Arkeologi Islam di Jawa Timur: Dari Era Airlangga hingga Majapahit
Sejarah sering kali kita bayangkan sebagai garis lurus yang kaku, namun dalam lipatan waktu Nusantara, ia lebih menyerupai anyaman yang rumit dan dinamis. Narasi populer yang sering kita dengar menempatkan abad ke-13 sebagai fajar Islam di tanah air melalui berdirinya Samudera Pasai.
Namun, jika kita bersedia menatap lebih dalam pada baris-baris kaligrafi nisan kuno yang membisu di pesisir utara Jawa hingga daratan Campa, kita akan menemukan sebuah realitas yang jauh lebih tua. Nisan-nisan ini bukan sekadar penanda kematian, melainkan saksi bisu yang berbisik tentang sebuah masa di mana iman, intelektualitas, dan diplomasi telah berjalin berkelindan ratusan tahun sebelum kerajaan Islam formal pertama kali dicatat dalam buku teks.
Artikel ini akan mengajak kita mengeksplorasi jejak kosmopolitanisme awal Nusantara, menyingkap bagaimana leluhur kita telah menjadi bagian dari denyut nadi peradaban global lebih awal dari yang kita duga.
Teka-teki Nisan Fatimah binti Maimun (Gresik, 1082 M, Era Mataram Kuno)
Jauh sebelum Kesultanan Samudera Pasai mencapai puncak kejayaannya, sebuah komunitas Muslim yang mapan telah menetap di Leran, dekat Gresik, Jawa Timur.
Kehadiran mereka terpatri abadi pada nisan Fatimah binti Maimun bin Hibatullah, yang wafat pada 475 H atau 1082 M. Temuan ini menjadi sangat krusial karena membuktikan eksistensi komunitas Muslim di jantung wilayah yang secara politik didominasi oleh supremasi Hindu-Buddha pada abad ke-11.
Melalui pembacaan prasasti yang dilakukan secara mendalam oleh Paul Ravaisse pada tahun 1925, terungkap bahwa komunitas ini bukanlah sekadar pendatang sementara. Sejarawan N.A. Baloch bahkan menawarkan interpretasi yang menempatkan sosok ini dalam strata sosial yang tinggi:
"Fatimah Binti Maimun bin Hibatullah adalah seorang puteri Dinasti Hibatullah dari Leran yang dapat ditemukan pada abad ke-10 M." (N.A. Baloch, 1980).
Meskipun Uka Tjandrasasmita memberikan catatan kritis bahwa ketiadaan gelar "sultanat" pada nisan menunjukkan ia mungkin berasal dari kalangan masyarakat biasa, hal ini tidak mengurangi signifikansi temuan tersebut.
Keberadaan nisan ini adalah bukti empiris bahwa Jawa Timur telah terintegrasi dalam peta perdagangan global Timur Tengah sejak abad ke-11, menciptakan sebuah titik temu budaya yang stabil di pesisir utara Jawa.
Harmoni Tak Terduga di Jantung Majapahit (Troloyo)
Salah satu fenomena paling memukau dalam kronik Islamisasi Nusantara adalah keberadaan kompleks makam Muslim di Troloyo. Menariknya, situs ini terletak tepat di pusat gravitasi politik Kerajaan Majapahit, yakni di Trowulan.
Di bawah bayang-bayang kebesaran imperium Hindu-Buddha terbesar ini, nisan-nisan Troloyo bercerita tentang sebuah era di mana perbedaan iman tidak menjadi penghalang bagi kebersamaan. Penguasa Majapahit memberikan tempat istimewa bagi para pedagang dan cendekiawan Muslim di jantung ibu kota mereka.
Situs Troloyo adalah monumen nyata dari akulturasi yang indah, yang terlihat dari elemen-elemen berikut:
Identitas Spiritual: Penggunaan aksara Arab yang memuat kalimat Syahadat dan kutipan Al-Quran (Surat Ali-Imran ayat 18).
Lokalitas Budaya: Penggunaan angka tahun Saka Jawa lama (abad ke-14 hingga 15 M) sebagai sistem penanggalan.
Estetika Visual: Dekorasi nisan yang memadukan pola seni pra-Islam dengan sentuhan kaligrafi Islam.
Ini adalah refleksi mendalam tentang model kosmopolitanisme kuno; sebuah masa di mana identitas global dan kearifan lokal berpelukan dalam harmoni di pusat kekuasaan.
Poros Internasional Campa-Jawa Timur
Jejak Islam di Nusantara bukanlah sebuah peristiwa isolasi, melainkan bagian dari jaringan intelektual dan seni yang melintasi samudera.
Gaya kaligrafi Kufi atau Kufi Timur yang ditemukan pada nisan di Leran memiliki kemiripan artistik yang luar biasa dengan temuan di Phanrang, Campa Selatan (Vietnam), milik Ahmad bin Abu Ibrahim bin Abu Arradah Rahdar yang wafat pada 1039 M.
Keberadaan gaya Kufi yang rumit ini membuktikan bahwa yang melintasi lautan bukan hanya komoditas perdagangan, melainkan juga kelas intelektual dan seniman yang terdidik.
Denys Lombard merumuskan fenomena ini sebagai bagian dari jaringan komunikasi global yang stabil:
"Terdapat garis yang konstan bagi hubungan dagang pada abad ke-11 di antara komunitas Muslim pantai di bagian selatan Tiongkok, India, dan Timur Tengah serta terdapat poros yang menghubungkan Campa-Jawa Timur." (Denys Lombard, 1981).
Poros ini menegaskan bahwa Nusantara adalah bagian dari "jaringan pintar" masa lalu, di mana estetika kaligrafi dan pemikiran keagamaan mengalir melalui jalur laut yang menghubungkan komunitas-komunitas Muslim di Asia Tenggara dalam satu nafas kebudayaan yang sama.
Sejarah masuknya Islam ke Nusantara adalah narasi tentang keberhasilan jaringan perdagangan yang canggih, dialog intelektual yang melampaui batas bangsa, dan tingkat toleransi sosial yang mengagumkan.
Islam tidak hadir sebagai kekuatan asing yang menaklukkan, melainkan sebagai elemen yang memperkaya struktur kosmopolitanisme kita yang sudah ada. Memahami akar sejarah ini mengingatkan kita bahwa keterbukaan dan kemampuan beradaptasi adalah identitas asli bangsa ini.
0 komentar: