Pada abad kedua puluh ini bertemulah kembali tujuan ilmu yang diusahakan oleh orang Barat dengan yang dikehendaki Islam. Yaitu disuruh orang memajukan ilmu yang berhubung dengan maslahat kemanusiaan dan mempertinggi derajatnya.
Hendaklah ilmu itu sama maju dengan kemanusiaan. Jangan ilmu maju, kemanusiaan mundur. Adapun ilmu yang merusak yang diukur dengan nafsu, ilmu yang tiada berperasaan, yang merugikan, yang menimbulkan saling membunuh dan saling membenci, tidak-lah dikehendaki oleh Islam dan tidak pula dikehendaki oleh akal budi yang waras.
Ilmu bukanlah agak agak, kira-kira, dan turut-turutan. Ilmu yang demikian tidak ada harganya di dalam Islam.
Demikian juga syara' mengajak dan memperingatkan supaya segala masalah ilmu itu dipahamkan, tidak semata-mata dihafal.
Nabi bersabda,
Ùƒُونُوا Ù„ِÙ„ْعِÙ„ْÙ…ِ رُعَاةً ÙˆَÙ„َا تَÙƒُÙˆْÙ†ُÙˆْا Ù„َÙ‡ُ رُÙˆَاةً
"Hendaklah kamu menjadi pemahamkan ilmu, jangan hanya jadi perawi ilmu".
Artinya jangan hanya pandai mengabarkan, menceritakan, mempidatokan, padahal tiada paham apa maksudnya.
Laksana seorang muballigh yang naik mimbar menyeru orang banyak dan memperingatkan hendaklah mereka datang ke dunia ini sebagai orang yang berdagang atau sebagai orang yang singgah, jangan dipandang dunia itu tempat yang akan dihuni selama-lamanya.
Yang diterangkannya itu ialah ilmu yang dihafalnya dari pada hadis. Kelak setelah dia turun dari mimbar itu, ditanyai orang apakah maksud hidup dan apa arti hidup, dia tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, sebab perhatiannya tidak sampai ke sana, walaupun isi pidatonya tadi itulah yang mesti dijawabkannya.
Apa sebabnya? lalah karena pidatonya itu barang yang dihafalnya, bukan barang yang dipahamkannya!
Suatu ilmu tidaklah lekat di dalam hati dan jiwa, tidaklah akan terpasang kepada diri kalau tidak diamalkan, dibiasakan, dan dicobakan. Dengan percobaan dan pembiasaan itu dia bertambah teguh, tetap, dan kekal, membawa terbuka pula beberapa ilmu yang lain yang lebih dalam, lebih lezat, dan lebih menarik hati.
Seorang tukang batu yang telah bekerja selama 20 tahun dengan sungguh-sungguh, lebih dipercayai daripada seorang anak sekolah teknik yang baru pulang membawa diploma.
Sebab ijazah seorang yang telah bekerja 20 tahun itu ialah bekas-bekas tangannya, bukan segulung kertas! Benarlah kata Nabi,
Ù…َÙ†ْ عَÙ…ِÙ„َ بِÙ…َا عَÙ„ِÙ…َ Ø£َÙˆْرَØ«َÙ‡ُ اللَّÙ‡ُ عِÙ„ْÙ…َ Ù…َا Ù„َÙ…ْ ÙŠَعْÙ„َÙ…ْ
"Siapa saja yang mengamalkan perkara yang diketahuinya akan diwariskan Allah kepadanya pengetahuan pada perkara perkara yang belum diketahuinya".
Ali bin Abi Thalib berkata, "Segala keranjang penuh lantaran diisi, cuma keranjang ilmu yang bila diisi meminta tambah".
Yang dibenci oleh Syara' ialah ulama canggung, yang setengah matang. Sebagai seorang yang bukan apoteker mencoba mencampur obat, disangkanya akan jadi obat, kiranya jadi racun. Ulama begini bernama "Ulama 'us su".
Yaitu yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Atau diambilnya ilmu untuk menjadi jerat, sehingga orang yang termasuk ke dalam tiada harapan akan ke luar lagi. Atau digunakannya ilmu untuk memutus-mutus tali kasih sayang, atau diambilnya ilmu menjadi kuda-kuda pencapai kemegahan dan mencari nama. Ilmu begini, lantaran terletak pada batin yang rusak, tentulah akan menghasilkan kerusakan pula. Oleh sebab itu maka sebelum suatu ilmu dituntut, janganlah dilupakan ke mana tujuannya.
0 komentar: