Bagi yang Ateis: Al-Qur'an Menggelar "Penyelidikan" tentang Asal Usul Manusia
Bagaimana Al-Qur'an menghadapi orang yang menolak keberadaan Tuhan? Menariknya, Al-Qur'an tidak memulai dengan ancaman, melainkan dengan serangkaian pertanyaan yang menguji konsistensi logika manusia.
Dalam Surah Aá¹-Ṭūr ayat 35–37, Al-Qur'an membangun sebuah rangkaian penyelidikan intelektual. Setiap pertanyaan menutup satu kemungkinan, hingga akhirnya hanya menyisakan satu kesimpulan yang paling masuk akal: adanya Sang Pencipta.
Pertanyaan Pertama: Dari Mana Manusia Berasal?
Allah berfirman:
«"Apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?" (QS. Aá¹-Ṭūr: 35)»
Inilah fondasi penyelidikan Al-Qur'an.
Ada dua kemungkinan yang diajukan.
Pertama, manusia muncul begitu saja tanpa sebab dan tanpa pencipta. Kedua, manusia menciptakan dirinya sendiri.
Kedua-duanya bertentangan dengan akal sehat. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada tidak mungkin menghadirkan dirinya sendiri. Demikian pula, sesuatu yang belum eksis tidak mungkin menjadi penyebab keberadaannya sendiri.
Karena itu, keberadaan manusia mengharuskan adanya penyebab yang berada di luar dirinya.
Pertanyaan Kedua: Siapa Pencipta Alam Semesta?
Penyelidikan kemudian diperluas.
«"Apakah mereka menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)." (QS. Aá¹-Ṭūr: 36)»
Jika manusia tidak mampu menciptakan dirinya sendiri, apakah mereka mampu menciptakan langit dan bumi beserta seluruh sistem yang menopang kehidupan?
Al-Qur'an menunjukkan bahwa jawaban itu mustahil.
Bahkan kaum musyrik Arab pada masa Nabi Muhammad ï·º pun mengakui bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Namun pengakuan tersebut tidak diikuti dengan konsekuensi untuk mentauhidkan-Nya.
Masalah mereka bukan kekurangan bukti, melainkan tidak adanya keyakinan yang konsisten terhadap konsekuensi dari apa yang mereka akui sendiri.
Pertanyaan Ketiga: Siapa yang Mengendalikan Segala Sesuatu?
Setelah asal-usul manusia dan alam semesta dibahas, penyelidikan berlanjut pada persoalan kekuasaan.
«"Apakah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa?" (QS. Aá¹-Ṭūr: 37)»
Apakah manusia memiliki seluruh perbendaharaan rahmat Allah? Apakah mereka menentukan siapa yang menjadi nabi, siapa yang memperoleh rezeki, atau bagaimana alam semesta berjalan?
Faktanya, tidak.
Manusia tidak menguasai kelahiran, kematian, pergantian siang dan malam, ataupun hukum-hukum alam. Mereka hanya memanfaatkan aturan yang telah Allah tetapkan, bukan menciptakannya.
Karena itu, otoritas mutlak tetap berada di tangan Allah semata.
Sebuah Rangkaian Logika yang Mengguncang
Ayat-ayat ini tidak menyerang lawan dengan emosi. Al-Qur'an justru mengajak manusia berpikir secara bertahap.
Pertama, manusia tidak mungkin ada tanpa sebab.
Kedua, manusia tidak menciptakan dirinya sendiri.
Ketiga, manusia juga tidak menciptakan alam semesta.
Keempat, manusia tidak mengendalikan seluruh hukum dan perbendaharaan alam.
Jika seluruh kemungkinan itu gugur, maka tersisa satu kesimpulan yang logis: adanya Tuhan Yang Mahamencipta dan Mahakuasa.
Kekuatan argumentasi ini begitu besar sehingga mengguncang hati banyak orang.
Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Jubair bin Muá¹'im, yang ketika itu masih musyrik dan menjadi tawanan setelah Perang Badar, mendengar Nabi Muhammad ï·º membaca Surah Aá¹-Ṭūr dalam salat Magrib. Ketika bacaan sampai pada ayat 35–37, ia berkata bahwa seakan-akan jantungnya hampir terbang dari dadanya. Peristiwa itu menjadi salah satu sebab yang membuka jalan hidayah hingga akhirnya ia memeluk Islam.
Surah Aá¹-Ṭūr menunjukkan bahwa Al-Qur'an tidak hanya berbicara kepada hati, tetapi juga kepada akal. Keimanan tidak dibangun di atas logika yang dipaksakan, melainkan melalui penyelidikan yang menuntut manusia jujur terhadap kesimpulan yang lahir dari akalnya sendiri.
0 komentar: