Hawa: Ketika Keinginan Menjadi Tuhan
Mengapa ada orang yang mengetahui kebenaran, tetapi tetap menolaknya?
Mengapa seseorang dapat mengorbankan prinsip, agama, bahkan akal sehat hanya demi mengikuti apa yang diinginkannya?
Jawabannya sering kali bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena ia telah dikuasai oleh hawa.
Apakah yang dimaksud dengan hawa?
Para ulama menjelaskan bahwa hawa adalah segala sesuatu yang dicenderungi dan diinginkan oleh nafsu. Jika nafsu tidak dikendalikan dengan sungguh-sungguh, ia akan melahirkan hawa, yaitu kecenderungan yang terus-menerus mengajak manusia mengikuti apa yang disukainya, meskipun bertentangan dengan petunjuk Allah.
Karena itu, nafsu yang tidak ditundukkan akan membawa pemiliknya kepada kehidupan yang dipenuhi kemalasan, kesenangan sesaat, dan pengejaran syahwat, baik syahwat yang bersifat inderawi maupun syahwat yang bersifat maknawi.
Hawa tidak hanya menginginkan kenikmatan fisik.
Ia juga menginginkan sanjungan, penghormatan, popularitas, kedudukan, dan pengakuan. Sebaliknya, ia membenci kewajiban, pengorbanan, celaan, kritik, dan segala sesuatu yang menuntut kesabaran.
Lalu, apa akibatnya jika seseorang terus berjalan di belakang hawanya?
Sesungguhnya ia sedang berjalan menuju kebinasaan.
Karena itulah Al-Qur'an memberikan peringatan yang sangat tegas agar manusia tidak menjadikan hawa sebagai penuntun hidupnya. Allah Ta'ala berfirman:
«"...Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, lalu ia mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya telah melampaui batas."
(QS. Al-Kahfi: 28)»
Ayat ini menunjukkan bahwa mengikuti hawa bukanlah persoalan kecil. Ia berawal dari kelalaian mengingat Allah, kemudian berkembang menjadi kebiasaan memperturutkan keinginan, hingga akhirnya menyeret seseorang kepada sikap melampaui batas.
Namun, Al-Qur'an menyampaikan peringatan yang lebih menggetarkan lagi.
Allah berfirman:
«"Sudahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?"
(QS. Al-Furqan: 43)»
Mengapa Allah menggunakan ungkapan "menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan"?
Karena hakikat ibadah bukan hanya sujud dan rukuk. Seseorang dianggap menjadikan sesuatu sebagai "tuhan" ketika sesuatu itulah yang paling ditaati dan dijadikan penentu dalam setiap keputusan hidupnya.
Jika yang selalu diikuti adalah keinginan diri, meskipun bertentangan dengan wahyu, maka secara hakikat hawa telah mengambil posisi yang seharusnya hanya menjadi milik Allah.
Dalam Tafsir Tahlili Kementerian Agama dijelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kebiasaan sebagian orang Arab pada masa Jahiliah. Mereka pernah menyembah sebuah batu. Namun, ketika menemukan batu lain yang dianggap lebih baik menurut selera mereka, mereka meninggalkan sembahan pertama dan beralih kepada sembahan baru. Ukuran kebenaran bukan lagi wahyu, melainkan apa yang disukai oleh hawa nafsu.
Karena itu, Allah mencela orang-orang kafir Mekah yang menjadikan hawa sebagai landasan dalam urusan agama. Mereka tidak lagi menerima hujah yang jelas ataupun penjelasan yang nyata karena hati mereka telah dikendalikan oleh keinginan, bukan oleh kebenaran.
Lalu, bagaimana jalan keluar dari perangkap hawa?
Al-Qur'an memberikan jawabannya dengan sangat jelas.
Allah berfirman:
«"Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya."
(QS. An-Nazi'at: 40–41)»
Perhatikan urutannya.
Allah tidak memulai dengan menahan hawa, tetapi dengan takut kepada kebesaran-Nya.
Mengapa?
Karena seseorang tidak akan mampu mengalahkan hawa hanya dengan kekuatan tekad. Ia memerlukan hati yang dipenuhi rasa pengagungan kepada Allah. Semakin besar Allah di dalam hati seseorang, semakin kecil kekuasaan hawa atas dirinya.
Menahan hawa bukan berarti membunuh seluruh keinginan manusia. Islam tidak melarang keinginan yang halal. Yang diperintahkan adalah menolak setiap keinginan yang mengajak kepada kemaksiatan atau menjauhkan diri dari ketaatan.
Inilah jihad yang sesungguhnya.
Musuhnya tidak tampak oleh mata, tetapi selalu hadir di dalam dada. Ia tidak menyerang dari luar, melainkan membisikkan alasan-alasan yang tampak masuk akal agar manusia mengikuti apa yang diinginkannya.
Karena itu, kemenangan terbesar bukanlah ketika seseorang berhasil mengalahkan orang lain, melainkan ketika ia mampu mengalahkan hawa yang ada di dalam dirinya.
Barang siapa menjadikan wahyu sebagai pemimpin hidupnya, maka hawa akan menjadi pengikut.
Sebaliknya, barang siapa menjadikan hawa sebagai pemimpin hidupnya, maka sedikit demi sedikit ia akan menjauh dari petunjuk Allah.
Itulah sebabnya Al-Qur'an menjanjikan kabar gembira bagi orang yang mampu menahan hawa. Bukan sekadar ketenangan di dunia, tetapi tempat tinggal yang kekal di sisi Allah.
"Sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (QS. An-Nazi'at: 41)
0 komentar: