus menjadi duri yang selamanya tertancap dalam daging diplomatik Inggris?

Pertarungan Pemilu Swedia: Dapatkah Negara Eropa yang Pertama Mengakui Palestina ini Tetap Membela Palestina?  Swedia sering kal...

Pertarungan Pemilu Swedia: Dapatkah Negara Eropa yang Pertama Mengakui Palestina ini Tetap Membela Palestina? 


Swedia sering kali diidealkan sebagai laboratorium perdamaian dunia—sebuah negeri dengan desain sosial yang bersih, fungsional, dan stabil, layaknya furnitur IKEA yang menghiasi jutaan rumah di bumi.

Namun, di balik estetika Nordik yang tenang, Stockholm kini tengah terombang-ambing dalam badai geopolitik Timur Tengah yang paling pelik. 

Menjelang Pemilu 2026, kebijakan luar negeri Swedia terhadap Palestina bukan lagi sekadar catatan kaki diplomatik, melainkan medan tempur ideologis yang sangat menentukan.

Mantan Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman, pernah melontarkan sindiran tajam bahwa hubungan internasional di Timur Tengah jauh lebih rumit daripada merakit furnitur IKEA. Jika Lieberman bermaksud mengejek kesederhanaan cara pandang Swedia, realitas hari ini justru menunjukkan paradoks yang lebih dalam.

Berbeda dengan meja atau kursi modular yang bisa dibongkar-pasang kembali ke dalam kotak kardus, pengakuan diplomatik sebuah negara membawa beban moral yang permanen. Tesis utamanya jelas: Pemilu Swedia 2026 adalah pertaruhan eksistensial bagi kedaulatan Palestina di Eropa, sebuah ujian apakah prinsip kedaulatan bisa ditarik kembali layaknya produk yang cacat produksi.


Sejarah Panjang sebagai "Jembatan" Perdamaian

Keterlibatan Swedia dalam pusaran konflik Israel-Palestina bukanlah tren politik musiman, melainkan sebuah warisan yang ditulis dengan tinta darah dan diplomasi tingkat tinggi.

Sejarah mencatat sosok Count Folke Bernadotte, mediator PBB pertama yang dibunuh pada tahun 1948 oleh kelompok paramiliter Zionis, Lehi. 

Pengorbanan Bernadotte menanamkan kesadaran mendalam bahwa bagi Swedia, neutralitas bukanlah sikap pasif, melainkan alat aktif untuk membangun jembatan di tengah jurang permusuhan.


Puncak dari peran "jembatan" ini terjadi pada tahun 1988, ketika Stockholm menjadi panggung bersejarah bagi pembicaraan antara pemimpin PLO Yasser Arafat dengan delegasi Yahudi Amerika.

Langkah berani ini menjadi katalisator utama yang memaksa Washington untuk akhirnya membuka dialog resmi dengan PLO. Selama puluhan tahun, Swedia adalah mercusuar bagi solusi dua negara, namun hari ini, fondasi jembatan tersebut tengah mengalami keretakan struktural yang hebat.


Langkah Berani 2014: "Mungkin Kita Justru Terlambat"

Tahun 2014 menjadi titik balik dramatis ketika Swedia menjadi negara anggota utama Uni Eropa pertama yang secara resmi mengakui negara Palestina. 

Keputusan di bawah pemerintahan Stefan Löfvén ini bukan sekadar simbolisme, melainkan upaya untuk mengoreksi ketimpangan kekuatan di meja perundingan.

Menteri Luar Negeri saat itu, Margot Wallström, merangkum alasan di balik keberanian tersebut dengan nada yang sangat reflektif:

"Pengakuan hari ini merupakan sumbangan bagi masa depan yang lebih baik di kawasan yang telah lama diwarnai oleh kebuntuan diplomatik, kehancuran, dan frustrasi... Sebagian kalangan mengatakan keputusan ini terlalu cepat. Sebaliknya, saya takut langkah ini justru agak terlambat."

Langkah ini dirancang untuk memberikan "daya tawar" bagi rakyat Palestina dan menyuntikkan harapan baru bagi generasi muda di Gaza dan Tepi Barat yang mulai kehilangan kepercayaan pada proses perdamaian.


Ancaman Nyata: Narasi Pencabutan Pengakuan Kedaulatan

Kini, keberanian yang mendefinisikan tahun 2014 justru menjadi target utama serangan politik. Partai sayap kanan Sweden Democrats (SD), yang kini merupakan kekuatan politik terbesar kedua di Swedia, telah secara terang-terangan menyerukan pencabutan pengakuan negara Palestina jika blok mereka memenangkan kursi pemerintahan.

Satu fakta yang sering terabaikan namun sangat krusial adalah latar belakang SD yang memiliki akar neo-Nazi. Pergeseran dari ideologi ekstrem menuju arus utama politik ini membuat wacana pembatalan kedaulatan Palestina terasa semakin mengguncang identitas Swedia.

Secara hukum, hal ini sangat mungkin terjadi karena di Swedia, kebijakan luar negeri merupakan hak prerogatif pemerintah (eksekutif) dan tidak memerlukan pemungutan suara di parlemen. Jika pemerintahan baru terbentuk dengan pengaruh dominan SD, Stockholm bisa menciptakan preseden internasional yang berbahaya: bahwa pengakuan sebuah bangsa dapat dianulir demi kepentingan politik domestik jangka pendek.


Pertarungan Dua Blok: UNRWA, ICJ, dan Ketegangan Internal

Pemilu 2026 menyajikan kontras yang tajam antara dua visi dunia. Survei terbaru dari Novus menunjukkan persaingan yang sangat tipis, dengan blok kiri memimpin di angka 50,3% melawan 47,9% untuk blok kanan.

Blok Kanan (Moderates, Sweden Democrats, Christian Democrats, Liberals):

Internal Tension: Meskipun condong pro-Israel, blok ini tidak monolitik. Partai Moderat yang berkuasa saat ini masih mendukung sanksi Uni Eropa terhadap pemukim "ekstremis" dan mengusulkan tarif tambahan untuk produk-produk dari pemukiman ilegal.

Bantuan Kemanusiaan: Pemerintah telah menghentikan pendanaan inti (core funding) untuk UNRWA sejak Desember 2024, namun mengalokasikan sekitar $83 juta untuk 2026 melalui mekanisme yang melewati UNRWA.

Sikap Keras: Mendukung pemindahan kedutaan ke Yerusalem dan memberikan "tanggung jawab pribadi" kepada aktivis seperti Greta Thunberg yang ditangkap saat mencoba menembus blokade bantuan.


Blok Kiri (Social Democrats, Left Party, Greens):

Mendorong Swedia bergabung dengan Afrika Selatan dalam gugatan genosida terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ).

Komitmen penuh untuk memulihkan dana UNRWA dan mendukung penuh mandat Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Mengusulkan boikot perdagangan total terhadap produk-produk dari wilayah pendudukan.


Simbolisme Kaos Tentara dan Nilai Judeo-Kristen

Perubahan orientasi Swedia juga tercermin melalui simbolisme personal para pemimpinnya. Ebba Busch, pemimpin partai Christian Democrat, pernah memicu kontroversi luas melalui foto dirinya mengenakan kaos tentara Israel di Dataran Tinggi Golan yang diduduki.

Lebih jauh lagi, muncul usulan agar warga negara baru Swedia diwajibkan untuk merangkul "nilai-nilai Judeo-Kristen." Narasi ini merupakan penyimpangan drastis dari tradisi sekuler-humanis yang telah mendefinisikan demokrasi Swedia selama beberapa dekade.

Dengan memprioritaskan identitas religius-politik tertentu, Swedia tidak hanya mengubah wajah domestiknya, tetapi juga cara mereka memandang konflik di belahan dunia lain.


Swedia kini berada di persimpangan jalan yang menentukan arah sejarah. 

Apakah Stockholm akan tetap menjadi mercusuar bagi hukum internasional dan solusi dua negara, ataukah ia akan bertransformasi menjadi sekutu paling pro-Israel di Eropa di bawah bayang-bayang politik sayap kanan?

Dampak dari pemilu ini akan menciptakan "efek domino" yang melintasi batas-batas benua. 

Jika sebuah negara dengan sejarah perdamaian sedalam Swedia memutuskan untuk menarik kembali pengakuannya atas Palestina, maka pesan yang dikirimkan kepada dunia sangatlah kelam: bahwa hak sebuah bangsa untuk diakui bisa menjadi komoditas yang rapuh dan bisa dibatalkan kapan saja.

Di dunia yang semakin terpolarisasi, apakah diplomasi masih memiliki ruang bagi pengakuan yang berani, ataukah kepentingan politik jangka pendek akan menghapus sejarah panjang perdamaian?_

Permusuhan Kaum Yahudi Terhadap Malaikat Jibril  Konteks berikutnya menghadirkan...

Permusuhan Kaum Yahudi Terhadap Malaikat Jibril 

Konteks berikutnya menghadirkan sebuah teguran sekaligus tantangan dari Allah kepada Rasulullah saw. Tantangan itu diarahkan kepada mereka yang mempertanyakan sumber wahyu dan bahkan menjadikan malaikat Jibril sebagai alasan untuk menolak kerasulan Muhammad saw.

Allah memerintahkan Rasulullah saw. untuk menyampaikan hakikat yang sebenarnya, di hadapan siapa pun yang mendengarnya:

«قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ ۝ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ

“Katakanlah, ‘Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.’”
(QS. Al-Baqarah: 97–98)»

Ayat ini menyingkap sebuah sikap yang sangat mengherankan: kebencian yang begitu kuat hingga seseorang memusuhi bukan hanya manusia, tetapi juga utusan Allah yang menyampaikan wahyu-Nya.

Ketika Kebencian Membutakan Akal

Permusuhan terhadap Rasulullah saw. telah berkembang menjadi dendam yang mendalam. Dendam itu kemudian mencari pembenaran.

Ketika mereka mengetahui bahwa malaikat Jibril turun membawa wahyu Allah kepada Muhammad saw., sebagian mereka menjadikan Jibril sebagai alasan untuk menolak beliau. Mereka membuat-buat anggapan bahwa Jibril adalah malaikat yang membawa bencana, kehancuran, dan siksaan. Sebaliknya, mereka mengaitkan Mikail dengan hujan, kesuburan, dan kemakmuran.

Karena itu, muncul anggapan yang aneh: andaikata malaikat yang membawa wahyu kepada Muhammad saw. adalah Mikail, bukan Jibril, niscaya mereka akan beriman.

Di sinilah kebencian telah membawa manusia kepada cara berpikir yang kontradiktif.

Sebab, jika Jibril adalah malaikat Allah, lalu atas dasar apa ia dimusuhi?

Apakah Jibril bertindak berdasarkan keinginannya sendiri?

Apakah ia menentukan sendiri kepada siapa wahyu diberikan?

Tidak.

Jibril hanyalah hamba Allah yang menjalankan tugas yang diperintahkan kepadanya. Ia tidak bertindak berdasarkan kehendak pribadi. Ia tidak menyusun rencana sendiri. Ia tidak memilih-milih siapa yang harus diberi wahyu berdasarkan kepentingannya.

Karena itu Allah menegaskan:

«“Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.”»

Perhatikan kata “dengan seizin Allah.”

Di sinilah letak jawaban yang sangat tegas.

Jibril tidak menurunkan Al-Qur’an karena ia menginginkannya. Ia menurunkannya karena Allah menghendaki dan mengizinkannya.

Maka, jika seseorang memusuhi Jibril karena ia membawa Al-Qur’an kepada Muhammad saw., sesungguhnya persoalannya bukan lagi sekadar permusuhan kepada Jibril. Ia sedang berhadapan dengan kehendak Allah yang mengutus Jibril.

Al-Qur’an Diturunkan ke Dalam Hati

Allah berfirman bahwa Jibril menurunkan Al-Qur’an “ke dalam hatimu.”

Ungkapan ini menunjukkan kedalaman hubungan antara wahyu dan Rasulullah saw. Hati dalam ungkapan Al-Qur’an bukan sekadar organ tubuh, tetapi tempat berlangsungnya pemahaman, kesadaran, penerimaan, dan penghayatan.

Wahyu tidak sekadar sampai kepada telinga.

Ia diterima oleh hati.

Ia menetap di dalamnya.

Ia dipahami, dihafalkan, diyakini, kemudian diwujudkan dalam kehidupan.

Karena itu, Al-Qur’an bukanlah sekadar kumpulan kata yang dibacakan Jibril kepada Muhammad saw. Ia adalah wahyu Allah yang masuk ke dalam kesadaran Rasul-Nya, kemudian beliau menyampaikannya kepada manusia.

Dan Jibril hanyalah pembawa amanah itu.

Al-Qur’an Bukanlah Risalah yang Terputus dari Wahyu Sebelumnya

Allah kemudian menjelaskan karakter Al-Qur’an:

«“Membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”»

Al-Qur’an datang bukan untuk memutus seluruh mata rantai wahyu sebelumnya. Ia membenarkan pokok kebenaran yang telah dibawa oleh kitab-kitab samawi terdahulu.

Sebab, sumber risalah itu satu.

Allah yang mengutus para nabi adalah satu.

Kebenaran yang mereka bawa pada prinsipnya juga satu.

Karena itu, tidak masuk akal jika seseorang mengaku beriman kepada Allah dan sebagian rasul-Nya, tetapi kemudian menolak rasul yang lain hanya karena ia datang membawa risalah yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Di sinilah Al-Qur’an datang untuk meluruskan sikap manusia terhadap wahyu.

Ia membenarkan kebenaran yang telah ada sebelumnya sekaligus menjadi petunjuk bagi manusia.

Tetapi Petunjuk Itu Tidak Diterima Semua Hati

Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan.

Allah menyebut Al-Qur’an sebagai “petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Mengapa?

Karena Al-Qur’an memang merupakan petunjuk, tetapi manfaat petunjuk itu tampak pada hati yang mau menerima kebenaran.

Al-Qur’an mengetuk hati.

Namun, tidak semua hati mau membuka pintunya.

Bagi hati yang beriman, Al-Qur’an menghadirkan ketenangan. Ia membuka jalan pengetahuan. Ia menumbuhkan kesadaran. Ia memberikan arah ketika manusia kehilangan orientasi. Ia menghadirkan harapan ketika kehidupan terasa sempit.

Karena itu, Al-Qur’an berulang kali disebut sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang yakin.

Ia juga disebut sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Dengan demikian, iman, takwa, dan keyakinan membuat seseorang mampu menerima petunjuk Al-Qur’an secara lebih sempurna.

Masalahnya bukan pada cahaya.

Masalahnya sering kali terletak pada mata yang menolak membuka diri terhadap cahaya itu.

Ketika Wahyu Dipilah-pilah Sesuai Keinginan

Sikap sebagian Bani Israil dalam menghadapi wahyu juga digambarkan dalam konteks ini.

Mereka telah mengenal para nabi dan malaikat. Mereka mengetahui nama dan tugas sebagian malaikat. Namun, ketika kebenaran datang melalui jalan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, sikap mereka berubah.

Mereka memilah-milah.

Yang sesuai dengan keinginan mereka diterima.

Yang tidak sesuai ditolak.

Demikian pula dalam persoalan malaikat. Mereka membedakan sikap terhadap Jibril dan Mikail. Seakan-akan para malaikat memiliki kepentingan yang berbeda dengan Allah, sehingga manusia boleh memilih siapa yang ingin disukai dan siapa yang ingin dimusuhi.

Padahal, para malaikat adalah makhluk Allah yang menjalankan perintah-Nya.

Jibril menjalankan tugasnya.

Mikail menjalankan tugasnya.

Para malaikat lainnya juga menjalankan tugas yang diberikan Allah kepada mereka.

Mereka tidak bekerja berdasarkan kepentingan pribadi.

Karena itu, Al-Qur’an sengaja menyebut semuanya dalam satu rangkaian:

«“Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail...”»

Rangkaian ini mengajarkan sebuah prinsip yang sangat penting:

Keimanan tidak boleh dibangun berdasarkan selera.

Seseorang tidak dapat berkata, “Saya menerima yang ini, tetapi menolak yang itu,” padahal keduanya berasal dari Allah.

Tidak mungkin seseorang mengaku beriman kepada Allah tetapi memusuhi rasul yang diutus-Nya.

Tidak mungkin mengaku menghormati wahyu tetapi membenci pembawa wahyu hanya karena wahyu itu tidak sesuai dengan kepentingannya.

Memusuhi Utusan Berarti Menentang Yang Mengutus

Di sinilah ayat tersebut membawa persoalan kepada titik yang paling mendasar.

Permusuhan kepada Jibril bukanlah persoalan pribadi antara manusia dengan malaikat.

Jibril tidak memiliki agenda pribadi.

Ia menjalankan perintah Allah.

Maka, memusuhi Jibril karena tugas yang dijalankannya berarti menolak kehendak Zat yang memberikan tugas tersebut.

Begitu pula dengan para rasul.

Mereka tidak datang membawa risalah atas kepentingan pribadi. Mereka menyampaikan amanah dari Allah.

Karena itu Allah menutup ayat tersebut dengan pernyataan yang sangat tegas:

«“...maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”»

Pesannya jelas.

Allah tidak dapat dipisahkan dari para utusan yang menjalankan perintah-Nya.

Jibril adalah utusan Allah.

Mikail adalah makhluk Allah yang menjalankan tugas-Nya.

Para nabi dan rasul adalah utusan Allah.

Maka, sikap seorang mukmin bukanlah memilih-milih siapa yang sesuai dengan seleranya, melainkan tunduk kepada Allah dan menerima apa yang datang dari-Nya dengan iman.

Di sinilah terlihat betapa dahsyatnya kebencian ketika ia telah menguasai hati.

Ia dapat membuat manusia menolak kebenaran bukan karena kebenaran itu tidak jelas, tetapi karena orang yang membawanya tidak sesuai dengan keinginannya.

Dan ketika kebencian sudah menguasai akal, manusia bahkan dapat sampai pada tahap memusuhi seorang malaikat hanya karena malaikat itu menjalankan perintah Tuhannya.

Al-Qur’an membongkar semua alasan tersebut dengan satu kalimat:

Jibril tidak bertindak atas kehendaknya sendiri. Ia menurunkan Al-Qur’an ke dalam hati Muhammad saw. dengan izin Allah.

Maka persoalan sebenarnya bukan Jibril.

Persoalan sebenarnya adalah sikap manusia terhadap kehendak Allah dan kebenaran yang datang dari-Nya.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (58) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (31) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (27) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhtilaf (2) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (341) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (118) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (313) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (750) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (10) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (336) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)