Demikianlah sikap sebagian Bani Israil terhadap nabi-nabi mereka. Mereka bukan sekadar menolak ajaran yang dibawa para nabi, tetapi bahkan sampai mendurhakai dan membunuh sebagian dari mereka. Al-Qur'an mengungkap perilaku tersebut bukan hanya sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai gambaran tentang sebuah sikap yang kembali muncul ketika risalah baru datang melalui Nabi Muhammad saw.
Mereka dahulu menantikan kedatangan seorang nabi. Mereka bahkan memohon kepada Allah agar nabi itu segera datang, sehingga mereka dapat memperoleh kemenangan atas orang-orang kafir. Namun, ketika nabi yang mereka nantikan benar-benar datang, mereka justru mengingkarinya.
Allah berfirman:
«"Dan mereka berkata, 'Hati kami tertutup.' Tetapi, sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka, maka sedikit sekali mereka yang beriman. Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan terhadap orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka, laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah telah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu, mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan, untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.
Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kepada Al-Qur'an yang diturunkan Allah,' mereka berkata, 'Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.' Dan mereka kafir kepada Al-Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al-Qur'an itu adalah (Kitab) yang hak, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah, 'Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?' Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim. Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), 'Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!' Mereka menjawab, 'Kami mendengarkan tetapi tidak menaati.' Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah, 'Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman.'"
(QS. Al-Baqarah: 88–93)»
Ayat-ayat ini memperlihatkan bagaimana Al-Qur'an menghadapi sikap mereka dengan teguran yang keras. Setiap alasan yang mereka gunakan untuk menolak kebenaran dibongkar satu demi satu. Kesombongan, sikap eksklusif, keengganan menerima kebenaran dari luar kelompok mereka, serta kedengkian ketika Allah memberikan karunia kepada orang lain, semuanya ditampakkan secara terang.
Al-Qur'an tidak membiarkan alasan mereka berdiri sebagai hujjah. Klaim bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman kepada wahyu sebelumnya justru dikembalikan kepada sejarah mereka sendiri. Jika benar mereka beriman, mengapa mereka dahulu membunuh nabi-nabi Allah? Jika benar mereka berpegang teguh kepada Taurat, mengapa mereka menyembah anak sapi setelah Musa a.s. datang membawa bukti-bukti kebenaran?
Dengan demikian, persoalannya bukan karena kebenaran itu tidak jelas. Persoalannya adalah sikap hati terhadap kebenaran.
"Hati Kami Tertutup"
Ketika dakwah Islam datang kepada mereka, mereka berkata:
«"Hati kami tertutup."»
Seolah-olah mereka mengatakan bahwa hati mereka tidak dapat menerima dakwah baru. Mereka tidak mau mendengarkan seruan Nabi Muhammad saw. dan menjadikan "tertutupnya hati" sebagai alasan untuk menolak risalah yang datang kepada mereka.
Namun, Allah membantah alasan tersebut:
«"Tetapi, sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka."»
Yang menghalangi mereka dari petunjuk bukanlah karena kebenaran itu tidak mampu menembus hati mereka. Penghalangnya adalah keingkaran mereka sendiri.
Ketika seseorang terus-menerus menolak kebenaran, keingkaran itu dapat berubah menjadi penghalang yang semakin tebal. Ia bukan lagi sekadar tidak mengetahui kebenaran, tetapi tidak mau menerimanya ketika kebenaran itu telah datang dengan jelas.
Karena itulah Allah melanjutkan:
«"Maka sedikit sekali mereka yang beriman."»
Sedikitnya orang yang beriman di antara mereka merupakan akibat dari keadaan yang telah mereka bangun sendiri melalui kekafiran dan penolakan yang berulang-ulang.
Mereka Menantikan Nabi, tetapi Menolaknya ketika Datang
Ironi sikap mereka semakin jelas ketika Al-Qur'an mengingatkan bahwa mereka sebenarnya telah mengetahui tanda-tanda kedatangan nabi yang baru.
Mereka sebelumnya memohon agar nabi itu datang. Mereka berharap kedatangannya akan menjadi jalan memperoleh kemenangan atas orang-orang kafir. Tetapi ketika Al-Qur'an datang melalui Nabi Muhammad saw., mereka justru mengingkarinya.
Allah berfirman:
«"Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan terhadap orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya."»
Di sinilah tampak sebuah ironi yang sangat tajam.
Mereka menantikan sesuatu yang mereka sendiri ketahui. Mereka memohon kedatangannya. Akan tetapi, ketika sesuatu yang dinantikan itu benar-benar datang, mereka menolaknya.
Mengapa?
Bukan karena mereka tidak mengenal kebenaran itu. Al-Qur'an justru mengatakan bahwa mereka telah mengetahui apa yang datang kepada mereka.
Masalahnya adalah mereka tidak siap menerima bahwa Allah memberikan risalah kepada siapa yang Dia kehendaki.
Ketika Kebenaran Ditolak karena Dengki
Al-Qur'an kemudian membongkar sebab yang lebih dalam:
«"Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah telah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya."»
Mereka menjual diri mereka sendiri dengan kekafiran.
Ungkapan ini menggambarkan sebuah transaksi yang sangat merugikan. Manusia memiliki kesempatan untuk memperoleh keselamatan, petunjuk, dan kemuliaan. Namun, semua itu ditukar dengan sesuatu yang justru menghancurkan dirinya sendiri: kekafiran.
Harga yang mereka bayarkan adalah diri mereka sendiri.
Dan apa yang mendorong mereka melakukan transaksi yang begitu buruk?
Dengki.
Mereka tidak rela ketika Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Mereka menginginkan karunia tersebut berada dalam lingkungan mereka sendiri. Ketika Allah memilih Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa risalah terakhir, pilihan itu tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Di sinilah persoalan berubah dari sekadar persoalan intelektual menjadi persoalan hati.
Mereka bukan hanya berhadapan dengan sebuah ajaran baru. Mereka berhadapan dengan keputusan Allah tentang siapa yang dipilih-Nya untuk membawa risalah.
Karena itulah Al-Qur'an menyebut mereka mendapatkan:
«"Murka sesudah (mendapat) kemurkaan."»
Kekafiran setelah datangnya kebenaran menambah kemurkaan atas kemurkaan sebelumnya.
"Kami Hanya Beriman kepada Apa yang Diturunkan kepada Kami"
Ketika mereka diajak beriman kepada Al-Qur'an, mereka menjawab:
«"Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami."»
Pernyataan itu pada pandangan pertama tampak seperti pernyataan keimanan. Namun, Al-Qur'an membongkar kelemahannya.
Jika mereka benar-benar beriman kepada wahyu Allah, mengapa mereka menolak wahyu yang datang sesudahnya, padahal Al-Qur'an membenarkan kitab yang ada pada mereka?
Masalahnya bukan pada kitab. Masalahnya adalah pada sikap mereka terhadap pembawa risalah.
Mereka menerima wahyu sejauh wahyu itu sesuai dengan identitas dan kepentingan kelompok mereka. Ketika Allah mengutus nabi dari kalangan yang tidak mereka kehendaki, mereka menolak.
Dengan demikian, klaim keimanan mereka diuji oleh sikap nyata mereka terhadap perintah Allah.
Al-Qur'an Mengembalikan Mereka kepada Sejarah Mereka Sendiri
Karena itu Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk menghadapkan mereka kepada pertanyaan yang tidak mudah mereka hindari:
«"Katakanlah, 'Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?'"»
Pertanyaan ini mengguncang klaim mereka.
Jika mereka benar-benar beriman kepada Taurat, bukankah para nabi yang mereka bunuh juga datang membawa wahyu Allah?
Jika mereka benar-benar menghormati wahyu, mengapa mereka menentang para pembawanya?
Al-Qur'an kemudian membawa mereka lebih jauh ke masa Nabi Musa a.s.:
«"Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim."»
Musa a.s. datang membawa bukti-bukti yang nyata. Namun setelah Musa pergi, sebagian mereka justru menyembah anak sapi.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa persoalan mereka bukan karena kekurangan bukti. Mereka telah menyaksikan mukjizat, mendengar wahyu, dan menerima perjanjian. Namun, semua itu tidak otomatis melahirkan ketaatan ketika hati tidak tunduk kepada kebenaran.
"Kami Mendengar, tetapi Tidak Menaati"
Al-Qur'an mengingatkan kembali perjanjian yang pernah diambil dari mereka:
«"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), 'Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!' Mereka menjawab, 'Kami mendengarkan tetapi tidak menaati.'"»
Ungkapan ini sangat kuat.
Mereka berkata dengan lisan, "Kami mendengar."
Tetapi kehidupan mereka berkata, "Kami tidak menaati."
Di sinilah Al-Qur'an menghadirkan sebuah gambaran yang hidup tentang kemunafikan antara ucapan dan perbuatan.
Seseorang tidak dapat dinilai hanya dari apa yang keluar dari mulutnya. Perbuatannya justru menjadi bukti yang menerjemahkan ucapan tersebut.
Lidah mengatakan, "Kami mendengar."
Tetapi tindakan mengatakan, "Kami tidak menaati."
Kenyataan praktis itu lebih kuat daripada sekadar perkataan.
Dari sini tampak sebuah prinsip penting: perkataan yang tidak diikuti perbuatan kehilangan nilai pembuktiannya. Keimanan bukan hanya pengakuan verbal, tetapi harus melahirkan ketundukan dan amal.
Ketika Cinta kepada Kebatilan Meresap ke Dalam Hati
Al-Qur'an kemudian memberikan gambaran yang sangat kuat:
«"Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya."»
Ungkapan "diresapkan ke dalam hati" menghadirkan sebuah gambaran yang mendalam. Seakan-akan kecintaan kepada anak sapi itu bukan lagi sesuatu yang berada di permukaan, melainkan telah masuk jauh ke dalam diri mereka.
Yang mula-mula berupa tindakan dapat berubah menjadi kecintaan. Kecintaan yang terus dipelihara dapat berubah menjadi keterikatan. Dan keterikatan yang terus menguasai hati akhirnya dapat membuat seseorang mempertahankan kebatilan sekalipun kebenaran telah datang dengan jelas.
Karena itu, masalah hati tidak boleh dianggap ringan.
Hati yang terus menerus dipenuhi kesombongan, fanatisme, dengki, dan kecintaan kepada kebatilan pada akhirnya dapat kehilangan kemampuan untuk tunduk kepada kebenaran.
Gambaran Qur'ani tersebut begitu kuat: seakan-akan kecintaan kepada anak sapi benar-benar dimasukkan dan dikristalkan ke dalam hati mereka. Itulah keindahan sekaligus ketajaman bahasa Al-Qur'an dalam menggambarkan keadaan batin manusia melalui sebuah lukisan yang dapat dibayangkan.
Keimanan yang Dibuktikan oleh Perbuatan
Akhirnya, Al-Qur'an memerintahkan Rasulullah saw. untuk menghadapkan mereka kepada konsekuensi dari pengakuan mereka:
«"Katakanlah, 'Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman.'"»
Kalimat ini menjadi penutup yang sangat tajam.
Jika iman benar-benar memerintahkan mereka melakukan semua keburukan itu, maka betapa buruknya iman yang mereka klaim.
Namun, sesungguhnya bukan iman yang memerintahkan mereka demikian. Mereka telah menyimpangkan makna iman dengan menjadikan identitas, fanatisme, kepentingan kelompok, dan hawa nafsu sebagai ukuran kebenaran.
Di sinilah Al-Qur'an mengajarkan sebuah pelajaran yang melampaui kisah Bani Israil.
Kebenaran tidak boleh diukur berdasarkan siapa yang membawanya.
Wahyu tidak boleh diterima hanya ketika sesuai dengan kepentingan kelompok.
Dan keimanan tidak cukup dibuktikan dengan ucapan.
Ia harus terlihat dalam ketundukan kepada Allah dan kesediaan menerima kebenaran ketika kebenaran itu datang.
Sebab, seseorang mungkin berkata, "Kami mendengar."
Tetapi yang menentukan hakikat keimanannya adalah apa yang dilakukan setelah ia mendengar.
Di situlah perbedaan antara mendengar kebenaran dan tunduk kepada kebenaran.
0 komentar: