Tokoh dan Pertalian dalam Jaringan Ulama
Bagaimana sebuah jaringan keilmuan dapat bertahan lintas abad? Apakah hanya karena banyaknya kitab yang ditulis? Ataukah karena adanya mata rantai guru dan murid yang terus bersambung dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan utama jaringan ulama bukan terletak pada bangunan atau lembaga, melainkan pada hubungan antarmanusia: guru yang mendidik murid, murid yang kelak menjadi guru, lalu meneruskan warisan ilmu kepada generasi berikutnya.
Bukti-bukti sejarah memperlihatkan bahwa para ulama besar pada abad ke-17 bukanlah tokoh yang berdiri sendiri. Mereka merupakan bagian dari mata rantai keilmuan yang telah dibangun sejak berabad-abad sebelumnya. Hampir seluruh ulama inti dalam jaringan ini memiliki isnad hadis dan silsilah tarekat yang tersambung kepada para ulama generasi terdahulu.
Misalnya, Al-Fasi dikenal sebagai murid sekaligus sahabat dua muhaddits besar Mesir, yaitu Ibn Hajar Al-Asqalani dan Syihab Al-Din Al-Ramli. Demikian pula Quthb Al-Din Al-Nahrawali, ulama terkemuka Haramain abad ke-16, yang menjadi penghubung penting antara generasi ulama terdahulu dengan generasi berikutnya, termasuk Ibrahim Al-Kurani.
Hal ini memperlihatkan bahwa jaringan ulama bukanlah kumpulan tokoh yang hidup pada masa yang sama, melainkan rantai keilmuan yang saling menyambung melintasi zaman.
Jaringan yang bersifat kosmopolitan
Lalu, siapa yang menjadi penggerak utama jaringan ini?
Menariknya, sebagian tokoh terpenting justru bukan berasal dari Hijaz. Mereka datang dari berbagai wilayah Dunia Islam, membawa tradisi keilmuan masing-masing, lalu berinteraksi di Haramain hingga melahirkan sintesis intelektual yang baru.
Di antara tokoh yang paling berpengaruh adalah Sayyid Syibghat Allah Jamal Al-Barwaji dan Ahmad Al-Syinnawi.
Kisah keduanya menunjukkan bahwa Haramain bukan hanya menjadi tempat menerima ilmu, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai tradisi Islam dari Persia, India, Mesir, hingga Nusantara.
Sayyid Syibghat Allah: pengembara yang menjadi penghubung
Siapakah Sayyid Syibghat Allah?
Ia adalah seorang ulama kelahiran India dari keluarga keturunan Persia yang wafat di Madinah pada tahun 1015 H/1606 M. Kehidupannya mencerminkan sosok ulama pengembara yang menjadikan perjalanan sebagai bagian dari pencarian ilmu.
Pada masa mudanya ia belajar kepada Wajih Al-Din Al-Gujarati, seorang mursyid besar Tarekat Syathariyyah di Ahmadabad. Setelah mengajar beberapa tahun di India, ia berangkat menunaikan ibadah haji.
Namun perjalanan itu ternyata bukan akhir, melainkan awal dari babak baru kehidupannya.
Sekembalinya ke India, ia kembali mengembara sebelum akhirnya memperoleh dukungan Sultan Ibrahim Adil Syah dari Bijapur untuk berangkat lagi ke Haramain menggunakan kapal kerajaan pada musim haji tahun 1005 H/1596 M.
Kali ini ia tidak kembali lagi.
Ia memilih menetap di Madinah, membangun rumah dan ribath melalui wakaf serta bantuan para penguasa Muslim. Di sanalah ia mengabdikan hidupnya sebagai guru, penulis, sekaligus pembimbing spiritual.
Dari satu tarekat menuju banyak tradisi
Apakah Syibghat Allah hanya mengajarkan Tarekat Syathariyyah?
Tidak.
Walaupun dikenal sebagai tokoh utama Syathariyyah, ia juga memperkenalkan murid-muridnya kepada berbagai tarekat lain seperti Chisytiyyah, Suhrawardiyyah, Khalwatiyyah, Naqsyabandiyyah, Firdausiyyah, Madariyyah, dan Hamadaniyyah.
Mengapa demikian?
Karena gurunya sendiri, Wajih Al-Din Al-Gujarati, telah mewarisi berbagai jalur tarekat tersebut. Tradisi inilah yang kemudian diteruskan Syibghat Allah di Madinah.
Dengan demikian, Haramain menjadi tempat bertemunya berbagai tradisi tasawuf tanpa kehilangan pijakan pada ilmu syariat.
Selain mengajar di Masjid Nabawi, Syibghat Allah juga menulis sejumlah karya tentang tasawuf, teologi, serta syarah atas Tafsir Al-Baidhawi.
Murid-murid dari berbagai penjuru dunia
Siapa saja yang belajar kepadanya?
Daftar muridnya menggambarkan wajah kosmopolitan Haramain.
Mereka datang dari Mesir, India, Kurdistan, Hadramaut, Asia Tengah, hingga Nusantara. Di antara murid-muridnya terdapat Ahmad Al-Syinnawi, Ahmad Al-Qusyasyi, Sayyid As'ad Al-Balkhi, Ibrahim Al-Hindi, Mulla Nizam Al-Din Al-Sindi, serta sejumlah ulama lainnya.
Bahkan halaqah-halaqahnya juga dihadiri jamaah haji dari Kesultanan Aceh.
Bayangkan suasana majelis ilmu itu. Berbagai bahasa, budaya, dan latar belakang bertemu dalam satu lingkaran pembelajaran. Mereka datang dengan pengalaman yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh semangat mencari ilmu.
Dari perjumpaan semacam inilah berita tentang perkembangan Islam di Nusantara turut sampai kepada para ulama Haramain, sementara gagasan-gagasan baru dari Timur Tengah mengalir kembali ke Asia Tenggara.
Ahmad Al-Syinnawi: pewaris dan pengembang jaringan
Di antara murid Syibghat Allah, salah satu yang paling berpengaruh adalah Ahmad Al-Syinnawi.
Ia lahir di Mesir pada tahun 975 H/1567 M dari keluarga ulama yang memiliki tradisi keilmuan yang kuat. Sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan tasawuf. Kakeknya merupakan guru sufi terkemuka, sedangkan ayahnya mewarisi tradisi Tarekat Ahmadiyyah melalui Syekh Abdul Wahhab Al-Sya'rani.
Namun Ahmad Al-Syinnawi tidak membatasi dirinya pada dunia tasawuf.
Ia juga mendalami hadis kepada para muhaddits besar Mesir, seperti Syams Al-Din Al-Ramli dan Muhammad bin Abi Al-Hasan Al-Bakri. Perpaduan antara hadis dan tasawuf inilah yang kelak menjadi ciri utama pemikirannya.
Setelah menetap di Madinah hingga wafat pada tahun 1028 H/1619 M, namanya semakin dikenal sebagai salah seorang ulama paling berpengaruh di Kota Nabi.
Ilmu yang menyatukan syariat dan tasawuf
Apa yang membuat Ahmad Al-Syinnawi begitu dihormati?
Jawabannya terletak pada kemampuannya memadukan kedalaman ilmu hadis dengan keluasan wawasan tasawuf.
Di Madinah, ia bersahabat sekaligus belajar kepada Syibghat Allah yang kemudian mengangkatnya ke dalam Tarekat Syathariyyah. Penguasaan terhadap berbagai jalur tarekat membuatnya memperoleh gelar Al-Bahir fi Al-Thariqah, yakni seorang yang sangat mendalam pengetahuannya tentang jalan-jalan spiritual.
Halaqahnya dipenuhi para penuntut ilmu. Di antara murid yang paling menonjol ialah Ahmad Al-Qusyasyi, Sayyid Salim Syaikhani, dan Sayyid Muhammad Al-Ghurabi—tokoh-tokoh yang kelak meneruskan dan memperluas jaringan ulama hingga menjangkau berbagai kawasan Dunia Islam.
Mata rantai yang terus bersambung
Hubungan keilmuan Ahmad Al-Syinnawi juga menunjukkan betapa kuatnya kesinambungan tradisi Islam.
Melalui sanad hadis dan silsilah tarekat, ia terhubung dengan tokoh-tokoh besar seperti Muhammad Zahirah Al-Makki, Quthb Al-Din Al-Nahrawali, Ibn Hajar Al-Asqalani, Jalaluddin Al-Suyuthi, hingga Ibn Arabi.
Dengan kata lain, ketika seorang murid belajar kepada Ahmad Al-Syinnawi, sesungguhnya ia sedang terhubung dengan mata rantai keilmuan yang membentang selama berabad-abad.
Warisan itu tidak hanya diteruskan melalui pengajaran, tetapi juga melalui karya-karyanya di bidang teologi dan tasawuf. Salah satu yang paling dikenal ialah Tajalliyah al-Basha'ir, sebuah syarah atas Al-Jawahir (Al-Khamsah) karya Muhammad Ghauts Al-Hindi.
Sebuah pelajaran dari jaringan ulama
Melihat perjalanan Syibghat Allah dan Ahmad Al-Syinnawi, kita menemukan satu pelajaran penting.
Ilmu tidak berkembang karena berdirinya seorang tokoh, tetapi karena lahirnya hubungan yang saling menyambung. Seorang guru melahirkan murid, murid melahirkan guru baru, lalu jaringan itu terus berkembang melampaui batas negeri, bahasa, dan generasi.
Dari mata rantai inilah lahir jaringan ulama internasional yang kemudian menjadi fondasi berkembangnya tradisi keilmuan Islam di Haramain, Samudra Hindia, hingga Nusantara.
0 komentar: