Mengapa Allah membuka surah Al-Fill ini dengan sebuah pertanyaan?
«"Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan gajah?"»
Mengapa bukan langsung menceritakan peristiwanya?
Karena Allah sedang membangkitkan ingatan, bukan menyampaikan kisah yang asing. Peristiwa itu telah begitu dikenal oleh masyarakat Arab hingga dijadikan penanda sejarah. Mereka berkata, "Ini terjadi pada Tahun Gajah," atau "dua tahun sebelum Tahun Gajah," atau "sepuluh tahun sesudahnya." Bahkan pendapat yang paling masyhur menyebutkan bahwa Rasulullah ï·º lahir pada Tahun Gajah itu sendiri, sebuah ketetapan takdir yang penuh hikmah.
Lalu, mengapa Allah mengingatkan kembali sebuah peristiwa yang sudah mereka ketahui?
Karena yang ingin ditanamkan bukan sekadar ingatan terhadap sejarah, melainkan kesadaran akan makna di balik sejarah.
Allah melanjutkan dengan pertanyaan yang menegaskan jawabannya.
«"Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka sia-sia?"»
Apakah yang dimaksud dengan "menjadikan tipu daya mereka sia-sia"?
Artinya, seluruh rencana, kekuatan, dan strategi mereka berakhir tanpa hasil. Mereka datang dengan keyakinan akan kemenangan, tetapi pulang membawa kehancuran. Mereka telah kehilangan arah sebagaimana seseorang yang tersesat sehingga tidak pernah sampai ke tujuan yang dikejarnya.
Bukankah ini merupakan pelajaran bagi kaum Quraisy?
Ketika pasukan bergajah datang menyerang Baitullah, kaum Quraisy sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankannya. Namun Allah sendiri yang mengambil alih perlindungan rumah-Nya. Bukankah nikmat sebesar itu seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan?
Ironisnya, ketika Rasulullah ï·º datang membawa risalah Allah, mereka justru membanggakan kekuatan dan kedudukan mereka. Padahal mereka pernah menyaksikan sendiri bahwa kekuatan manusia tidak berarti apa-apa ketika berhadapan dengan kehendak Allah.
Bukankah Allah yang menghancurkan pasukan bergajah juga mampu menghancurkan siapa pun yang menghalangi dakwah-Nya?
Lalu Allah menggambarkan bagaimana kehancuran itu terjadi.
«"Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung-burung berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari sijjil, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat."»
Gambaran ini sangat hidup.
Burung-burung datang berkelompok. Batu-batu kecil dari sijjil menghujani mereka. Tubuh mereka hancur hingga tak berdaya, laksana daun-daun kering yang telah dimakan habis oleh ulat atau dikunyah hewan pemakan rumput. Al-Qur'an menghadirkan pemandangan kehancuran yang begitu kuat sehingga tidak memerlukan penafsiran yang dipaksakan untuk mengalihkannya menjadi sekadar wabah penyakit.
Lalu, pelajaran apa yang sebenarnya hendak ditanamkan melalui peristiwa ini?
Pelajaran pertama adalah bahwa Allah sendirilah Pelindung Baitullah.
Kaum musyrik memang menjadi penjaga Ka'bah, tetapi mereka bukan pelindungnya. Ketika Allah berkehendak menjaga rumah-Nya, Dia tidak membutuhkan bantuan mereka sedikit pun. Bahkan perlindungan itu datang langsung dari kekuasaan-Nya.
Bukankah ini menunjukkan bahwa kemuliaan sebuah tempat suci tidak bergantung pada siapa yang menguasainya, melainkan pada kehendak Allah sendiri?
Pelajaran kedua, peristiwa ini menjadi teguran keras bagi kaum Quraisy.
Jika dahulu Allah menjaga Baitullah ketika mereka sama sekali tidak mampu membelanya, mengapa setelah Rasulullah ï·º datang mereka justru menolak risalah yang dibawa-Nya?
Bukankah semestinya mereka menjadi orang pertama yang beriman?
Bukankah pelayanan mereka terhadap Ka'bah seharusnya mengantarkan mereka kepada pemilik Ka'bah, bukan justru mempertahankan kemusyrikan yang mengotorinya?
Pelajaran ketiga berkaitan dengan rencana Allah terhadap lahirnya Islam.
Allah tidak mengizinkan Abrahah dan pasukannya menguasai tanah suci, meskipun saat itu Ka'bah masih dikelilingi oleh berhala. Mengapa?
Karena Allah telah menyiapkan negeri itu sebagai tempat lahirnya risalah terakhir. Tanah suci itu harus tetap bebas dari dominasi imperium mana pun agar dakwah Islam tumbuh tanpa berada di bawah kendali kekuasaan asing.
Bukankah ini menunjukkan bahwa Allah telah menyiapkan panggung sejarah bahkan sebelum manusia mengetahui apa yang akan terjadi?
Nabi terakhir bahkan belum diutus, tetapi Allah telah lebih dahulu menjaga tempat lahir dakwahnya.
Peristiwa ini juga menumbuhkan keyakinan bahwa rumah Allah berada dalam penjagaan-Nya.
Sepanjang sejarah selalu ada pihak-pihak yang berambisi menguasai tempat-tempat suci. Makar silih berganti, kekuatan datang dan pergi. Namun kisah Surah Al-Fil mengingatkan bahwa sebesar apa pun kekuatan manusia, semuanya tetap berada di bawah kekuasaan Allah.
Karena itu, kaum beriman diajak menggantungkan harapan kepada-Nya, bukan kepada perhitungan kekuatan semata.
Terakhir, Surah Al-Fil juga mengajarkan pelajaran tentang keadaan bangsa Arab sebelum Islam.
Sebelum risalah Muhammad ï·º datang, mereka bukan kekuatan besar dunia. Di selatan, wilayah mereka dipengaruhi Persia dan Habasyah. Di utara, Romawi menguasai berbagai kawasan melalui pemerintahan-pemerintahan bawahannya. Adapun Jazirah Arab sendiri dipenuhi kabilah-kabilah yang tercerai-berai dan sering terlibat peperangan panjang antarsuku.
Apakah mereka memiliki kekuatan untuk menghadapi pasukan Abrahah?
Tidak.
Peristiwa Tahun Gajah justru membuktikan kelemahan mereka. Mereka tidak mampu mempertahankan rumah yang mereka banggakan.
Maka siapakah yang sesungguhnya mengangkat martabat bangsa Arab?
Bukan kekuatan suku, bukan kebanggaan keturunan, bukan pula kekuasaan politik.
Islamlah yang mengubah mereka dari bangsa yang tercerai-berai menjadi umat yang memimpin peradaban.
Dengan demikian, Surah Al-Fil bukan sekadar catatan tentang kehancuran pasukan bergajah. Ia adalah pelajaran abadi bahwa Allah mengendalikan sejarah, melindungi agama-Nya, menggagalkan makar orang-orang yang sombong, serta mengajarkan bahwa kemuliaan suatu bangsa tidak lahir dari kekuatan duniawi, tetapi dari kesetiaannya kepada petunjuk Allah.
0 komentar: