Jangan Dekati Pohon Itu
Mengapa Allah melarang Nabi Adam memakan buah dari satu pohon, padahal seluruh kenikmatan surga telah dibukakan untuknya?
Mengapa hanya satu larangan, tetapi justru larangan itulah yang menjadi titik awal sejarah manusia?
Bukankah Allah mampu menciptakan surga tanpa satu pun aturan yang membatasi?
Pertanyaan-pertanyaan ini mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang menikmati karunia, tetapi juga tentang belajar taat kepada Pemberi karunia.
Allah berfirman:
«"Dan Kami berfirman, 'Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga. Makanlah dengan nikmat berbagai makanan yang ada di sana sesukamu. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.'"
(QS. Al-Baqarah: 35)»
Perhatikanlah.
Allah tidak melarang Adam menikmati surga.
Sebaliknya, hampir seluruh kenikmatan surga dipersilakan untuk dinikmati. Hanya satu pohon yang tidak boleh didekati.
Mengapa hanya satu?
Karena sejak awal Allah hendak mengajarkan bahwa kebebasan manusia bukanlah kebebasan tanpa batas.
Selalu ada garis yang tidak boleh dilanggar.
Di situlah letak ujian seorang hamba.
Tanpa adanya sesuatu yang dilarang, bagaimana mungkin ketaatan dapat dibuktikan?
Tanpa pilihan antara taat dan melanggar, bagaimana mungkin kehendak (iradah) dapat tumbuh?
Ketaatan baru memiliki makna ketika seseorang memiliki kemampuan untuk memilih, tetapi tetap memutuskan menaati Allah.
Inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.
Manusia diberi akal, kehendak, dan kemampuan memilih.
Sedangkan makhluk yang hanya mengikuti naluri tidak memerlukan ujian semacam itu.
Karena itu, hidup bukan sekadar menikmati apa yang diinginkan, melainkan belajar menahan diri dari apa yang dilarang.
Kesabaran tidak lahir ketika semua keinginan dipenuhi.
Kesabaran justru lahir ketika seseorang mampu berkata, "Tidak," terhadap sesuatu yang diinginkan, semata-mata karena Allah melarangnya.
Lalu apa yang terjadi setelah itu?
Allah berfirman:
«"Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu, sehingga keduanya dikeluarkan dari keadaan semula."
(QS. Al-Baqarah: 36)»
Al-Qur'an menggunakan ungkapan yang sangat indah:
"Azallahumā."
"Setan menggelincirkan keduanya."
Kata ini menghadirkan gambaran yang sangat hidup.
Seakan-akan kita menyaksikan sendiri bagaimana setan tidak mendorong Adam dengan kekerasan, tetapi membuat langkahnya tergelincir sedikit demi sedikit hingga akhirnya terjatuh.
Bukankah demikian pula cara kerja godaan setan terhadap manusia?
Ia jarang mengajak kepada dosa besar secara tiba-tiba.
Ia memulai dengan langkah yang tampak kecil.
Sedikit demi sedikit.
Selangkah demi selangkah.
Hingga akhirnya seseorang terjatuh tanpa menyadari sejak kapan ia mulai menyimpang.
Karena itu, Allah tidak berfirman, "Jangan makan pohon itu," melainkan:
"Jangan dekati pohon itu."
Mengapa?
Karena Islam tidak hanya melarang perbuatan dosanya, tetapi juga melarang jalan yang mengantarkan kepadanya.
Jangan dekati zina.
Jangan dekati riba.
Jangan dekati khamar.
Jangan dekati segala sesuatu yang menjadi pintu menuju kemaksiatan.
Sebab kejatuhan besar hampir selalu diawali oleh langkah-langkah kecil yang dianggap sepele.
Pada peristiwa itu, ujian mencapai puncaknya.
Nabi Adam lupa terhadap peringatan yang telah diterimanya.
Beliau lemah menghadapi godaan setan.
Namun, kelemahan itu bukanlah akhir dari kisah.
Justru dari sana manusia belajar bahwa ia bisa tergelincir, tetapi juga diberi jalan untuk kembali melalui taubat.
Kisah Adam bukanlah kisah tentang manusia yang sempurna tanpa kesalahan.
Ia adalah kisah tentang manusia yang diuji, tergelincir, menyadari kesalahannya, lalu kembali kepada Allah.
Karena itu, pertanyaan terbesar bukanlah,
"Apakah kita pernah tergelincir?"
Sebab setiap manusia pernah melakukan kesalahan.
Yang jauh lebih penting adalah,
"Apakah setelah tergelincir kita segera kembali kepada Allah, atau justru terus berjalan menjauhi-Nya?"
Inilah pelajaran yang diwariskan oleh kisah Nabi Adam.
Allah tidak hanya mengajarkan manusia tentang nikmat surga, tetapi juga tentang batas-batas yang harus dijaga, tentang tipu daya setan yang harus diwaspadai, dan tentang rahmat-Nya yang selalu terbuka bagi siapa pun yang kembali dengan penuh penyesalan.
Karena sering kali, seseorang tidak jatuh karena tidak mengetahui larangan Allah.
Ia jatuh karena memilih mendekati sesuatu yang sejak awal telah Allah perintahkan untuk dijauhi.
0 komentar: