«“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. As-Sajdah: 16–17)»
Malam memiliki suasana yang berbeda. Ia datang bersama ketenangan, keheningan, dan kesunyian. Ketika sebagian besar manusia telah terlelap dalam tidurnya, dunia seakan berhenti sejenak dari hiruk-pikuknya. Dalam keadaan seperti itu, hati lebih mudah dikumpulkan, pikiran lebih mudah ditenangkan, dan seorang hamba lebih leluasa menghadapkan dirinya kepada Allah.
Malam adalah saat yang tepat untuk berkhalwat dengan-Nya. Dalam khalwat itu ada kedekatan, kemesraan, munajat, pengakuan kelemahan, dan pengharapan yang tulus. Tidak banyak mata yang melihat. Tidak banyak manusia yang mengetahui. Karena itu, qiyamul lail menjadi salah satu ruang yang sangat luas bagi tumbuhnya keikhlasan.
Shalat adalah bekal. Dan ketika shalat dilakukan dalam keheningan malam, bekal itu menjadi semakin kaya.
Orang yang sedang kasmaran sering merindukan datangnya malam karena ingin bertemu dengan orang yang dicintainya. Demikian pula orang yang mencintai Allah akan memiliki kerinduan kepada malam, karena malam memberikan kesempatan untuk berlama-lama bersama Dzat yang paling dicintainya.
Orang-orang beriman berdiri di malam hari. Mereka rukuk, sujud, berdzikir, bertasbih, membaca Al-Qur'an, bertaubat, beristighfar, bermunajat, berdoa, dan menangis karena takut kepada Allah. Semua itu menjadi bekal yang sangat bernilai dalam perjalanan hidup.
Allah berfirman:
«“Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam itu.”
(QS. Al-Insan: 26)»
Qiyamul Lail: Bekal untuk Memikul Amanah yang Berat
Para aktivis dakwah memiliki kebutuhan yang lebih besar terhadap qiyamul lail. Mereka bukan hanya membutuhkan pengetahuan dan kemampuan berbicara, tetapi juga membutuhkan kekuatan ruhani untuk menghadapi beratnya amanah, panjangnya perjalanan, berbagai ujian, serta gangguan dan tekanan dalam dakwah.
Karena itu, pada masa-masa permulaan dakwah, Allah memerintahkan Rasulullah ï·º untuk memperbanyak qiyamul lail. Sebelum menerima dan memikul amanah yang berat, beliau dipersiapkan terlebih dahulu melalui ibadah malam.
Allah berfirman:
«“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”
(QS. Al-Muzzammil: 1–6)»
Ada hubungan yang sangat dalam antara qiyamul lail dan kesiapan memikul amanah.
Sebelum seseorang menghadapi manusia, ia perlu terlebih dahulu menguatkan hubungannya dengan Allah. Sebelum berjuang di tengah kerasnya kehidupan, ia perlu mengisi jiwanya dengan kekuatan dari langit. Sebelum menghadapi tekanan dari luar, ia perlu membangun keteguhan dari dalam.
Bangun malam adalah bentuk mujahadah. Seseorang meninggalkan tempat tidurnya, mengalahkan rasa kantuk, meninggalkan kenyamanan kasur dan kehangatan selimut, lalu berdiri menghadap Allah. Ia sedang melatih kehendaknya agar tidak selalu tunduk kepada keinginan fisik.
Terlebih ketika malam terasa dingin dan tubuh sangat ingin beristirahat. Ia tetap bangun, bersuci, lalu berdiri di hadapan Allah.
Semua itu bukan sekadar gerakan tubuh. Ia adalah latihan ketundukan jiwa.
Qiyamul lail melatih seseorang untuk mengatakan kepada dirinya sendiri:
«Aku memiliki keinginan, tetapi kehendak Allah lebih utama.
Aku membutuhkan istirahat, tetapi aku juga membutuhkan pertolongan Allah.
Aku lemah, tetapi aku mempunyai Tuhan Yang Mahakuat.»
Dari sinilah qiyamul lail menjadi bekal bagi perjalanan dakwah dan kehidupan.
Keheningan Malam dan Keikhlasan
Bangun ketika manusia sedang tidur juga memiliki pelajaran yang sangat penting: keikhlasan.
Di siang hari, seseorang mudah diketahui ketika beribadah. Tetapi pada malam hari, ketika manusia telah tidur dan tidak ada yang melihat, seseorang masih memilih untuk berdiri di hadapan Allah.
Ia tidak sedang mengejar pujian manusia.
Ia tidak sedang mencari pengakuan.
Ia hanya ingin Allah mengetahui bahwa dirinya datang.
Karena itu, qiyamul lail dapat menjadi ruang untuk membersihkan hati dari pengaruh riya. Dan keikhlasan merupakan bekal yang sangat penting bagi seorang aktivis dakwah. Sebesar apa pun amal yang dilakukan, jika hati kehilangan keikhlasan, amal tersebut kehilangan nilainya.
Maka, orang yang ingin memperbaiki amalnya di hadapan manusia perlu terlebih dahulu memperbaiki hubungan rahasianya dengan Allah.
Malam untuk Berdiri, Sujud, Berdzikir, dan Membaca Al-Qur'an
Al-Qur'an banyak menggambarkan orang-orang yang menghidupkan malamnya dengan ibadah.
Allah berfirman:
«“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.”
(QS. Al-Furqan: 63–64)»
Kemudian Allah menjelaskan balasan bagi mereka:
«“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.”
(QS. Al-Furqan: 75)»
Malam bukan hanya untuk berdiri dalam shalat. Di dalamnya terdapat banyak bentuk ibadah: sujud, dzikir, tasbih, membaca Al-Qur'an, istighfar, dan doa.
Allah berfirman:
«“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”
(QS. Az-Zumar: 9)»
Ayat ini menggambarkan seorang hamba yang hidup dengan kesadaran tentang akhirat. Ia memikirkan penghisaban, pembalasan, kenikmatan surga, dan siksa neraka. Karena itu, dalam ibadahnya ia mampu memadukan dua keadaan hati: takut dan berharap.
Takut membuatnya berhati-hati.
Harapan membuatnya tidak berputus asa.
Keduanya mendorongnya untuk terus beramal.
Dzikir Malam: Santapan bagi Ruh
Tubuh membutuhkan makanan. Demikian pula ruh membutuhkan makanan.
Salah satu santapan ruh yang paling penting adalah dzikir kepada Allah.
Allah berfirman:
«“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan malam. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.”
(QS. Al-Insan: 25–26)»
Allah juga berfirman:
«“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri, dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).”
(QS. Ath-Thur: 48–49)»
Dan firman-Nya:
«“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya. Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.”
(QS. Qaf: 39–40)»
Orang yang telah merasakan nikmatnya dzikir malam akan memahami bahwa ia bukan sekadar rutinitas lisan. Ia adalah makanan bagi hati.
Semakin berat perjalanan hidup, semakin besar kebutuhan seseorang terhadap santapan ruhani ini.
Saat Sahur: Mengetuk Pintu Ampunan
Tidak seorang pun di antara kita yang terbebas dari dosa. Tidak seorang pun mampu menunaikan seluruh kewajibannya dengan sempurna.
Karena itu, betapa indahnya jika pada penghujung malam kita datang kepada Allah sebagai seorang hamba yang mengakui kelemahan dan kesalahannya.
Allah memuji orang-orang yang beristighfar pada waktu sahur:
«“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.”
(QS. Ali 'Imran: 17)»
Allah juga berfirman:
«“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”
(QS. Adz-Dzariyat: 16–18)»
Penghujung malam adalah saat yang sangat berharga. Ketika sebagian manusia masih tertidur, seorang hamba bangun untuk memohon ampun.
Ia tidak datang dengan membawa kebanggaan atas amalnya.
Ia datang membawa dosa-dosanya.
Ia datang membawa kelemahannya.
Ia datang membawa kebutuhan yang tidak sanggup ia penuhi sendiri.
Malam adalah Waktu untuk Berdoa
Di antara kenikmatan terbesar dalam qiyamul lail adalah doa.
Dalam suasana malam yang hening, seorang hamba merendahkan dirinya di hadapan Allah. Ia berbicara kepada Tuhannya tentang sesuatu yang mungkin tidak mampu ia ceritakan kepada siapa pun.
Allah berfirman:
«“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-A'raf: 55–56)»
Dari Abu Umamah r.a., seseorang bertanya kepada Rasulullah ï·º:
«“Wahai Rasulullah, doa apakah yang paling didengar?”»
Beliau menjawab:
«“Doa pada malam yang terakhir dan pada setiap selesai shalat wajib.”
(HR. At-Tirmidzi; dinilai hasan shahih)»
Jabir r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah ï·º bersabda bahwa pada setiap malam terdapat suatu waktu ketika seorang Muslim memohon kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah, maka Allah akan mengabulkannya. (HR. Muslim)
Maka, malam seharusnya tidak hanya menjadi waktu untuk tidur. Ia adalah kesempatan untuk berbicara kepada Allah.
Saat Sujud: Saat Seorang Hamba Sangat Dekat
Di antara seluruh keadaan dalam shalat, sujud memiliki kedudukan yang istimewa.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah ï·º bersabda:
«“Sedekat-dekat hamba pada Tuhannya adalah saat ia bersujud, karena itu perbanyaklah berdoa (waktu sujud).”
(HR. Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa'i)»
Bayangkan seorang manusia yang pada siang hari mungkin merasa kuat, sibuk, mampu mengambil keputusan, dan menghadapi berbagai persoalan. Namun pada malam hari ia meletakkan dahinya di tanah dan mengakui bahwa dirinya hanyalah seorang hamba.
Di situlah kesombongan runtuh.
Di situlah ketergantungan kepada Allah tumbuh.
Di situlah seorang hamba menyadari bahwa kekuatan sebenarnya bukan berasal dari dirinya, tetapi dari pertolongan Allah.
Qiyamul Lail dan Ujian Dakwah
Bagi orang-orang yang menghadapi gangguan, tekanan, dan berbagai kesulitan dalam dakwah, qiyamul lail merupakan tempat untuk memohon pertolongan Allah.
Doa yang dipanjatkan tidak hanya tentang kebutuhan pribadi. Seorang dai dapat memohon agar Allah meneguhkan agama-Nya, menjaga kaum Muslimin, melindungi mereka dari kezaliman, memberikan kemenangan atas kebatilan, dan memberikan keteguhan kepada para pejuang kebenaran.
Ia juga dapat berdoa untuk saudara-saudaranya tanpa sepengetahuan mereka.
Ada keindahan dalam doa semacam ini.
Kita tidak sedang meminta sesuatu untuk diri sendiri. Kita sedang mengetuk pintu Allah untuk orang lain.
Dan mungkin, justru doa yang tidak diketahui manusia itulah yang paling jauh dari kepentingan diri.
Sepertiga Malam Terakhir
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ï·º menyampaikan bahwa ketika malam telah mencapai sepertiga terakhir, Allah turun ke langit dunia—sesuai dengan keagungan-Nya—lalu menyeru:
«“Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku jawab. Siapa yang memohon kepada-Ku, akan Aku perkenankan. Dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, akan Aku ampuni.”»
Janji seperti ini seharusnya menggugah hati.
Bayangkan jika seseorang diberi tahu bahwa pada suatu waktu tertentu ia dapat memperoleh kekayaan dunia yang besar hanya dengan datang dan meminta. Tentu banyak orang akan berusaha datang.
Namun Allah menawarkan sesuatu yang jauh lebih berharga: ampunan, rahmat, dan pertolongan-Nya.
Mengapa kita masih berat untuk bangun?
Rasulullah ï·º bahkan mengingatkan bahwa shalat Isya dan Subuh merupakan shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik. Seandainya mereka mengetahui besarnya keutamaan kedua shalat tersebut, mereka akan mendatanginya meskipun harus merangkak. (Muttafaq 'alaih)
Rumah yang Menghidupkan Malam
Qiyamul lail tidak harus menjadi perjuangan seorang diri.
Rumah dapat menjadi tempat bertemunya dua hati dalam ketaatan.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah ï·º bersabda:
«“Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, lalu melakukan shalat dan membangunkan istrinya. Bila istrinya enggan, maka ia memercikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam, lalu melakukan shalat dan membangunkan suaminya. Bila suaminya enggan, maka ia memercikkan air di wajahnya.”
(HR. Abu Dawud dengan sanad yang shahih)»
Betapa indah sebuah rumah yang tidak hanya dipenuhi percakapan dunia, tetapi juga dihidupkan oleh doa, sujud, tangisan, dan dzikir.
Suami membangunkan istrinya.
Istri membangunkan suaminya.
Keduanya saling membantu untuk mendekat kepada Allah.
Rumah semacam itu tidak hanya menjadi tempat tinggal. Ia menjadi tempat tumbuhnya kekuatan ruhani keluarga.
Bagaimana Membiasakan Qiyamul Lail?
Rasulullah ï·º bersabda:
«“Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah qiyamul lail.”
(HR. Muslim)»
Karena itu, seorang Muslim hendaknya berusaha membiasakannya sesuai kemampuan.
Beberapa hal dapat membantu:
1. Meluruskan niat.
Bangun bukan untuk merasa lebih baik daripada orang lain, tetapi karena membutuhkan Allah.
2. Memperkuat tekad.
Qiyamul lail membutuhkan keputusan sebelum tidur: malam ini aku akan bangun.
3. Memperbarui taubat.
Dosa dapat menjadi penghalang seseorang dari ketaatan. Karena itu, perbanyak taubat.
4. Menghindari maksiat di siang hari.
Kebiasaan buruk pada siang hari dapat membuat hati berat untuk bangun pada malam hari.
5. Mengawalkan tidur.
Jangan menjadikan malam terlalu larut untuk perkara yang tidak bermanfaat.
6. Tidur siang jika memungkinkan.
Istirahat yang cukup dapat membantu tubuh bangun pada malam hari.
7. Memohon pertolongan Allah.
Jangan hanya mengandalkan kekuatan diri. Mintalah kepada Allah agar dimudahkan.
Rasulullah ï·º juga mengingatkan Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash r.a. agar tidak seperti seseorang yang biasa bangun malam tetapi tidak melaksanakan shalat malam. (Muttafaq 'alaih)
Maka qiyamul lail bukan sekadar pengalaman sesekali. Ia perlu diusahakan menjadi kebiasaan.
Tidak Harus Banyak, tetapi Harus Dijaga
Tentang jumlah rakaat, Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa shalat malam Rasulullah ï·º adalah sepuluh rakaat kemudian witir satu rakaat, lalu beliau shalat dua rakaat qabliyah Subuh. (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)
Yang terpenting bukan sekadar menghitung banyaknya rakaat, tetapi bagaimana shalat itu membentuk hati.
Sedikit tetapi istiqamah dapat menjadi lebih berarti daripada banyak tetapi hanya sesekali.
Qiyamul lail bukan perlombaan angka. Ia adalah perjalanan kedekatan.
Doa Rasulullah ï·º Saat Bangun Malam
Di antara bekal yang sangat berharga adalah doa yang diajarkan Rasulullah ï·º ketika bangun untuk tahajjud.
Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah ï·º berdoa:
«“Ya Allah, ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji. Engkau Pengatur langit dan bumi serta yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah cahaya langit dan bumi serta yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Penguasa langit dan bumi serta yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah haq, janji-Mu haq, perjumpaan dengan-Mu adalah haq, surga adalah haq, neraka adalah haq, para nabi adalah haq, serta Muhammad ï·º dan hari kiamat adalah haq...”»
Kemudian beliau memohon:
«“Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku bertaubat, dengan-Mu aku berhujjah, dan kepada-Mu aku berhukum. Karena itu ampunilah dosa-dosa yang telah kulakukan dan yang akan terjadi, yang kurahasiakan dan yang kunampakkan, serta yang Engkau ketahui dariku...”»
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan bagaimana doa tersebut membangun kesadaran seorang hamba: Allah adalah Penguasa, kebenaran adalah milik-Nya, akhirat itu nyata, Rasul-Nya benar, dan manusia harus berserah diri kepada-Nya.
Dengan doa itu, seseorang tidak hanya bangun dari tempat tidur.
Ia sedang membangunkan kesadarannya tentang siapa dirinya dan kepada siapa ia akan kembali.
Kemesraan yang Mengalahkan Kelelahan
Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna dalam risalah Al-Munajat menggambarkan indahnya saat seorang hamba berkhalwat dengan Allah ketika manusia sedang tidur.
Saat malam menurunkan tirainya dan alam menjadi hening, seorang hamba mengingat Tuhannya, mengakui kelemahannya, menyadari keagungan-Nya, merasakan ketenangan dalam dzikir, bergembira atas rahmat-Nya, menangis karena takut kepada-Nya, memperbanyak istighfar, dan mengadukan seluruh kebutuhannya kepada Dzat Yang tidak pernah lemah oleh sesuatu pun.
Dalam keadaan seperti itu, seorang hamba dapat memohon kepada Allah untuk urusan dunia dan akhiratnya, dakwahnya, keluarganya, saudara-saudaranya, cita-citanya, dan berbagai kebutuhan yang ada di dalam hatinya.
Karena pada akhirnya:
«“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS. Ali 'Imran: 126)»
Kemesraan dengan Allah dapat membuat seseorang melupakan kelelahan tubuh.
Rasulullah ï·º pernah melakukan qiyamul lail dan memanjangkan berdirinya hingga kedua kaki beliau bengkak. Namun beliau tetap melakukannya.
Bukan karena tubuh beliau tidak merasa lelah.
Tetapi karena cinta kepada Allah membuat kelelahan terasa ringan.
Sebagian orang saleh berkata bahwa tidak ada waktu di dunia yang menyerupai kenikmatan akhirat selain waktu yang dilalui oleh ahli tahajjud ketika mereka merasakan lezatnya munajat.
Maka, jangan hanya mendengar tentang kelezatan itu.
Berusahalah merasakannya.
Ketuklah Pintu-Nya pada Malam Hari
Wahai saudaraku,
Bangunlah pada malam hari sebagai seorang hamba yang fakir dan lemah. Jangan datang kepada Allah dengan perasaan telah memiliki banyak amal. Datanglah dengan kesadaran bahwa kita sangat membutuhkan-Nya.
Datanglah dengan mengakui kelalaian.
Datanglah dengan membawa dosa.
Datanglah dengan membawa kebutuhan.
Datanglah dengan membawa harapan.
Bayangkan dirimu sebagai seorang hamba yang berjalan dalam kegelapan malam untuk mengetuk pintu Tuhannya Yang Maha Pemurah.
Ketuklah dengan beberapa rakaat yang khusyuk.
Ketuklah dengan sujud yang panjang.
Ketuklah dengan doa yang tulus.
Ketuklah dengan tasbih dan istighfar.
Ketuklah dengan air mata yang jatuh karena takut kepada-Nya.
Dan ketuklah dengan keyakinan bahwa Allah mendengar.
Jangan jadikan qiyamul lail hanya sebagai sarana meminta sesuatu yang kita inginkan. Jadikan ia sebagai tempat untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.
Mintalah ampunan.
Mintalah rahmat.
Mintalah keteguhan.
Mintalah keselamatan.
Mintalah kebaikan dunia dan akhirat.
Doakan keluarga.
Doakan saudara-saudaramu.
Doakan umat.
Dan mohonlah agar Allah memberikan kemantapan kepada agama-Nya serta meneguhkan orang-orang yang berjuang di jalan kebaikan.
Sebab seorang hamba yang bangun di tengah malam sedang membawa bekal untuk perjalanan yang panjang.
Bekal itu bukan sekadar tambahan rakaat.
Ia adalah hati yang lebih bersih.
Jiwa yang lebih kuat.
Tekad yang lebih kokoh.
Keikhlasan yang lebih dalam.
Harapan yang lebih besar.
Dan keyakinan yang lebih kuat bahwa pertolongan hanya datang dari Allah.
Maka, jika siang adalah waktu untuk berjalan di tengah manusia, malam adalah waktu untuk mengisi tenaga sebelum kembali berjalan.
Jika siang adalah waktu menghadapi berbagai ujian, malam adalah waktu mengambil bekal untuk menghadapinya.
Dan jika perjalanan menuju Allah adalah perjalanan yang panjang, maka jangan biarkan malam berlalu tanpa pernah kita gunakan untuk mengetuk pintu-Nya.
Bangunlah.
Berdirilah.
Bersujudlah.
Berdoalah.
Karena boleh jadi, di keheningan malam itulah Allah sedang menyiapkan bekal yang akan kita butuhkan untuk menghadapi beratnya hari esok.
0 komentar: