Keunggulan Metodologi Islam: Mengapa Al-Qur'an Mengajarkan Kita Membaca Sejarah?
Mengapa Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia berjalan di muka bumi?
Apakah sekadar agar kita menikmati pemandangan, mengunjungi tempat-tempat baru, atau mengenal berbagai peradaban?
Ataukah ada pelajaran yang jauh lebih besar di balik setiap perjalanan itu?
Allah berfirman,
«"Katakanlah, 'Berjalanlah kalian di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (agama Allah).'
(QS. Al-An'am: 11)»
Perintah ini tampak sederhana.
Namun, sesungguhnya ia mengubah cara manusia memandang sejarah.
Al-Qur'an tidak mengajak manusia sekadar berjalan.
Ia mengajarkan manusia melihat.
Bukan sekadar melihat bangunan-bangunan tua, reruntuhan kota, atau bekas kejayaan suatu bangsa.
Lebih dari itu, manusia diajak membaca hukum-hukum Allah (sunnatullah) yang bekerja di balik setiap peristiwa sejarah.
Mengapa suatu bangsa mencapai kejayaan?
Mengapa bangsa lain runtuh meskipun pernah memiliki kekayaan, teknologi, dan kekuatan militer?
Apakah semua itu terjadi secara kebetulan?
Ataukah ada hukum-hukum Allah yang selalu berlaku sepanjang zaman?
Inilah cara Al-Qur'an mendidik manusia.
Dari Perjalanan Dagang Menjadi Perjalanan Peradaban
Bangsa Arab sebelum Islam bukanlah bangsa yang asing dengan perjalanan.
Mereka mengembara untuk berdagang.
Mereka menempuh gurun demi mencari penghidupan.
Mereka berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menggembala, berburu, atau melakukan transaksi perdagangan.
Namun, pernahkah mereka melakukan perjalanan untuk memahami hukum sejarah?
Pernahkah mereka mengunjungi bekas-bekas peradaban demi mengambil pelajaran tentang sebab-sebab kejayaan dan kehancuran suatu umat?
Di sinilah letak revolusi besar yang dibawa Al-Qur'an.
Islam mengubah perjalanan fisik menjadi perjalanan intelektual.
Perjalanan geografis berubah menjadi perjalanan spiritual.
Manusia tidak lagi sekadar berpindah tempat, tetapi belajar membaca jejak-jejak kebesaran Allah dalam sejarah.
Inilah cara Al-Qur'an mengangkat manusia dari cara berpikir yang sempit menuju pandangan hidup yang jauh lebih luas.
Apakah Sejarah Hanya Kumpulan Cerita?
Sebelum datangnya Al-Qur'an, sejarah pada umumnya hanya dipahami sebagai kumpulan kisah.
Orang-orang menceritakan peperangan.
Mereka meriwayatkan silsilah.
Mereka mengisahkan tokoh-tokoh besar.
Namun, apakah semua kisah itu disusun dalam sebuah kerangka yang mampu menjelaskan hubungan sebab dan akibat?
Belum.
Sebagian besar sejarah pada masa itu hanyalah kumpulan berita dan cerita yang berdiri sendiri.
Lalu Al-Qur'an menghadirkan sesuatu yang baru.
Ia mengajarkan bahwa sejarah memiliki pola.
Ada sebab.
Ada akibat.
Ada hukum-hukum Allah yang terus bekerja.
Apabila sebab-sebab kejayaan dipenuhi, maka kejayaan akan datang dengan izin Allah.
Sebaliknya, apabila sebab-sebab kehancuran dipilih oleh suatu bangsa, maka kehancuran pun akan mengikuti.
Karena itu, sejarah menurut Al-Qur'an bukan sekadar catatan masa lalu.
Sejarah adalah laboratorium kehidupan.
Mengapa Ada Bangsa Besar yang Hancur?
Allah berfirman,
«"Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan? Padahal Kami telah memberikan kepada mereka kekuasaan di bumi yang belum pernah Kami berikan kepada kalian. Kami menurunkan hujan yang lebat kepada mereka dan mengalirkan sungai-sungai di bawah mereka. Kemudian Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka, dan setelah mereka Kami ciptakan generasi yang lain."
(QS. Al-An'am: 6)»
Ayat ini mengajukan pertanyaan yang sangat mendalam.
Apakah kekuatan ekonomi mampu menjamin kelangsungan sebuah peradaban?
Apakah teknologi dapat menyelamatkan suatu bangsa dari kehancuran?
Apakah kekayaan alam cukup untuk mempertahankan kejayaan?
Al-Qur'an menjawab, tidak.
Bangsa-bangsa sebelum kalian pernah memiliki semuanya.
Mereka memiliki tanah yang subur.
Mereka memiliki sungai-sungai.
Mereka memiliki kekuasaan.
Mereka memiliki kemakmuran.
Namun, semuanya lenyap ketika mereka menyimpang dari hukum-hukum Allah.
Kehancuran mereka bukan karena kekurangan sumber daya.
Melainkan karena kerusakan moral dan penyimpangan dari petunjuk-Nya.
Mengapa Bangsa Arab Berubah Begitu Cepat?
Salah satu pertanyaan besar dalam sejarah adalah:
Bagaimana mungkin bangsa Arab berubah secara drastis hanya dalam waktu sekitar dua puluh tiga tahun masa kerasulan Nabi Muhammad ï·º?
Dalam waktu yang sangat singkat itu lahir perubahan besar.
Cara berpikir berubah.
Sistem hukum berubah.
Nilai-nilai moral berubah.
Peradaban baru lahir.
Apakah perubahan sebesar itu semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi?
Jika demikian, di manakah revolusi ekonomi besar yang mendahuluinya?
Di manakah lonjakan kekayaan yang mampu menjelaskan perubahan luar biasa tersebut?
Faktanya, perubahan ekonomi sebesar itu tidak terjadi terlebih dahulu.
Justru yang datang lebih dahulu adalah perubahan cara pandang.
Perubahan akidah.
Perubahan nilai.
Perubahan metodologi berpikir.
Inilah yang kemudian mengubah seluruh sendi kehidupan.
Karena itu, Al-Qur'an mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari ekonomi.
Ia dimulai dari perubahan manusia.
Mukjizat Sebuah Manhaj
Sering kali manusia mencari rahasia kebangkitan suatu bangsa melalui teori-teori materialistik.
Ada yang menjadikan ekonomi sebagai penjelasan tunggal.
Ada yang menganggap kekuasaan politik sebagai faktor utama.
Ada pula yang hanya melihat aspek teknologi.
Namun, Al-Qur'an menawarkan sudut pandang yang berbeda.
Rahasia kebangkitan bukan hanya terletak pada apa yang dimiliki manusia, tetapi pada manhaj yang membimbing manusia.
Metode hidup yang benar akan melahirkan cara berpikir yang benar.
Cara berpikir yang benar akan melahirkan perilaku yang benar.
Perilaku yang benar akan membangun masyarakat yang benar.
Dan masyarakat yang benar akan melahirkan peradaban yang kokoh.
Inilah mukjizat metodologi Islam.
Ia tidak hanya mengubah individu.
Ia mengubah arah sejarah.
Apa Pelajaran Bagi Kita Hari Ini?
Ketika Al-Qur'an memerintahkan,
«"Berjalanlah di muka bumi, lalu lihatlah..."»
Sesungguhnya Allah sedang mengajarkan kita cara berpikir.
Jangan hanya melihat hasil.
Pelajarilah sebab-sebabnya.
Jangan hanya mengagumi kejayaan.
Telitilah nilai-nilai yang melahirkannya.
Jangan hanya meratapi kehancuran.
Carilah penyebab yang mengantarkannya.
Sejarah bukan sekadar untuk dikenang.
Sejarah adalah guru yang mengajarkan sunnatullah.
Barang siapa memahami hukum-hukum Allah yang bekerja dalam perjalanan umat manusia, ia akan mampu membaca masa lalu dengan jernih, memahami masa kini dengan bijaksana, dan menyiapkan masa depan dengan lebih benar.
Itulah keunggulan metodologi Al-Qur'an.
Ia tidak hanya menceritakan sejarah.
Ia mengajarkan manusia bagaimana membaca sejarah, memahami sebab dan akibatnya, lalu menjadikannya petunjuk untuk membangun peradaban yang diridai Allah.
0 komentar: