Tujuan Akal yang Paling Mulia adalah Mengenal Allah
Prof. Huizinga, seorang Filosof bangsa Belanda yang disalinkan oleh Dr. M. Amir di dalam pidatonya di "Taman Kemajuan" di Medan pada malam tanggal 13/14 Februari 1940,
"Tiap-tiap peradaban hendaklah mengacu kepada tiga perkara:
Pertama, dapat mempersatukan di antara benda yang lahir dengan jiwa.
Kedua, hendaklah mempunyai tujuan yang mulia, yaitu akhirat.
Ketiga, hendaklah mengalahkan alam. Suatu peradaban yang tidak menuju ke akhirat, lebih baik dimusnahkan saja".
Kita dahulukan ini karena kita setuju dengan kehendak agama Islam. Benar, agama Islam agama yang mengagungkan akal, melebihkan dan meletakannya paling atas, tetapi kalau akal itu tidak mempunyai tujuan yang sejati betapa jadinya?
Apa guna ilmu banyak, akal cerdas, kalau sekiranya ujung perhentian tidak tiba pada ingat akan Tuhan?
Di dalam pelajaran Agama Islam, mempergunakan akal, menaklukkan alam, menyelidiki segala perkara, bukanlah tujuannya untuk perkara itu saja, tetapi supaya ingat di balik perkara yang terlihat itu ada kuasa yang gaib.
Di balik hidup yang sekarang ada lagi suatu kehidupan yang lebih kekal. Di dalam Al-Qur'an tujuan itu dinyatakan, yaitu, "Percaya pada Allah dan dengan hari Kemudian".
Tujuan akal yang paling mulia, tujuan akal yang sejati, tujuan perjuangan kita di dalam hidup ini ialah ma'rifatullah, kenal pada Tuhan, mengerjakan perintah-Nya dengan taat, menahan diri dari memaksiati-Nya.
Oleh Rasulullah telah ditegaskan perjuangan akal itu demikian,
الْعَقْلُ ثَلَاثَةُ أَجْزَاءٍ : جُزْءٌ مَعْرِفَةُ اللَّهِ وَجُزْءٌ طَاعَةُ اللَّهِ وَجُزْءٌ الصَّبْرُ عَنْ مَعْصِيَةِ الله
"Akal itu terbagi kepada tiga bahagian, sebahagian untuk mengenal Allah, sebahagian untuk taat kepada Allah, dan sebahagian lagi untuk sabar (dapat menahan hati) dari pada maksiat pada Allah".
Dan sabda beliau pula,
الْإِيْمَانُ عُرْيَانٌ وَلِبَاسُهُ التَّقْوَى وَزِينَتُهُ الْحَيَاءُ وَمَالُهُ الْعِفَّةُ وَتَرَتُهُ العِلْمُ
"Iman itu masih bertelanjang, pakaiannya ialah taqwa, perhiasannya ialah malu, hartanya ialah 'iffah), buahnya ialah Elmu".
Maka pusat atau sentral daripada ma'rifat Allah itu ialah di alam diri sendiri. Yaitu perasaan kelemahan diri di hadapan matu kekuasaan gaib yang mengatur dan mentadbirkan alam ini, bahwa saya ini merupakan satu di antara makhluk (yang dijadikan) oleh Khaliq (yang menjadikan).
Menurut penyelidikan ahli filsafat, sebelum ada agama apa pun, tegasnya sebelum sampai suatu seruan kepada diri orang berakal, telah timbul kata-kata di dalam jiwanya sendiri, bahwa memang ada Khaliq yang Mahakuasa yang menjadikan alam ini.
Melihat kebesaran alam timbullah perasaan bahwa ada yang lebih besar dari padanya. Perasaan itulah yang bernama: Fitrah
Tetapi kalau ilmu belum ada, fitrah suci yang baru tumbuh itu, lantaran pengaruh lingkungan, dapat juga tersasar kepada yang lain. Tak ubahnya fitrah itu dengan kaca plat gambar yang masih bersih, tetapi menjadi kotor setelah disinggung dan bercampur dengan yang lain-lain.
Orang-orang biadab yang masih belum tinggi pengetahuannya dan belum sampai kepadanya seruan agama yang dibawa oleh nabi-nabi, takluk kepada hukum kekuasaan Yang Mahakuasa itu sekadar kecerdasan akalnya pula. "Sebab kalau ilmu dan pengalaman belum ada, tentu obat dipenuhi oleh khayal".
Itulah sebab di antara mereka ada yang menyembah kayu besar karena terpengaruh oleh suasana seram di bawah kayu besar itu; ada yang menyembah matahari karena terpengaruh oleh cahayanya; atau yang menyembah bulan, karena terpengaruh oleh lemah lembutnya, dan lain-lain.
Kedatangan agama adalah menuntun dan membawa akal tadi ke seberang jauh, terlepas dari pada barang lahir yang asalnya "Adam", artinya tidak ada, kemudian ada dan akhirnya akan lenyap pula.
Tarikh agama hanya sekali jalan, wujudnya hanya satu, dan datangnya dari tempat yang satu. Pertalian yang teguh di antara Yang Mahakuasa, yang Menciptakan alam seluruhnya, dengan alam itu sendiri, menghendaki tuntutan yang pasti di dalam peri kehidupan.
Jika sekiranya bintang-bintang dan seluruh planet yang memenuhi angkasa ini melalui satu garis yang telah ditentukan, yang bernama "garis kekuatan tarik menarik"; jika hukum kehidupan di alam, mempunyai aturan "kekal yang kuat, hilang yang lemah" sehingga tiap-tiap pergantian dan perputaran alam menghendaki penduduk yang baru, dan penduduk dunia 10.000 tahun yang lalu berlainan halnya dengan penduduk dunia di zaman ini, karena telah berlainan pula hawa udara dunia; jika bentuk orangnya yang tinggal di kutub berlainan dengan yang tinggal di khatulistiwa, yang semuanya itu menjalani aturannya, maka sudah nyata bahwa segala agama yang diturunkan Allah sejak manusia cerdas, yaitu 8.000 tahun yang lalu itu, melalui aturannya pula.
Itulah maka di dalam Islam ada iktikad bahwa agama hanya satu, yaitu agama "menyerahkan diri kepada Allah dan mengakui kebesaran-Nya, Allah yang kekal dan tiada akan lenyap, Allah yang tunggal dan tiada berserikat". Sifat agama itu telah tersimpul di dalam namanya di bahasa Arab yaitu: ISLAM.
0 komentar: