Nilai Islam: Kompas Tetap di Tengah Perubahan
Nilai Islam, dengan adanya konsep-konsep yang tetap berupa sendi-sendi dan nilai-nilai dasar, berfungsi sebagai kendali bagi gerak kemanusiaan dan perkembangan kehidupan. Ia menjaga manusia agar tidak kehilangan arah dalam perjalanan sejarahnya.
Tanpa pijakan yang tetap, manusia mudah terpesona oleh sesuatu yang tampak sebagai kemajuan, padahal di balik kilauannya tersimpan kebingungan, kerusakan, bahkan kemandekan. Pengalaman Eropa ketika menjauh dari agama menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana manusia dapat menemukan "cahaya" yang ternyata hanya kilauan palsu dan harapan yang menipu.
Konsep yang Tetap sebagai Timbangan
Pentingnya konsep yang tetap adalah agar manusia memiliki timbangan yang tidak berubah sebagai rujukan dalam menghadapi berbagai perasaan, pemikiran, dan konsep yang datang silih berganti.
Manusia hidup dalam lingkungan yang terus berubah. Kondisi sosial berubah, sistem berubah, tradisi berubah, bahkan cara manusia memandang dirinya sendiri pun dapat berubah. Dalam keadaan seperti itu, manusia membutuhkan sesuatu yang tidak ikut hanyut bersama perubahan.
Dengan adanya timbangan yang tetap, manusia dapat menilai: mana yang dekat dengan kebenaran dan mana yang semakin jauh darinya.
Tanpa rujukan semacam itu, manusia seperti musafir yang berjalan di malam gelap tanpa bintang dan tanpa jejak yang menunjukkan arah. Ia mungkin terus bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar tahu apakah geraknya membawa dirinya menuju tujuan atau justru semakin menjauhinya.
Konsep yang tetap juga berfungsi sebagai kendali bagi pemikiran manusia. Ia bukan sekadar membatasi, tetapi meluruskan. Ia menjaga akal agar tidak mudah digoyahkan oleh syahwat, tekanan lingkungan, kepentingan, dan berbagai pengaruh yang datang dari luar.
Sebab, jika kendali itu sendiri berubah mengikuti perubahan pemikiran dan realitas, lalu apa yang dapat digunakan untuk meluruskan pemikiran?
Jika timbangan ikut berubah setiap kali sesuatu ingin ditimbang, maka tidak ada lagi ukuran yang dapat menentukan benar dan salah.
Poros yang Menjaga Gerak Kehidupan
Sendi-sendi dan nilai-nilai yang konstan merupakan salah satu kebutuhan untuk menjaga jiwa dan kehidupan manusia. Manusia memang bergerak, berkembang, dan berubah. Namun perubahan itu semestinya berlangsung dalam kerangka dan poros yang tetap.
Demikianlah sunnatullah dalam alam semesta. Alam bergerak, tetapi geraknya tidak kacau. Perubahan terjadi, tetapi perubahan itu berlangsung dalam hukum-hukum yang teratur.
Pergantian siang dan malam, peredaran benda-benda langit, pertumbuhan makhluk hidup, hingga berbagai hukum alam menunjukkan bahwa perubahan tidak berarti ketiadaan aturan.
Karena itu, manusia pun membutuhkan perubahan yang memiliki arah. Gerak membutuhkan poros. Perjalanan membutuhkan tujuan. Perkembangan membutuhkan ukuran.
Kebutuhan terhadap poros yang tetap terasa semakin mendesak pada zaman ketika perubahan berlangsung begitu cepat.
Umat manusia seakan telah melepaskan kendali dari porosnya. Ia bergerak seperti benda angkasa yang keluar dari garis edarnya: terus melaju, tetapi kehilangan keseimbangan. Jika keadaan ini dibiarkan, ia bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga berpotensi berbenturan dengan kehidupan yang lain dan menimbulkan kerusakan yang lebih luas.
Al-Qur'an mengingatkan:
«"Dan seandainya kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti rusak-binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya."
(QS. Al-Mu'minun: 71)»
Ayat ini mengandung sebuah peringatan yang sangat dalam: kebenaran tidak boleh ditundukkan oleh hawa nafsu. Jika ukuran kebenaran mengikuti keinginan manusia, maka yang terjadi bukan kebebasan, melainkan kekacauan.
Ketika Manusia Kehilangan Arah
Orang yang berakal, yang tidak terseret oleh penyakit kebingungan zaman, akan melihat sebuah ironi besar dalam kehidupan manusia modern.
Manusia memiliki kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi sering kehilangan arah tentang untuk apa kemajuan itu digunakan.
Ia memiliki banyak pilihan, tetapi tidak selalu memiliki kebijaksanaan untuk memilih.
Ia memiliki kebebasan, tetapi tidak selalu mengetahui ke mana kebebasan itu harus diarahkan.
Ia memiliki informasi yang melimpah, tetapi tidak selalu memiliki ukuran untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Dalam keadaan seperti itu, manusia mudah mengubah konsep, sistem, tradisi, bahkan keyakinannya seperti seseorang mengganti pakaian sesuai selera zaman.
Yang berubah bukan hanya bentuk kehidupan, tetapi juga ukuran yang digunakan untuk menilai kehidupan.
Manusia akhirnya mengejar sesuatu yang tampak berharga hanya karena banyak orang mengejarnya. Ia meninggalkan sesuatu yang luhur hanya karena dianggap kuno. Ia menukar kedalaman dengan popularitas, makna dengan sensasi, dan kemuliaan dengan keuntungan.
Di sinilah tragedi manusia modern mulai terlihat.
Manusia tidak lagi sekadar mencari kehidupan yang baik. Ia sering dipaksa untuk menjadi alat bagi produksi, konsumsi, dan keuntungan.
Ketika Manusia Direduksi Menjadi Alat
Ada sebuah "laknat" yang lebih dalam daripada sekadar kemiskinan atau keterbelakangan: ketika manusia kehilangan kemanusiaannya.
Manusia dapat berubah menjadi sekadar angka produksi.
Cita rasa terhadap keindahan dikalahkan oleh keuntungan.
Makna kehidupan dikalahkan oleh konsumsi.
Hubungan antarmanusia dikalahkan oleh kepentingan.
Bahkan tubuh dan jiwa manusia dapat dijadikan komoditas untuk memenuhi pasar syahwat dan hiburan.
Jika kita memperhatikan wajah, pandangan, gerak-gerik, pakaian, pikiran, pendapat, dan propaganda yang mengitari manusia modern, terkadang tampak sebuah kegelisahan yang sulit disembunyikan.
Manusia seperti terus berlari.
Tetapi berlari menuju ke mana?
Barangkali sebagian dari mereka sebenarnya sedang lari dari dirinya sendiri.
Mereka lari dari jiwa yang lapar, cemas, dan bingung. Mereka mencari ketenangan di luar, sementara kekosongan di dalam diri semakin membesar.
Sebab jiwa manusia tidak dapat hidup sendirian tanpa sistem nilai yang memberinya arah. Ia tidak akan menemukan kebahagiaan hanya dengan memperbanyak pilihan, jika ia kehilangan pedoman untuk menentukan pilihan mana yang benar.
Manusia membutuhkan tempat untuk beristirahat.
Ia membutuhkan arah.
Ia membutuhkan makna.
Dan yang paling penting, ia membutuhkan kebenaran yang tidak berubah mengikuti hawa nafsunya.
Ketika Kebingungan Menjadi Komoditas
Ironisnya, ketika manusia mulai lelah dengan kebingungan tersebut dan ingin kembali mencari pijakan, muncul pula berbagai kekuatan yang justru memperoleh keuntungan dari kebingungan itu.
Industri hiburan, mode, media, iklan, dan berbagai kepentingan ekonomi dapat menjadikan kegelisahan manusia sebagai komoditas.
Ketika manusia merasa tidak cukup dengan dirinya, pasar menawarkan sesuatu untuk dibeli.
Ketika manusia merasa tidak diterima, pasar menawarkan identitas untuk dikenakan.
Ketika manusia merasa bosan, pasar menawarkan hiburan.
Ketika manusia merasa kosong, pasar menawarkan kesenangan.
Kebingungan manusia akhirnya tidak diselesaikan, tetapi justru dipelihara karena kebingungan itu memiliki nilai ekonomi.
Slogan tentang perkembangan, kebebasan, dan pembaruan kemudian dapat digunakan tanpa batas yang jelas. Setiap usaha untuk kembali kepada nilai yang tetap dianggap sebagai kemunduran. Setiap upaya mempertahankan prinsip dianggap sebagai keterbelakangan.
Padahal, tidak setiap perubahan adalah kemajuan, sebagaimana tidak setiap sesuatu yang baru adalah lebih baik.
Perubahan harus dinilai.
Kebebasan harus diarahkan.
Pembaharuan harus memiliki ukuran.
Tanpa itu semua, ketiganya dapat berubah menjadi sekadar slogan yang membawa manusia semakin jauh dari fitrahnya.
Perkembangan Mutlak dan Hilangnya Ukuran
Gagasan tentang "perkembangan mutlak" bagi seluruh kondisi, nilai, dan konsep dasar yang menjadi rujukan kehidupan pada akhirnya menghadapi persoalan yang serius.
Jika segala sesuatu dianggap benar hanya karena sesuai dengan zaman, maka zaman itu sendiri dijadikan ukuran kebenaran.
Padahal zaman tidak pernah berhenti berubah.
Jika ukuran kebenaran berubah mengikuti zaman, maka apa yang benar hari ini dapat dianggap salah besok, bukan karena ditemukan kesalahan pada hakikatnya, tetapi semata-mata karena selera manusia telah berubah.
Justifikasi semacam ini menjadi rapuh.
Sebuah konsep, nilai, kondisi, atau sistem semestinya tidak dinilai hanya berdasarkan apakah ia sesuai dengan keadaan zaman. Ia harus dinilai berdasarkan hakikat dan dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Sebab, tidak semua yang populer itu benar.
Tidak semua yang lama itu salah.
Tidak semua yang baru itu baik.
Dan tidak semua yang disebut sebagai "kemajuan" benar-benar membawa manusia kepada kemajuan.
Dari Gereja kepada Penolakan terhadap Semua yang Tetap
Kita dapat memahami kecenderungan pemikiran Eropa untuk menolak gagasan tentang "konstansi" jika kita melihat sejarah yang melatarbelakanginya.
Ketika Eropa berusaha melepaskan diri dari dominasi Gereja, ia tidak hanya berhadapan dengan institusi keagamaan, tetapi juga dengan akidah yang telah bercampur dengan berbagai mitos dan tradisi manusia.
Gereja pada masa itu memiliki kekuasaan yang sangat besar terhadap pemikiran, ilmu pengetahuan, dan kehidupan manusia. Atas nama agama yang dianggap tetap, berbagai bentuk pengekangan dilakukan.
Dalam konteks sejarah seperti itu, lahirlah dorongan kuat untuk membebaskan manusia dari segala bentuk otoritas yang dianggap membelenggu.
Persoalannya kemudian berkembang lebih jauh.
Penolakan terhadap agama yang menyimpang dapat berubah menjadi penolakan terhadap agama itu sendiri.
Penolakan terhadap Gereja yang diktator dapat berubah menjadi penolakan terhadap segala sesuatu yang bersifat tetap.
Dari sinilah muncul kecenderungan untuk mengganti gagasan "konstansi" mutlak dengan gagasan "evolusi" mutlak—seolah-olah tidak boleh ada nilai, kebenaran, atau prinsip yang berlaku tetap.
Di sinilah kita perlu membedakan antara kritik terhadap agama yang telah menyimpang dengan penolakan terhadap wahyu yang benar.
Kesalahan sebuah institusi agama tidak otomatis menjadi bukti kesalahan agama.
Evolusi Tidak Berarti Ketiadaan Ketetapan
Pembahasan tentang evolusi juga memperlihatkan persoalan tersebut.
Teori evolusi berusaha menjelaskan perubahan dan perkembangan kehidupan berdasarkan mekanisme alamiah. Namun, sekalipun seseorang menerima adanya proses evolusi dalam kehidupan, hal itu tidak serta-merta membuktikan bahwa alam semesta bergerak tanpa hukum atau tanpa keteraturan.
Justru perubahan itu sendiri menunjukkan adanya pola.
Evolusi—jika dipahami sebagai proses perubahan yang berlangsung menurut mekanisme tertentu—tetap mengandaikan adanya keteraturan.
Gerak merupakan salah satu hukum alam. Tetapi gerak alam bukanlah gerak yang kacau tanpa aturan. Planet bergerak menurut hukum tertentu. Pertumbuhan organisme berlangsung melalui mekanisme tertentu. Kehidupan berkembang dalam kondisi dan batas tertentu.
Dengan demikian, perubahan tidak harus dipertentangkan dengan ketetapan.
Keduanya dapat berjalan bersama.
Ada sesuatu yang berubah, tetapi ada pula hukum yang mengatur perubahan itu.
Ada perkembangan, tetapi perkembangan itu memiliki pola.
Ada gerak, tetapi gerak itu memiliki arah dan keteraturan.
Maka persoalannya bukan apakah kehidupan berubah atau tidak. Persoalannya adalah: apakah perubahan itu memiliki hukum, arah, dan tujuan?
Di Balik Gerak Ada Sang Pengatur
Pada akhirnya, persoalan kehidupan tidak berhenti pada bagaimana sesuatu berubah, tetapi juga menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana kehidupan berasal dan mengapa ia memiliki keteraturan?
Adanya kehidupan menuntut penjelasan tentang asal-usulnya.
Keteraturan kehidupan dan keharmonisannya dengan alam semesta juga membuka pertanyaan tentang sumber keteraturan tersebut.
Di sinilah iman mengajak manusia melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar fenomena yang tampak.
Alam semesta tidak berdiri sendiri tanpa hukum. Kehidupan tidak berjalan tanpa keteraturan. Perubahan tidak berlangsung tanpa batas.
Jika alam memiliki hukum yang tetap, lalu mengapa manusia harus hidup tanpa hukum yang tetap?
Jika alam bergerak dalam keteraturan, mengapa manusia menganggap kebebasan berarti bebas dari seluruh batas?
Jika kehidupan memiliki tujuan dan keteraturan, mengapa manusia harus menerima gagasan bahwa hidup tidak memiliki arah?
Barangkali di sinilah letak salah satu persoalan terbesar manusia modern: ia sangat sibuk memahami bagaimana sesuatu bekerja, tetapi semakin jarang bertanya untuk apa ia ada.
Ilmu dapat menjelaskan mekanisme.
Tetapi manusia tetap membutuhkan makna.
Teknologi dapat mempercepat gerak.
Tetapi manusia tetap membutuhkan arah.
Perubahan dapat membawa kemajuan.
Tetapi manusia tetap membutuhkan ukuran untuk menentukan apakah kemajuan itu benar-benar kemajuan.
Islam: Perubahan dalam Kerangka Kebenaran
Islam tidak mengajarkan manusia untuk berhenti bergerak. Islam justru mengajarkan manusia untuk bergerak dalam kerangka yang benar.
Ada hal-hal yang dapat berubah sesuai ruang dan waktu. Ada pula prinsip-prinsip yang tidak boleh berubah karena ia bersumber dari wahyu.
Inilah keseimbangan yang sering hilang dalam perdebatan antara "konstansi" dan "evolusi".
Islam tidak menolak perubahan. Yang ditolak adalah perubahan yang menjadikan hawa nafsu sebagai hakim atas kebenaran.
Islam tidak menolak perkembangan. Yang ditolak adalah perkembangan tanpa arah.
Islam tidak menolak kebebasan. Yang ditolak adalah kebebasan yang menghancurkan manusia itu sendiri.
Sebab manusia membutuhkan poros yang tetap agar dapat bergerak dengan benar.
Seperti bumi yang bergerak tetapi tetap berada dalam garis edarnya, demikian pula kehidupan manusia: ia boleh berkembang, berkreasi, dan menghadapi zaman yang berubah, tetapi tidak kehilangan pusat gravitasinya.
Dan bagi seorang mukmin, pusat itu adalah Allah dan petunjuk-Nya.
Karena itu, konsep-konsep yang tetap dalam Islam bukanlah belenggu bagi kehidupan.
Ia justru merupakan penjaga kehidupan.
Ia menjadi timbangan ketika manusia bingung.
Menjadi kompas ketika manusia tersesat.
Menjadi kendali ketika hawa nafsu menariknya ke segala arah.
Dan menjadi poros agar perubahan tidak berubah menjadi kehancuran.
Pada akhirnya, manusia tidak membutuhkan kehidupan yang tidak pernah berubah.
Manusia membutuhkan kehidupan yang berubah tanpa kehilangan kebenaran.
Sebab perubahan tanpa poros melahirkan kekacauan.
Gerak tanpa arah melahirkan kesesatan.
Kebebasan tanpa kebenaran dapat berubah menjadi perbudakan terhadap hawa nafsu.
Sedangkan kehidupan yang bergerak dalam bimbingan wahyu memungkinkan manusia berkembang tanpa kehilangan dirinya sendiri.
0 komentar: