Adipati Unus: Sepenuh Hidupnya untuk Jihad Maritim Melawan Portugis di Malaka
Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, banyak penguasa di Nusantara memilih membaca situasi. Namun tidak dengan Adipati Unus. Ia tidak sekadar membaca ancaman—ia menjadikannya panggilan hidup.
Di tangan pemuda pesisir dari Demak ini, perang melawan Portugis bukan sekadar konflik dagang, tetapi perjuangan ideologis, ekonomi, dan peradaban. Dan seperti Shalahuddin Al-Ayyubi yang menghabiskan hidupnya untuk membebaskan Al-Quds, Adipati Unus menempatkan seluruh hidupnya pada satu tujuan: mengusir Portugis dari Malaka.
---
Seruan dari Bintan: Awal Sebuah Jihad Maritim
Setelah terusir, Sultan Mahmud Syah membangun basis di Pulau Bintan. Dari sanalah seruan bantuan dikirim ke berbagai kekuatan Muslim, termasuk ke Kesultanan Demak.
Adipati Unus merespons lebih cepat dari yang lain. Ia memahami satu hal yang belum tentu disadari semua penguasa saat itu:
Portugis tidak bisa dilawan di darat sebelum dikalahkan di laut.
---
Membangun Kekuatan: Menghidupkan Warisan Majapahit
Langkah pertamanya bukan menyerang, tetapi membangun.
Di Jepara dan Semarang, ia menghidupkan kembali tradisi maritim lama:
Produksi kapal jong raksasa
Penggunaan cetbang (meriam isian belakang)
Rekrutmen pelaut dan teknisi, termasuk Muslim Tionghoa
Selama bertahun-tahun, ia tidak tampil di medan perang—ia mempersiapkan medan itu sendiri.
Ini mengingatkan pada strategi Shalahuddin Al-Ayyubi yang membangun kekuatan sebelum merebut Yerusalem. Bedanya, panggung Adipati Unus adalah lautan.
---
Ekspedisi Pertama (1513): Laut sebagai Medan Jihad
Awal 1513, sekitar 100 kapal berangkat dari Jepara. Armada ini membawa:
5.000–12.000 pasukan
Sekitar 30 jong besar berlapis pelindung tebal
Artileri buatan Jawa
Armada ini tidak sendiri. Ia bergabung dengan:
Pasukan Palembang
Kekuatan Melayu loyalis Malaka
Pertempuran di Selat Malaka berlangsung sengit. Catatan Portugis bahkan mengakui kehebatan kapal-kapal Jawa yang sulit ditembus meriam.
Namun hasilnya pahit:
Puluhan kapal hancur
Ratusan prajurit gugur
Malaka belum berhasil direbut
Tetapi dari kegagalan itu lahir sesuatu yang lebih besar:
nama Adipati Unus menggema sebagai “Pangeran Sabrang Lor”—pangeran yang menyeberangi lautan demi jihad.
---
Antara Kekalahan dan Tekad: Jalan yang Tidak Berhenti
Di sinilah perbandingan dengan Shalahuddin Al-Ayyubi menemukan titik relevansinya.
Keduanya:
Menghadapi musuh yang unggul secara teknologi
Mengalami fase kegagalan
Tidak menghentikan perjuangan
Adipati Unus tidak berhenti setelah 1513. Ia justru memperbesar kekuatan.
---
Ekspedisi Kedua (1521): Jalan Menuju Syahid
Delapan tahun kemudian, armada baru disiapkan:
±375 kapal
Koalisi yang lebih luas
Persiapan lebih matang
Serangan kedua ke Malaka berlangsung lebih brutal:
Pertempuran 3 hari 3 malam
Pertempuran laut dan darat sekaligus
Namun di tengah pertempuran itulah, Adipati Unus gugur.
Ia tidak wafat di istana.
Ia tidak mati dalam kenyamanan kekuasaan.
Ia jatuh di garis depan, di laut yang sejak awal ia pilih sebagai medan jihadnya.
---
Warisan yang Dilanjutkan
Kematian Adipati Unus tidak menghentikan perlawanan.
Generasi setelahnya melanjutkan:
Ratu Kalinyamat mengirim ratusan kapal
Koalisi dengan Aceh dan Johor terus dibangun
Tekanan terhadap Portugis berlanjut hingga ke Maluku
Bahkan pada 1575, Portugis terusir dari Ternate—sebuah efek domino dari perlawanan panjang ini.
---
Analisis: Antara Sejarah dan Simbol
Menyamakan Adipati Unus dengan Shalahuddin Al-Ayyubi bukan berarti menyamakan skala sejarah mereka. Tapi ada kesamaan pola yang sulit diabaikan:
Dedikasi total pada satu tujuan
Kesediaan berjuang meski peluang kecil
Kematian di jalan perjuangan, bukan dalam kekuasaan
Namun ada satu perbedaan penting: Shalahuddin berhasil merebut Yerusalem.
Adipati Unus tidak berhasil merebut Malaka.
Tetapi sejarah tidak hanya mencatat kemenangan. Ia juga mencatat siapa yang memilih untuk tetap berjuang meski tahu risikonya.
---
Penutup
Kisah Adipati Unus adalah kisah tentang pilihan hidup.
Ia bisa saja menjadi penguasa biasa di Demak.
Ia bisa menikmati stabilitas dan kekuasaan.
Namun ia memilih laut.
Memilih perang.
Memilih jalan yang berujung pada kematian di Malaka.
Dan di situlah ia menemukan tempatnya dalam sejarah:
bukan sebagai raja yang panjang umur,
tetapi sebagai pemimpin yang menghabiskan hidupnya untuk satu perjuangan—hingga gugur di medan jihadnya.
0 komentar: