JEJAK RISALAH PARA NABI HINGGA RASUL TERAKHIR
Jika kita menelusuri sejarah Islam, kita akan menemukan bahwa risalah Nabi Muhammad saw. bukanlah ajaran yang berdiri tanpa akar sejarah. Risalah beliau merupakan kelanjutan dari mata rantai wahyu yang telah disampaikan Allah kepada para nabi dan rasul sebelum beliau.
Allah adalah Tuhan yang satu, dan manusia adalah makhluk yang satu dalam asal penciptaannya. Karena itu, tujuan utama kehidupan manusia pun pada hakikatnya tetap sama: menghambakan diri kepada Allah.
Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Ketaatan manusia tidak menambah kebesaran-Nya, sebagaimana kemaksiatan manusia tidak mengurangi keagungan-Nya. Manusialah yang membutuhkan penghambaan itu, karena hanya dengan mengenal dan tunduk kepada Penciptanya manusia menemukan arah kehidupannya.
Namun, penghambaan kepada Allah tidak diserahkan kepada manusia untuk ditentukan sesuka hati. Bagaimana manusia mengenal Allah, siapa yang harus disembah, bagaimana cara menyembah-Nya, serta bagaimana menjalani kehidupan sebagai hamba, semuanya dijelaskan melalui wahyu yang disampaikan para nabi dan rasul.
Di sinilah kita menemukan benang merah seluruh risalah kenabian.
Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Dawud, Sulaiman, Isa, dan para nabi lainnya diutus oleh Tuhan yang sama. Mereka datang pada masyarakat dan zaman yang berbeda, dengan sebagian ketentuan syariat yang dapat berbeda sesuai keadaan umatnya. Namun, inti seruannya tetap satu:
Menyembah Allah semata dan menaati-Nya.
Dalam perjalanan sejarah, manusia tidak selalu menjaga kemurnian ajaran tersebut. Penyimpangan dapat muncul dalam bentuk penyembahan berhala, khurafat, takhayul, pemalsuan ajaran, atau pengultusan terhadap manusia. Karena itulah Allah terus mengutus para rasul untuk mengembalikan manusia kepada jalan yang lurus.
Kemudian datanglah Nabi Muhammad saw. membawa risalah yang tidak dibatasi oleh satu bangsa, satu wilayah, atau satu masa. Risalah beliau ditujukan kepada seluruh manusia dan menjadi wahyu terakhir yang Allah jaga hingga akhir zaman.
Dengan demikian, memahami Nabi Muhammad saw. berarti pula memahami jejak panjang risalah para nabi sebelumnya.
1. PENCIPTA DAN SIFAT-SIFAT-NYA
Manusia tidak pernah menciptakan dirinya sendiri.
Kita lahir tanpa pernah memilih kapan, di mana, atau dari siapa kita dilahirkan. Kita tidak menciptakan tubuh kita, tidak menentukan hukum yang mengatur jantung agar terus berdetak, dan tidak menciptakan alam yang menjadi tempat kita hidup.
Lalu dari mana semua ini berasal?
Al-Qur'an mengajak manusia menggunakan akalnya:
«أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ»
«"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"
(QS. Ath-Thur: 35)»
Pertanyaan ini sederhana, tetapi mengguncang dasar kesadaran manusia. Jika manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, dan alam tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, maka ada Pencipta yang menjadi asal keberadaan seluruh makhluk.
Allah berfirman:
«ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ»
«"(Yang memiliki sifat-sifat) demikian itu ialah Allah Tuhanmu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu."
(QS. Al-An'am: 102)»
Manusia adalah ciptaan. Allah adalah Pencipta.
Karena itu, hubungan manusia dengan Allah bukanlah hubungan antara dua pihak yang sederajat. Manusia adalah hamba, sedangkan Allah adalah Rabb yang menciptakan, memiliki, mengatur, dan memelihara seluruh alam.
Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya:
«لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ»
«"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
(QS. At-Tin: 4)»
Namun, kemuliaan manusia tidak berarti manusia menjadi sejajar dengan Penciptanya.
Allah Mahasatu dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya:
«قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ»
«"Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.'"
(QS. Al-Ikhlas: 1–4)»
Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia menerima tobat hamba-Nya dan membuka pintu ampunan bagi orang yang kembali kepada-Nya.
Allah berfirman:
«قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ»
«"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"
(QS. Az-Zumar: 53)»
Namun, rahmat Allah tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk mempersekutukan-Nya. Al-Qur'an memberikan peringatan yang sangat tegas:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ»
«"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki."
(QS. An-Nisa': 48)»
Maka, tauhid bukan sekadar salah satu bagian dari ajaran Islam. Tauhid adalah fondasinya.
a. Tujuan Penciptaan Manusia
Jika Allah adalah Pencipta, lalu untuk apa manusia diciptakan?
Al-Qur'an memberikan jawaban yang sangat jelas:
«وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ»
«"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat: 56)»
Ibadah dalam pengertian Islam tidak terbatas pada ritual yang dilakukan di masjid.
Makan, minum, mencari tempat tinggal, bekerja, menikah, mendidik anak, mencari nafkah, dan berbagai aktivitas kehidupan dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan dalam batas-batas yang diridhai Allah.
Dengan demikian, Islam tidak memisahkan kehidupan menjadi wilayah "agama" dan wilayah "bukan agama" secara mutlak.
Seluruh kehidupan seorang mukmin dapat diarahkan kepada satu tujuan: menjadi pengabdian kepada Allah.
Di sinilah makna ibadah menjadi begitu luas. Bukan sekadar apa yang dilakukan manusia beberapa saat dalam sehari, tetapi bagaimana seluruh hidupnya diarahkan kepada Sang Pencipta.
b. Jejak Risalah Para Nabi
Allah tidak membiarkan manusia mencari jalan menuju-Nya tanpa petunjuk.
Di dalam diri manusia terdapat kecenderungan untuk mengenal dan mencari Tuhannya. Namun, lingkungan, hawa nafsu, tradisi, kepentingan, dan penyimpangan pemikiran dapat mengaburkan kecenderungan tersebut.
Karena itu Allah mengutus para rasul.
Al-Qur'an menegaskan:
«وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا»
«"...dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul."
(QS. Al-Isra': 15)»
Para rasul hadir untuk menyampaikan wahyu, menjelaskan jalan kebenaran, memberi peringatan, sekaligus menjadi teladan bagaimana manusia seharusnya hidup sebagai hamba Allah.
Mereka bukan sekadar penyampai teori keagamaan. Kehidupan mereka menjadi contoh nyata dari ajaran yang mereka bawa.
Karena itu, Allah menjaga para utusan-Nya dan mengangkat mereka sebagai teladan bagi umatnya.
Yang menarik adalah bahwa jika kita membaca Al-Qur'an secara menyeluruh, kita akan menemukan satu kalimat yang terus berulang dalam dakwah para nabi:
«فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ»
«"Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku."»
Di balik perbedaan zaman, bangsa, dan sebagian ketentuan syariat, terdapat satu fondasi yang tidak berubah:
Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Allah berfirman:
«وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ»
«"Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.'"
(QS. Al-Anbiya': 25)»
Inilah kata kunci yang menyatukan risalah para nabi sejak Adam hingga Muhammad saw.:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.
Maka, risalah Nabi Muhammad saw. tidak datang untuk memutus mata rantai kenabian sebelumnya. Sebaliknya, Al-Qur'an datang untuk membenarkan wahyu yang masih murni dari Allah, meluruskan penyimpangan, dan menyempurnakan risalah tersebut dalam bentuk wahyu terakhir.
2. RASUL TERAKHIR
Jauh sebelum Nabi Muhammad saw. menerima wahyu, Ibrahim telah berdoa untuk tempat yang kelak menjadi pusat risalah terakhir.
Makkah pada masa itu merupakan lembah yang tandus. Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat tersebut atas perintah Allah, lalu memanjatkan doa:
«رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ»
«"Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."
(QS. Al-Baqarah: 129)»
Doa itu tidak langsung terwujud pada masa Ibrahim.
Allah menangguhkan jawabannya hingga waktu yang telah Dia tentukan.
Berabad-abad kemudian, dari bangsa Arab yang hidup di tengah masyarakat jahiliah, lahirlah seorang manusia yang secara manusiawi tampak sederhana: seorang yatim, kemudian menjadi penggembala, tidak membaca dan menulis sebagaimana tradisi kaum terpelajar saat itu.
Namun, justru melalui dirinya Allah menyampaikan wahyu terakhir kepada umat manusia.
Muhammad saw. bukan hanya seorang nabi bagi satu suku atau bangsa. Beliau adalah Rasulullah dan penutup para nabi.
Allah berfirman:
«مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ»
«"Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi."
(QS. Al-Ahzab: 40)»
Kenabian Muhammad saw. juga memiliki karakter yang berbeda dalam jangkauan risalahnya.
Para nabi sebelumnya diutus kepada umat tertentu dalam konteks sejarah tertentu. Adapun Nabi Muhammad saw. diutus untuk seluruh manusia.
Allah berfirman:
«وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ»
«"Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
(QS. Saba': 28)»
Lebih jauh lagi, Allah menyebut misi beliau sebagai rahmat bagi seluruh alam:
«وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ»
«"Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
(QS. Al-Anbiya': 107)»
Dengan demikian, risalah Muhammad saw. memiliki dimensi universal. Ia tidak terikat oleh batas suku, bangsa, geografis, ataupun zaman.
Risalah yang Satu, Syariat yang Dapat Berbeda
Di sinilah kita dapat memahami hubungan Islam dengan risalah para nabi terdahulu secara lebih jernih.
Islam mengakui bahwa Musa, Isa, dan para nabi Bani Israil adalah bagian dari mata rantai kenabian. Al-Qur'an tidak mengajarkan umat Islam untuk mengingkari para nabi tersebut.
Namun, Islam juga tidak membenarkan seluruh keyakinan dan praktik yang kemudian dinisbatkan kepada mereka.
Sebab ada perbedaan antara wahyu yang Allah turunkan kepada seorang nabi dan pemahaman atau perubahan yang dilakukan manusia setelahnya.
Al-Qur'an mengkritik penyimpangan dalam keyakinan dan praktik keagamaan yang muncul di tengah sebagian Ahli Kitab. Dalam perspektif Islam, para nabi sendiri tidak boleh dituduh dengan berbagai bentuk kesyirikan atau kemaksiatan yang bertentangan dengan kedudukan kenabian mereka.
Demikian pula, konsep ketuhanan yang menisbatkan sifat-sifat makhluk kepada Allah atau menjadikan selain Allah sebagai bagian dari ketuhanan bertentangan dengan prinsip tauhid yang dibawa seluruh nabi.
Maka, ketika Islam berbicara tentang Ahli Kitab, pengakuan terhadap asal-usul wahyu mereka tidak berarti Islam menerima seluruh doktrin yang berkembang kemudian.
Justru salah satu fungsi Al-Qur'an adalah mengembalikan manusia kepada tauhid yang menjadi inti risalah para nabi.
Dari Adam hingga Muhammad: Satu Mata Rantai Tauhid
Jika seluruh perjalanan ini direnungkan, kita akan melihat sebuah garis yang sangat panjang.
Adam mengajarkan penghambaan kepada Allah.
Nuh menyeru kaumnya meninggalkan kesyirikan.
Ibrahim menghancurkan argumentasi penyembah berhala dan menegakkan tauhid.
Ismail meneruskan jalan ayahnya.
Musa menghadapi Fir'aun dan menyeru manusia kepada Rabb semesta alam.
Isa datang membenarkan Taurat dan menyeru Bani Israil kepada Allah.
Kemudian Muhammad saw. datang membawa wahyu terakhir yang membenarkan risalah para nabi sekaligus menyempurnakan tuntunan bagi seluruh manusia.
Bangsa dan zaman boleh berubah.
Bahasa boleh berbeda.
Sebagian hukum praktis dapat berubah sesuai syariat yang Allah tetapkan bagi umat tertentu.
Tetapi pusat risalahnya tetap sama:
Allah satu-satunya Tuhan.
Manusia adalah hamba.
Para rasul adalah pembawa petunjuk.
Kehidupan adalah ujian.
Dan manusia akan kembali kepada Allah.
Karena itu, kedatangan Nabi Muhammad saw. tidak seharusnya dipahami sebagai munculnya agama yang sama sekali baru tanpa hubungan dengan sejarah sebelumnya.
Beliau adalah penutup dari rangkaian panjang kenabian.
Risalah terakhir datang untuk manusia yang tidak lagi dibatasi oleh satu bangsa dan satu wilayah. Ia membawa petunjuk yang ditujukan kepada seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Di sinilah letak keistimewaan risalah Muhammad saw.: risalah yang berakar pada tauhid yang sama dengan seluruh nabi, tetapi diberikan dalam bentuk wahyu terakhir yang berlaku universal.
Dan mungkin inilah salah satu pelajaran terpenting dari perjalanan panjang para nabi:
Manusia berkali-kali berubah, tetapi Allah tidak pernah membiarkan manusia tanpa petunjuk.
Ketika manusia menyimpang, Allah mengutus rasul.
Ketika ajaran diselewengkan, Allah mengingatkan kembali.
Dan ketika rangkaian kenabian mencapai akhirnya, Allah mengutus Muhammad saw. membawa risalah yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Sejarah para nabi pada akhirnya bukan sekadar rangkaian kisah masa lalu.
Ia adalah satu pesan yang terus bergema:
Kenalilah Penciptamu, sembahlah Dia semata, ikutilah petunjuk-Nya, dan jangan biarkan perubahan zaman membuatmu kehilangan arah pulang kepada-Nya.
0 komentar: