Hubungan Tiongkok, Bani Umayyah dengan Sriwijaya
Jauh sebelum serat optik dan internet menghubungkan layar-layar kita, deru ombak di Selat Malaka telah lebih dulu mempertautkan jiwa dan perniagaan berbagai bangsa. Sering kali kita terjebak dalam mitos bahwa globalisasi adalah fenomena modern, padahal jika kita menyingkap tabir masa lalu, Nusantara telah lama menjadi jantung yang memompa denyut nadi peradaban dunia.
Sejak abad ke-7, kepulauan ini bukan sekadar gugusan tanah di tepi peta, melainkan panggung megah di mana para diplomat, intelektual, dan saudagar dari berbagai penjuru bumi bertemu dalam harmoni yang luar biasa.
Sriwijaya Bukan Sekadar Kerajaan, Tapi Universitas Global
Bayangkan sebuah kota di tepian sungai yang dipenuhi oleh ribuan rahib dan pelajar dari berbagai bangsa. Itulah pemandangan di ibukota Sriwijaya—atau Shih-Li-Fo-Shih dalam catatan Tiongkok—sekitar tahun 671 M. Kemasyhurannya sebagai pusat studi internasional menarik perhatian I-Tsing, seorang musafir intelektual terkemuka.
Menariknya, I-Tsing tidak tiba dengan kapal militer, melainkan menumpang kapal-kapal dagang orang Ta-Shih (Arab) dan Po-Sse (Persia), membuktikan bahwa jalur ilmu pengetahuan dan jalur perdagangan adalah dua sisi dari koin yang sama.
Di sana, I-Tsing menetap selama bertahun-tahun untuk mendalami gramatika bahasa Sansekerta dan menyalin kitab-kitab suci Buddha.
Mobilitas intelektual lintas samudra ini menegaskan bahwa Sriwijaya adalah "universitas global" yang mapan, sebuah pusat keunggulan yang kedaulatannya diperkuat dengan pembangunan kota—maruuat wanua—pada 16 Juni 682 M, sebagaimana terukir abadi dalam Prasasti Kedukan Bukit.
Diplomasi Melampaui Samudra: Surat untuk Sang Khalifah
Pengakuan dunia terhadap Nusantara tidak hanya terbatas pada sektor pendidikan, tetapi juga merambah ke kedaulatan politik tingkat tinggi. Terjadi korespondensi diplomatik yang sangat maju antara Maharaja Sriwijaya dengan para pemimpin besar di Asia Barat.
Tercatat bahwa Maharaja mengirimkan surat kepada Khalifah Muawiyah pada tahun 661 M, dan mengirimkan surat kedua yang lebih komprehensif kepada Khalifah Umar bin Abd al-Aziz (717-720 M) dari Bani Umayyah.
Bukti otentik surat-surat ini masih tersimpan dengan rapi dalam ingatan sejarah. Bagian pendahuluan surat tersebut dikutip oleh Al-Jahiz dalam karyanya Kitab al-Hayawan, sementara isi lengkapnya diselamatkan oleh Ibnu Abd al-Rabbih dalam kitab Al-Ikd al-Farid.
Langkah diplomatik ini menunjukkan betapa percayanya diri leluhur kita dalam menempatkan posisinya sejajar dengan kekhalifahan besar di Timur Tengah, sebuah bukti nyata bahwa kedaulatan Nusantara telah diakui secara global lebih dari seribu tahun yang lalu.
Armada Persia di Pelabuhan Palembang
Hiruk-pikuk pelabuhan Nusantara di masa silam adalah cerminan dari kesibukan logistik yang luar biasa. Berdasarkan sumber-sumber Tionghoa, pada tahun 717 M, sebanyak 35 kapal Po-Sse (Persia) bersandar serentak di pelabuhan Palembang.
Bayangkan aroma rempah yang tajam, tumpukan sutra, dan perpaduan berbagai bahasa yang terdengar di dermaga. Kehadiran armada besar ini menegaskan bahwa pelabuhan kita bukan sekadar tempat pengisian air bersih atau persinggahan darurat, melainkan destinasi ekonomi utama bagi para pedagang Ta-Shih dan Po-Sse yang melintasi samudera demi mencapai kemakmuran di tanah ini.
Tiga Pilar Kekuatan Dunia Abad Ke-7
Dunia pada masa itu berdiri tegak di atas stabilitas hubungan segitiga antara tiga kekuatan raksasa: Dinasti Tang di Tiongkok, Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat.
Ketiganya membentuk sebuah ekosistem ekonomi yang harmonis. Sriwijaya berperan krusial sebagai "manajer tengah" yang andal, memastikan keamanan jalur pelayaran dan keterhubungan pasar dari pelabuhan-pelabuhan Umayyah hingga ke pusat perniagaan Tang.
Keseimbangan kekuatan ini menciptakan era keemasan di mana perdagangan internasional di Selat Malaka dapat tumbuh subur tanpa gangguan, membawa kemakmuran bagi semua pihak yang terlibat.
Kehadiran Tiongkok yang Konsisten dan Berkelanjutan
Hubungan dengan Tiongkok adalah narasi tentang persahabatan yang melintasi zaman. Kemitraan strategis ini tidak terjadi dalam semalam; para pedagang Tionghoa telah mendatangi kepulauan ini sejak abad-abad pertama masehi.
Konsistensi ini terus terjaga selama berabad-abad, bahkan hingga era Dinasti Ming yang mencatat hubungan diplomatik dengan San-Bo-Tsai (Palembang) pada tahun 1379 M. Ketangguhan hubungan ini membuktikan bahwa Nusantara adalah mitra yang tak tergantikan bagi Tiongkok, sebuah jalinan yang tetap kokoh meski zaman terus berganti.
Menelusuri sejarah panjang ini menyadarkan kita bahwa identitas bangsa kita sebenarnya terbentuk dari keterbukaan. Kita tidak tumbuh dalam isolasi; kita adalah pewaris dari peradaban yang berani berlayar, berdiplomasi, dan berkolaborasi.
Konektivitas dan diplomasi cerdas yang ditunjukkan oleh para pendahulu kita adalah pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya sebuah bangsa besar bersikap di panggung dunia.
0 komentar: