Beragam Jenis Permainan Anak Bersama Rasulullah ﷺ
Permainan anak sering kali dianggap sekadar aktivitas pengisi waktu. Namun jika ditelusuri dalam jejak kehidupan Rasulullah ﷺ, permainan justru menjadi bagian dari strategi pendidikan yang halus, manusiawi, dan penuh visi.
Dalam beberapa riwayat, tergambar jelas bagaimana Rasulullah ﷺ tidak mematikan dunia anak-anak—justru merawatnya, mengarahkannya, dan memberinya makna.
Pada momen hari raya dan kesempatan tertentu di masjid, Rasulullah ﷺ membiarkan Aisyah r.a. menyaksikan sekelompok orang Habasyah bermain tombak. Mereka menari dengan senjata, mempertontonkan ketangkasan dan keberanian. Ini bukan sekadar tontonan. Ada pesan yang dibiarkan tumbuh: bahwa permainan bisa menjadi sarana menanamkan jiwa kepahlawanan dan keberanian sejak dini.
Di kesempatan lain, dalam perjalanan, Rasulullah ﷺ bahkan terlibat langsung. Beliau berlomba lari dengan Aisyah r.a. Sebuah adegan sederhana, namun sarat makna: kedekatan emosional, kehangatan relasi, sekaligus dorongan terhadap aktivitas fisik.
Tidak berhenti di situ, Rasulullah ﷺ juga pernah mengumpulkan putra-putra Abbas bin Abdul Muthalib. Mereka dibariskan, lalu didorong untuk berlomba, saling mendahului, dan berusaha menjadi yang terdepan. Setelahnya, beliau memberi hadiah. Di sini, permainan berubah menjadi ruang belajar: tentang kompetisi yang sehat, sportivitas, dan penghargaan terhadap usaha.
Ketika melewati sekelompok orang yang sedang berlatih memanah, Rasulullah ﷺ tidak hanya menyaksikan. Beliau memberi legitimasi sekaligus motivasi:
"Wahai keturunan Ismail, berlatihlah memanah, karena kakek kalian Ismail adalah seorang pemanah."
Permainan diarahkan menjadi latihan keterampilan hidup—ketangkasan, fokus, dan kesiapan menghadapi tantangan.
Di dalam rumah, wajah lain dari pendidikan itu tampak. Aisyah r.a. bermain boneka, bahkan memiliki boneka kuda bersayap—sebuah ruang bagi imajinasi untuk tumbuh. Ia juga bermain ayunan, menikmati keceriaan masa kecilnya tanpa tekanan.
Dan ketika Rasulullah ﷺ melihat anak-anak bermain pasir, beliau tidak melarang. Justru membiarkan, seraya bersabda:
"Biarkan mereka, karena pasir adalah taman bagi anak-anak."
Sebuah pernyataan yang, jika ditelusuri lebih dalam, mengandung pemahaman psikologis yang melampaui zamannya: anak-anak belajar melalui eksplorasi.
---
Dari berbagai peristiwa tersebut, dapat ditarik setidaknya lima manfaat utama permainan bagi anak:
Pertama, permainan melatih perkembangan fisik. Aktivitas seperti berlari, memanah, atau bermain ayunan membantu membangun kekuatan, koordinasi, dan kesehatan tubuh.
Kedua, permainan membentuk keberanian dan mental kompetitif yang sehat. Lomba dan permainan strategi mengajarkan anak menghadapi kemenangan dan kekalahan dengan sikap yang seimbang.
Ketiga, permainan mengasah keterampilan hidup. Memanah, misalnya, bukan sekadar permainan, tetapi latihan fokus, kesabaran, dan ketepatan.
Keempat, permainan memperkuat hubungan emosional. Keterlibatan Rasulullah ﷺ dalam bermain bersama Aisyah menunjukkan bahwa kebersamaan dalam permainan membangun kedekatan dan rasa aman.
Kelima, permainan merangsang imajinasi dan kreativitas. Boneka, pasir, dan permainan bebas menjadi ruang bagi anak untuk berpikir, berkhayal, dan memahami dunia dengan caranya sendiri.
---
Jika ditarik ke hari ini, pendekatan Rasulullah ﷺ seolah menjadi kritik diam terhadap pola pendidikan yang terlalu kaku—yang sering kali memaksa anak tumbuh sebelum waktunya, tetapi melupakan cara mereka belajar.
Rasulullah ﷺ tidak sekadar membiarkan anak bermain. Beliau memahami bahwa di balik permainan, ada proses pembentukan manusia.
Dan di situlah letak kejeniusan pendidikan itu: tidak menghilangkan masa kecil, tetapi menjadikannya fondasi bagi masa depan.
Sumber:
Adnan Hasan Shalih Baharits, Mendidik Anak Laki-laki, GIP, 2023
0 komentar: