Siapakah yang sesungguhnya membangun peradaban Islam di Nusantara?
Apakah para pedagang semata? Ataukah para ulama yang datang membawa ilmu, membimbing para penguasa, lalu meletakkan fondasi bagi lahirnya kesultanan-kesultanan Islam?
Pertanyaan ini membawa kita kepada jejak-jejak sejarah yang tersebar dalam naskah Arab, hikayat Melayu, silsilah kesultanan, hingga kajian para sejarawan modern.
Jejak Awal Kaum Muslim di Nusantara
Salah satu catatan Arab tertua tentang Nusantara terdapat dalam 'Aja'ib al-Hind karya Buzurg bin Syahriyar al-Ramhurmuzi sekitar tahun 1000 M.
Di dalamnya dikisahkan bahwa di Kerajaan Zabaj (Sriwijaya) telah terdapat kaum Muslim, baik dari kalangan pendatang maupun penduduk pribumi. Bahkan, penulis menceritakan kebiasaan masyarakat Sriwijaya yang harus duduk bersila ketika menghadap raja. Menariknya, seorang pedagang Muslim dari Oman memperoleh pengecualian setelah berdialog dengan sang raja.
Kisah itu mungkin tampak sederhana.
Namun, bukankah yang lebih penting adalah kenyataan bahwa komunitas Muslim pribumi telah hadir di tengah masyarakat Sriwijaya jauh sebelum berdirinya kesultanan-kesultanan Islam?
Walaupun naskah tersebut tidak menjelaskan siapa yang pertama kali mengislamkan mereka, keberadaan komunitas itu menunjukkan bahwa benih-benih Islam telah tumbuh sejak masa yang sangat awal.
Dari Mana Islam Datang?
Perdebatan mengenai asal-usul Islam di Nusantara berlangsung cukup panjang.
Thomas W. Arnold berpendapat bahwa Islam tidak hanya datang dari Coromandel atau Malabar, tetapi juga langsung dari Tanah Arab melalui jaringan perdagangan yang telah berkembang sejak abad ke-7.
Crawfurd juga menekankan hubungan langsung dengan dunia Arab, meskipun ia mengakui adanya peranan pesisir India.
Keyzer menghubungkannya dengan Mesir karena kesamaan mazhab Syafi'i.
Niemann dan de Hollander lebih menunjuk Hadramaut di Yaman sebagai daerah asal para penyebar Islam.
Sementara itu, Veth menilai bahwa orang-orang Arab yang menetap dan menikah dengan masyarakat setempat menjadi penggerak utama islamisasi.
Lalu, bagaimana kesimpulan para sejarawan Indonesia?
Seminar Nasional tentang Masuknya Islam ke Indonesia pada tahun 1963 dan 1978 menyimpulkan bahwa Islam telah hadir secara langsung dari Tanah Arab sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M, bukan baru pada abad ke-12 atau ke-13.
Naquib al-Attas: Islam Datang Bersama Tradisi Keilmuan
Syed Muhammad Naquib al-Attas mengajukan pendekatan yang berbeda.
Menurutnya, asal-usul Islam tidak cukup ditelusuri melalui batu nisan atau artefak arkeologi.
Yang jauh lebih penting ialah melihat tradisi keilmuan yang berkembang.
Literatur Melayu Islam, istilah-istilah keagamaan, serta pandangan hidup yang berkembang di Nusantara memperlihatkan corak Timur Tengah yang sangat kuat.
Bahkan, banyak ulama yang selama ini dianggap berasal dari India ternyata memiliki latar belakang Arab atau Arab-Persia.
Dengan demikian, islamisasi Nusantara bukan sekadar perpindahan manusia, melainkan juga perpindahan ilmu, tradisi, dan peradaban.
Kesaksian Hikayat-Hikayat Nusantara
Menariknya, historiografi tradisional Nusantara justru memperkuat pandangan tersebut.
Hikayat Raja-Raja Pasai mengisahkan bahwa Syaikh Isma'il datang dari Makkah melalui Malabar dan mengislamkan Merah Silu yang kemudian bergelar Sultan Malik al-Shalih.
Sejarah Melayu mencatat bahwa Parameswara memeluk Islam melalui dakwah Sayyid Abdul Aziz dari Jeddah dan kemudian bergelar Sultan Muhammad Syah.
Hikayat Merong Mahawangsa menyebut Syaikh Abdullah Yamani sebagai ulama yang mengislamkan Raja Kedah beserta rakyatnya.
Historiografi Aceh menceritakan dakwah Syaikh Abdullah Arif pada abad ke-12 serta Syaikh Jamal al-'Alam yang kemudian menjadi leluhur para sultan Aceh.
Silsilah Kesultanan Sulu pun menyebut nama Syarif Karim al-Makhdum, Sayyid Abu Bakar, dan sejumlah ulama Arab lainnya sebagai tokoh penting dalam pembentukan Kesultanan Sulu.
Meskipun hikayat-hikayat tersebut mengandung unsur legenda, bukankah menarik bahwa semuanya menunjuk kepada pola yang sama: hadirnya ulama dari dunia Arab yang membimbing para penguasa menuju Islam?
Perlak: Kesultanan Islam Tertua
Jika berbicara tentang kesultanan Islam paling awal di Nusantara, nama Perlak hampir selalu disebut.
Menurut naskah Idah al-Haq fi Nazm al-Haq, proses islamisasi Perlak dimulai dengan kedatangan rombongan dakwah yang dipimpin oleh Syarif Hasyim bin Syaikh Ja'far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin pada tahun 172 H (788 M).
Melalui dakwah dan pembinaan yang berkesinambungan, lahirlah Kesultanan Perlak dengan sultan pertamanya, Sultan Alaidin Maulana Abdul Aziz Syah, yang dinobatkan pada tahun 840 M.
Perlak menunjukkan bahwa dakwah tidak berhenti pada pengislaman individu, tetapi berkembang menjadi institusi politik yang menopang penyebaran Islam.
Gowa-Tallo: Islam Menyebar dari Timur Nusantara
Di Sulawesi Selatan, proses islamisasi memperoleh momentum melalui dakwah Datuk Ri Bandang bersama Datuk Patimang dan Datuk Ri Tiro.
Datuk Ri Bandang berhasil mengislamkan Raja Tallo dan Raja Gowa, I Mangarangi Daeng Manrabbia, yang kemudian bergelar Sultan Alauddin.
Sejak tahun 1605 M, Gowa-Tallo resmi menjadi kesultanan Islam dan berkembang menjadi pusat dakwah terbesar di kawasan timur Nusantara.
Ternate dan Tidore: Rempah-Rempah dan Dakwah Berjalan Bersama
Di Maluku, penyebaran Islam berlangsung seiring berkembangnya jalur perdagangan rempah-rempah.
Tradisi lokal menyebut Datuk Marikab sebagai salah seorang ulama yang memperkenalkan Islam di Ternate.
Kemudian Raja Ternate belajar kepada Sunan Giri di Jawa sebelum memeluk Islam dan bergelar Sultan Zainal Abidin.
Di Tidore, Islam berkembang pada masa Sultan Cili Gapi, yang memperkuat kedudukan syariat melalui kehadiran para ulama dari berbagai wilayah Nusantara dan dunia Arab.
Banjar: Dakwah yang Melahirkan Kesultanan
Di Kalimantan Selatan, islamisasi tidak dapat dipisahkan dari peranan Khatib Dayan, utusan Kesultanan Demak.
Beliau mendampingi Pangeran Samudera dalam perjuangannya memperoleh kekuasaan.
Setelah berhasil, Pangeran Samudera memeluk Islam dan dinobatkan sebagai Sultan Suriansyah pada tahun 1526 M.
Sejak saat itu, Banjar berkembang menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di Kalimantan.
Palembang: Melanjutkan Jejak Dakwah Jawa
Di Palembang, penyebaran Islam dipelopori oleh tokoh-tokoh yang memiliki hubungan erat dengan tradisi Islam Jawa.
Nama Kiai Gede Ing Suro dikenal sebagai salah seorang perintis masyarakat Islam di wilayah tersebut.
Perkembangan itu kemudian melahirkan Kesultanan Palembang Darussalam yang mencapai bentuk politiknya pada abad ke-17 di bawah Sultan Abdurrahman (Ki Mas Hindi).
Jawa: Pusat Dakwah dan Pendidikan Islam
Pulau Jawa menjadi salah satu pusat perkembangan Islam terbesar di Nusantara.
Maulana Malik Ibrahim membuka jalan dakwah di pesisir utara Jawa.
Perjuangan itu dilanjutkan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang membangun pusat pendidikan Islam dan melahirkan kader-kader ulama.
Kemudian hadir Sunan Gunung Jati, Maulana Ishaq, serta para anggota Wali Sanga lainnya yang menghubungkan dakwah, pendidikan, perdagangan, dan pembinaan para penguasa hingga lahir berbagai kesultanan Islam di Jawa.
Benang Merah Sejarah
Jika seluruh rangkaian sejarah ini dibaca secara utuh, tampak sebuah pola yang berulang.
Islam tidak menyebar hanya melalui perdagangan.
Perdagangan memang membuka jalan.
Perkawinan mempererat hubungan.
Namun, yang membangun peradaban adalah para ulama.
Mereka datang membawa ilmu, membina masyarakat, mendidik para penguasa, membangun lembaga pendidikan, dan melahirkan kesultanan-kesultanan Islam yang kemudian menjadi pusat dakwah di berbagai wilayah Nusantara.
Karena itu, sejarah islamisasi Nusantara bukan sekadar kisah perpindahan agama, melainkan kisah lahirnya sebuah peradaban. Di balik berdirinya Perlak, Pasai, Malaka, Aceh, Gowa-Tallo, Ternate, Tidore, Banjar, Palembang, Sulu, Cirebon, Demak, dan berbagai kesultanan lainnya, tampak peranan para ulama yang menjadikan ilmu sebagai fondasi bagi tegaknya masyarakat dan pemerintahan Islam.
0 komentar: