Duri di Balik Aliansi: Pengkhianatan Israel Terhadap Inggris di Pulau Falkland
Dalam teater geopolitik, loyalitas sering kali hanyalah sebuah fatamorgana yang memudar begitu kepentingan nasional atau dendam masa lalu menyeruak ke permukaan. Hari ini, kita menyaksikan babak baru dari ketegangan antara London dan Tel Aviv yang kian meruncing.
Rencana Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, untuk memberlakukan boikot terhadap produk dari pemukiman ilegal di Tepi Barat bukanlah sekadar kebijakan ekonomi biasa. Langkah ini merupakan kepatuhan terhadap opini penasihat Mahkamah Internasional (ICJ) Juli 2024 yang menyatakan pendudukan tersebut ilegal—sebuah "pergeseran paradigma" yang memicu kemarahan besar di pihak Israel.
Namun, bagi mereka yang jeli membaca lipatan sejarah, keretakan ini bukanlah fenomena baru. Ketegangan saat ini sebenarnya membangkitkan kembali hantu-hantu dari tahun 1982.
Melalui deklasifikasi dokumen rahasia Kantor Urusan Luar Negeri Inggris, terungkap sebuah ironi yang menyakitkan: di balik retorika sebagai mitra dekat, Israel secara sistematis memasok mesin perang kepada Argentina tepat saat Inggris sedang berdarah-darah di Kepulauan Falkland.
Senjata Sekutu yang Menikam Prajurit Inggris
Data sejarah menunjukkan betapa mematikannya ambivalensi diplomatik Israel saat itu. Di tengah puncak Perang Falklands, jet-jet tempur Skyhawk yang dipasok Israel menjadi instrumen maut yang menghancurkan armada Kerajaan Inggris.
Serangan udara dari jet-jet inilah yang bertanggung jawab atas tenggelamnya empat kapal perang dan gugurnya 48 prajurit serta pelaut Inggris. Ironisnya, saat London memohon solidaritas, Tel Aviv justru memilih untuk memonetisasi konflik tersebut.
Keterlibatan Israel bahkan hampir mencapai level yang lebih mengancam jika bukan karena intervensi diplomatik tingkat tinggi. Dokumen rahasia mengungkap peran vital Sir Geoffrey Howe, Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, yang harus bernegosiasi keras untuk membatalkan rencana Israel menjual pesawat mata-mata (ELINT) ke Argentina.
Pesawat tersebut dirancang khusus untuk mengumpulkan sinyal intelijen dan data elektronik militer Inggris, sebuah tindakan yang jika terjadi, akan menjadi pengkhianatan total terhadap keamanan nasional Inggris.
"Inggris mendapati diri mereka berada dalam situasi terburuk; di satu sisi Israel tampak mengirimkan pesawat ke Argentina, sementara di sisi lain mereka terus-menerus menepis kami dengan bantahan yang berulang." — Catatan Pejabat Kantor Urusan Luar Negeri Inggris.
Jalur Gelap dan "Topeng" Peru dalam Arus Persenjataan
Operasi pasokan senjata ini dijalankan dengan ketangkasan Machiavellian guna menghindari radar intelijen Inggris.
Sebagaimana dicatat dalam riset Hernan Dobry, Israel menggunakan Peru bukan sekadar sebagai titik transit, melainkan sebagai "masker" diplomatik untuk menutupi asal-usul persenjataan tersebut. Metodologi pengiriman rahasia ini melibatkan skema yang sangat rumit:
Penerbangan Kargo Rahasia: Arus persenjataan dikirim melalui penerbangan cargo gelap yang mendarat di Peru sebelum diteruskan ke Buenos Aires.
Kamuflase Keuangan: Penggunaan perantara di Panama untuk menerbitkan surat kredit melalui Credit Suisse di Zurich demi membiayai transaksi dengan Israeli Aircraft Industries Ltd di Tel Aviv.
Inventaris Perang: Pasokan ini mencakup 20 jet tempur Nesher yang direkondisi, rudal udara-ke-udara, ranjau anti-tank, mortir, hingga tangki bahan bakar tambahan yang krusial bagi daya jangkau jet Skyhawk untuk menyerang posisi Inggris.
Logika "Mata Ganti Mata" dan Dendam dari King David Hotel
Mengapa Israel bersedia arming musuh dari sekutu historisnya?
Secara permukaan, ini adalah realpolitik transaksional—sebuah peluang pasar senjata senilai $1 miliar.
Namun, secara substansial, tindakan ini adalah bentuk pembalasan atas embargo senjata yang dijatuhkan Margaret Thatcher terhadap Israel pasca-invasi Lebanon 1982. Israel menggunakan argumen "mata ganti mata," mengklaim bahwa Inggris pun memasok senjata ke negara-negara Arab yang dianggap sebagai musuh eksistensial mereka.
Namun, akar dari "pengkhianatan" ini juga bersifat personal. Perdana Menteri Israel saat itu, Menachem Begin, memiliki rekam jejak dendam mendalam terhadap Britania Raya.
Sebagai mantan komandan Irgun, Begin adalah arsitek di balik pengeboman Hotel King David tahun 1946 yang menewaskan 91 orang, termasuk 28 warga Inggris.
Baginya, mempersenjatai Argentina adalah cara untuk menagih utang lama kepada negara yang pernah menjadi otoritas mandat di tanahnya.
"Pejabat Israel menjustifikasi tindakan mereka dengan mengatakan bahwa Inggris juga telah menjual senjata ke 'musuh' Israel yakni negara-negara Arab."
Sejarah yang Berulang: Falkland sebagai Pion Catur Modern
Memasuki periode 2024-2026, retakan ini kembali menganga. Isu kedaulatan Falkland kini digunakan sebagai pion dalam catur diplomatik untuk merespons tekanan Inggris di Tepi Barat.
Pernyataan Yair Netanyahu yang mendukung klaim Argentina (Malvinas) bukanlah sebuah anomali, melainkan sinyal bahwa Israel siap mengganggu kepentingan strategis Inggris di manapun.
Situasi ini diperparah dengan pergeseran aliansi global. Donald Trump secara mengejutkan memberikan indikasi bahwa AS tidak akan mendukung Inggris jika Argentina kembali menginvasi Falkland.
Trump secara eksplisit menyebutkan kekecewaannya karena Inggris tidak memberikan dukungan memadai saat AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada Februari lalu.
Di sisi lain, Presiden Argentina Javier Milei mulai merasakan "angin perubahan" ( winds of change ) dan mengancam sanksi bagi perusahaan minyak Inggris, menunjukkan bahwa preseden 1982 bisa terulang kembali dalam bentuk perang ekonomi yang didukung oleh mantan sekutu London sendiri.
Tragedi tahun 1982 dan ketegangan diplomatik hari ini memberikan refleksi pahit tentang etika dalam perdagangan senjata global.
Hubungan internasional bukanlah sebuah persahabatan yang didasarkan pada moralitas, melainkan sekumpulan kepentingan yang saling bersilangan.
Ketika Inggris memegang prinsip hukum internasional melalui ICJ, Israel merespons dengan bahasa realpolitik yang keras, menggunakan Falkland sebagai daya tawar.
Sejarah mengingatkan kita bahwa dalam diplomasi senjata, "teman" hanyalah mereka yang kepentingannya selaras untuk saat ini.
Masa depan hubungan Inggris-Israel kini berdiri di atas tumpukan dokumen rahasia yang mengungkap bahwa pengkhianatan paling menyakitkan sering kali dilakukan oleh mereka yang duduk bersama di meja perjamuan yang sama.
Pertanyaannya kemudian: mampukah aliansi ini bertahan, ataukah luka Falkland akan terus menjadi duri yang selamanya tertancap dalam daging diplomatik Inggris?
0 komentar: