Siapakah sebenarnya yang dimaksud Allah sebagai "hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar" dalam Surah Al-Isra' ayat 5?
Apakah mereka adalah pasukan Babilonia di bawah Nebukadnezar?
Apakah mereka pasukan Assyria?
Ataukah mereka adalah kaum Muslimin pada masa Rasulullah ﷺ?
Mengapa para mufasir berbeda pendapat dalam menjelaskan ayat ini?
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ayat ini memang membuka ruang ijtihad dalam memahami siapa pelaksana hukuman Allah terhadap Bani Israil pada peristiwa yang disebut sebagai pengrusakan pertama.
Allah berfirman,
«"Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil di dalam Kitab itu, 'Sungguh, kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi dua kali dan pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi kejahatan yang pertama, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka menjelajahi kampung-kampungmu. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.'"
(QS. Al-Isra': 4–5)»
Mengapa Para Mufasir Berbeda Pendapat?
Sejak masa awal Islam, para ulama telah mengemukakan berbagai penafsiran.
Sebagian berpendapat bahwa hukuman itu dilaksanakan oleh pasukan Babilonia yang dipimpin Nebukadnezar.
Qatadah menyebut pasukan Jalut.
Mujahid mengaitkannya dengan pasukan Persia dan Babilonia.
Muhammad bin Ishaq menghubungkannya dengan Raja Sennacherib dari Assyria.
Ada pula yang berpendapat bahwa bangsa 'Amaliqah menjadi pelaksana hukuman tersebut.
Mengapa perbedaan ini muncul?
Karena Al-Qur'an tidak menyebutkan nama bangsa ataupun tokoh secara eksplisit.
Yang ditegaskan Al-Qur'an bukan identitas pelaksananya, melainkan kepastian bahwa Allah akan menghukum kezaliman ketika sebab-sebabnya telah sempurna.
Apakah Pengrusakan Itu Terjadi Sebelum Turunnya Al-Qur'an?
Ayat-ayat ini turun di Makkah.
Lalu timbul pertanyaan yang menarik.
Apakah dua kali kerusakan yang disebutkan Al-Qur'an telah terjadi sebelum ayat ini diturunkan?
Sejarah menunjukkan bahwa Bani Israil memang telah mengalami berbagai kekalahan dan penaklukan jauh sebelum masa Rasulullah ﷺ.
Mereka pernah ditawan oleh Babilonia.
Mereka juga pernah berada di bawah kekuasaan Romawi.
Al-Qur'an sendiri telah menggambarkan bahwa berbagai pelanggaran mereka mendatangkan kehinaan dan kemurkaan Allah.
Allah berfirman,
«"...Lalu ditimpakan kepada mereka kehinaan dan kemiskinan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar..."
(QS. Al-Baqarah: 61)»
Demikian pula firman-Nya,
«"Dan Tuhanmu telah memberitahukan bahwa Dia pasti akan mengirimkan kepada mereka sampai hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang paling buruk."
(QS. Al-A'raf: 167)»
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa hukuman Allah terhadap suatu kaum dapat terjadi berulang kali apabila sebab-sebabnya terus berulang.
Apakah Ayat Ini Berbicara Tentang Masa Depan?
Sebagian ulama kemudian mengajukan pertanyaan lain.
Mengapa Surah Al-Isra' menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan kepastian akan terjadinya suatu peristiwa?
Mereka memperhatikan penggunaan bentuk penegasan dalam firman Allah,
«"Kamu pasti akan membuat kerusakan..."»
dan
«"Kamu pasti akan menyombongkan diri..."»
Menurut analisis kebahasaan yang dikemukakan sebagian ahli tafsir, susunan kalimat ini dapat dipahami sebagai pemberitahuan tentang peristiwa yang dipastikan terjadi.
Dari sinilah muncul pendapat bahwa sebagian isi ayat tersebut menunjuk kepada kejadian yang masih akan berlangsung setelah turunnya wahyu.
Namun, penafsiran ini bukan satu-satunya pendapat yang ada di kalangan ulama.
Siapakah "Hamba-Hamba Kami"?
Pertanyaan berikutnya menjadi semakin menarik.
Mengapa Allah menyebut mereka sebagai "hamba-hamba Kami"?
Sebagian mufasir memahami istilah ini secara umum, yakni siapa saja yang Allah jadikan sebagai alat untuk melaksanakan ketetapan-Nya, baik mereka beriman maupun tidak.
Sementara itu, sebagian penafsir lainnya berpendapat bahwa ungkapan tersebut lebih sesuai digunakan untuk kaum beriman yang dimuliakan Allah.
Mereka menghubungkan ayat ini dengan berbagai penyebutan Rasulullah ﷺ sebagai "hamba-Nya", seperti dalam firman Allah,
«"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam..."
(QS. Al-Isra': 1)»
Demikian pula dalam tasyahud kaum Muslimin yang berbunyi,
«"Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh."»
Berdasarkan pertimbangan ini, sebagian penafsir berpendapat bahwa kaum Muslimin pada masa Rasulullah ﷺ termasuk di antara pihak yang Allah jadikan sebagai pelaksana hukuman terhadap sebagian kelompok Yahudi di Madinah setelah mereka melanggar perjanjian.
Peristiwa di Madinah
Sesampainya Rasulullah ﷺ di Madinah, beliau membangun hubungan politik melalui Piagam Madinah.
Perjanjian itu mengatur hak dan kewajiban seluruh komunitas, termasuk beberapa kabilah Yahudi.
Namun, sebagian kabilah kemudian melanggar perjanjian tersebut.
Dalam sejarah Islam dikenal peristiwa yang melibatkan Bani Qainuqa', Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan kemudian Khaibar.
Al-Qur'an mengabadikan salah satu peristiwa itu dalam firman-Nya,
«"Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir dari Ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka bahwa mereka akan keluar, dan mereka pun yakin benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari Allah. Maka Allah mendatangi mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka dan Dia menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Mereka menghancurkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan dengan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan."
(QS. Al-Hasyr: 2)»
Sebagian ulama memandang adanya keterkaitan tematik antara ayat ini dan Surah Al-Isra' ayat 4–5, meskipun terdapat pula ulama lain yang memahaminya sebagai peristiwa yang berbeda.
Apa Pelajaran Besarnya?
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai identitas pelaksana hukuman itu, pesan utama Al-Qur'an tetap sama.
Allah mengajarkan bahwa kesombongan, pengkhianatan, dan kerusakan tidak pernah dibiarkan tanpa akibat.
Sejarah bukan sekadar rangkaian peristiwa.
Ia adalah cermin sunnatullah.
Ketika suatu kaum melampaui batas, Allah dapat menjadikan siapa pun sebagai sebab datangnya hukuman-Nya.
Sebaliknya, ketika manusia menjaga amanah dan menaati petunjuk-Nya, Allah pula yang mengangkat derajat mereka.
Karena itu, fokus utama Al-Qur'an bukanlah memuaskan rasa ingin tahu tentang identitas pelaku sejarah.
Yang lebih penting adalah mengambil pelajaran agar kita tidak mengulangi sebab-sebab yang pernah mengantarkan suatu kaum kepada kehancuran.
Sejarah dalam Al-Qur'an bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk direnungkan, dipelajari, dan dijadikan peringatan bagi setiap generasi.
0 komentar: