Nafsu: Musuh yang Bersembunyi di Balik Amal
Mengapa seseorang yang rajin beribadah belum tentu menjadi orang yang paling ikhlas?
Mengapa ada amal yang tampaknya dilakukan semata-mata karena Allah, tetapi ternyata masih menyisakan kepentingan diri?
Pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita kepada satu musuh yang paling dekat dengan diri manusia: nafsu.
Allah menciptakan nafsu sebagai bagian dari ujian bagi setiap hamba. Melalui nafsu itulah tampak siapa yang benar-benar menginginkan ridha Allah dan siapa yang masih menjadikan dirinya sebagai tujuan. Karena itu, nafsu bukan sekadar dorongan kepada keburukan, tetapi juga penghalang yang sangat halus antara seorang hamba dengan keikhlasan.
Yang membuatnya berbahaya adalah sifat dasarnya. Nafsu selalu mencari keuntungan, tetapi berusaha menghindari kewajiban. Ia ingin mendapatkan bagian dari setiap amal yang dilakukan. Oleh sebab itu, siapa pun yang rajin bermuhasabah dan mengawasi lintasan hatinya akan mulai mengenali seberapa besar peran nafsu dalam ibadahnya. Dari sinilah ukuran keikhlasan sedikit demi sedikit menjadi tampak.
Pernahkah kita merasakan semangat luar biasa dalam suatu jenis ibadah, tetapi justru merasa berat menjalankan ibadah lain yang sebenarnya lebih utama?
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Bisa jadi karena pada ibadah yang pertama terdapat bagian yang disukai oleh nafsu, sedangkan pada ibadah yang kedua tidak ada keuntungan yang dapat dinikmatinya. Nafsu memang sangat pandai menyamarkan kepentingannya di balik semangat beramal.
Karena itu, banyaknya amal tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya keikhlasan. Seseorang bisa saja sangat tekun beribadah, tetapi nafsunya tetap menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah.
Ambillah contoh seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Ia menjaga agar tidak seorang pun melihat amalnya karena takut terjerumus ke dalam riya. Sekilas, tampak bahwa ia telah mencapai keikhlasan.
Namun, benarkah perjuangan itu telah selesai?
Belum tentu.
Nafsu tidak rela jika suatu amal sama sekali tidak memberikan keuntungan baginya. Jika tidak berhasil mendorong seseorang mencari pujian dari manusia, ia akan memilih jalan yang lebih halus. Ia menanamkan rasa kagum terhadap diri sendiri. Muncullah bisikan bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain. Atau ia mulai berharap sedekahnya dikenang, disebut-sebut, dibalas dengan penghormatan, ucapan terima kasih, pelayanan istimewa, atau sekadar pengakuan bahwa dirinya adalah orang yang dermawan.
Saat itulah nafsu telah memperoleh bagian dari amal tersebut.
Begitu pula dengan shalat malam.
Seseorang bangun ketika semua orang masih terlelap. Ia berdiri menghadap Allah, menangisi dosa-dosanya, dan tidak ada seorang pun yang menyaksikan selain Allah. Ia pun merasa bahwa ibadahnya telah benar-benar ikhlas.
Namun, apakah nafsu telah menyerah?
Justru di sinilah ujian berikutnya dimulai.
Nafsu tidak akan rela kehilangan bagiannya. Setelah seseorang berhasil mengalahkan rasa kantuk dan meninggalkan kasur yang nyaman, nafsu akan mencari pintu lain. Ia mendorongnya untuk menceritakan shalat malamnya kepada orang lain. Jika itu gagal, ia cukup memberi isyarat agar orang mengetahui bahwa dirinya ahli tahajud.
Kalaupun semua itu berhasil ditolak, nafsu masih belum berhenti.
Ia akan membisikkan, "Engkau lebih baik daripada kebanyakan manusia."
Atau lebih berbahaya lagi, ia membuat seseorang merasa telah memiliki kedudukan khusus di sisi Allah sehingga ia mulai terlena oleh amalnya sendiri.
Di sinilah letak tipu daya nafsu. Ia tidak selalu mengajak kepada maksiat yang nyata. Sering kali ia justru menyusup ke dalam amal-amal saleh, lalu mengambil bagian darinya tanpa disadari. Amal itu tampak dilakukan karena Allah, tetapi diam-diam nafsu sedang menikmati hasilnya.
Inilah sebabnya mengapa keikhlasan merupakan perjuangan yang tidak pernah selesai. Setiap amal membutuhkan muhasabah, setiap niat memerlukan pembaruan, dan setiap keberhasilan menundukkan nafsu harus diikuti dengan kewaspadaan terhadap tipu daya berikutnya.
Rintangan ini menjadi semakin berat karena nafsu bukan hanya musuh yang tinggal di dalam diri, tetapi juga sesuatu yang dicintai oleh manusia. Ajakannya terasa menyenangkan, bisikannya terdengar masuk akal, dan keinginannya sering kali sejalan dengan kecenderungan hati.
Karena itu, perjuangan terbesar seorang hamba bukan hanya memperbanyak amal, melainkan memastikan bahwa setiap amal benar-benar dipersembahkan untuk Allah semata, tanpa menyisakan bagian bagi nafsunya.
0 komentar: