Meraih Akhir Hidup yang Paling Diridhai-Nya
Di malam menjelang Perang Uhud, Abdullah bin Jahsy berdoa dengan sumpah yang mengguncang langit batin:
“Ya Allah, aku bersumpah kepada-Mu.
Besok pagi aku akan bertemu musuh. Aku akan syahid—atau Engkau menangkan aku atas mereka.
Jika mereka membelah perutku, mengiris hidungku, dan mencabik telingaku, lalu aku menghadap-Mu…
dan Engkau bertanya, ‘Demi siapa ini semua?’
maka aku akan menjawab, ‘Untuk-Mu.’”
Doa itu bukan sekadar harapan. Ia adalah perjanjian yang sadar—seolah ia telah melihat apa yang akan terjadi esok hari, saat barisan Muslimin porak-poranda.
Saad bin Abi Waqqash yang mendengar doa itu kemudian berkata:
“Kami mendapatkan apa yang kami mohon. Tetapi doa Abdullah bin Jahsy lebih baik dari doaku.”
Ia mengakui, doanya masih berlapis dunia:
“Aku berdoa agar bertemu musuh yang kuat, lalu aku mengalahkannya dan mendapatkan harta rampasan.
Sedangkan dia berdoa untuk menghadap Allah dalam keadaan paling diridhai-Nya.
Dan dia mendapatkannya… dia mendapatkannya.”
Di titik ini, ukuran kemenangan berubah. Bukan lagi sekadar hidup atau menang, tetapi bagaimana seseorang kembali kepada Allah.
---
Ada pula seorang sahabat yang menolak bagian rampasan perang. Ia berkata di hadapan Rasulullah ï·º:
“Tidak, wahai Rasulullah… bukan untuk ini aku berperang.”
Lalu ia menunjuk satu titik di lehernya—tempat nadi berdenyut.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Jika ia jujur kepada Allah, ia akan mendapatkan apa yang ia cita-citakan.”
Dan pada pertempuran berikutnya, anak panah benar-benar menancap tepat di titik yang ia tunjuk. Kejujuran itu dijawab dengan takdir.
---
Umar bin Khattab pun pernah berdoa dengan permintaan yang tampak mustahil:
“Ya Allah, matikan aku sebagai syahid di tanah Nabi-Mu.”
Putrinya, Hafsah binti Umar, terkejut:
“Ayah… apakah engkau ingin syahid di Madinah? Apakah itu berarti musuh akan menyerang kota ini?”
Umar menjawab dengan keyakinan yang tenang:
“Wahai Hafsah, Allah Maha Kuasa mengabulkan permohonan tanpa mengurangi karunia-Nya kepada hamba yang lain.”
Dan sejarah membenarkannya. Umar wafat sebagai syahid di mihrab, ditikam oleh Abu Lu’lu’ah—tanpa perlu Madinah menjadi medan perang.
---
Di sinilah letak inti dari semua kisah ini: mereka tidak sekadar hidup untuk Allah, tetapi merencanakan kematian mereka bersama-Nya.
Bukan mencintai kematian sebagai pelarian, melainkan merindukan akhir yang paling diridhai.
Seorang Muslim tidak diperintahkan untuk mencari kematian, tetapi diperintahkan untuk memastikan: ketika kematian datang, ia datang dalam keadaan paling mulia.
---
Lalu, bagaimana mewujudkannya di era sekarang?
Pertama, meluruskan niat dalam setiap amal—bahwa semua yang dilakukan benar-benar “untuk-Nya”, bukan untuk lapisan-lapisan dunia yang tersembunyi.
Kedua, berani memiliki cita-cita spiritual yang tinggi, tidak hanya sekadar selamat, tetapi diridhai.
Ketiga, mengganti ukuran sukses: dari “apa yang didapat” menjadi “bagaimana kembali”.
Keempat, menjaga kejujuran batin—karena Allah membalas sesuai kejujuran itu.
Kelima, memperbanyak doa yang spesifik dan penuh kesadaran, sebagaimana para sahabat berdoa dengan arah yang jelas tentang akhir hidup mereka.
---
Pada akhirnya, kisah-kisah ini mengajarkan satu hal yang sering luput:
bahwa kematian pun bisa direncanakan—bukan waktunya, tetapi keadaannya.
Dan di situlah letak kemuliaan seorang mukmin.
Sumber:
Salim A Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, Pro U Media, 2009
0 komentar: