Kondisi Bangsa dan Agama Menjelang Kelahiran Rasulullah ﷺ
Mengapa Allah memilih waktu tertentu untuk mengutus Rasulullah ﷺ?
Mengapa risalah Islam tidak diturunkan beberapa abad lebih awal atau beberapa abad kemudian?
Apakah pemilihan tempat dan zaman kelahiran Islam hanyalah sebuah kebetulan sejarah?
Jika kita memperhatikan kondisi dunia menjelang diutusnya Rasulullah ﷺ, tampak bahwa seluruh peristiwa itu berjalan dalam sebuah rancangan Ilahi yang sangat teratur.
Dunia Dikuasai Empat Imperium
Pada masa itu, dunia berada di bawah pengaruh empat kekuatan besar.
Imperium Romawi menguasai Eropa, sebagian Asia, dan Afrika. Imperium Persia membentang luas hingga sebagian besar Asia dan Afrika. Sementara itu, Imperium India dan Imperium Cina berkembang sebagai dua peradaban besar yang relatif tertutup dan terisolasi dari dinamika politik internasional.
Akibat keterisolasian tersebut, justru Romawi dan Persia menjadi dua kekuatan yang paling menentukan arah sejarah manusia pada masa itu. Perebutan pengaruh, peperangan, ekonomi, budaya, bahkan kehidupan keagamaan, banyak ditentukan oleh persaingan kedua imperium tersebut.
Agama-Agama Samawi Kehilangan Kepemimpinannya
Bagaimana keadaan agama-agama samawi ketika itu?
Yahudi dan Nasrani memang masih ada, tetapi keduanya tidak lagi memimpin negara. Justru negaralah yang menguasai agama.
Di samping itu, kedua agama tersebut telah mengalami berbagai penyimpangan sehingga tidak lagi tampil sebagaimana ketika pertama kali diturunkan.
Agama Yahudi hidup berpindah-pindah di bawah tekanan kekuasaan. Terkadang menjadi korban Romawi, pada kesempatan lain berada di bawah dominasi Persia. Dalam perjalanan sejarahnya, agama ini semakin berkembang menjadi agama yang eksklusif bagi Bani Israil dan hampir tidak lagi memiliki misi mengajak seluruh umat manusia kepada ajarannya.
Bagaimana dengan agama Nasrani?
Keadaannya tidak jauh berbeda.
Pada awal kemunculannya, agama ini mengalami penindasan yang sangat keras dari Imperium Romawi. Ribuan pengikutnya dibunuh hanya karena mempertahankan keyakinan mereka.
Namun ketika Romawi akhirnya memeluk agama Kristen, muncul persoalan baru.
Alih-alih negara berubah mengikuti ajaran agama, justru agama itulah yang banyak dipengaruhi oleh budaya Romawi Pagan dan filsafat Yunani. Berbagai unsur asing masuk ke dalam ajaran Kristen sehingga karakter aslinya mengalami perubahan yang sangat besar.
Negara tetap mempertahankan watak kekuasaannya. Yang berubah bukan negara, melainkan agama.
Di sisi lain, perpecahan antarmadzhab semakin meluas. Sesama kelompok Kristen saling menekan, saling mengafirkan, bahkan saling membunuh. Perselisihan itu bukan hanya meretakkan gereja, tetapi juga mengancam keutuhan negara.
Mengapa Islam Lahir di Jazirah Arab?
Di tengah kondisi seperti itulah Islam hadir.
Apakah Islam sekadar menjadi agama baru di antara agama-agama yang telah ada?
Bukan.
Islam datang membawa misi yang jauh lebih besar: membebaskan manusia dari kesyirikan, kezaliman, kerusakan moral, penindasan politik, dan kebodohan spiritual menuju penghambaan hanya kepada Allah.
Misi sebesar itu tentu membutuhkan ruang yang merdeka.
Bagaimana mungkin sebuah risalah dapat tumbuh apabila sejak awal telah berada di bawah kendali imperium besar?
Karena itulah, Islam tidak lahir di Romawi, bukan pula di Persia.
Allah memilih Jazirah Arab.
Mengapa?
Karena tidak ada satu pun imperium yang benar-benar menguasai seluruh wilayah tersebut. Tidak ada pemerintahan pusat yang memiliki birokrasi, tentara, ataupun sistem hukum yang mampu mengekang lahirnya agama baru.
Islam tumbuh dalam keadaan bebas sejak hari pertama.
Ia tidak dibentuk oleh kekuatan asing.
Justru kelak ia yang membentuk peradaban baru.
Kekosongan Politik dan Agama
Keadaan politik di Jazirah Arab memang tampak kacau.
Namun justru kekosongan itulah yang menjadi lahan subur bagi lahirnya perubahan besar.
Di bidang keagamaan pun kondisinya serupa.
Bangsa Arab menyembah berbagai macam sesembahan: berhala, malaikat, jin, bintang, dan berbagai bentuk paganisme lainnya. Ritual mereka tidak memiliki kesatuan yang kokoh.
Memang Ka'bah dan Quraisy mempunyai pengaruh keagamaan yang besar, tetapi pengaruh itu lebih bersifat simbolik daripada ideologis.
Para pemimpin Quraisy sendiri memahami kelemahan agama yang mereka pertahankan.
Karena itu, penolakan mereka terhadap Islam lebih banyak dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi, sosial, dan politik daripada keyakinan terhadap agama mereka sendiri.
Sistem Kabilah Menjadi Pelindung Dakwah
Apakah sistem kesukuan selalu membawa dampak buruk?
Tidak selalu.
Dalam fase awal dakwah, sistem kabilah justru menjadi benteng perlindungan bagi Rasulullah ﷺ.
Selama Bani Hasyim masih melindungi beliau, suku-suku lain enggan memulai peperangan terbuka karena tradisi Arab sangat menghormati ikatan keluarga dan kabilah.
Bahkan banyak orang yang baru masuk Islam pada awal dakwah tetap memperoleh perlindungan dari keluarganya masing-masing.
Bagaimana dengan para budak yang tidak memiliki pelindung?
Mereka memang mengalami penyiksaan yang berat.
Namun Allah menghadirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang membeli dan memerdekakan banyak budak Muslim, sehingga mereka terbebas dari siksaan para tuannya.
Semua itu menjadi bagian dari cara Allah menjaga pertumbuhan Islam pada masa-masa awal.
Bangsa Arab Telah Dipersiapkan
Mengapa Allah memilih bangsa Arab?
Apakah karena mereka merupakan bangsa paling maju?
Justru sebaliknya.
Namun mereka memiliki berbagai potensi yang luar biasa.
Mereka dikenal pemberani, teguh memegang janji, sederhana dalam kehidupan, serta memiliki daya tahan menghadapi kesulitan.
Di samping itu, perjalanan dagang ke Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin telah memperkaya pengalaman mereka berinteraksi dengan berbagai bangsa dan peradaban.
Sebagaimana diabadikan dalam Surah Quraisy, Allah telah membiasakan mereka melakukan perjalanan-perjalanan itu sehingga wawasan mereka semakin luas.
Semua pengalaman tersebut menjadi bekal yang sangat berharga ketika Islam datang.
Islam tidak menciptakan seluruh potensi itu dari nol.
Islam membangunkannya.
Potensi yang selama ini terpendam dibuka oleh Allah dengan cahaya wahyu.
Karena itulah, tidak mengherankan apabila lahir generasi sahabat yang luar biasa: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hamzah, Abbas, Abu Ubaidah, Sa'ad bin Abi Waqqash, Khalid bin Al-Walid, Sa'ad bin Mu'adz, Abu Ayyub Al-Anshari, dan banyak lagi.
Islam menemukan hati-hati yang telah dipersiapkan untuk menerima kebenaran.
Diutus di Tengah Kemunduran
Ketika Rasulullah ﷺ diutus, wilayah-wilayah Arab yang paling subur justru berada di bawah kekuasaan Romawi dan Persia.
Syam dikuasai Romawi.
Yaman berada di bawah Persia.
Bangsa Arab hanya menguasai Hijaz, Najd, dan kawasan-kawasan gurun yang keras.
Dari sisi ekonomi pun keadaan mereka sangat timpang.
Segelintir orang menguasai perdagangan dan kekayaan melalui praktik riba, sedangkan mayoritas hidup dalam kemiskinan.
Kekayaan menjadi ukuran kehormatan.
Mereka yang miskin kehilangan bukan hanya harta, tetapi juga martabat sosial.
Bagaimana dengan kondisi moral masyarakat?
Banyak bentuk kerusakan telah mengakar dalam kehidupan mereka.
Meskipun masih terdapat sejumlah sifat terpuji seperti keberanian, kemurahan hati, dan penghormatan terhadap tamu, secara umum masyarakat Arab saat itu berada dalam masa yang oleh Al-Qur'an disebut sebagai jahiliah.
Sebuah Persiapan Menuju Perubahan Besar
Jika seluruh kondisi tersebut disatukan, tampaklah sebuah gambaran yang menakjubkan.
Dunia sedang mengalami krisis politik.
Agama-agama samawi telah kehilangan kemurniannya.
Imperium-imperium besar saling berebut kekuasaan.
Jazirah Arab berada di luar kendali mereka.
Masyarakatnya memiliki berbagai potensi besar, tetapi belum memiliki petunjuk yang benar.
Bukankah semua itu seakan menjadi panggung yang telah dipersiapkan bagi lahirnya sebuah peradaban baru?
Di tengah dunia yang kehilangan arah itulah Allah mengutus Rasulullah ﷺ.
Melalui beliau, Islam tidak hanya memperbaiki akidah manusia, tetapi juga membangun kembali peradaban yang menjadikan wahyu sebagai pemimpin kehidupan.
Dengan demikian, kelahiran Islam bukanlah sebuah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan jawaban Allah atas krisis kemanusiaan yang telah mencapai puncaknya.
0 komentar: