As-Sulami: Kitab al-Jihad dan Ulama Pelopor Penggerak Perlawanan terhadap Tentara Salib
Ali bin Tahir as-Sulami merupakan salah satu ulama pertama yang menyadari pentingnya menyatukan kekuatan umat Islam dalam menghadapi invasi Tentara Salib. Jauh sebelum lahirnya gerakan persatuan di bawah Imaduddin Zanki dan Dinasti Ayyubiyah, As-Sulami telah menyerukan koordinasi jihad di wilayah Syam, Irak, hingga Asia Kecil.
Sebagai pelopor, ia tidak hanya menekankan jihad dalam arti militer, tetapi juga menegaskan pentingnya perbaikan spiritual. Menurutnya, kemenangan tidak akan tercapai tanpa pembersihan jiwa. Ia mengajarkan bahwa jihad melawan hawa nafsu harus didahulukan sebelum menghadapi musuh di medan perang. Nafsu dipandang sebagai musuh utama, dan mengendalikannya melalui ketaatan menjadi kunci kemenangan yang lebih luas.
Dalam pandangan As-Sulami, invasi Tentara Salib ke wilayah Syam terjadi karena lemahnya kondisi umat Islam yang jauh dari syariat Allah. Oleh karena itu, fokus awal dakwahnya adalah mengajak umat kembali kepada Allah, memperbaiki akhlak, membersihkan jiwa, dan berpegang teguh kepada Al-Qur'an. Ia menyeru umat untuk meninggalkan kemaksiatan dan bangkit bersama dalam satu barisan jihad.
Menariknya, seruan jihad pada masa itu tidak lahir dari kalangan penguasa, melainkan dari forum para ulama dan fuqaha. Dari majelis ilmu di Masjid Umayyah, As-Sulami menyebarkan gagasannya kepada masyarakat luas.
Lahir pada tahun 1039 M, As-Sulami merupakan murid dari Imam Al-Ghazali. Ia dikenal sebagai pengajar dan pakar filologi bahasa Arab. Setelah kekalahan umat Islam dalam Perang Salib Pertama, ia menulis karyanya yang terkenal, Kitab al-Jihad.
Dalam kitab tersebut, ia menjelaskan bahwa kelemahan umat Islam bersumber dari dua hal: kelemahan politik dan kerusakan spiritual. Ia kemudian merumuskan dua strategi utama: pertama, perbaikan moral dan spiritual umat; kedua, pengumpulan seluruh potensi kekuatan untuk menghadapi musuh.
Selain itu, As-Sulami membagi jihad menjadi dua bentuk: jihad internal, yaitu melawan hawa nafsu, dan jihad eksternal, yaitu melawan musuh. Kedua aspek ini menjadi fondasi perbedaan antara kekuatan umat Islam dan lawan-lawannya.
As-Sulami wafat pada tahun 1106 M (500 H). Meskipun gagasannya belum membuahkan hasil besar pada masanya, pemikirannya menjadi dasar penting bagi kebangkitan berikutnya. Dakwah dan strateginya baru menemukan momentum ketika Imaduddin Zanki berhasil merebut Edessa pada tahun 1144 M.
Dengan demikian, As-Sulami tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai perintis konsep jihad yang menyeluruh—menggabungkan kekuatan spiritual dan militer dalam satu visi kebangkitan umat.
Sumber:
Ali Muhammad Ash-Shallabi, Salahuddin Al-Ayyubi, Pustaka Al-Kautsar, 2015
0 komentar: