Saat Demak Berjihad Mengusir Portugis di Malaka, Eropa Terbelah
Ketika armada besar Kesultanan Demak di bawah Adipati Unus berlayar menuju Malaka pada awal abad ke-16, dunia tidak sedang dalam keadaan stabil. Di satu sisi, Nusantara mulai menyadari ancaman kolonial Portugis. Di sisi lain, Eropa justru sedang retak dari dalam—terbelah oleh sebuah gerakan besar yang kelak dikenal sebagai Reformasi Protestan.
Dua peristiwa ini—yang tampak terpisah oleh jarak ribuan kilometer—sebenarnya saling terkait. Serangan Demak ke Malaka bukan sekadar konflik regional, tetapi bagian dari benturan global antara kekuatan Islam dan Eropa yang sedang mengalami krisis internal.
---
Retaknya Otoritas Gereja: Awal dari Perubahan Besar
Pada tahun 1517, seorang biarawan Jerman bernama Martin Luther memakukan 95 tesis di pintu gereja Wittenberg. Isinya mengguncang fondasi Gereja Katolik Roma.
Ia menentang praktik jual beli pengampunan dosa (indulgensi), mengkritik korupsi gereja, dan menolak dominasi Paus dalam kehidupan politik. Namun kritik ini bukan muncul tiba-tiba. Ia lahir dari gelombang besar yang disebut Renaissance—sebuah era ketika manusia Eropa mulai berpikir kritis dan menantang otoritas lama.
Tiga akar utama Reformasi Gereja:
Keinginan raja-raja Eropa lepas dari dominasi Paus
Praktik korupsi dan penjualan indulgensi
Penyalahgunaan kekuasaan gereja
Dari sinilah Eropa tidak lagi satu. Ia terpecah menjadi Katolik dan Protestan.
---
Dari Teologi ke Meriam: Agama Menjadi Alat Politik
Perpecahan ini tidak berhenti pada debat teologis. Ia berubah menjadi konflik politik, bahkan perang terbuka seperti Perang Tiga Puluh Tahun.
Negara-negara Eropa kini tidak hanya bersaing dalam hal iman, tetapi juga dalam perebutan kekayaan dan wilayah. Agama berubah menjadi identitas politik.
Portugis dan Spanyol tetap Katolik
Belanda dan Inggris menjadi Protestan
Persaingan ini kemudian “diekspor” ke luar Eropa—termasuk ke Nusantara.
---
Malaka: Titik Temu Dua Dunia yang Bertabrakan
Ketika Portugis merebut Malaka pada 1511, mereka bukan hanya membawa meriam dan kapal. Mereka membawa misi Katolik Roma.
Namun saat Adipati Unus menyerang Malaka (1513), Portugis belum sepenuhnya kuat. Sebab pada saat yang sama, Eropa sedang terguncang oleh Reformasi Gereja.
Akibatnya:
Fokus Eropa terpecah antara konflik internal dan ekspansi luar
Dukungan logistik Portugis ke Asia tidak maksimal
Serangan dari dunia Islam, termasuk Demak, memberi tekanan tambahan
Inilah titik penting: serangan Demak secara tidak langsung memperparah posisi Portugis yang sudah goyah akibat konflik internal Eropa.
---
Protestan vs Katolik: Persaingan yang Menyusup ke Nusantara
Ketika Belanda datang melalui VOC pada abad ke-17, mereka datang bukan hanya sebagai pedagang, tetapi sebagai representasi Protestanisme.
Apa yang mereka lakukan?
1. Mengusir pengaruh Katolik Portugis
2. Memaksa komunitas lokal Katolik beralih ke Protestan
3. Menjadikan agama sebagai alat loyalitas politik
Di Maluku, misalnya:
Wilayah yang sebelumnya Katolik diubah menjadi Protestan
Gereja dijadikan instrumen kontrol sosial
Kesetiaan agama diarahkan menjadi kesetiaan politik kepada VOC
Agama tidak lagi sekadar keyakinan. Ia menjadi alat kolonial.
---
Dampak Besar Reformasi Gereja bagi Nusantara
Reformasi Gereja di Eropa menciptakan efek domino yang terasa hingga Indonesia:
1. Lahirnya Beragam Aliran Kristen
Munculnya Lutheran, Calvinis, dan Anglikan membuat Nusantara menjadi medan penyebaran berbagai denominasi.
2. Persaingan Penjajah Semakin Tajam
Kolonialisme tidak lagi tunggal. Ia terpecah:
Portugis (Katolik)
Belanda (Calvinis)
Inggris (Anglikan)
Mereka tidak hanya bersaing dagang, tetapi juga ideologi.
3. Agama Menjadi Alat Kekuasaan
VOC menggunakan gereja untuk:
Mengontrol masyarakat
Menghapus pengaruh lawan
Menguatkan dominasi ekonomi
4. Konflik Berkepanjangan
Persaingan Katolik vs Protestan memperpanjang konflik kolonial di berbagai wilayah Nusantara.
---
Kesimpulan: Ketika Dunia Terhubung oleh Konflik
Serangan Demak ke Malaka bukanlah peristiwa lokal. Ia adalah bagian dari sejarah global.
Di satu sisi, Demak berusaha mengusir penjajah. Di sisi lain, Eropa sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Reformasi Gereja telah:
Melemahkan kesatuan Eropa
Memicu persaingan antar bangsa penjajah
Mengubah agama menjadi alat politik global
Dan di tengah semua itu, Nusantara menjadi panggung perebutan—bukan hanya rempah-rempah, tetapi juga pengaruh, keyakinan, dan kekuasaan.
Sumber:
Rachmad Abdullah, Kerajaan Islam Demak, Al-Wafi Puplishing, 2015
Wikipedia
0 komentar: