PANGKAL PERSELISIHAN DI BUMI
Perselisihan terbesar dalam kehidupan manusia ternyata tidak bermula dari perebutan kekuasaan, harta, wilayah, atau kepentingan politik. Pangkalnya jauh lebih tua daripada seluruh sejarah manusia. Ia bermula ketika Iblis menolak perintah Allah karena kesombongan, kedengkian, dan qiyas yang rusak.
Allah menciptakan Adam, kemudian memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan. Allah juga mengajarkan kepada Adam nama-nama segala sesuatu sehingga tampaklah keutamaan dan kemuliaannya.
Namun, Iblis melihat kemuliaan itu dengan kedengkian. Ia tidak menerima keputusan Allah dan menolak perintah-Nya dengan berkata,
«قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ»
«"Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah."
(QS. Al-A'raf: 12)»
Inilah bentuk perselisihan dan pengingkaran pertama.
Iblis tidak sekadar menolak sebuah perintah. Ia membangun cara berpikir yang keliru untuk membenarkan penolakannya. Ia membandingkan asal penciptaan, kemudian menjadikan perbandingan itu sebagai alasan untuk menentang ketetapan Allah. Dari sinilah lahir sebuah pola yang terus berulang dalam kehidupan manusia: ketika kesombongan menguasai hati, akal dapat diperalat untuk mencari pembenaran terhadap pembangkangan.
Karena itu, Iblis menjadi pemimpin bagi para pendurhaka, pemberontak, dan orang-orang yang menyombongkan diri. Ia mengajarkan kepada para pengikutnya bagaimana menentang perintah Allah dan bagaimana memandang ketaatan sebagai sesuatu yang dapat diperdebatkan ketika bertentangan dengan hawa nafsu.
Maka, orang yang bahagia adalah orang yang menyelisihi jalan Iblis, sedangkan orang yang sengsara adalah orang yang mengikuti langkahnya.
Dari Surga Menuju Bumi: Awal Kehidupan yang Penuh Ujian
Setelah itu, Allah memerintahkan Adam dan istrinya untuk menetap di surga. Keduanya memperoleh kenikmatan yang luas, tetapi Allah menguji mereka dengan sebuah larangan: tidak mendekati satu pohon.
Iblis kemudian menggoda keduanya. Dengan tipu daya dan memperdayakan keduanya, ia berhasil membuat Adam dan istrinya memakan buah dari pohon tersebut. Akibatnya, keduanya diturunkan ke bumi.
Bumi kemudian menjadi tempat kehidupan manusia—tempat kesengsaraan dan kebahagiaan, kepayahan dan kemudahan, kerja keras dan ujian, sekaligus tempat manusia menentukan jalan yang akan ditempuhnya.
Allah berfirman:
«"Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan."
(QS. Al-Baqarah: 36)»
Sejak saat itu, kehidupan manusia tidak lagi berlangsung dalam satu keadaan yang seragam. Keturunan Adam berkembang dengan perbedaan agama, akhlak, pekerjaan, tujuan, keinginan, perkataan, dan perbuatan.
Di sinilah kita perlu melihat kisah Adam bukan sekadar sebagai kisah tentang masa lalu. Ia adalah cermin tentang manusia sepanjang zaman.
Adam pernah tergelincir, tetapi ia bertobat. Iblis tergelincir, tetapi ia justru menyombongkan diri dan terus mempertahankan pembangkangannya.
Keduanya menjadi gambaran dua jalan yang selalu terbuka bagi manusia: jalan kembali kepada Allah dan jalan mempertahankan kesalahan karena kesombongan.
Pangkal Dua Jalan: Petunjuk atau Penyimpangan
Dari Adam lahir keturunan yang berbuat baik dan ada pula yang menzalimi dirinya. Demikian pula dari keturunan Iblis terdapat para pengikut yang memilih jalan kekufuran dan pembangkangan.
Karena itu, perselisihan yang terjadi di antara manusia pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang muncul tanpa akar. Al-Qur'an menjelaskan bahwa manusia akan terus berhadapan dengan pilihan antara mengikuti petunjuk atau mengikuti jalan yang menyimpang.
Allah berfirman:
«"Kami berfirman, 'Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.' Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya."
(QS. Al-Baqarah: 38–39)»
Dunia adalah tempat perselisihan dan ujian. Adapun di akhirat, perselisihan itu memperoleh balasannya.
Allah berfirman:
«"Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), 'Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa!'"
(QS. Yasin: 59)»
Dengan demikian, perbedaan yang bermula sebagai pilihan di dunia akan berujung pada pemisahan di akhirat. Dunia adalah tempat manusia menentukan sikap; akhirat adalah tempat setiap pilihan memperoleh balasannya.
Qabil dan Habil: Ketika Kedengkian Berubah Menjadi Darah
Perselisihan kemudian menemukan bentuk yang lebih nyata dalam kisah dua putra Adam: Qabil dan Habil.
Qabil merasa dengki kepada saudaranya, sebagaimana Iblis dahulu merasa iri terhadap Adam. Kedengkian itu berkembang menjadi ancaman pembunuhan.
Habil menjawab dengan ketenangan yang menunjukkan ketakwaannya:
«لَئِنْ بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطِ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ»
«"Sungguh, jika engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam."
(QS. Al-Ma'idah: 28)»
Namun, ketakwaan Habil tidak mampu menahan hawa nafsu Qabil yang telah menguasainya. Qabil akhirnya membunuh saudaranya dan menjadi orang yang merugi.
Dari sini tampak sebuah mata rantai yang mengerikan:
kedengkian → kesombongan → pembangkangan → permusuhan → kekerasan → pembunuhan.
Apa yang dahulu dimulai Iblis dalam bentuk penolakan terhadap perintah Allah, kemudian muncul dalam diri manusia sebagai kedengkian terhadap sesama.
Qabil menjadi orang yang pertama kali melakukan pembunuhan. Dengan demikian, perselisihan yang tidak dikendalikan oleh iman dapat mencapai titik paling tragis: hilangnya nyawa manusia.
Dari Adam hingga Nuh: Ketika Perselisihan Belum Menjadi Syirik
Namun, menarik untuk dicermati bahwa perselisihan dalam akidah tidak langsung muncul sejak awal kehidupan manusia.
Allah berfirman:
«كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ»
«"Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah memberi petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus."
(QS. Al-Baqarah: 213)»
Dalam Surah Yunus Allah juga berfirman:
«"Dan manusia itu dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidak karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu, pastilah telah diberi keputusan (di dunia) di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu."
(QS. Yunus: 19)»
Ubay bin Ka'ab berkata bahwa Allah mengutus para rasul dan menurunkan Al-Kitab setelah munculnya perselisihan.
Diriwayatkan secara sahih dari Ibnu Abbas bahwa jarak antara Adam dan Nuh adalah sepuluh abad dan seluruhnya berada di atas syariat yang benar. Kemudian mereka berselisih, lalu Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan.
Dengan demikian, pada rentang awal tersebut manusia berada dalam keadaan yang lurus: umat yang satu, agama yang satu, dan sembahan yang satu.
Syirik: Perselisihan yang Mengubah Arah Sejarah Manusia
Perselisihan kemudian berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Iblis kembali memainkan perannya. Ia memperdaya manusia hingga mereka menyimpang dari tauhid dan terjerumus ke dalam penyembahan berhala serta pengingkaran terhadap kebangkitan.
Inilah yang menjadikan kesyirikan sebagai salah satu bentuk perselisihan paling besar dalam sejarah manusia. Sebab persoalannya bukan lagi sekadar perbedaan pendapat mengenai perkara dunia, melainkan menyangkut siapa yang disembah, kepada siapa manusia tunduk, dan dari mana manusia menerima petunjuk kehidupan.
Dari penyimpangan akidah kemudian lahir berbagai bentuk kesewenang-wenangan, kelaliman, fitnah, dan bencana. Perselisihan yang tidak dikembalikan kepada kebenaran bahkan dapat berakhir pada pertumpahan darah.
Allah berfirman:
«"...Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya."
(QS. Al-Baqarah: 253)»
Karena itu, pengutusan para rasul bukan sekadar membawa aturan baru. Mereka datang untuk mengingatkan manusia kepada jalan yang benar, mengembalikan mereka kepada tauhid, dan mengajak mereka meninggalkan perselisihan yang telah menyesatkan.
Para rasul mengembalikan manusia kepada pangkal yang pertama: menyembah Allah semata, menerima petunjuk-Nya, dan menjauhi jalan yang dibangun oleh Iblis.
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa Allah memberi petunjuk kepada orang-orang beriman ketika terjadi perselisihan agar mereka kembali kepada kebenaran yang dibawa para rasul sebelum perselisihan itu muncul. Mereka kembali menegakkan perkara pertama yang benar dan menjauhi persengketaan.
Pelajaran Besar: Perselisihan Bermula dari Dalam Diri
Jika kisah Adam, Iblis, Qabil, dan Habil direnungkan sebagai satu rangkaian, kita akan menemukan sebuah pola yang sangat mendalam.
Perselisihan tidak selalu bermula dari perbedaan yang besar. Ia dapat bermula dari sebuah penyakit kecil di dalam hati: kesombongan dan kedengkian.
Iblis tidak menerima kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Qabil tidak menerima keutamaan yang ada pada saudaranya. Dari penolakan itu lahir iri hati. Dari iri hati lahir permusuhan. Dari permusuhan lahir kekerasan.
Karena itu, persoalan terbesar manusia bukan sekadar bagaimana menyelesaikan perselisihan setelah ia terjadi. Yang lebih penting adalah bagaimana mencegah benih perselisihan tumbuh sejak berada di dalam hati.
Iblis mengajarkan manusia untuk mempertahankan kesalahan karena gengsi. Adam mengajarkan manusia untuk kembali kepada Allah ketika melakukan kesalahan.
Iblis berkata, pada intinya, "Aku lebih baik."
Adam menunjukkan sikap yang berbeda: mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah.
Di antara kedua sikap itulah manusia terus memilih sepanjang sejarahnya.
Maka kisah Adam dan Iblis bukan hanya kisah tentang permulaan manusia. Ia adalah kisah tentang pangkal segala perselisihan dan sekaligus petunjuk tentang cara keluar darinya.
Selama kesombongan dan kedengkian dipelihara, perselisihan akan selalu menemukan bentuk baru.
Sebaliknya, selama manusia mau merendahkan diri di hadapan kebenaran, menerima petunjuk Allah, dan kembali kepada-Nya ketika tergelincir, pintu perdamaian akan selalu terbuka.
Sebab persoalan manusia sejak awal bukan karena ia tidak pernah salah.
Persoalan terbesar adalah ketika manusia salah, lalu kesombongan membuatnya enggan kembali kepada kebenaran.
0 komentar: