Dua Sosok yang Disebut Rasulullah 'Ibu Setelah Ibuku'
Bayangkan seorang anak yatim piatu di tengah kerasnya hamparan padang pasir Arabia. Tanpa dekapan hangat ayah dan ibu kandung, secara fitrah ia adalah sosok paling rentan di dunia.
Namun, dalam skenario Allah, Muhammad bin Abdullah tidak pernah benar-benar dibiarkan sendiri. Di balik keteguhan sang nabi yang kelak mengguncang peradaban, terdapat jalinan cinta dari perempuan-perempuan luar biasa yang menyediakan bahu dan rumah bagi jiwanya.
Bagi Rasulullah, kasih sayang tidak melulu soal ikatan biologis. Beliau mengajarkan dunia sebuah hakikat humanisme yang dalam: bahwa ibu bisa lahir dari ketulusan, bukan sekadar rahim.
Ada dua sosok yang secara khusus disebutnya sebagai "Ibu setelah ibuku," sebuah gelar yang melampaui segala status sosial dan menjadi bukti bagaimana sang Nabi memuliakan mereka yang menjaganya di masa sulit.
Ummu Aiman: Barakah dari Habasyah yang Melampaui Kasta
Lahir di tanah Al-Habasyah (Ethiopia), perempuan ini bernama Barakah. Ia mengawali kehadirannya di keluarga Nabi sebagai pelayan Abdul Muthallib, yang kemudian diwariskan kepada Abdullah hingga akhirnya menjadi pengasuh setia sang yatim Muhammad. Statusnya sebagai mantan budak berkulit hitam sama sekali tidak mengurangi kemuliaan kedudukannya di mata Rasulullah.
Beliau justru menghancurkan sekat-sekat rasial dan hierarki sosial dengan menempatkan Barakah—yang kemudian dikenal sebagai Ummu Aiman—sebagai inti dari keluarganya.
Bentuk cinta Nabi kepada Barakah terlihat dari bagaimana beliau membangun masa depan pengasuhnya ini. Beliau memerdekakannya, menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah (lelaki yang sangat dicintai Nabi), dan dari rahim Ummu Aiman pulalah lahir Usamah bin Zaid, panglima muda kesayangan beliau.
Kedekatan ini menjadikan Ummu Aiman sebagai matriark dalam rumah tangga kenabian. Sebagaimana sabda Rasulullah yang abadi:
"Barangsiapa merasa senang menikah dengan seorang perempuan penghuni surga, maka hendaklah menikah dengan Ummu Aiman."
Ketegasan Sang Ibu: Diplomasi Pohon Kurma
Sebuah fragmen naratif yang sangat manusiawi terekam dalam hadits Anas bin Malik, menggambarkan betapa Ummu Aiman merasa memiliki "hak" emosional atas diri Rasulullah.
Suatu ketika, setelah penaklukan Khaibar, terjadi perselisihan mengenai kepemilikan pohon kurma. Anas meminta kembali pohon yang pernah diberikan ibunya kepada Nabi, yang saat itu telah diserahkan Nabi kepada Ummu Aiman.
Alih-alih diam, Ummu Aiman menunjukkan pembelaan yang berapi-api layaknya seorang ibu yang melindungi hak anaknya. Ia melingkarkan pakaiannya ke leher Anas bin Malik—sebuah gestur perlindungan sekaligus ketegasan—seraya bersumpah demi Allah bahwa pohon itu tidak boleh diambil. Menariknya, Rasulullah tidak menegur kekerasan hati pengasuhnya itu.
Beliau justru tersenyum dan memilih jalur diplomasi kasih sayang: mengganti pohon tersebut sepuluh kali lipat untuk Anas demi menjaga kehormatan dan perasaan Ummu Aiman.
Bagi Nabi, kebahagiaan perempuan yang telah menyuapinya di masa kecil lebih berharga daripada sekadar urusan materi.
Fathimah binti Asad: Pengorbanan yang Menembus Lapar
Setelah kematian kakeknya, Muhammad tinggal bersama pamannya, Abu Thalib. Di sinilah muncul sosok Fathimah binti Asad.
Dalam kondisi ekonomi keluarga yang sering kali terjepit, Fathimah memberikan standar baru tentang pengorbanan. Ia bukan hanya sekadar "istri paman," melainkan benteng bagi sang Nabi di masa pertumbuhan.
Fathimah adalah perempuan yang rela menahan lapar agar Muhammad kecil bisa kenyang. Ia rela mengenakan pakaian yang sudah usang dan seadanya demi memastikan sang keponakan berpakaian layak. Pengabdian yang tulus dan mengutamakan orang lain di atas diri sendiri (isthar) ini terukir begitu dalam di relung hati Rasulullah.
Saat maut menjemput Fathimah, dunia seolah runtuh bagi beliau. Beliau duduk di dekat kepalanya dan berbisik dengan nada emosional:
"Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepadamu wahai Bunda, kamu adalah ibu setelah ibuku, kamu lapar demi membuatku kenyang, kamu telanjang demi pakaianku, kamu menahan dirimu untuk menikmati kesenangan demi memberi makan kepadaku, dan kamu menghendaki semua itu demi Allah dan alam akhirat."
Tangan Sang Nabi yang Berlumur Tanah: Penghormatan Terakhir
Mungkin tidak ada pemakaman yang lebih mengharukan dalam sejarah selain pemakaman Fathimah binti Asad. Rasulullah melakukan tindakan yang tak terbayangkan: beliau menanggalkan baju kemejanya sendiri untuk dijadikan kain kafan bagi sang bunda, seolah ingin memberikan perlindungan fisik terakhirnya.
Namun, puncaknya adalah ketika galian liang lahat mencapai dasarnya.
Rasulullah, pemimpin besar umat itu, turun langsung ke dalam lubang. Beliau menggali tanah dengan tangannya sendiri, memindahkan butiran bumi dengan jemari yang biasa menerima wahyu, demi memastikan tempat peristirahatannya sempurna.
Beliau kemudian membaringkan tubuhnya sendiri di dalam liang lahat tersebut sebelum jenazah Fathimah diletakkan—sebuah simbol doa agar kubur menjadi tempat yang lapang dan hangat. Sambil membaringkan jenazahnya, beliau memanjatkan doa yang menggetarkan:
"Allah Yang Menghidupkan dan Mematikan, Dialah Dzat yang Maha Hidup dan tidak mati, ampunilah ibuku Fathimah binti Asad dan ajarkanlah hujjahnya, lapangkanlah pintu masuknya demi nabi-Mu dan para nabi sesudahku. Karena sesungguhnya Dzat Yang Maha Penyayang dari para penyayang."
Kisah Ummu Aiman dan Fathimah binti Asad bukanlah sekadar catatan sejarah yang kering. Ini adalah sebuah cermin besar bagi kita tentang etika balas budi dan cara memuliakan sesama manusia.
Rasulullah mengajarkan bahwa karunia terbesar dalam hidup bukan hanya berupa kesuksesan, melainkan kehadiran orang-orang tulus yang membersamai kita saat kita belum menjadi siapa-siapa.
Memuliakan pengasuh, pembantu, atau mereka yang berkorban untuk kita adalah inti dari ajaran moral yang dipraktikkan sang Nabi. Kini, tanyakanlah pada nurani kita: Siapakah sosok 'Ummu Aiman' atau 'Fathimah binti Asad' yang telah menjaga kita hingga hari ini?
Sudahkah kita membasuh hati mereka dengan kemuliaan yang setimpal, ataukah kita telah melupakan debu yang menempel di tangan mereka saat mereka sibuk merawat masa depan kita?
0 komentar: