DALAM DZIKIR DAN DOA TERDAPAT BEKAL
«"Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."
(QS. Al-Ahzab: 41–42)»
Allah adalah tujuan perjalanan kita. Dialah yang menciptakan kita, memberi rezeki, menjaga kehidupan kita, dan kepada-Nya pula kita akan kembali.
Lalu, pantaskah seseorang yang hidup dengan begitu banyak nikmat dari Allah menjalani hari-harinya tanpa mengingat-Nya?
Bukankah hati manusia sesungguhnya membutuhkan tempat untuk bersandar? Bukankah di balik semua kesibukan, keberhasilan, kegagalan, kekhawatiran, dan harapan, manusia tetap membutuhkan ketenteraman yang tidak dapat diberikan oleh dunia?
Di situlah dzikir menemukan maknanya.
Dzikir bukan sekadar pengulangan kata-kata dengan lisan. Dzikir adalah jalan untuk menghadirkan Allah dalam kesadaran, mengingat kebesaran-Nya, merasakan ketergantungan kepada-Nya, dan mengembalikan hati kepada-Nya.
Karena itu, kebahagiaan yang lahir dari dzikir bukanlah sekadar rasa senang. Ia adalah ketenangan karena merasa dekat dengan Allah, kelapangan dada karena bersandar kepada-Nya, rasa aman dalam pengawasan-Nya, serta ketundukan kepada kehendak-Nya.
Allah berfirman:
«"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)»
Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar: ketenteraman hati tidak selalu bergantung pada berubahnya keadaan di luar diri kita.
Kadang keadaan belum berubah, tetapi hati telah berubah.
Masalah masih ada, tetapi kegelisahan tidak lagi menguasai jiwa.
Jalan masih berat, tetapi langkah menjadi lebih tenang.
Sebab hati telah menemukan tempat bersandar.
DZIKIR: MENGHADIRKAN KEMBALI ALLAH DALAM KEHIDUPAN
Setiap kali seorang hamba mengingat Allah, ia sedang mengembalikan kesadarannya kepada Dzat Yang Mahakuasa.
Ia mengingat bahwa dirinya tidak berdiri sendiri.
Ia bersama Dzat Yang Mahakaya, Mahakuat, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala urusan berada dalam kekuasaan-Nya.
Karena itu, orang yang mengenal Allah tidak mudah merasa sendirian dalam menghadapi kehidupan.
Bukan berarti ia tidak memiliki kebutuhan. Bukan pula berarti ia tidak membutuhkan manusia. Tetapi ia tidak menjadikan makhluk sebagai tempat bergantung yang mutlak.
Ia tahu bahwa di balik seluruh sebab terdapat Allah, Penguasa segala sebab.
Maka pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah:
Jika Allah selalu bersama kita dengan ilmu, pengawasan, pertolongan, dan rahmat-Nya, mengapa kita begitu mudah merasa kehilangan ketika sesuatu yang kita cintai tidak berada di tangan kita?
Dzikir mengembalikan perspektif kita.
Ia mengingatkan bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan dan apa yang hilang dari kita tidak pernah keluar dari pengetahuan Allah.
DZIKIR YANG MENGUBAH JIWA
Dzikir yang dilakukan dengan kesadaran akan nama dan sifat Allah akan meninggalkan pengaruh dalam jiwa.
Ketika kita mengingat Allah sebagai Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih, kita didorong untuk belajar mengasihi.
Ketika mengingat Allah sebagai Ar-Rahim, Yang Maha Penyayang, kita terdorong untuk menyayangi.
Ketika mengingat Allah sebagai Al-Ghafur, Yang Maha Pengampun, kita belajar untuk memberikan maaf.
Ketika mengingat Allah sebagai Dzat Yang Mahamurah, kita terdorong untuk bermurah hati kepada orang lain.
Dengan demikian, dzikir yang benar tidak berhenti di lisan.
Ia bergerak menuju hati.
Dari hati ia memengaruhi pikiran.
Dari pikiran ia membentuk sikap.
Dan dari sikap ia terlihat dalam perbuatan.
Inilah salah satu ukuran penting dzikir: apakah ia mengubah perilaku kita?
Sebab tidak cukup bagi lisan untuk mengatakan Subhanallah sementara tangan masih digunakan untuk kezaliman, mata masih bebas memandang yang haram, telinga masih gemar mendengarkan keburukan, dan hati masih dipenuhi kesombongan.
Dzikir seharusnya membuat seluruh anggota tubuh lebih tunduk kepada Allah.
KETIKA DZIKIR HILANG, KEGELAPAN MUDAH MASUK
Sebaliknya, ketika manusia lalai dari Allah, ruang kosong dalam hati mudah diisi oleh berbagai bisikan.
Setan mendorong manusia mengikuti syahwat, mengejar kesenangan tanpa batas, meremehkan dosa, dan terus menunda taubat.
Allah berfirman:
«"Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."
(QS. Al-A'raf: 179)»
Kelalaian bukan sekadar lupa mengucapkan dzikir.
Kelalaian yang lebih berbahaya adalah ketika hati tidak lagi merasa diawasi Allah.
Seseorang dapat mengucapkan banyak kata-kata agama, tetapi jika kesadaran kepada Allah tidak hadir dalam keputusan-keputusannya, maka dzikir belum sepenuhnya menghidupkan hatinya.
Karena itu Allah berfirman:
«"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku."
(QS. Al-Baqarah: 152)»
Betapa mulianya seorang hamba yang mengingat Allah, kemudian Allah menyebutnya dan mengingatnya dengan rahmat, penjagaan, dan karunia-Nya.
Rasulullah saw. menyampaikan dalam hadis qudsi:
«"Aku bersamanya bila ia mengingat-Ku..."
(Muttafaq 'alaih)»
Maka dzikir bukan sekadar aktivitas tambahan dalam kehidupan seorang Muslim.
Dzikir adalah cara menjaga hubungan dengan Allah agar hati tidak terputus dari tujuan hidupnya.
DZIKIR ADALAH BEKAL DALAM PERJALANAN DAKWAH
Jalan dakwah bukan jalan yang selalu mudah.
Ada penolakan, kelelahan, kesalahpahaman, tekanan, kekecewaan, bahkan terkadang kesendirian.
Karena itu, seorang yang menyeru manusia kepada Allah membutuhkan bekal yang lebih dalam daripada sekadar kemampuan berbicara.
Ia membutuhkan hati yang terhubung dengan Allah.
Dzikir membantu seseorang keluar dari tumpukan kegelisahan dan kembali kepada Allah.
Allah berfirman:
«"Maka segeralah kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu."
(QS. Adz-Dzariyat: 50)»
Ketika hati banyak mengingat Allah, bisikan-bisikan yang menjauhkan manusia dari kebaikan menjadi lebih mudah dilawan.
Iman pun semakin hidup.
Pengagungan kepada Allah semakin kuat.
Dan seseorang memperoleh kekuatan batin untuk melanjutkan perjalanan.
Karena itu, majelis dzikir memiliki kedudukan yang sangat berharga.
Rasulullah saw. bersabda bahwa suatu kaum yang duduk berdzikir kepada Allah akan dikelilingi para malaikat, diliputi rahmat, diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya. (HR. Muslim).
Bayangkan sebuah majelis yang secara lahiriah mungkin sederhana: beberapa orang duduk bersama, membaca ayat, bertasbih, berdoa, dan mengingat Allah.
Namun di sisi Allah, majelis itu dapat menjadi tempat turunnya rahmat dan ketenangan.
Inilah bekal yang sering tidak terlihat oleh mata, tetapi sangat menentukan kekuatan perjalanan.
DZIKIR DALAM SETIAP KEADAAN
Allah memerintahkan orang beriman:
«"Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu, agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya..."
(QS. Al-Ahzab: 41–43)»
Allah juga menggambarkan orang-orang yang berakal:
«"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi..."
(QS. Ali 'Imran: 191)»
Perhatikan keluasan ajaran ini.
Berdiri: berdzikir.
Duduk: berdzikir.
Berbaring: berdzikir.
Artinya, dzikir tidak dibatasi oleh satu tempat dan satu waktu.
Maka biasakanlah hati dan lisan mengingat Allah ketika makan, minum, berpakaian, tidur, bangun, berangkat bekerja, berada di tempat kerja, bepergian, menunggu, atau ketika memiliki waktu senggang.
Jangan biarkan terlalu banyak ruang kosong dalam kehidupan kita dipenuhi oleh sesuatu yang tidak berguna.
Jika tidak sedang bekerja, beribadah, belajar, atau melakukan kewajiban lainnya, mengapa tidak mengisi waktu dengan mengingat Allah?
Sebab waktu yang berlalu tidak akan kembali.
DZIKIR DIMULAI DARI HATI
Namun ada sesuatu yang harus dipahami.
Dzikir yang paling bermakna bukan sekadar gerakan lisan. Dzikir bermula dari hati.
Jika hati mengingat Allah, pengaruhnya semestinya tampak pada seluruh anggota tubuh.
Lisan yang berdzikir akan lebih berhati-hati dalam berbicara.
Mata yang berdzikir akan lebih takut melihat yang haram.
Telinga yang berdzikir tidak ringan mendengarkan keburukan.
Tangan yang berdzikir tidak mudah digunakan untuk menyakiti.
Kaki yang berdzikir tidak mudah melangkah menuju kemaksiatan.
Akal yang berdzikir tidak membiarkan dirinya sengaja merancang keburukan.
Dengan pengertian yang luas ini, dzikir tidak hanya berupa tasbih dan tahmid.
Taubat dapat menjadi dzikir.
Menuntut ilmu dapat menjadi dzikir.
Berpikir tentang kebesaran Allah dapat menjadi dzikir.
Mencari rezeki dapat menjadi dzikir apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal.
Sebab hakikat dzikir adalah menghadirkan kesadaran kepada Allah dalam kehidupan.
Ketika kesadaran itu hidup, manusia merasa diawasi oleh Allah.
Dan ketika seseorang benar-benar menyadari bahwa Allah melihatnya, ia akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup.
DZIKIR DALAM KESEPIAN
Ada kenikmatan tertentu yang hanya dapat dirasakan ketika seseorang mengingat Allah dalam kesendirian.
Tidak ada manusia yang melihat.
Tidak ada yang memuji.
Tidak ada yang memberikan penghargaan.
Hanya Allah yang diketahui hadir dalam kesadaran.
Dalam keadaan seperti itu, dzikir dapat menjadi sangat intim dan mendalam.
Air mata pun terkadang jatuh bukan karena manusia melihatnya, tetapi karena hati merasakan kebesaran Allah.
Rasulullah saw. menyebutkan salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah:
"Seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian lalu kedua matanya berlinang."
Kesendirian yang biasanya dianggap sebagai ruang kosong justru dapat berubah menjadi ruang perjumpaan spiritual dengan Allah.
KETENANGAN TIDAK SELALU DIBELI
Banyak manusia menghabiskan tenaga dan harta untuk mencari kebahagiaan.
Mereka mencari hiburan, kenyamanan, perjalanan, berbagai fasilitas, dan kenikmatan material.
Semua itu tidak salah pada dirinya.
Tetapi ada kebutuhan manusia yang tidak dapat diselesaikan oleh benda.
Kebutuhan hati untuk merasa dekat dengan Penciptanya.
Karena itu, seseorang dapat memiliki banyak hal tetapi tetap gelisah.
Sebaliknya, seseorang dapat berada dalam keterbatasan tetapi memiliki hati yang lapang.
Bukan karena masalahnya tidak ada, melainkan karena ia memiliki tempat untuk mengembalikan segala masalah itu: Allah.
Dalam konteks ini, kisah seorang saudara yang berada dalam penjara menjadi sebuah pelajaran yang dalam.
Ia ditempatkan dalam ruangan sempit dengan pintu yang hampir selalu tertutup. Penjaga yang merasa kasihan kepadanya sesekali membuka pintu ketika atasannya lengah.
Namun saudara tersebut justru merasa terganggu ketika pintu dibuka.
Ia sedang menikmati ketenangan bersama Allah melalui dzikirnya.
Kisah ini tidak berarti bahwa keterbatasan fisik tidak terasa berat. Tetapi ia menunjukkan betapa luasnya hati seseorang ketika menemukan ketenteraman dalam hubungan dengan Allah.
Tembok dapat membatasi tubuh, tetapi tidak selalu mampu membatasi hati yang telah menemukan Allah.
DOA: PENGAKUAN AKAN KELEMAHAN
Jika dzikir menghidupkan kesadaran akan Allah, maka doa mengajarkan manusia untuk mengakui kelemahannya di hadapan-Nya.
Doa pada hakikatnya adalah pengakuan:
Aku lemah. Engkau Mahakuat.
Aku membutuhkan. Engkau Mahakaya.
Aku tidak mengetahui masa depan. Engkau Maha Mengetahui.
Aku tidak mampu menguasai hasil. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Karena itu, doa bukan tanda kehinaan manusia.
Justru doa adalah salah satu bentuk kemuliaan penghambaan.
Seorang hamba yang berdoa mengakui bahwa dirinya tidak memiliki kekuasaan mutlak atas hidupnya.
Ia menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar.
Rasulullah saw. bersabda:
«"Doa adalah ibadah."
(HR. Abu Dawud)»
Allah berfirman:
«"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina."
(QS. Ghafir: 60)»
Karena itu, enggan berdoa bukanlah tanda kekuatan.
Terkadang justru itu merupakan tanda bahwa manusia terlalu percaya kepada dirinya sendiri.
Allah menginginkan kita datang kepada-Nya.
Mengadu kepada-Nya.
Memohon kepada-Nya.
Mengakui kebutuhan kita kepada-Nya.
JANGAN HANYA MENGINGAT ALLAH SAAT TERDESAK
Ada manusia yang baru mengingat Allah ketika musibah datang.
Ketika sehat, ia lupa.
Ketika sakit, ia berdoa.
Ketika lapang, ia lalai.
Ketika terdesak, ia menangis.
Ketika memperoleh apa yang diinginkan, ia kembali lupa.
Seorang mukmin berusaha menempuh jalan yang berbeda.
Dalam keadaan lapang, ia berdzikir sebagai bentuk syukur.
Dalam keadaan sempit, ia berdzikir sebagai bentuk kesabaran dan ketergantungan kepada Allah.
Ketika sehat, ia mengingat Allah.
Ketika sakit, ia tetap mengingat Allah.
Ketika kaya, ia bersyukur.
Ketika diuji dengan kekurangan, ia bersabar.
Dengan demikian, hubungan dengan Allah tidak bergantung pada perubahan keadaan.
Keadaan berubah, tetapi arah hati tetap.
Inilah salah satu bekal terbesar seorang mukmin.
DOA JUGA UNTUK SAUDARA KITA
Salah satu bentuk cinta yang paling indah adalah mendoakan saudara tanpa sepengetahuannya.
Rasulullah saw. bersabda:
«"Tidaklah seorang hamba Muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, 'Semoga engkau mendapatkan seperti yang engkau doakan.'"
(HR. Muslim)»
Bayangkan jika seorang Muslim terbiasa mendoakan saudaranya.
Ia tidak hanya meminta kebaikan untuk dirinya.
Ia menginginkan kebaikan bagi orang lain.
Doa semacam ini membersihkan hati dari iri dan memperkuat ukhuwah.
Karena itu, salah satu bentuk cinta kepada saudara adalah menyebut namanya dalam doa ketika ia bahkan tidak mengetahui bahwa kita sedang mendoakannya.
WAKTU-WAKTU DAN DOA-DOA YANG UTAMA
Di antara waktu yang dikenal memiliki keutamaan dalam berdoa adalah malam Lailatul Qadar, antara azan dan iqamah, ketika sujud, saat bepergian, ketika turun hujan, dan waktu sahur, serta waktu-waktu lain yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.
Doa yang kita panjatkan pun dapat bersumber dari Al-Qur'an dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw.
Doa-doa para nabi dalam Al-Qur'an mengajarkan kepada kita bagaimana seorang hamba berbicara kepada Allah: dengan kerendahan hati, keyakinan, harapan, dan pengakuan akan kebutuhan kepada-Nya.
Karena itu, memperbanyak doa bukan berarti sekadar memperbanyak permintaan.
Yang lebih penting adalah memperdalam hubungan dengan Dzat yang kita mintai.
ADAB DALAM DZIKIR DAN DOA
Dzikir dan doa memiliki adab.
Di antaranya adalah menghadirkan konsentrasi, khusyuk, rasa takut dan harap, ketenangan, serta sikap sopan di hadapan Allah.
Doa dapat diawali dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasulullah saw., kemudian disampaikan dengan penuh keyakinan dan tidak tergesa-gesa.
Seorang hamba juga hendaknya memilih doa yang baik dan memiliki makna luas, mengulanginya dengan penuh penghayatan, serta tidak mendoakan keburukan bagi diri sendiri, keluarga, maupun hartanya.
Dalam berdoa untuk orang lain, kita dapat memulainya dari diri sendiri kemudian mendoakan saudara kita:
"Ya Allah, berilah petunjuk kepadaku dan kepada fulan."
Yang terpenting bukan sekadar susunan kata.
Yang terpenting adalah keadaan hati ketika kata-kata itu keluar.
Sebab doa yang lahir dari hati yang sadar akan kelemahan dirinya memiliki rasa yang berbeda.
Ia bukan sekadar permintaan.
Ia adalah penghambaan.
DZIKIR DAN DOA: BEKAL YANG TIDAK PERNAH HABIS
Pada akhirnya, perjalanan dakwah membutuhkan banyak bekal.
Ilmu adalah bekal.
Kesabaran adalah bekal.
Keikhlasan adalah bekal.
Pengalaman adalah bekal.
Tetapi semuanya akan mudah melemah jika hati kehilangan hubungan dengan Allah.
Karena itu, dzikir dan doa bukan pelengkap dalam perjalanan.
Keduanya adalah sumber kekuatan batin.
Dengan dzikir, kita mengingat siapa tujuan kita.
Dengan doa, kita mengakui kepada siapa kita bergantung.
Dengan dzikir, hati memperoleh ketenangan.
Dengan doa, hati memperoleh tempat untuk mengadu.
Dengan dzikir, kita menjaga hubungan dengan Allah.
Dengan doa, kita menyatakan kebutuhan kita kepada-Nya.
Maka jangan biarkan perjalanan hidup dan dakwah hanya dipenuhi aktivitas lahiriah.
Di tengah kesibukan, sisakan ruang untuk mengingat Allah.
Di tengah keberhasilan, jangan lupa bersyukur.
Di tengah kegagalan, jangan berhenti berharap.
Di tengah kesendirian, jangan merasa sendirian.
Dan ketika tidak tahu harus berbuat apa, angkatlah tangan dan berdoalah.
Sebab manusia boleh kehilangan banyak hal dalam perjalanan hidupnya.
Tetapi selama hatinya masih mengingat Allah dan lisannya masih memohon kepada-Nya, ia belum kehilangan bekal yang paling penting.
Bekal itu adalah hubungan dengan Allah.
Semoga dzikir menghidupkan hati kita, doa merendahkan diri kita di hadapan-Nya, dan keduanya menjadi bekal yang menguatkan langkah kita dalam menempuh jalan kehidupan dan dakwah.
Allahumma a'inna 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatik.
"Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."
0 komentar: