Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri,
Siapakah sebenarnya yang mengendalikan hidup kita?
Apakah kita benar-benar memiliki kuasa atas diri sendiri?
Ataukah selama ini kita hanya merasa memiliki kendali, padahal seluruh kehidupan kita berada dalam kekuasaan Allah?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengantarkan kita kepada makna terdalam dari pengakuan seorang hamba di hadapan Rabbnya:
«"Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu."
(إِنِّي عَبْدُكَ)»
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan kerendahan hati. Ia adalah pengakuan tentang identitas, kepemilikan, dan ketergantungan total seorang manusia kepada Allah.
Apa Makna "Aku Adalah Hamba-Mu"?
Jika seseorang benar-benar menghayati kalimat ini, maka seluruh hidupnya akan berubah.
Ia menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang senantiasa membutuhkan Rabbnya.
Karena itu, ia tunduk kepada perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, bertawakal hanya kepada-Nya, serta menggantungkan rasa cinta, harapan, dan takutnya hanya kepada Allah.
Tidak ada lagi tempat bergantung yang lebih kokoh selain Dia.
Namun, makna penghambaan tidak berhenti di situ.
Kalimat "Aku adalah hamba-Mu" juga berarti bahwa keadaan apa pun tidak pernah mengubah status seorang manusia di hadapan Allah.
Ketika muda ataupun tua...
Ketika sehat ataupun sakit...
Ketika kaya ataupun miskin...
Ketika taat ataupun sedang bergulat dengan dosa...
Ia tetap seorang hamba.
Status itu tidak pernah berubah.
Milik Siapakah Jiwa dan Harta Kita?
Jika kita benar-benar hamba Allah, lalu siapakah pemilik tubuh, jiwa, kemampuan, dan harta yang kita miliki?
Bukankah semuanya berasal dari-Nya?
Karena itu, seorang hamba tidak berhak menggunakan apa yang Allah titipkan kecuali sesuai dengan kehendak Pemiliknya.
Sebagaimana seorang pelayan tidak bebas menggunakan milik tuannya sesuka hati, demikian pula manusia tidak berhak mempergunakan umur, tenaga, ilmu, harta, maupun kekuasaannya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah.
Lebih dari itu, setiap nikmat yang kita rasakan sejatinya bukan hasil kemandirian kita.
Ia adalah karunia Allah.
Bahkan kemampuan untuk beribadah pun merupakan pemberian-Nya.
Lalu, pantaskah seorang hamba menyombongkan sesuatu yang bahkan bukan miliknya?
"Ubun-Ubunku Berada di Tangan-Mu"
Pengakuan itu kemudian dilanjutkan dengan kalimat yang sangat menggugah:
«"Ubun-ubunku berada di tangan-Mu."
(نَاصِيَتِي بِيَدِكَ)»
Apa maknanya?
Ia adalah pengakuan bahwa Allah sepenuhnya menguasai diri seorang hamba.
Dialah yang mengatur langkahnya.
Dialah yang mengendalikan kehidupannya.
Dialah yang menentukan kapan ia hidup dan kapan ia mati.
Dialah yang menetapkan sehat dan sakitnya.
Dialah yang menentukan kebahagiaan maupun kesulitannya.
Tidak ada satu pun bagian dari kehidupan manusia yang berada di luar kekuasaan-Nya.
Al-Qur'an menggambarkan hakikat ini melalui perkataan Nabi Hud `alaihis salam ketika menghadapi ancaman kaumnya:
«"Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk yang bergerak melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku berada di atas jalan yang lurus."
(QS. Hud: 56)»
Perhatikan kalimatnya.
"Tidak satu pun makhluk..."
Artinya, tidak hanya manusia.
Seluruh makhluk berada dalam genggaman Allah.
Tidak ada yang mampu bergerak, hidup, atau berbuat sesuatu kecuali dengan izin-Nya.
Mengapa Disebut "Ubun-Ubun"?
Mengapa Al-Qur'an menggunakan kata ubun-ubun (nāṣiyah)?
Dalam bahasa Arab, ubun-ubun melambangkan penguasaan yang sempurna terhadap seseorang.
Karena itu, Al-Qur'an juga menggunakan ungkapan ini ketika menggambarkan kehinaan orang-orang yang durhaka.
Allah berfirman:
«"Sungguh, jika dia tidak berhenti, pasti Kami akan menarik ubun-ubunnya."
(QS. Al-'Alaq: 15)»
Lalu Allah menyifatinya:
«"(Yaitu) ubun-ubun yang dusta lagi durhaka."
(QS. Al-'Alaq: 16)»
Demikian pula pada Hari Kiamat.
Allah berfirman:
«"Orang-orang yang berdosa dikenali dari tanda-tandanya, lalu mereka direnggut ubun-ubun dan kaki mereka."
(QS. Ar-Rahman: 41)»
Semua itu menunjukkan bahwa ubun-ubun adalah simbol kekuasaan Allah yang mutlak atas seluruh makhluk.
Jika ubun-ubun seluruh manusia berada dalam genggaman Allah, lalu kepada siapa sebenarnya kita harus takut?
Mengapa kita terlalu cemas terhadap manusia yang sama-sama berada dalam kekuasaan Allah?
Mengapa kita begitu berharap kepada makhluk yang bahkan dirinya sendiri tidak mampu menguasai hidupnya?
Buah dari Kesadaran Seorang Hamba
Ketika seseorang benar-benar menyadari bahwa dirinya dan seluruh manusia berada dalam genggaman Allah, akan lahir perubahan besar dalam hidupnya.
Ia tidak lagi takut secara berlebihan kepada manusia.
Ia tidak menggantungkan harapan kepada makhluk.
Ia tidak memperlakukan manusia seolah-olah mereka adalah penguasa mutlak atas hidupnya.
Mengapa?
Karena ia mengetahui bahwa semua manusia hanyalah hamba.
Yang menguasai mereka hanyalah Allah.
Di sinilah tauhid menjadi kokoh.
Di sinilah tawakal tumbuh.
Di sinilah hati memperoleh kemerdekaannya.
Hukum Allah Selalu Adil
Namun, kekuasaan Allah tidak pernah dipisahkan dari keadilan-Nya.
Karena itu doa tersebut dilanjutkan dengan pengakuan berikut:
«"Hukum-Mu pasti berlaku atasku, dan seluruh ketentuan-Mu terhadapku adalah adil."»
Kalimat ini mengajarkan bahwa tidak ada satu pun keputusan Allah yang mengandung kezaliman.
Mengapa?
Karena Allah bukan hanya Mahakuasa, tetapi juga Mahaadil.
Inilah makna penutup ayat Nabi Hud:
«"Sesungguhnya Tuhanku berada di atas jalan yang lurus."
(QS. Hud: 56)»
Para ulama menjelaskan bahwa "jalan yang lurus" pada ayat ini bermakna keadilan Allah yang sempurna.
Semua firman-Nya adalah benar.
Semua keputusan-Nya adalah adil.
Semua perintah-Nya mengandung maslahat.
Semua larangan-Nya mencegah kerusakan.
Pahala-Nya diberikan atas dasar rahmat dan karunia-Nya.
Sementara hukuman-Nya diberikan atas dasar keadilan dan kebijaksanaan-Nya.
Ketika Seorang Hamba Mengucapkan, "Aku Adalah Hamba-Mu"
Maka sesungguhnya ia sedang menyatakan:
"Aku bukan pemilik diriku."
"Jiwaku milik-Mu."
"Hartaku milik-Mu."
"Takdirku berada dalam genggaman-Mu."
"Keputusan-Mu pasti berlaku atasku."
"Dan apa pun yang Engkau tetapkan bagiku, semuanya adalah adil."
Inilah puncak penghambaan.
Bukan sekadar banyaknya ibadah yang dilakukan, melainkan hadirnya keyakinan yang utuh bahwa seluruh kehidupan berada dalam genggaman Allah.
Ketika keyakinan itu memenuhi hati, rasa takut kepada makhluk akan mengecil, harapan kepada manusia akan memudar, dan tawakal kepada Allah akan tumbuh dengan kokoh.
Sebab seorang hamba telah memahami satu hakikat yang agung:
Aku adalah hamba-Mu, dan ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu.
0 komentar: