Dunia yang Sedang Bingung: Mengapa Kita Membutuhkan 'Poros Tetap' di Tengah Arus Perubahan?
Dalam kebingungan akal dan kelelahan saraf yang melanda peradaban modern, manusia sering kali merasa seperti kehilangan pijakan di atas tanah yang terus bergeser. Ketidakpastian bukan lagi sekadar bumbu kehidupan, melainkan beban yang menyesakkan hati nurani.
Namun, bagi mereka yang bersedia merenung dengan jernih, kegelisahan ini hanyalah manifestasi dari sebuah hakikat abadi yang melampaui sekat waktu dan tempat. Di tengah riuhnya klaim kemajuan, hidup pada dasarnya hanya berpijak pada dua keadaan mutlak: petunjuk atau kesesatan, kebenaran atau kebatilan, cahaya atau kegelapan.
Premis utama ini mengingatkan kita bahwa di balik kompleksitas dunia yang tampak abu-abu, selalu ada garis batas yang tegas bagi jiwa yang mencari kedamaian sejati.
Paradoks Dua Pilihan: Antara Syariat dan Hawa Nafsu
Islam menawarkan sebuah perspektif yang melampaui relativitas zaman. Di dalamnya, tidak ada ruang bagi kerancuan nilai.
Hanya ada dua alternatif sistem kehidupan yang bisa dipilih manusia: Islam sebagai tatanan rabbani yang bercahaya, atau selainnya—yang tak lain adalah jahiliyah, hawa nafsu, dan kesesatan.
Ini adalah "timbangan Allah yang tetap," sebuah ukuran yang tidak terpengaruh oleh pergantian abad maupun pergeseran geografi.
Di luar kebenaran yang datang dari Sang Pencipta, yang tersisa hanyalah bayang-bayang ilusi yang menyesatkan. Manusia pada hakikatnya hanya bisa melayani satu di antara dua tuan: Syariat yang lurus atau hawa nafsu yang liar.
Hal ini ditegaskan secara absolut dalam firman Allah:
"Maka tidak ada selain kebenaran itu melainkan kesesatan." (QS. Yunus: 32)
"Kemudian Kami jadikan kamu menetapi suatu syari'at (peraturan) dari urusan (agama), maka ikutilah syari'at itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. al-Jatsiah: 18)
Bergerak Tanpa Kehilangan Arah: Konsep Poros yang Tetap
Banyak intelektual modern keliru menganggap bahwa keteguhan pada prinsip adalah bentuk kebekuan. Padahal, dinamika kehidupan yang sehat hanya mungkin terwujud jika ia memiliki kerangka yang stabil. Inilah "gerak di seputar poros yang tetap."
Seperti alam semesta yang terus bergerak namun tunduk pada hukum-hukum dasarnya, kehidupan manusia hanya akan menemukan kelenturan dan kreativitas yang bermakna jika ia bertumpu pada hakikat pokok yang permanen.
Sebaliknya, fleksibilitas tanpa poros adalah resep menuju kehancuran. Kita bisa melihat potret masyarakat Eropa dalam sejarah modernnya; ketika mereka melepaskan diri dari kontrol prinsip-prinsip ketuhanan yang tetap, mereka menjadi seperti planet yang lepas dari garis edarnya, atau sekumpulan ternak yang tersesat menuju tempat kebinasaan yang buntu.
Tanpa poros yang stabil, gerak manusia bukan lagi "kemajuan," melainkan goncangan keras yang mengacaukan hati nurani dan menghancurkan tatanan sosial.
Mitos "Kemajuan" yang Terbelakang
Terdapat ironi yang tajam dalam arus pemikiran hari ini. Mereka yang paling lantang menyerukan "pembaharuan" dan menganggap agama sebagai artefak kuno, sebenarnya sedang memamerkan kebodohan yang dibangga-banggakan dalam selubung ilmu pengetahuan.
Banyak dari mereka yang merasa modern sesungguhnya terbelakang dalam pemikiran, sedikitnya setengah abad.
Mereka dengan bangga menelan sisa-sisa produk pemikiran abad ke-18 dan ke-19—seperti materialisme-dialektika Marxis atau evolusi Darwinian—tanpa menyadari bahwa di pusat peradaban Barat sekalipun, pemikiran-pemikiran tersebut mulai ditinggalkan.
Di saat manusia abad ke-20 dan ke-21 mulai kembali mencari agama demi menemukan ketenteraman dan keyakinan spiritual, kelompok yang merasa "progresif" ini justru masih memuja dogma-dogma usang yang gagal menjawab dahaga jiwa.
Mereka menyangka diri mereka sedang berlari di depan, padahal mereka terjebak dalam lorong waktu yang gelap.
Islam Selalu Hidup
Dalam karyanya yang mendalam, Muhammad Asad (Leopold Weiss) menyingkap sebuah kebenaran fundamental: kebudayaan manusia bersifat organis—ia lahir, tumbuh, matang, lalu layu dan mati.
Namun, Islam tidak tunduk pada siklus kematian tersebut karena ia bukan produk improvisasi akal manusia, melainkan Syariat Tuhan yang abadi. Islam adalah sistem yang dirancang sempurna untuk komposisi kejiwaan manusia.
Muhammad Asad memberikan pengakuan yang jujur:
"Sesungguhnya ummat manusia belum mampu membangun gagasan persaudaraan berdasarkan asas yang realistis, seperti dilakukan Islam ketika ia membawa gagasan sosialnya yang luhur, yaitu gagasan 'ummat'. Sesungguhnya ummat manusia belum mampu membangun tatanan sosial yang mampu meminimalkan benturan dan perpecahan di antara warganya seperti tatanan sosial yang dibangun Islam. Ummat manusia belum mampu mengangkat martabat manusia dan memberikan ketenangan dalam hatinya, kebahagiaan dan harapan spiritualnya."
Apa yang kini tampak sebagai "kemunduran" di dunia Islam bukanlah kegagalan sistemnya, melainkan cerminan dari kematian dan kekosongan hati para pengikutnya yang tidak lagi mampu mendengar suara abadi dari Tuhan.
Islam sebagai institusi spiritual dan moral tidak memerlukan perbaikan; kitalah yang memerlukan perbaikan sikap beragama dengan membuang kemalasan dan ketertipuan oleh dunia.
Tanggung Jawab Terhadap Kemanusiaan
Menjaga kemurnian prinsip Islam bukan sekadar tugas teologis bagi kaum Muslim, melainkan bentuk tanggung jawab besar terhadap kelangsungan hidup spesies manusia.
Islam adalah satu-satunya "mata air kebenaran" yang tersisa, tempat manusia dapat mereguk petunjuk rabbani yang murni di tengah gurun materialisme yang gersang.
Barangsiapa yang mencoba menggoyahkan landasan ini dengan dalih pembaharuan atau penyesuaian terhadap kebudayaan asing, sesungguhnya mereka adalah musuh-musuh kemanusiaan.
Mengapa? Karena mereka sedang mengeruhkan satu-satunya sumber air yang dapat menyelamatkan manusia dari kehancuran. Jika landasan yang kokoh ini dihilangkan, maka seluruh umat manusia akan tercampakkan ke dalam kesesatan yang lebih dalam, yang berujung pada kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia sendiri.
Keselamatan kita di masa depan tidak terletak pada seberapa cepat kita mampu berubah mengikuti tren zaman, melainkan pada seberapa teguh kita menemukan kembali landasan yang aman, stabil, dan menyampaikan kita kepada Sang Pencipta.
Kita tidak membutuhkan "perbaikan" pada Islam, karena ia telah sempurna sejak awal; yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengobati penyakit-penyakit jiwa kita sendiri.
Sebagai bahan refleksi: Di tengah arus yang kita sebut "kemajuan" ini, apakah kita sedang bergerak menuju cahaya petunjuk yang menenangkan, atau justru semakin menjauh dari poros kebenaran dan tersesat dalam kelelahan saraf yang tak berujung?
Pilihan itu tetap sama sejak awal penciptaan: menetap di atas poros yang kokoh, atau hanyut dalam hawa nafsu yang membinasakan.
0 komentar: