basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Hakikat Ibadah: Dari Ritual Menuju Ketundukan Total kepada Allah Kin...

Hakikat Ibadah: Dari Ritual Menuju Ketundukan Total kepada Allah

Kini, marilah kita berhenti sejenak pada satu kata yang sangat penting dalam Al-Qur'an: 'ibadah.

Mengapa Al-Qur'an berulang kali memerintahkan manusia untuk beribadah hanya kepada Allah?

Mengapa para rasul, dari generasi ke generasi, selalu membawa seruan yang sama?

«قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."
(QS. Hûd [11]: 50)»

Apakah seruan itu hanya berarti: jangan menyembah berhala, jangan sujud kepada patung, jangan mempersembahkan sesaji kepada selain Allah?

Ataukah maknanya jauh lebih luas?

Di sinilah kita perlu kembali kepada makna asli 'ibadah.

Ibadah: Bukan Sekadar Ritual

Kita sering memahami ibadah terutama sebagai aktivitas ritual: salat, puasa, zakat, haji, doa, dan berbagai bentuk penghambaan yang bersifat langsung kepada Allah.

Semua itu memang ibadah.

Tetapi apakah seluruh makna ibadah berhenti di sana?

Tidak.

Secara bahasa, kata 'abada mengandung makna tunduk, patuh, merendahkan diri, dan menghambakan diri. Karena itu, 'ibadah pada hakikatnya menunjuk kepada ketundukan manusia kepada Allah.

Maka pertanyaannya berubah.

Bukan sekadar:

"Kepada siapa kita melakukan ritual?"

Tetapi:

"Kepada siapa kita tunduk?"

Bukan hanya:

"Siapa yang kita sembah di masjid?"

Tetapi:

"Siapa yang kita taati dalam seluruh kehidupan?"

Inilah titik penting yang sering terlewat.

Ketika Al-Qur'an pertama kali turun kepada masyarakat Arab di Makkah, kewajiban ritual Islam belum turun secara lengkap seperti yang kita kenal kemudian. Namun mereka sudah diperintahkan untuk beribadah kepada Allah.

Lalu apa yang mereka pahami dari seruan itu?

Tentu bukan sekadar ritual.

Mereka memahami bahwa mereka dituntut untuk menundukkan diri kepada Allah dan menolak ketundukan kepada selain-Nya.

Dengan demikian, persoalan tauhid sejak awal bukan hanya persoalan siapa yang disembah secara ritual, tetapi juga siapa yang menjadi tempat ketundukan manusia.

---

Ketika Ibadah Direduksi Menjadi Ritual

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Jika ibadah dipersempit hanya menjadi ritual, maka seseorang mungkin berkata:

"Saya tidak menyembah patung. Saya tidak bersujud kepada berhala. Saya tetap salat dan berpuasa. Berarti saya sudah terbebas dari seluruh bentuk kemusyrikan."

Benarkah sesederhana itu?

Bagaimana jika seseorang tidak menyembah patung, tetapi dalam persoalan tertentu ia menempatkan manusia sebagai sumber ketaatan yang lebih tinggi daripada Allah?

Bagaimana jika seseorang mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi dalam kehidupan nyata ia mengikuti aturan yang bertentangan dengan petunjuk-Nya karena menganggap aturan manusia lebih layak ditaati?

Di sinilah pemahaman tentang ibadah menjadi penting.

Rasulullah saw. memberikan penjelasan yang sangat mendalam ketika menafsirkan firman Allah:

«اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah..."
(QS. At-Taubah [9]: 31)»

Ketika 'Adi bin Hatim mempertanyakan hal itu, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa mereka mengikuti para pemimpin agama tersebut dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

Artinya, persoalannya bukan karena mereka melakukan ritual penyembahan kepada para pendeta.

Mereka tidak bersujud kepada para rahib.

Tetapi mereka mengikuti ketetapan mereka dalam persoalan halal dan haram.

Di situlah Rasulullah saw. menunjukkan bahwa makna ibadah tidak boleh direduksi menjadi ritual semata.

Ritual adalah salah satu bentuk ibadah karena ia merupakan bentuk ketundukan kepada Allah.

Tetapi ibadah memiliki cakupan yang lebih luas daripada ritual.

---

Lalu Apa Persoalan Hud dengan Kaumnya?

Sekarang mari kita kembali kepada kisah Nabi Hud 'alaihis-salam.

Allah mengabadikan seruan beliau:

«"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."
(QS. Hûd [11]: 50)»

Apa sebenarnya yang diminta Hud dari kaumnya?

Apakah sekadar agar mereka berhenti menyembah patung?

Jika hanya itu, mengapa perjuangan para rasul demikian panjang?

Mengapa dakwah mereka menghadapi penolakan, permusuhan, bahkan penyiksaan?

Mengapa persoalan tauhid menjadi begitu besar dalam sejarah manusia?

Jawabannya karena dakwah para rasul tidak berhenti pada perubahan ritual.

Mereka datang untuk mengubah ketundukan manusia secara menyeluruh.

Mereka menyeru manusia agar tidak menjadikan makhluk sebagai pusat ketaatan yang menggantikan Allah.

Karena itu, seruan:

"Sembahlah Allah!"

pada hakikatnya juga mengandung seruan:

"Tunduklah kepada Allah!"

Dan konsekuensinya:

"Jangan menjadikan selain Allah sebagai tujuan ketundukan mutlak."

---

Kaum 'Ad: Mengapa Mereka Dibinasakan?

Al-Qur'an kemudian menjelaskan keadaan kaum 'Ad:

«"Dan itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, mendurhakai rasul-rasul Allah, dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang kebenaran."
(QS. Hûd [11]: 59)»

Perhatikan rangkaian ayat ini.

Mereka mengingkari ayat-ayat Allah.

Mereka mendurhakai rasul-rasul.

Dan mereka mengikuti perintah para penguasa yang sewenang-wenang.

Bukankah ini menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar ritual?

Persoalannya adalah siapa yang mereka ikuti dan kepada siapa mereka tunduk.

Karena itu, dakwah Hud bukan hanya:

"Jangan menyembah patung!"

Tetapi:

"Jangan serahkan ketundukan mutlakmu kepada selain Allah."

Inilah yang menjadikan tauhid memiliki konsekuensi dalam kehidupan nyata.

---

Al-Qur'an: Kitab Dakwah Sepanjang Zaman

Namun mengapa kisah Hud diceritakan kepada kita?

Bukankah peristiwa itu telah berlalu ribuan tahun?

Mengapa Al-Qur'an masih mengajak kita berhenti dan merenungkannya?

Karena Al-Qur'an bukan sekadar kitab sejarah.

Kisah para rasul merupakan petunjuk bagi perjalanan dakwah sepanjang zaman.

Jahiliyah mungkin berubah bentuk.

Teknologi berubah.

Sistem politik berubah.

Struktur ekonomi berubah.

Cara manusia berkomunikasi berubah.

Tetapi persoalan mendasarnya tetap ada:

Kepada siapa manusia tunduk?

Siapa yang menjadi sumber nilai?

Siapa yang menentukan arah kehidupan?

Siapa yang menjadi tujuan akhir?

Karena itulah dakwah para rasul tetap relevan.

Manusia dapat berpindah dari menyembah patung kepada menyembah kekuasaan.

Dapat berpindah dari tunduk kepada berhala batu kepada tunduk kepada hawa nafsu.

Dapat berpindah dari mengagungkan benda kepada mengagungkan manusia.

Bentuknya berubah.

Tetapi penyakitnya bisa tetap sama:

ketundukan yang diberikan kepada selain Allah.

---

Tauhid Mengubah Seluruh Kehidupan

Karena itu, tauhid tidak boleh berhenti sebagai pengakuan lisan.

Tauhid harus mempunyai konsekuensi dalam kehidupan.

Tauhid uluhiyyah berarti mengesakan Allah dalam peribadatan.

Tauhid rububiyyah mengakui Allah sebagai Rabb, Pemilik dan Pengatur.

Dan pengakuan tersebut semestinya membentuk cara manusia memahami kepemimpinan, hukum, nilai, tujuan hidup, dan seluruh manhaj kehidupannya.

Dengan demikian, tauhid bukan sekadar tema teologis yang dibicarakan di ruang kelas atau masjid.

Tauhid adalah pandangan hidup.

Ia menjawab pertanyaan paling mendasar:

Siapa Tuhan kita?

Siapa yang kita sembah?

Siapa yang kita taati?

Dari mana nilai dan petunjuk kehidupan kita?

Ke mana seluruh kehidupan kita diarahkan?

Ketika jawaban atas semua pertanyaan itu kembali kepada Allah, maka tauhid mulai menemukan pengaruhnya dalam kehidupan.

---

Mengapa Para Rasul Berjuang Sedemikian Berat?

Sekarang kita dapat memahami mengapa dakwah tauhid menjadi pusat seluruh kerasulan.

Jika ibadah hanya berarti ritual, mengapa para rasul harus menghadapi perlawanan sedemikian hebat?

Mengapa para penguasa jahiliyah merasa terancam oleh kalimat:

"Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia."

Bukankah kalimat itu tampaknya hanya berbicara tentang ibadah?

Tetapi justru di situlah kekuatannya.

Seruan tauhid berarti membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia.

Ia mengembalikan manusia kepada penghambaan kepada Allah.

Itulah sebabnya tauhid memiliki konsekuensi yang sangat luas.

Ia membebaskan hati dari penghambaan kepada selain Allah.

Ia membebaskan akal dari taklid yang membutakan.

Ia membebaskan manusia dari ketundukan mutlak kepada penguasa yang zalim.

Ia membebaskan manusia dari perbudakan hawa nafsu.

Dan ia mengarahkan seluruh kehidupan kepada Allah.

Maka perjuangan para rasul bukanlah perjuangan yang sempit.

Ia adalah perjuangan memanusiakan manusia dengan mengembalikannya kepada penghambaan hanya kepada Allah.

---

Dari Jahiliyah Menuju Islam

Menurut kerangka ini, sejarah manusia dapat dilihat sebagai perjalanan antara dua keadaan:

Islam, yaitu ketundukan kepada Allah,

dan jahiliyah, yaitu ketika manusia menyimpang dari ketundukan tersebut.

Adam 'alaihis-salam membawa petunjuk Allah ketika memulai kehidupan manusia di bumi.

Kemudian manusia mengalami penyimpangan.

Datanglah para rasul.

Mereka mengingatkan manusia kembali.

Lalu manusia kembali menyimpang.

Datang lagi para rasul.

Demikianlah perjalanan itu berlangsung dari generasi ke generasi.

Karena itu, dakwah Islam bukan sesuatu yang asing bagi manusia.

Dakwah Islam adalah seruan untuk kembali kepada fitrah ketundukan kepada Allah.

Dan Al-Qur'an datang untuk mengembalikan manusia kepada jalan tersebut.

---

Ibadah sebagai Pembebasan

Pada akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan penting.

Ibadah bukan sekadar ritual.

Ibadah adalah ketundukan kepada Allah.

Dan penghambaan kepada Allah memiliki konsekuensi: manusia tidak boleh memberikan ketundukan mutlak kepada selain-Nya.

Karena itu, ketika Islam menyeru:

«"Sembahlah Allah!"»

seruan itu sesungguhnya juga mengandung pesan:

"Bebaskan dirimu dari penghambaan kepada selain Allah."

Inilah rahasia mengapa tauhid menjadi inti dakwah seluruh rasul.

Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya.

Kitalah yang membutuhkan tauhid.

Kitalah yang membutuhkan kehidupan yang lurus.

Kitalah yang membutuhkan arah.

Kitalah yang membutuhkan standar kebenaran.

Kitalah yang membutuhkan pembebasan dari perbudakan manusia, hawa nafsu, kekuasaan, materi, dan berbagai bentuk penghambaan yang menjauhkan kita dari Allah.

Maka pertanyaan akhirnya bukan hanya:

"Apakah kita sudah melakukan ritual ibadah?"

Tetapi lebih dalam:

"Apakah seluruh kehidupan kita benar-benar tunduk kepada Allah?"

Jika salat kita menghadap Allah, tetapi keputusan hidup kita sepenuhnya tunduk kepada hawa nafsu, apa yang sebenarnya sedang kita sembah?

Jika lisan kita mengucapkan la ilaha illallah, tetapi hati kita menjadikan selain Allah sebagai sumber ketundukan mutlak, apakah kita sudah memahami sepenuhnya makna kalimat itu?

Dan jika tauhid benar-benar telah hidup dalam diri manusia, bukankah ia akan membentuk seluruh kehidupannya?

Ibadah membentuk hati.
Tauhid membentuk arah.
Dan ketundukan kepada Allah membentuk kehidupan.

Itulah sebabnya seruan Hud 'alaihis-salam tetap bergema hingga hari ini:

«"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia."»

Bukan sekadar seruan untuk mengubah ritual.

Tetapi seruan untuk mengubah pusat ketundukan manusia:

dari makhluk kepada Al-Khaliq,

dari jahiliyah kepada Islam,

dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah.

Al-Hikmah: Kebijaksanaan dalam Dakwah Ekonomi Islam Al-Hakim berarti Mahabijaksa...

Al-Hikmah: Kebijaksanaan dalam Dakwah Ekonomi Islam


Al-Hakim berarti Mahabijaksana. Salah satu konsekuensi dari memahami Allah sebagai Al-Hakim adalah bahwa para penggiat ekonomi Islam harus belajar menyampaikan ekonomi Islam dengan hikmah dan kebijaksanaan.

Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan bijaksana dalam berdakwah?

Apakah bijaksana berarti selalu berbicara dengan lembut?

Ataukah cukup dengan menyampaikan dalil sebanyak-banyaknya?

Tentu tidak.

Kebijaksanaan dalam dakwah berarti mampu menempatkan perkataan, metode, argumentasi, dan tindakan pada tempat yang tepat. Karena manusia yang kita hadapi tidak semuanya sama. Mereka memiliki latar belakang, kapasitas intelektual, pengalaman, kebutuhan, dan keadaan psikologis yang berbeda-beda.

Karena itu, bukankah aneh jika kita menggunakan satu cara untuk menghadapi semua orang?

Bagaimana mungkin metode yang efektif bagi seorang ekonom yang sangat rasional akan sama efektifnya ketika digunakan kepada masyarakat awam yang belum memahami ekonomi Islam?

Bagaimana mungkin cara berbicara kepada seseorang yang memiliki keterikatan emosional dengan Islam disamakan dengan cara berbicara kepada seseorang yang hanya tertarik pada pertanyaan: "Apa manfaatnya bagi saya?"

Begitu pula, cara menghadapi orang yang telah memiliki pemahaman agama yang kuat tentu tidak selalu sama dengan cara menghadapi orang yang hanya memahami teori ekonomi konvensional.

Inilah pentingnya hikmah.

Allah SWT berfirman:

«"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik...."
(QS. An-Nahl: 125)»

Ayat ini memberikan kepada kita sebuah prinsip penting dalam berdakwah: kebenaran yang disampaikan dengan metode yang salah dapat kehilangan daya pengaruhnya.

Dalam ayat tersebut terdapat tiga pendekatan yang dapat menjadi pedoman dalam dakwah ekonomi Islam: al-hikmah, al-mau'izhah al-hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan.

1. Al-Hikmah: Berbicara dengan Argumen yang Kuat

Menurut Sayyid Thanthawi, al-hikmah adalah pendapat atau argumentasi yang kuat, jelas, benar, sesuai dengan kenyataan, serta mampu menghilangkan keragu-raguan.

Maka berdakwah dengan al-hikmah bukan sekadar mengatakan:

"Ekonomi Islam itu benar."

Tetapi kita harus mampu menjelaskan:

Mengapa ia benar?

Apa dasar teorinya?

Bagaimana mekanismenya?

Apa buktinya?

Apa hasil empirisnya?

Di sinilah dakwah ekonomi Islam membutuhkan kemampuan intelektual.

Menurut al-Baidhawi, metode al-hikmah terutama diperlukan ketika menghadapi orang-orang yang membutuhkan bukti dan argumentasi, baik secara teoritis maupun empiris.

Bayangkan kita berhadapan dengan seorang ekonom yang menguasai teori ekonomi konvensional, memahami statistik, menguasai kebijakan moneter, memahami sistem keuangan global, tetapi belum memahami ekonomi Islam.

Apakah cukup kita mengatakan kepadanya:

"Ekonomi Islam lebih baik karena bersumber dari wahyu."

Bagi seorang yang belum memiliki kerangka berpikir yang sama, jawaban itu mungkin belum memadai.

Ia akan bertanya:

"Di mana keunggulannya?"

"Bagaimana sistemnya bekerja?"

"Apa buktinya?"

"Bagaimana penerapannya dalam dunia modern?"

Maka di sinilah para penggiat ekonomi Islam dituntut untuk hadir dengan argumentasi yang kuat, data yang dapat dipertanggungjawabkan, teori yang kokoh, dan bukti empiris yang relevan.

Dakwah kepada kaum intelektual harus mampu memasuki ruang intelektual mereka.

Jangan hanya meminta mereka percaya; tunjukkan pula alasan mengapa mereka layak percaya.

---

2. Al-Mau'izhah al-Hasanah: Menyentuh Hati dengan Cara yang Baik

Namun apakah semua orang membutuhkan argumentasi akademik yang panjang?

Tentu tidak.

Ada masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang ekonomi Islam. Mereka tidak menentang ekonomi Islam. Mereka hanya belum mengenalnya.

Kepada mereka, apakah kita harus datang membawa bahasa akademik yang rumit?

Jika kita melakukan itu, bukankah kita justru membuat sesuatu yang sederhana menjadi sulit dipahami?

Menurut Sayyid Thanthawi, al-mau'izhah al-hasanah adalah perkataan yang mengandung pelajaran dan disampaikan dengan cara yang lembut sehingga hati orang yang mendengarnya tertarik kepada apa yang didakwahkan.

Inilah dakwah yang menyentuh hati.

Masyarakat awam tidak selalu membutuhkan kuliah tentang teori ekonomi.

Terkadang mereka hanya perlu memahami pertanyaan sederhana:

Mengapa Islam melarang riba?

Mengapa Islam memerintahkan keadilan dalam transaksi?

Mengapa Islam mengajarkan zakat?

Mengapa harta tidak boleh hanya berputar di kalangan orang kaya?

Dan yang lebih penting:

Apa manfaat semua itu bagi kehidupan mereka?

Di sinilah al-mau'izhah al-hasanah bekerja.

Kita menjelaskan ekonomi Islam dengan bahasa yang mudah dipahami, contoh yang dekat dengan kehidupan, kisah yang menggugah, serta perkataan yang lembut dan membangkitkan harapan.

Dakwah bukan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling pintar.

Tujuan dakwah bukan membuat orang kagum kepada kepintaran kita, tetapi membuat mereka semakin dekat kepada kebenaran.

---

3. Mujadalah: Berdialog dengan Argumentasi Terbaik

Lalu bagaimana jika orang yang kita hadapi bukan sekadar belum memahami ekonomi Islam, tetapi justru menolak dan mengkritiknya?

Di sinilah metode mujadalah diperlukan.

Tetapi perhatikan baik-baik: Al-Qur'an tidak sekadar mengatakan, "berdebatlah."

Allah berfirman:

«"...dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik."
(QS. An-Nahl: 125)»

Artinya, debat pun memiliki etika.

Kita boleh berbeda.

Kita boleh membantah.

Kita boleh menunjukkan kesalahan argumentasi.

Tetapi mengapa harus menghina?

Mengapa harus merendahkan?

Mengapa harus menyerang pribadi?

Bukankah yang kita koreksi adalah argumennya, bukan kehormatan orangnya?

Karena itu, ketika menghadapi para pengkritik ekonomi Islam, kita harus memahami terlebih dahulu basis pemikiran mereka.

Apa teori yang mereka gunakan?

Apa asumsi ekonominya?

Apa data yang mereka jadikan dasar?

Di mana letak kelemahan argumentasinya?

Setelah itu, barulah kita memberikan bantahan berdasarkan kerangka ilmiah yang mereka pahami.

Dengan demikian, kita tidak menjawab kritik dengan emosi, tetapi dengan ilmu.

Tidak membalas hujatan dengan hujatan, tetapi dengan argumentasi.

Tidak menghindar dari pertanyaan sulit, tetapi menghadapinya dengan ketenangan.

Dan setelah argumentasi mereka berhasil dijawab, barulah kita menjelaskan keunggulan ekonomi Islam dengan landasan teori dan bukti empiris yang kuat.

Inilah mujadalah yang beradab: kuat dalam argumentasi, tetapi tetap baik dalam cara penyampaian.

---

Rasulullah Mengajarkan Kebijaksanaan

Untuk memahami makna kebijaksanaan secara lebih nyata, lihatlah bagaimana Rasulullah saw. menghadapi manusia.

Ada sebuah peristiwa yang sangat terkenal dalam hadis al-Bukhari.

Seorang Arab pedalaman datang ke masjid. Karena ketidaktahuannya, ia buang air kecil di dalam masjid.

Para sahabat tentu merasa terganggu.

Mereka hendak mencegahnya.

Namun Rasulullah saw. justru melarang para sahabat menghentikannya secara kasar. Beliau membiarkannya sampai selesai. Setelah itu, beliau memerintahkan agar bekas air kencing tersebut disiram dengan seember air.

Mengapa Rasulullah tidak langsung memarahinya?

Mengapa tidak mempermalukannya di hadapan orang banyak?

Karena Rasulullah memahami keadaan orang yang sedang dihadapinya.

Orang itu bukan sedang melakukan penghinaan terhadap masjid. Ia tidak mengetahui hukum dan adabnya.

Kesalahannya lahir dari ketidaktahuan.

Maka pendekatan yang digunakan pun disesuaikan dengan keadaan dirinya.

Bukankah ini pelajaran dakwah yang luar biasa?

Kesalahan seseorang tidak selalu membutuhkan respons yang sama.

Ada kesalahan karena kebodohan.

Ada karena kelalaian.

Ada karena kesalahpahaman.

Ada karena kesombongan.

Ada pula yang lahir dari permusuhan.

Apakah semuanya harus kita hadapi dengan cara yang sama?

Tentu tidak.

Inilah hikmah.

---

Dakwah Ekonomi Islam Membutuhkan Kecerdasan Membaca Manusia

Karena itu, seorang penggiat ekonomi Islam tidak cukup hanya menguasai apa yang akan disampaikan.

Ia juga harus memahami:

kepada siapa ia menyampaikannya,

kapan menyampaikannya,

bagaimana menyampaikannya,

dan dengan bahasa seperti apa menyampaikannya.

Seorang akademisi mungkin membutuhkan jurnal dan data.

Seorang pengusaha mungkin membutuhkan contoh konkret dan perhitungan bisnis.

Seorang pembuat kebijakan mungkin membutuhkan bukti empiris dan analisis dampak kebijakan.

Masyarakat awam mungkin membutuhkan bahasa sederhana dan contoh kehidupan sehari-hari.

Seorang Muslim yang telah memahami dasar-dasar agama mungkin membutuhkan dalil dan penjelasan syariah yang lebih mendalam.

Pesannya bisa sama, tetapi pintu masuknya berbeda.

Inilah seni dakwah.

Bukan mengubah kebenaran agar diterima manusia, tetapi menemukan cara yang paling tepat untuk menyampaikan kebenaran kepada manusia.

Sebab dakwah bukan hanya soal benar atau salahnya isi.

Dakwah juga menyangkut cara manusia menerima kebenaran tersebut.

Maka jangan sampai kita memiliki ilmu yang benar tetapi menyampaikannya dengan cara yang membuat orang menjauh.

Jangan sampai kita memiliki argumentasi yang kuat tetapi menyampaikannya dengan kesombongan.

Jangan sampai kita ingin mengajak manusia menuju ekonomi Islam, tetapi cara kita berbicara justru membuat mereka membenci Islam.

Pada akhirnya, bukankah dakwah ekonomi Islam membutuhkan dua kekuatan sekaligus?

Kekuatan ilmu untuk menjelaskan kebenaran dan kekuatan hikmah untuk membuat kebenaran itu dapat diterima.

Ilmu menjawab:

"Apa yang benar?"

Hikmah mengajarkan:

"Bagaimana kebenaran itu disampaikan?"

Dan di antara keduanya terdapat satu prinsip yang sangat penting:

Jangan hanya benar dalam isi; benarlah pula dalam cara.

Itulah salah satu makna dakwah dengan al-hikmah.

Mengalahkan Zionis Israel dengan Ilmu Pengetahuan dan Harta Sebagian orang mengatakan bahwa ...

Mengalahkan Zionis Israel dengan Ilmu Pengetahuan dan Harta


Sebagian orang mengatakan bahwa jalan menuju kemenangan tidak terletak pada keberpihakan kepada Blok Timur ataupun Blok Barat. Jalan menuju kemenangan, menurut mereka, adalah membangun kekuatan material: ilmu pengetahuan dan kekayaan.

Bukankah keduanya memang merupakan unsur penting pembentuk kekuatan manusia? Dengan ilmu pengetahuan, kita menguasai teknologi. Dengan kekayaan, kita membiayai pembangunan, penelitian, pendidikan, dan pertahanan. Dengan keduanya, kita dapat merebut kembali hak-hak yang terampas.

Pandangan ini tentu tidak sepenuhnya salah. Bahkan, kita sepakat bahwa umat Islam harus membangun kekuatan material semaksimal mungkin.

Bukankah Allah telah berfirman:

«"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang, yang dengan itu kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu."
(QS. Al-Anfal, 8:60)»

Ayat ini jelas memerintahkan persiapan kekuatan.

Para ulama juga menetapkan bahwa mempelajari ilmu pengetahuan yang dibutuhkan kaum Muslimin dalam kehidupan agama dan dunia mereka dapat menjadi fardhu kifayah. Jika tidak ada sebagian umat yang menguasainya, seluruh umat menanggung dosa karena mengabaikannya.

Ada pula kaidah fikih yang sangat penting:

«"Sesuatu yang kewajiban tidak dapat terlaksana kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib."»

Maka, jika menjaga kehormatan umat dan membebaskan negeri yang terjajah membutuhkan penguasaan teknologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kemampuan pertahanan, maka menyiapkan semua itu bukan sekadar pilihan strategis. Ia merupakan tanggung jawab kolektif umat.

Namun, di sinilah persoalan yang lebih mendasar muncul.

Apakah ilmu pengetahuan dan harta itu sendiri sudah cukup untuk menjamin kemenangan?

Di sinilah kita harus berhenti sejenak dan berpikir.

Kita tidak menolak ilmu pengetahuan. Kita tidak menolak kekayaan. Kita bahkan wajib mengejarnya.

Yang harus ditolak adalah ketika manusia mulai mendewakan kekuatan material dan menganggap bahwa materi merupakan satu-satunya sumber kemenangan.

Sebab, ketika ilmu dan harta ditempatkan sebagai "tuhan", persoalannya bukan lagi sekadar strategi. Ia telah menyentuh persoalan akidah.

Seolah-olah materi memiliki kekuasaan mutlak untuk menentukan masa depan manusia. Seolah-olah teknologi dapat menjamin kemenangan. Seolah-olah uang dapat membeli segala sesuatu. Seolah-olah manusia dengan ilmu dan hartanya dapat berkata kepada segala sesuatu, "Jadilah!", lalu terjadilah.

Padahal, siapa yang sebenarnya memiliki kekuasaan mutlak?

Allah.

Karena itu, kita harus membedakan dua hal: memiliki kekuatan material dan menggantungkan kemenangan kepada kekuatan material.

Yang pertama adalah kewajiban.

Yang kedua adalah kekeliruan.

---

Ada orang yang mungkin berkata:

"Kalau begitu, mari kita bangun ilmu pengetahuan. Mari kita kumpulkan kekayaan. Mari kita ciptakan teknologi modern. Mari kita bangun industri pertahanan. Dengan ilmu dan dana yang besar, kita akan mampu menandingi Israel, bahkan mengungguli mereka."

Bukankah secara logika hal itu terdengar masuk akal?

Tetapi apakah sejarah membenarkannya?

Lihatlah pengalaman perang Arab-Israel pada 5 Juni 1967.

Pada saat itu, negara-negara Arab memiliki persenjataan modern dan sumber daya yang besar. Secara material, mereka tidak datang ke medan perang dengan tangan kosong.

Namun, apakah persenjataan yang banyak itu otomatis menghasilkan kemenangan?

Tidak.

Kesaksian yang dikutip dalam tulisan ini justru menggambarkan pemandangan yang sangat kontras: persenjataan modern memenuhi padang pasir Sinai. Tank-tank, meriam, senjata antipesawat, dan berbagai perlengkapan perang tersedia dalam jumlah besar.

Melihat semua itu, orang mungkin berpikir:

"Dengan persenjataan sebanyak ini, bagaimana mungkin mereka kalah?"

Tetapi justru itulah pertanyaan yang harus kita renungkan.

Mengapa senjata yang begitu banyak tidak otomatis melahirkan keberanian?

Mengapa teknologi yang begitu canggih tidak otomatis melahirkan keteguhan?

Mengapa harta yang begitu besar tidak otomatis melahirkan kemenangan?

Karena senjata tidak berperang dengan sendirinya.

Teknologi tidak menentukan tujuan dengan sendirinya.

Uang tidak memiliki keberanian.

Manusialah yang menggunakan semuanya.

Maka persoalan sesungguhnya bukan hanya:

"Seberapa canggih senjata kita?"

Tetapi:

"Manusia seperti apa yang memegang senjata itu?"

Bukan hanya:

"Berapa besar dana yang kita miliki?"

Tetapi:

"Untuk apa dana itu digunakan, dan manusia seperti apa yang mengelolanya?"

Bukan hanya:

"Seberapa tinggi ilmu pengetahuan kita?"

Tetapi:

"Nilai apa yang mengarahkan ilmu pengetahuan itu?"

---

Sejarah memberikan pelajaran yang sama dalam berbagai bentuk.

Para pejuang Aljazair pernah menghadapi kekuatan Prancis yang memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, organisasi, dan sumber daya jauh lebih besar. Namun kekuatan material tidak otomatis membuat sebuah bangsa mampu mempertahankan penjajahannya selamanya.

Demikian pula pengalaman Vietnam menghadapi Amerika Serikat menunjukkan bahwa keunggulan teknologi dan kekayaan tidak selalu berbanding lurus dengan kemenangan politik dan militer.

Apa pelajarannya?

Bukan berarti teknologi tidak penting.

Bukan pula berarti orang yang lemah persenjataannya pasti menang.

Pelajarannya jauh lebih sederhana:

Kekuatan material hanyalah alat.

Ia menjadi kuat atau lemah tergantung pada manusia yang menggunakannya, tujuan yang mengarahkannya, dan keteguhan yang menopangnya.

Karena itu, umat Islam tidak boleh memilih antara iman atau ilmu pengetahuan.

Tidak boleh memilih antara akidah atau teknologi.

Tidak boleh memilih antara spiritualitas atau kekayaan.

Yang diperlukan justru adalah integrasi semuanya.

Kita membutuhkan ilmuwan.

Kita membutuhkan pengusaha.

Kita membutuhkan kekayaan.

Kita membutuhkan teknologi.

Kita membutuhkan industri.

Kita membutuhkan pendidikan.

Tetapi kita juga membutuhkan manusia yang memiliki iman, keberanian, disiplin, integritas, kesabaran, dan kesediaan berkorban.

Sebab apa gunanya ilmu yang tinggi jika manusia kehilangan arah?

Apa gunanya harta yang melimpah jika manusia kehilangan tujuan?

Apa gunanya senjata yang canggih jika orang yang memegangnya kehilangan keberanian?

Dan apa gunanya sebuah bangsa memiliki teknologi tinggi jika jiwanya rapuh?

---

Menariknya, bahkan seorang tokoh Zionis seperti David Ben-Gurion pernah menyampaikan gagasan yang sangat penting: ketergantungan semata-mata kepada hasil ilmu pengetahuan modern untuk memenangkan perang tidaklah cukup. Penentu akhirnya bukan sekadar meriam atau pesawat tempur, melainkan manusia yang menggunakan semua sarana tersebut.

Kita tidak perlu menerima seluruh pandangan politik Ben-Gurion untuk mengambil hikmah dari sebuah pengamatan yang masuk akal.

Bukankah sejarah memang menunjukkan demikian?

Senjata tidak menentukan semuanya.

Uang tidak menentukan semuanya.

Teknologi tidak menentukan semuanya.

Pada akhirnya, semuanya kembali kepada manusia.

Manusia yang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki karakter dapat menyalahgunakan ilmunya.

Manusia yang memiliki kekayaan tetapi tidak memiliki visi dapat menghamburkan hartanya.

Manusia yang memiliki senjata tetapi tidak memiliki keberanian dapat meninggalkan senjatanya.

Sebaliknya, manusia yang memiliki keterbatasan material tetapi mempunyai keteguhan, organisasi, disiplin, visi, dan keyakinan dapat menghasilkan kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang tampak di atas kertas.

---

Karena itu, jika kita berbicara tentang kemenangan, janganlah kita bertanya hanya:

"Berapa banyak senjata yang kita punya?"

Tanyakan juga:

"Berapa banyak ilmuwan yang kita lahirkan?"

"Berapa banyak institusi riset yang kita bangun?"

"Berapa banyak industri strategis yang kita kuasai?"

"Berapa kuat ekonomi kita?"

"Seberapa baik pendidikan kita?"

Tetapi jangan berhenti di sana.

Tanyakan pula:

"Manusia macam apa yang sedang kita bentuk?"

"Nilai apa yang mengarahkan ilmu kita?"

"Untuk apa kekayaan kita digunakan?"

"Apakah generasi kita memiliki keberanian untuk mempertahankan kebenaran?"

Di sinilah letak keseimbangannya.

Kita tidak boleh menjadi umat yang miskin karena malas belajar.

Tetapi kita juga tidak boleh menjadi umat yang mabuk teknologi.

Kita harus menguasai ilmu pengetahuan tanpa menyembah ilmu pengetahuan.

Kita harus memiliki kekayaan tanpa menyembah kekayaan.

Kita harus membangun kekuatan tanpa menyembah kekuatan.

Sebab ilmu adalah sarana.

Harta adalah sarana.

Teknologi adalah sarana.

Sedangkan kemenangan bukan milik sarana.

Kemenangan berada dalam kehendak Allah, dan manusia diperintahkan untuk menyiapkan sebab-sebabnya dengan sebaik-baiknya.

Maka perjuangan membangun kekuatan umat tidak cukup hanya dengan membangun persenjataan.

Kita harus membangun manusia.

Membangun sekolah.

Membangun universitas.

Membangun laboratorium.

Membangun industri.

Membangun ekonomi.

Membangun institusi.

Membangun karakter.

Dan yang paling penting, membangun manusia yang ketika memegang ilmu tidak menjadi sombong, ketika memegang harta tidak menjadi tamak, dan ketika memegang kekuasaan tidak menjadi zalim.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah:

"Seberapa besar kekuatan yang kita miliki?"

Melainkan:

"Untuk apa kekuatan itu kita miliki, siapa yang mengarahkannya, dan kepada siapa kita menggantungkan kemenangan?"

Di situlah ilmu pengetahuan dan harta menemukan tempatnya yang benar:

bukan sebagai Tuhan yang disembah, tetapi sebagai amanah yang digunakan untuk menegakkan kebenaran dan membangun peradaban.

Sufi Palsu (Pseudosufi): Ketika Tasawuf Dipisahkan dari Syariat Apakah para ulam...

Sufi Palsu (Pseudosufi): Ketika Tasawuf Dipisahkan dari Syariat

Apakah para ulama Melayu-Indonesia pada abad ke-17 hingga ke-18 benar-benar menolak tasawuf?

Jika kita melihat polemik yang berkembang pada masa itu secara sepintas, jawabannya mungkin tampak demikian. Nama Al-Raniri, misalnya, sering muncul dalam pembahasan tentang oposisi terhadap sufisme. Ia bahkan dikenal sangat keras terhadap kelompok tertentu yang dianggap menyimpang.

Namun, apakah yang sebenarnya ditolak oleh Al-Raniri dan para ulama sesudahnya adalah tasawuf itu sendiri?

Ternyata tidak.

Yang mereka tentang bukan tasawuf secara keseluruhan, melainkan bentuk sufisme yang mereka nilai telah keluar dari batas-batas syariat—terutama sufisme filosofis yang dianggap terlalu menekankan imanensi Tuhan sehingga mengaburkan transendensi-Nya. Karena itu, istilah yang lebih tepat untuk memahami sikap mereka adalah sufisme palsu (pseudosufism), bukan antisufisme.

Tasawuf dan Fikih: Dua Sisi yang Tidak Terpisahkan

Menariknya, para ulama yang paling keras mengkritik ajaran tertentu dalam tasawuf justru bukan orang-orang yang asing terhadap tasawuf. Al-Raniri dan ulama Melayu-Indonesia terkemuka lainnya pada dasarnya adalah tokoh sufi sekaligus ahli fikih.

Karena itu, apakah mengherankan jika mereka tidak berusaha menghancurkan tasawuf, tetapi justru mendamaikan tasawuf dengan syariat?

Di sinilah kita menemukan prinsip yang sangat penting: dimensi lahir dan batin tidak seharusnya dipertentangkan.

Al-Maqassari mengungkapkannya dengan sangat indah:

«“Ketahuilah sahabat-sahabatku, yang lahir (eksoteris) tanpa yang batin (esoteris) bagaikan sebuah tubuh tanpa jiwa, sedangkan yang batin tanpa yang lahir bagaikan jiwa tanpa tubuh.”»

Dengan demikian, persoalannya bukan memilih antara syariat atau tasawuf. Persoalannya adalah bagaimana keduanya berjalan bersama.

Syariat memberikan bentuk bagi kehidupan spiritual, sedangkan tasawuf memberikan kedalaman bagi pelaksanaan syariat.

Lalu, apa yang terjadi apabila dimensi batin dilepaskan dari dimensi lahir?

Di situlah, menurut para ulama tersebut, penyimpangan dapat muncul.

Pergeseran Menuju Tasawuf yang Lebih Ortodoks

Kecenderungan untuk mengharmoniskan tasawuf dengan syariat semakin kuat pada abad ke-18 dan sesudahnya.

Drewes menunjukkan bahwa literatur keagamaan lokal di Palembang, Sumatra Selatan, menjelang akhir abad ke-18, tidak lagi banyak memasukkan karya-karya Hamzah Al-Fansuri dan Syamsuddin Al-Sumatrani, maupun karya-karya lain yang dianggap menyimpang atau bahkan mengandung ajaran yang dinilai syirik.

Sebaliknya, karya-karya Al-Raniri dan Al-Sinkili beredar secara luas.

Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi. Tasawuf tidak ditinggalkan, tetapi diarahkan kembali kepada kerangka keislaman yang lebih kuat secara fikih dan syariat.

Syihabuddin dan Kemas Fakhruddin: Membatasi Tasawuf Spekulatif

Sejumlah ulama Palembang mengambil posisi yang semakin jelas.

Syihabuddin b. Abdullah Muhammad, misalnya, menyebarkan tasawuf yang lebih berorientasi pada syariat sebagaimana dikembangkan oleh Al-Junaid, Al-Qusyairi, dan Al-Ghazali.

Bahkan ia bersikap sangat hati-hati terhadap ajaran martabat tujuh. Ia melarang pembacaan karya-karya mengenai ajaran tersebut karena khawatir masyarakat awam akan salah memahami konsep-konsep yang rumit itu tanpa memiliki dasar pengetahuan Islam yang memadai, terutama dalam syariat.

Bukankah kekhawatiran itu masuk akal?

Sebuah gagasan yang mungkin dapat dipahami oleh seorang ahli belum tentu aman diberikan kepada orang yang belum memiliki perangkat keilmuan yang cukup. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah suatu kitab mengandung kebenaran atau kesalahan, tetapi juga siapa yang membacanya, dengan bekal ilmu apa, dan bagaimana ia memahaminya.

Kecenderungan serupa tampak pada Kemas Fakhruddin (1716–1763 M), ulama Palembang yang karya-karyanya banyak berbicara tentang tasawuf Al-Ghazali.

Dan dari sinilah muncul sosok penting lainnya: Abd al-Shamad Al-Palimbani.

Al-Palimbani: Menghidupkan Tasawuf Al-Ghazali

Sayyid Abd al-Shamad b. Abdallah Al-Jawi Al-Palimbani (w. 1789 M) merupakan ulama Palembang keturunan Hadrami yang memperoleh pendidikan tinggi di Haramain dan kemudian menetap di sana.

Meskipun kemungkinan besar tidak kembali ke Nusantara, perhatian Al-Palimbani terhadap Islam dan kaum Muslim di Nusantara tetap sangat besar. Karya-karyanya, yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Melayu, beredar luas di kawasan ini.

Ia terutama dikenal sebagai seorang ahli tasawuf Al-Ghazali. Di Haramain, keahliannya terhadap karya monumental Al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, sangat menonjol.

Dua karya pentingnya, Hidayah al-Salikin dan Sair al-Salikin, merupakan adaptasi dari pemikiran Al-Ghazali.

Apa yang menjadi tekanan utama Al-Palimbani?

Bukan spekulasi metafisis yang rumit, melainkan keimanan yang benar, tauhid, kepatuhan terhadap syariat, serta pemurnian jiwa dan akhlak.

Baginya, rahmat Allah tidak dapat diraih dengan meninggalkan syariat. Tasawuf justru harus membawa manusia semakin dekat kepada tauhid dan semakin taat kepada Allah.

Dengan kata lain, tasawuf harus mengubah manusia—bukan sekadar memberinya pengalaman mistik.

Apakah Al-Palimbani Menolak Tasawuf Filosofis?

Menariknya, jawabannya juga tidak sesederhana itu.

Al-Palimbani tetap menerima gagasan-gagasan tertentu dalam tasawuf filosofis, khususnya yang dikembangkan oleh Ibn 'Arabi dan Al-Jilli. Bahkan ia merekomendasikan karya-karya para ulama tersebut bagi mereka yang telah mencapai tingkat spiritual dan intelektual yang tinggi (al-muntahi).

Namun, apakah semua orang boleh langsung membacanya?

Tidak.

Bagi Al-Palimbani, ada tingkatan dalam perjalanan keilmuan. Mereka yang berada pada tingkat menengah (al-mutawassith), apalagi pemula (al-mubtadi), dianjurkan terlebih dahulu mempelajari tasawuf yang berorientasi pada fikih dan syariat.

Di sini terlihat sebuah prinsip pendidikan yang sangat penting:

Tidak semua ilmu harus diberikan kepada semua orang pada waktu yang sama.

Ilmu membutuhkan kesiapan.

Tanpa fondasi tauhid, fikih, dan syariat yang kuat, seseorang dapat mengambil istilah tasawuf secara harfiah lalu menarik kesimpulan yang justru bertentangan dengan prinsip dasar Islam.

Wujudiyyah Mulhid dan Wujudiyyah Muwahhid

Dalam konteks inilah Al-Palimbani membedakan ajaran Wujudiyyah menjadi dua kelompok: Wujudiyyah mulhid dan Wujudiyyah muwahhid.

Perbedaannya sangat mendasar.

Wujudiyyah mulhid dipandang sebagai kelompok yang telah melampaui batas tauhid karena memahami hubungan Tuhan dan makhluk secara keliru. Mereka, menurut kritik Al-Palimbani, menganggap bahwa Realitas Tuhan tidak ada kecuali dalam wujud makhluk, bahkan sampai mengatakan bahwa manusia dan Tuhan memiliki esensi yang sama.

Bagi Al-Palimbani, keyakinan seperti itu merupakan kekufuran karena menghapus perbedaan mendasar antara Khaliq dan makhluk.

Karena itu, para pengikut Wujudiyyah mulhid dimasukkannya ke dalam kategori pseudosufi—orang-orang yang tampak bersufi, tetapi justru merusak hakikat tauhid.

Kelompok lain yang juga dikritiknya adalah para pengikut hululiyyah, yaitu mereka yang meyakini bahwa Tuhan berinkarnasi ke dalam manusia atau makhluk lainnya.

Sekali lagi, persoalannya bukan pengalaman spiritual itu sendiri.

Persoalannya adalah ketika pengalaman tersebut melahirkan keyakinan bahwa Tuhan identik dengan makhluk.

Lalu, Siapakah Sufi Sejati?

Al-Palimbani justru menyebut Wujudiyyah muwahhid sebagai kelompok yang lebih dekat kepada sufisme yang benar.

Mengapa?

Karena pusat perhatian mereka tetap pada keesaan Tuhan yang mutlak.

Tuhan tetap Tuhan. Makhluk tetap makhluk.

Seorang sufi boleh berbicara tentang kedekatan Allah, kehadiran-Nya, atau aspek imanensi-Nya dalam kehidupan manusia. Tetapi kedekatan itu tidak boleh berubah menjadi keyakinan bahwa Allah identik dengan makhluk.

Di sinilah garis batas itu menjadi jelas:

kedekatan tidak berarti kesamaan.

Imanensi tidak berarti identitas.

Pengalaman spiritual tidak menghapus perbedaan antara Khalik dan makhluk.

Dengan demikian, bagi Al-Palimbani, sufi sejati justru memberikan penekanan kuat pada transendensi Allah. Mereka tidak mengingkari pembicaraan tentang imanensi Tuhan dalam batas yang benar, tetapi mereka menolak setiap pernyataan yang menyamakan Tuhan dengan makhluk.

Dawud Al-Fatani dan Kritik terhadap Pseudosufi

Pandangan serupa dikemukakan oleh ulama Melayu lainnya pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19, yaitu Dawud b. Abdullah Al-Fatani (w. 1843 M).

Al-Fatani, ulama asal Patani yang memperoleh pendidikan tinggi di Makkah dan kemudian menetap di sana, sangat kritis terhadap orang-orang yang hanya bergaya sebagai sufi tetapi tidak memahami hakikat sufisme.

Siapakah mereka?

Menurut Al-Fatani, salah satunya adalah orang-orang yang mengklaim telah mencapai penyatuan sempurna dengan Tuhan.

Ia mengecam keyakinan ittihad, yaitu anggapan bahwa zat manusia telah menjadi zat Tuhan. Baginya, keyakinan tersebut merupakan kekufuran besar.

Karena itu, Al-Fatani tidak sekadar mengkritik praktik tersebut. Ia juga berusaha menjelaskan bagaimana istilah-istilah sufistik seharusnya dipahami.

Ia menyusun karya Manhal al-Safi sebagai jawaban dan penjelasan terhadap berbagai konsep dan istilah dalam sufisme. Di dalamnya dibahas konsep seperti wahdat al-wujud, martabat tujuh, dan berbagai persoalan sufistik-teologis lainnya, sekaligus diberikan penjelasan mengenai istilah-istilah penting dalam kosakata kaum sufi.

Mengapa penjelasan semacam ini penting?

Karena menurut Al-Fatani, sebagian pseudosufi memahami konsep seperti wahdat al-wujud secara literal, tanpa memahami kedalaman makna dan kerangka teologisnya.

Maka, ia mengingatkan bahwa karya-karya semacam itu seharusnya dibaca oleh orang yang memiliki dasar keilmuan dan pemahaman tarekat Muhammadiyah yang kuat.

Ketika Polemik Teologis Berubah Menjadi Tragedi

Oposisi terhadap Wujudiyyah mulhid pada abad ke-18 tidak berhenti pada perdebatan intelektual.

Di Kalimantan Selatan, misalnya, muncul kasus yang melibatkan Muhammad Arsyad Al-Banjari (1710–1812 M), ulama besar yang dikenal melalui karya fikih berbahasa Melayu, Sabil al-Muhtadin.

Al-Banjari, yang pernah belajar di Haramain dan sezaman dengan Al-Palimbani, menentang doktrin Wujudiyyah mulhid.

Menurut tradisi lokal, setelah kepulangannya ke Kalimantan Selatan, seorang ulama bernama Haji Abdul Hamid Abulung datang ke wilayah tersebut dan memperkenalkan ajaran yang oleh Al-Banjari dan tradisi ulama sebelumnya dikategorikan sebagai Wujudiyyah mulhid.

Abulung dilaporkan mengajarkan ungkapan yang menyatakan bahwa tidak ada wujud selain Allah dan bahwa dirinya tidak lain adalah Allah.

Ajaran tersebut kemudian menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Abulung dilaporkan dibawa ke pengadilan kerajaan. Al-Banjari diminta memberikan pendapatnya dan menyatakan bahwa ajaran tersebut merupakan syirik.

Atas dasar fatwa tersebut, Sultan Tahmidullah kemudian memerintahkan eksekusi terhadap Abulung.

Peristiwa ini memperlihatkan betapa seriusnya persoalan tersebut pada masa itu. Polemik tasawuf bukan lagi sekadar persoalan buku, istilah, dan perdebatan intelektual. Dalam kondisi tertentu, ia dapat berujung pada konflik sosial dan bahkan tragedi kemanusiaan.

Karena itu, sejarah ini perlu dibaca dengan hati-hati.

Kita dapat memahami kekhawatiran teologis para ulama tanpa harus mengabaikan kenyataan bahwa setiap konflik keagamaan yang berujung pada kekerasan juga memiliki dimensi sosial, politik, dan kekuasaan yang kompleks.

Jadi, Apakah Mereka Antisufisme?

Setelah melihat rangkaian perkembangan tersebut, jawabannya menjadi lebih jelas.

Tidak.

Oposisi terhadap sufisme di Kepulauan Melayu-Indonesia hingga abad ke-18 pada umumnya bukanlah oposisi terhadap tasawuf secara keseluruhan. Yang menjadi sasaran kritik terutama adalah cabang sufisme yang bercorak filosofis dan dianggap telah melampaui batas-batas tauhid serta syariat.

Sebaliknya, tasawuf yang berjalan seiring dengan fikih dan syariat justru mendapatkan tempat yang kuat.

Sejak paruh kedua abad ke-17, terlihat kecenderungan berkesinambungan di kalangan ulama terkemuka di Hindia Timur untuk mengembangkan bentuk tasawuf yang lebih ortodoks dan skripturalis.

Kontak intelektual dan religius yang semakin kuat antara Nusantara dan Timur Tengah ikut memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan tersebut.

Namun, ada pelajaran yang lebih dalam dari sekadar pertentangan antara “sufi” dan “antisufi”.

Barangkali pertanyaan yang lebih tepat bukanlah:

“Apakah kita harus memilih tasawuf atau syariat?”

Melainkan:

“Tasawuf seperti apa yang membuat syariat semakin hidup, dan syariat seperti apa yang membuat spiritualitas tidak kehilangan jiwa?”

Sebab, sebagaimana ungkapan Al-Maqassari, lahir tanpa batin hanyalah tubuh tanpa jiwa, sedangkan batin tanpa lahir hanyalah jiwa tanpa tubuh.

Di situlah letak persoalannya.

Islam tidak membutuhkan spiritualitas yang tercerabut dari syariat. Tetapi Islam juga tidak membutuhkan syariat yang kehilangan kedalaman ruhaniahnya.

Yang dicari adalah keseimbangan:

syariat yang melahirkan ihsan, dan tasawuf yang semakin meneguhkan tauhid.

Dan mungkin, justru di titik itulah kita dapat memahami mengapa para ulama Nusantara tidak sekadar memerangi “tasawuf”, tetapi berusaha membedakan antara tasawuf yang menghidupkan agama dan pseudosufisme yang mengaburkan tauhid.

Dakwah Secara Umum dalam Periode Sirriyah di Mekah  Sekilas, bukankah ada perten...


Dakwah Secara Umum dalam Periode Sirriyah di Mekah 

Sekilas, bukankah ada pertentangan antara dakwah secara umum dengan karakteristik pertama, yaitu dakwah secara rahasia?

Tidak demikian.

Dakwah secara rahasia tidak berarti dakwah hanya ditujukan kepada kelompok tertentu. Sirriyah bukanlah pembatasan sasaran dakwah, melainkan pengaturan cara dan tahapan dakwah.

Dakwah tetap harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Lalu, mengapa dimulai dari orang-orang tertentu?

Karena sebuah masyarakat tidak dibangun dengan menjangkau semua orang sekaligus. Ia dibangun melalui manusia-manusia yang terlebih dahulu menerima kebenaran, memahami risalah, membentuk kepribadian, lalu menjadi bagian dari bangunan masyarakat Islam.

Perhatikanlah hasil dakwah pada periode sirriyah.

Siapa saja yang masuk Islam?

Ada orang merdeka.

Ada budak.

Ada laki-laki.

Ada perempuan.

Ada pemuda.

Ada orang tua.

Ada orang kaya.

Ada orang miskin.

Ada berbagai kabilah Quraisy.

Bahkan hampir tidak ada keluarga di Mekah yang sama sekali tidak memiliki anggota yang bersentuhan dengan dakwah Islam.

Bukankah ini menunjukkan sesuatu?

Dakwah yang dilakukan secara bertahap ternyata tidak berarti dakwah yang sempit.

Justru melalui pembinaan orang-orang tertentu, dakwah mulai memasuki seluruh lapisan masyarakat.

Jika kita melihat daftar generasi pertama kaum Muslimin berdasarkan kabilah mereka, terlihat betapa luasnya jangkauan dakwah tersebut.

1. Bani Hasyim

1. Ali bin Abu Thalib
2. Ja'far bin Abu Thalib
3. Ummul Fadhl binti al-Harits
4. Ubaidah binti al-Harits
5. Asma binti Umais, istri Ja'far
6. Khadijah binti Khuwailid

2. Bani Umayyah

7. Utsman bin Affan
8. Khalid bin Sa'ad
9. Aminah binti Khalid
10. Hathib bin Amr
11. Abdullah bin Jahsy
12. Abu Ahmad bin Jahsy
13. Fathimah, istri Abu Ahmad

3. Bani Makhzum

14. Abu Salamah bin Abdul Asad
15. Iyasy bin Abi Rabi'ah
16. Asma, istri Iyasy
17. Yasir bin Amir
18. Sumayyah binti Khayyath, istri Yasir
19. Al-Arqam bin Abi Al-Arqam

4. Bani Taim

20. Abu Bakar ash-Shiddiq
21. Thalhah bin Ubaidillah
22. Amir bin Fahirah, mantan budak
23. Bilal bin Abi Rabbah, mantan budak

5. Bani Adi

24. Sa'id bin Zaid
25. Fatimah binti al-Khaththab
26. Amir bin Abi Rabi'ah
27. Na'im bin Abdullah
28. Waqid bin Abdullah
29. Khalid bin al-Bakir
30. Amir bin al-Bakir
31. Iyas bin al-Bakir

6. Bani Zuhrah

32. Sa'ad bin Abi Waqqash
33. Abdurrahman bin Auf
34. Umar bin Abi Waqqash
35. Abdullah bin Mas'ud
36. Al-Muthalib bin Azhar
37. Khabbab bin al-Aratt

7. Bani Sahm

38. Khu-nays bin Hudzafah
39. Hafshah binti Umar, istrinya

8. Bani Jamh

40. Hathib bin al-Harits
41. Fathimah, istri Hathib
42. Khaththab bin al-Harits
43. Faqihah, istrinya
44. Sa'id bin Utsman

9. Bani Asad

45. Zubair bin Awwam

10. Bani Amir

46. Abu Ubaidah bin al-Jarrah
47. Salith bin Amr

11. Dari kabilah-kabilah lainnya

48. Shuhaib bin Sinan ar-Rumi
49. Mas'ud bin Rabi'ah
50. Mu'ammar bin Habib
51. Zaid bin Haritsah
52. Amr bin Abasah
53. Utsman bin Mazh'un
54. Qudamah bin Mazh'un
55. Abdullah bin Mazh'un
56. Raqiqah, istrinya

Demikianlah, sekitar enam puluh orang dari generasi pertama Islam berasal dari berbagai lapisan masyarakat dan berbagai kabilah.

Apa yang dapat kita pelajari?

Bahwa sirriyah bukan berarti eksklusif.

Dakwah tetap bersifat universal, tetapi pembinaannya dilakukan secara bertahap.

Dakwah menjangkau masyarakat luas melalui manusia-manusia yang terlebih dahulu dibina menjadi pembawa risalah.

---

Peranan Wanita pada Periode Sirriyah

Pernahkah kita bertanya:

Di manakah posisi kaum wanita dalam fase awal perjuangan Islam?

Jawabannya sangat jelas: mereka bukan sekadar penonton.

Seperempat dari masyarakat Islam pada periode ini terdiri dari kaum wanita.

Banyak pemuda yang menerima Islam kemudian diikuti oleh istri mereka. Dengan demikian, rumah tangga menjadi salah satu ruang penting bagi pertumbuhan masyarakat Islam generasi pertama.

Kita harus memberikan perhatian yang semestinya terhadap peranan kaum wanita dalam perjalanan dakwah.

Mereka hadir sebagai:

- saudara,
- istri,
- ibu,
- pendamping perjuangan,
- dan bagian dari masyarakat Islam yang sedang dibangun.

Khadijah r.a. adalah contoh yang sangat jelas.

Ia bukan hanya orang pertama yang beriman kepada Rasulullah saw., tetapi juga menjadi pendamping yang memberikan ketenangan, dukungan, dan pengorbanan pada fase paling awal dakwah.

Demikian pula para wanita lainnya.

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Asma r.a. termasuk sosok yang berperan aktif dalam fase awal tersebut, bahkan disebut dalam konteks perjuangan pada usia yang masih sangat muda.

Lalu apa pelajarannya?

Membangun masyarakat Islam bukan pekerjaan laki-laki saja.

Jika wanita dikeluarkan dari proses pembinaan, maka separuh kekuatan masyarakat akan diabaikan.

Bukankah rumah adalah tempat pertama pembentukan manusia?

Bukankah seorang ibu memiliki pengaruh besar terhadap generasi berikutnya?

Maka peranan wanita dalam dakwah tidak boleh dipandang sebagai pelengkap.

Ia merupakan bagian dari bangunan dakwah itu sendiri.

---

Shalat: Ruh Pembinaan pada Periode Sirriyah

Di tengah dakwah yang dilakukan secara tersembunyi, ada satu perkara yang tetap hadir: shalat.

Menurut riwayat yang masyhur, tidak ada fase kehidupan kaum Muslimin yang kosong dari pelaksanaan shalat.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ketika shalat diwajibkan kepada Rasulullah saw., Jibril datang kepada beliau ketika berada di sebuah tempat di Mekah. Jibril mengajarkan tata cara wudhu dan shalat kepada beliau. Rasulullah saw. kemudian mempraktikkannya. Setelah itu Rasulullah saw. mengajarkan wudhu dan shalat kepada Khadijah r.a. dan mengimaminya.

Apa yang dapat kita renungkan dari peristiwa ini?

Dakwah boleh dilakukan secara sirriyah.

Pembinaan boleh dilakukan secara bertahap.

Tanzhim boleh dirahasiakan.

Tetapi hubungan dengan Allah tidak boleh diputuskan.

Bagaimana mungkin manusia membangun masyarakat tanpa terlebih dahulu membangun hubungan dengan Rabb-nya?

Bagaimana mungkin seseorang mampu menghadapi tekanan dakwah jika hatinya tidak memiliki tempat untuk bersandar?

Karena itu, shalat bukan sekadar aktivitas ritual.

Shalat adalah sumber kekuatan.

Shalat membentuk kedisiplinan.

Shalat menghubungkan manusia dengan Allah.

Shalat menanamkan kesadaran bahwa perjuangan manusia bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menjalankan amanah Allah.

Maka tidak mengherankan jika shalat hadir sejak fase awal pembentukan masyarakat Islam.

---

Pengetahuan Orang Quraisy tentang Dakwah

Lalu bagaimana sikap Quraisy terhadap dakwah pada masa itu?

Apakah mereka langsung marah?

Apakah mereka langsung melakukan perlawanan?

Belum.

Mengapa?

Karena fenomena kehanifan sebenarnya telah dikenal di Mekah.

Ada orang-orang seperti Zaid bin Amr bin Naufal, Waraqah bin Naufal, dan Umayyah bin Abi Shalt yang telah menunjukkan ketidakpuasan terhadap penyembahan berhala.

Masyarakat Mekah sudah mengenal orang-orang yang menjauh dari berhala.

Selama seseorang hanya melakukan pencarian spiritual secara pribadi dan tidak mengganggu sistem keyakinan serta struktur sosial yang ada, Quraisy tidak terlalu memberikan perhatian.

Rasulullah saw. sendiri sebelum kenabian biasa melakukan tahannuts di Gua Hira.

Namun Quraisy tidak menganggapnya sebagai ancaman.

Mengapa?

Karena mereka belum melihat Islam sebagai kekuatan yang akan mengubah kehidupan masyarakat.

Bahkan pada periode awal, orang-orang hanif kadang lebih mendapatkan perhatian karena mereka secara terbuka menunjukkan keraguan terhadap berhala-berhala Quraisy, sedangkan kaum Muslimin belum menyampaikan sikap tersebut secara terbuka kepada masyarakat luas.

Ada sebuah riwayat yang menggambarkan keadaan tersebut.

Seorang pedagang pernah berkunjung ke rumah Abbas. Ia melihat seorang laki-laki, seorang wanita, dan seorang anak sedang melakukan shalat dengan cara yang berbeda dari kebiasaan Quraisy.

Ia bertanya kepada Abbas tentang mereka.

Abbas menjelaskan bahwa laki-laki tersebut adalah Muhammad saw., wanita tersebut adalah Khadijah, dan anak tersebut adalah Ali.

Fenomena itu diketahui oleh sebagian masyarakat.

Namun pengetahuan tersebut belum berubah menjadi konflik terbuka.

Mengapa?

Karena dakwah masih berada dalam fase pembinaan.

---

Abu Thalib Mengetahui Dakwah

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ali r.a. sering pergi bersama Rasulullah saw. untuk melaksanakan shalat di berbagai tempat di Mekah.

Suatu hari Abu Thalib melihat keduanya sedang shalat.

Ia bertanya kepada Rasulullah saw.:

“Wahai anak saudaraku, agama apakah yang kamu anut ini?”

Rasulullah saw. menjelaskan bahwa agama tersebut adalah agama Allah, agama para malaikat-Nya, agama para rasul-Nya, dan agama Nabi Ibrahim.

Kemudian Rasulullah saw. mengajak pamannya kepada hidayah dan meminta dukungannya.

Abu Thalib belum bersedia meninggalkan agama nenek moyangnya. Tetapi ia mengatakan bahwa selama dirinya masih hidup, Rasulullah saw. tidak akan mendapatkan gangguan darinya.

Ia juga berbicara kepada Ali.

“Wahai anakku, agama apakah yang kamu anut ini?”

Ali menjawab bahwa ia beriman kepada Rasulullah saw., membenarkan apa yang dibawanya, melaksanakan shalat bersamanya, dan mengikutinya.

Abu Thalib kemudian mengatakan bahwa Muhammad tidak akan mengajak Ali kecuali kepada kebaikan.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa keberadaan kaum Muslimin pada masa itu bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak diketahui.

Tetapi ada perbedaan penting antara diketahui dan dianggap sebagai ancaman.

Quraisy mengetahui adanya sekelompok orang yang menyembah Allah dengan cara yang berbeda.

Namun selama aktivitas tersebut belum secara terbuka menantang sistem sosial dan keyakinan Quraisy, mereka belum melihatnya sebagai ancaman besar.

---

Islam yang Hanya Dipandang sebagai Urusan Pribadi

Di sinilah terdapat sebuah pelajaran penting.

Sebuah kekuasaan jahiliah mungkin saja membiarkan agama berkembang selama agama tersebut hanya dipahami sebagai keyakinan pribadi dan ibadah individual.

Mengapa?

Karena agama yang hanya berada di dalam hati tidak dianggap mengancam struktur kekuasaan.

Tetapi ketika agama mulai membentuk manusia, membangun masyarakat, memperbaiki hubungan sosial, mengubah standar benar dan salah, serta menuntut kehidupan tunduk kepada nilai-nilai wahyu, situasinya menjadi berbeda.

Maka kita perlu bertanya:

Apakah Islam hanya persoalan keyakinan pribadi?

Apakah Islam hanya persoalan ibadah di masjid?

Atau Islam memiliki konsekuensi terhadap seluruh cara manusia menjalani kehidupan?

Pertanyaan inilah yang kelak menjadi semakin penting ketika dakwah Rasulullah saw. memasuki fase terbuka.

---

Hidup Berdampingan dengan Masyarakat Lain

Pada periode sirriyah, kita tidak mendapati benturan terbuka antara komunitas Muslim yang sedang tumbuh dan masyarakat jahiliah.

Mengapa?

Karena dakwah terbuka belum menjadi sasaran utama.

Fikrah belum diumumkan kepada seluruh masyarakat.

Kaum Muslimin sedang membangun fondasi internal.

Mereka membentuk keimanan.

Mereka membangun hubungan dengan Allah.

Mereka membina persaudaraan.

Mereka menyiapkan manusia.

Karena itu, mereka belum diperintahkan untuk melakukan konfrontasi terbuka dengan masyarakat.

Bukan karena Islam tidak memiliki sikap terhadap kebatilan.

Bukan pula karena kaum Muslimin tidak memiliki keyakinan yang berbeda.

Tetapi karena setiap fase memiliki tuntutan dan prioritasnya sendiri.

Bukankah sebuah bangunan harus memiliki fondasi sebelum dindingnya didirikan?

Bukankah sebuah pohon harus memiliki akar sebelum mampu memberikan buah?

Demikian pula masyarakat Islam.

Sebelum menghadapi perubahan besar di tengah masyarakat, manusia-manusia yang menjadi fondasinya harus terlebih dahulu dibentuk.

---

Tidak Semua Kebenaran Harus Disampaikan dengan Cara yang Sama pada Setiap Fase

Pada fase ini, kaum Muslimin tidak diperintahkan untuk secara terang-terangan mengkritik, menantang, atau melakukan konfrontasi dengan masyarakat Quraisy.

Prinsipnya adalah menjaga keselamatan dakwah dan komunitas yang sedang tumbuh.

Ketidaksetujuan tidak perlu ditampakkan secara terbuka kecuali dalam keadaan yang menuntutnya.

Tanzhim dan fikrah masih harus dijaga.

Mengapa?

Karena tujuan utama fase ini bukan memenangkan perdebatan.

Tujuannya adalah membangun manusia.

Bukankah ini pelajaran penting bagi siapa pun yang ingin melakukan perubahan?

Kadang-kadang kita terlalu cepat ingin mengubah masyarakat.

Kita ingin mengkritik semua kesalahan.

Kita ingin membongkar semua kebatilan.

Kita ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kita benar.

Tetapi apakah manusia yang akan membawa perubahan itu sudah dibentuk?

Apakah iman mereka sudah kuat?

Apakah hubungan mereka dengan Allah sudah kokoh?

Apakah mereka sudah memiliki kesabaran?

Apakah mereka sudah memiliki ukhuwah?

Apakah mereka sudah mampu menanggung konsekuensi dari dakwah?

Jika jawabannya belum, mungkin persoalannya bukan kurangnya keberanian untuk berbicara.

Mungkin persoalannya adalah belum cukupnya proses pembinaan.

---

Pelajaran Besar dari Fase Sirriyah

Jika kita melihat seluruh karakteristik periode ini secara utuh, kita menemukan sebuah pola yang sangat menarik.

Dakwah bersifat umum, tetapi dilakukan melalui pembinaan orang-orang tertentu.

Masyarakat yang dibangun berasal dari berbagai lapisan, bukan kelompok sosial tertentu saja.

Wanita mengambil peranan penting.

Shalat menjadi sumber kekuatan spiritual.

Dakwah dikenal sebagian masyarakat, tetapi belum menjadi konfrontasi terbuka.

Kaum Muslimin hidup berdampingan dengan masyarakat lain.

Tanzhim dan fikrah dijaga.

Semua itu menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak membangun perubahan hanya dengan memperbanyak jumlah pengikut.

Beliau membangun manusia.

Dan manusia-manusia itulah yang kemudian menjadi fondasi masyarakat Islam.

Maka mungkin pertanyaan terpenting bagi kita bukan:

“Berapa banyak orang yang telah mengikuti dakwah?”

Tetapi:

“Berapa banyak manusia yang benar-benar telah berubah karena dakwah?”

Bukan sekadar berapa banyak yang mendengar.

Tetapi berapa banyak yang memahami.

Bukan sekadar berapa banyak yang mengaku beriman.

Tetapi berapa banyak yang menjadikan iman sebagai kekuatan hidup.

Bukan sekadar membangun kerumunan.

Tetapi membangun pribadi.

Karena perubahan masyarakat pada akhirnya bermula dari perubahan manusia.

Dan perubahan manusia tidak terjadi dalam satu malam.

Ia membutuhkan iman, pembinaan, kesabaran, kedisiplinan, ukhuwah, dan proses yang bertahap.

Inilah salah satu pelajaran besar dari fase sirriyah dalam perjalanan dakwah Rasulullah saw.:

Dakwah boleh dilakukan secara bertahap, tetapi cita-citanya tetap universal.

Pembinaan boleh dimulai dari sedikit orang, tetapi tujuannya adalah kebaikan bagi seluruh masyarakat.

Dan sebelum sebuah masyarakat berubah, selalu ada manusia-manusia yang terlebih dahulu ditempa untuk menjadi pembawa perubahan.

Sudahkah Kita Mengenali dan Mensyukuri Nikmat Allah? Per...

Sudahkah Kita Mengenali dan Mensyukuri Nikmat Allah?



Pernahkah kita memperhatikan sesuatu yang sederhana dalam kehidupan kita?

Ketika seseorang memberikan bantuan kepada kita, meskipun kecil, sering kali kita segera mengucapkan terima kasih. Bahkan kita dapat berkali-kali memuji orang yang telah membantu kita. Kita mengingat kebaikannya dan merasa berutang budi kepadanya.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk menghitung nikmat Allah yang kita terima setiap hari?

Bukankah nikmat-Nya jauh lebih besar daripada bantuan manusia kepada kita?

Kita menerima penglihatan, pendengaran, akal, kesehatan, makanan, air, udara, keluarga, keamanan, kesempatan hidup, dan begitu banyak nikmat lainnya tanpa pernah mampu membayarnya. Bahkan kita sering menikmatinya tanpa menyadari bahwa semua itu adalah karunia Allah.

Seolah-olah nikmat tersebut adalah hak kita.

Seolah-olah kita memperolehnya semata-mata karena usaha kita sendiri.

Lebih ironis lagi, ada manusia yang menggunakan nikmat Allah justru untuk mendurhakai-Nya.

Bukankah ini sebuah kelalaian?

Bukankah ini bentuk ketidaksyukuran yang sangat besar?

Allah berfirman,

«“Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila Dia telah menghilangkan kemudharatan itu daripada kamu, tiba-tiba sebagian dari kamu mempersekutukan Tuhannya dengan (yang lain). Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; maka bersenang-senanglah kamu, kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).”
(QS. An-Nahl: 53–55)»

Sering kali manusia baru menyadari nilai sebuah nikmat setelah nikmat itu hilang.

Ketika mata masih melihat, kita jarang memikirkannya. Ketika pendengaran masih berfungsi, kita tidak banyak merenungkannya. Ketika tubuh sehat, kita menganggap kesehatan sebagai sesuatu yang biasa.

Tetapi ketika sakit datang, ketika penglihatan terganggu, ketika pendengaran hilang, atau ketika anggota tubuh tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, barulah kita menyadari betapa mahalnya nikmat yang selama ini kita miliki.

Mengapa harus menunggu kehilangan untuk bersyukur?

Mengapa harus menunggu musibah untuk mengenal karunia Allah?

Allah telah mengingatkan kita,

«“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat).”
(QS. Ibrahim: 34)»

Karena itu, Al-Qur’an mengajak kita bukan sekadar menerima nikmat, tetapi mengenali nikmat, menyadari sumbernya, menghargainya, memuji Allah atasnya, dan menggunakannya untuk menaati-Nya.

Mari kita berhenti sejenak.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita benar-benar mengenal nikmat Allah yang selama ini kita nikmati?

---

Nikmat Terbesar: Nikmat Islam

Mari kita mulai dari nikmat yang paling besar dan paling agung: nikmat Islam.

Allah berfirman,

«“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)»

Allah juga berfirman,

«“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)»

Dan,

«“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama) itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Ali ‘Imran: 85)»

Lalu, apakah kita benar-benar menyadari besarnya nikmat Islam?

Sebagian kaum Muslimin mungkin kurang merasakan nilainya karena mereka memperoleh Islam melalui keluarga. Mereka lahir dari orang tua Muslim, tumbuh dalam lingkungan Muslim, mendengar azan sejak kecil, dan mengenal nama Allah sejak masih kanak-kanak.

Karena tidak perlu bersusah payah mendapatkannya, terkadang kita justru tidak menyadari betapa mahalnya nikmat tersebut.

Padahal nikmat Islam adalah nikmat yang tidak dapat dibandingkan dengan nikmat dunia apa pun.

Kehilangan harta adalah musibah.

Kehilangan pekerjaan adalah musibah.

Kehilangan sebagian kesehatan adalah musibah.

Kehilangan orang yang kita cintai adalah musibah.

Tetapi kehilangan agama jauh lebih besar daripada semua itu.

Sebab harta hanya menemani kita di dunia. Sedangkan agama menentukan keselamatan kita di dunia dan akhirat.

Dengan Islam, manusia menemukan arah hidup, mengenal Rabb-nya, mengetahui tujuan penciptaannya, memahami halal dan haram, serta memiliki harapan terhadap kehidupan setelah kematian.

Karena itu, Rasulullah saw. mengajarkan doa agar musibah terbesar bukanlah musibah dunia, tetapi musibah yang menimpa agama.

Maka pantaskah kita hanya bangga karena terlahir sebagai Muslim?

Bukankah kita harus berusaha menjadi Muslim yang benar-benar tunduk kepada Allah, bukan sekadar Muslim karena keturunan dan pengakuan?

Allah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang sangat indah:

«“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.”
(QS. Al-A’raf: 43)»

Maka jangan hanya berkata, “Saya seorang Muslim.”

Tetapi tanyakan kepada diri:

Apakah nikmat Islam itu telah mengubah cara saya hidup?

Apakah Islam telah menjadi pedoman dalam pikiran, perkataan, pekerjaan, keluarga, dan seluruh kehidupan saya?

---

Mempertahankan Nikmat Islam Sampai Akhir Hayat

Mendapatkan nikmat Islam adalah karunia.

Tetapi mempertahankannya sampai akhir hayat adalah perjuangan.

Allah berfirman,

«“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu sekali-kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)»

Perhatikanlah doa Nabi Yusuf a.s.

Setelah Allah memberinya kekuasaan, ilmu, dan kedudukan, beliau tidak meminta agar kekuasaannya bertambah.

Beliau justru memohon keselamatan yang lebih besar:

«“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah mengaruniakan kerajaan kepadaku dan mengajarkan kepadaku sebagian dari takwil mimpi. Ya Tuhanku, Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.”
(QS. Yusuf: 101)»

Mengapa Nabi Yusuf berdoa demikian?

Karena segala sesuatu pada akhirnya dinilai dari kesudahannya.

Bukan hanya bagaimana kita memulai hidup, tetapi bagaimana kita mengakhirinya.

Bukan hanya berapa banyak yang kita miliki, tetapi dalam keadaan apa kita bertemu dengan Allah.

---

Nikmat Ukhuwah

Setelah nikmat Islam, ada nikmat besar lainnya yang sering kita lupakan: ukhuwah karena Allah.

Pernahkah kita merasakan nikmat memiliki saudara yang mencintai kita bukan karena harta, jabatan, keturunan, atau kepentingan dunia, tetapi karena Allah?

Ada orang yang mengingatkan kita ketika kita salah.

Ada yang mendoakan kita ketika kita tidak mengetahuinya.

Ada yang menolong ketika kita kesulitan.

Ada yang menasihati ketika kita mulai menyimpang.

Ada yang ikut bahagia ketika kita mendapatkan kebaikan.

Bukankah semua itu nikmat?

Allah berfirman,

«“Dan (Allah-lah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
(QS. Al-Anfal: 63)»

Dan Allah berfirman,

«“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)»

Bayangkan kehidupan tanpa ukhuwah.

Bagaimana rasanya hidup di tengah orang-orang yang hatinya dipenuhi dendam?

Bagaimana rasanya hidup bersama orang yang selalu iri terhadap keberhasilan kita?

Bagaimana rasanya hidup dalam lingkungan yang dipenuhi kebencian, permusuhan, dan saling menjatuhkan?

Bukankah kehidupan seperti itu sangat melelahkan?

Maka ketika Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang mencintai kita karena-Nya, jangan anggap itu sesuatu yang biasa.

Itu nikmat.

Dan nikmat harus disyukuri.

---

Pernahkah Kita Membayangkan Kehilangan Penglihatan?

Sekarang mari kita turun kepada nikmat yang lebih dekat dengan tubuh kita.

Cobalah duduk sendirian sejenak.

Pejamkan mata.

Bayangkan suatu hari penglihatan kita benar-benar hilang.

Dokter mengatakan bahwa penglihatan itu tidak mungkin kembali.

Bagaimana kehidupan kita setelah itu?

Bagaimana kita bekerja?

Bagaimana kita membaca?

Bagaimana kita berjalan?

Bagaimana kita mengenali wajah orang yang kita cintai?

Bagaimana kita menikmati keindahan alam?

Betapa banyak aktivitas yang tiba-tiba menjadi sulit.

Pada saat itu, bukankah kita akan menyadari bahwa penglihatan ternyata jauh lebih berharga daripada harta yang selama ini kita kejar?

Jika seseorang menawarkan pilihan:

“Kamu boleh memiliki harta yang sangat banyak, tetapi kehilangan penglihatanmu, atau mempertahankan penglihatanmu tanpa mendapatkan harta itu.”

Apa yang akan kita pilih?

Bukankah kita akan memilih penglihatan?

Lalu mengapa ketika mata masih sehat, kita gunakan untuk melihat sesuatu yang Allah haramkan?

Mengapa kita baru berjanji untuk taat setelah kehilangan?

Mengapa tidak bersyukur sebelum musibah datang?

---

Bagaimana Jika Pendengaran Pun Hilang?

Sekarang bayangkan sesuatu yang lebih berat.

Penglihatan hilang.

Kemudian pendengaran pun hilang.

Kita tidak dapat melihat dunia dan tidak dapat mendengar suara di sekitar kita.

Betapa sempit rasanya kehidupan.

Betapa besar kebutuhan kita kepada orang lain.

Saat itulah kita mungkin baru menyadari:

Ternyata mendengar adalah nikmat.

Suara anak kita adalah nikmat.

Suara pasangan kita adalah nikmat.

Suara azan adalah nikmat.

Suara Al-Qur’an adalah nikmat.

Suara orang yang memberi nasihat adalah nikmat.

Bukankah selama ini kita sering mendengar semuanya tanpa pernah benar-benar bersyukur?

Karena itu, selama pendengaran masih diberikan, mari kita gunakan untuk mendengar yang halal dan bermanfaat.

Jangan tunggu pendengaran hilang untuk mengetahui nilainya.

---

Bagaimana Jika Suara Kita Pun Hilang?

Sekarang bayangkan suara kita pun tidak dapat digunakan.

Kita ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tidak mampu mengucapkannya.

Orang lain ingin memahami keinginan kita, tetapi kita kesulitan menyampaikannya.

Betapa beratnya berkomunikasi.

Bukankah kemampuan berbicara adalah nikmat?

Maka selama suara masih ada, mengapa kita gunakan untuk mencela?

Mengapa untuk berdusta?

Mengapa untuk menyakiti?

Mengapa untuk menyebarkan keburukan?

Bukankah lebih pantas jika kita berkata:

“Ya Allah, selama Engkau memberikan suara kepadaku, jadikan lisanku sebagai sarana untuk berkata benar, mengingat-Mu, menasihati dalam kebaikan, dan tidak menyakiti hamba-Mu.”

---

Nikmat Akal

Lalu bagaimana dengan akal?

Ini adalah nikmat yang sangat besar.

Kita dapat berpikir.

Kita dapat memahami.

Kita dapat membedakan yang bermanfaat dan yang berbahaya.

Kita dapat belajar.

Kita dapat mengambil pelajaran dari masa lalu.

Kita dapat mengenal tanda-tanda kebesaran Allah.

Cobalah bayangkan jika tubuh kita sehat, mata kita melihat, telinga kita mendengar, tetapi kemampuan berpikir kita hilang.

Kita tidak mampu memahami apa yang terjadi.

Kita tidak mampu mengendalikan tindakan.

Kita tidak mampu berkomunikasi secara normal dengan orang lain.

Bukankah saat itu kita akan menyadari betapa agungnya nikmat akal?

Karena itu, akal jangan digunakan untuk mencari jalan menuju kemurkaan Allah.

Gunakan akal untuk mengenal Allah.

Gunakan untuk memahami wahyu-Nya.

Gunakan untuk mencari ilmu.

Gunakan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan.

Gunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia.

---

Tubuh yang Sehat: Nikmat yang Sering Dianggap Biasa

Masih banyak nikmat lain pada tubuh kita.

Tangan.

Jari-jemari.

Kaki.

Telapak kaki.

Saraf.

Jantung.

Paru-paru.

Ginjal.

Lambung.

Dan berbagai organ yang bekerja tanpa pernah kita perintah satu per satu.

Pernahkah kita bertanya:

Siapa yang membuat semuanya bekerja begitu teratur?

Satu gangguan kecil pada sistem tubuh dapat mengubah kehidupan seseorang secara drastis.

Satu saraf yang terganggu dapat menyebabkan kelumpuhan.

Satu organ yang gagal berfungsi dapat membuat seseorang harus menjalani perawatan panjang.

Maka Allah mengingatkan,

«“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”
(QS. Al-Infithar: 6–8)»

Lalu mengapa kita masih merasa biasa saja?

Mengapa kita baru menyadari nikmat kesehatan ketika sakit?

Bukankah lebih baik bersyukur ketika sehat daripada menyesal ketika sakit?

---

Air, Udara, Makanan, dan Kehangatan

Tubuh kita membutuhkan makanan.

Membutuhkan air.

Membutuhkan udara.

Membutuhkan suhu yang sesuai.

Semua itu tersedia di sekitar kita.

Tetapi pernahkah kita memikirkan perjalanan sebuah gelas air sampai ke tangan kita?

Air laut menguap.

Uap air naik.

Awan terbentuk.

Angin membawa dan menggerakkannya.

Hujan turun.

Air mengalir melalui tanah, pegunungan, sungai, dan berbagai saluran.

Kemudian air itu sampai kepada kita.

Kita hanya membuka keran.

Air mengalir.

Kita minum.

Selesai.

Tetapi apakah sesederhana itu?

Tidak.

Di balik segelas air terdapat rangkaian proses yang sangat panjang dan berada dalam ketetapan Allah.

Allah berfirman,

«“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”
(QS. Al-Anbiya: 30)»

Begitu pula udara.

Kita menghirupnya tanpa membeli.

Kita tidak menghitung setiap tarikan napas.

Kita tidak memikirkan nilainya setiap detik.

Namun jika udara terhenti hanya beberapa saat saja, kita akan menyadari betapa mahalnya nikmat tersebut.

Maka mengapa kita tidak bersyukur ketika masih dapat bernapas?

---

Nikmat Keluarga

Bagaimana dengan pasangan hidup?

Bagaimana dengan anak-anak?

Bukankah mereka juga nikmat Allah?

Allah mengajarkan doa,

«“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)»

Pasangan yang saleh bukan sekadar teman hidup.

Ia dapat menjadi tempat beristirahatnya jiwa.

Ia dapat menjadi teman dalam ketaatan.

Ia dapat menjadi orang yang mengingatkan ketika kita lalai.

Demikian pula anak.

Anak yang saleh dapat menjadi sumber kebahagiaan dan doa bagi orang tuanya.

Sebaliknya, pasangan atau keturunan yang tidak baik dapat menjadi sumber kesusahan dan fitnah.

Maka jangan hanya meminta keluarga yang membahagiakan kita.

Mintalah kepada Allah agar kita juga menjadi pasangan dan orang tua yang membahagiakan keluarga kita.

Allah berfirman,

«“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Rum: 21)»

---

Sudahkah Kita Berpikir?

Allah berfirman,

«“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki bagimu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan pula bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan pula bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar dalam orbitnya; dan telah memberikan kepadamu keperluanmu dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(QS. Ibrahim: 32–34)»

Maha benar Allah.

Kita tidak akan mampu menghitung nikmat-Nya.

Bahkan kemampuan kita untuk menghitung pun merupakan nikmat dari-Nya.

Kita tidak mampu memenuhi seluruh hak syukur kepada-Nya.

Karena itu, bagaimana mungkin kita sombong?

Bagaimana mungkin kita merasa tidak membutuhkan-Nya?

Bagaimana mungkin kita menggunakan nikmat-Nya untuk mendurhakai-Nya?

---

Pernahkah Kita Memikirkan Nikmat Malam dan Siang?

Kita terbiasa dengan pergantian siang dan malam.

Pagi datang.

Siang berlalu.

Malam tiba.

Kita tidur.

Kemudian bangun kembali.

Semuanya terasa biasa.

Tetapi bagaimana jika malam tidak pernah berakhir?

Allah berfirman,

«“Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan siang kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?’”
(QS. Al-Qashash: 71)»

Allah melanjutkan,

«“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.”
(QS. Al-Qashash: 73)»

Tidur pun nikmat.

Bayangkan seseorang ingin tidur, tetapi tidak mampu tidur.

Ia berbaring berjam-jam.

Tubuhnya lelah.

Pikirannya ingin beristirahat.

Tetapi matanya tidak kunjung terpejam.

Saat itu ia akan memahami:

Ternyata tidur adalah nikmat.

Demikian pula bangun.

Demikian pula pagi.

Demikian pula siang.

Demikian pula malam.

Semuanya adalah nikmat Allah.

---

Apakah Engkau Telah Bersyukur?

Sungguh, kita tidak akan mampu menyelesaikan pembicaraan tentang nikmat Allah.

Bagaimana mungkin?

Setiap detik kehidupan kita dipenuhi nikmat.

Ketika bergerak, ada nikmat.

Ketika berbicara, ada nikmat.

Ketika makan, ada nikmat.

Ketika minum, ada nikmat.

Ketika tidur, ada nikmat.

Ketika bangun, ada nikmat.

Ketika melihat, ada nikmat.

Ketika mendengar, ada nikmat.

Ketika mencium, ada nikmat.

Ketika merasakan, ada nikmat.

Bahkan ketika kita mampu mengucapkan “Alhamdulillah”, kemampuan itu sendiri adalah nikmat.

Maka pertanyaannya bukan lagi:

“Berapa banyak nikmat yang saya miliki?”

Sebab kita tidak akan mampu menghitungnya.

Pertanyaannya adalah:

“Sudahkah saya menyadari nikmat tersebut?”

“Sudahkah saya bersyukur?”

“Untuk apa saya menggunakan nikmat itu?”

Sebab syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah.

Syukur juga berarti menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang Allah ridhai.

Mata yang disyukuri adalah mata yang dijaga dari yang haram.

Telinga yang disyukuri adalah telinga yang digunakan untuk mendengar kebenaran.

Lisan yang disyukuri adalah lisan yang berkata baik.

Akal yang disyukuri adalah akal yang digunakan untuk mengenal Allah dan mencari kebenaran.

Harta yang disyukuri adalah harta yang digunakan pada jalan yang halal.

Kesehatan yang disyukuri adalah kesehatan yang digunakan untuk ketaatan.

---

Jangan Mengukur Nikmat Hanya dengan Uang

Salah satu kesalahan manusia adalah menganggap nikmat hanya berupa pendapatan.

Jika gajinya bertambah, ia merasa Allah memuliakannya.

Jika penghasilannya berkurang, ia merasa Allah menghinakannya.

Padahal Allah berfirman,

«“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan diberinya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.’”
(QS. Al-Fajr: 15–16)»

Benarkah kemuliaan hanya diukur dengan banyaknya harta?

Benarkah kesempitan rezeki selalu berarti kehinaan?

Tidak.

Hidup ini adalah ujian.

Allah berfirman,

«“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)»

Kita diuji dengan kekayaan.

Kita juga diuji dengan kemiskinan.

Kita diuji dengan kesehatan.

Kita juga diuji dengan sakit.

Kita diuji dengan keberhasilan.

Kita juga diuji dengan kegagalan.

Kita diuji dengan kelapangan.

Kita juga diuji dengan kesempitan.

Maka jangan hanya bertanya:

“Mengapa Allah memberikan ini kepadaku?”

Tetapi bertanyalah:

“Apa yang Allah kehendaki dariku melalui nikmat ini?”

---

Dari Menikmati Nikmat Menuju Mengenal Pemberi Nikmat

Setelah perjalanan panjang ini, semoga kita memperoleh satu bekal penting: ma’rifah terhadap karunia Allah.

Kita mulai menyadari bahwa seluruh kehidupan kita bergantung kepada-Nya.

Kita tidak berdiri sendiri.

Kita tidak hidup dengan kekuatan kita sendiri.

Kita tidak bernapas dengan kemampuan kita sendiri.

Kita tidak melihat dengan kekuatan kita sendiri.

Kita tidak berpikir dengan kekuatan kita sendiri.

Bahkan kemampuan kita untuk berusaha pun merupakan nikmat Allah.

Lalu, bagaimana mungkin kita menggunakan nikmat-Nya untuk melawan-Nya?

Bagaimana mungkin mata yang Allah berikan digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya?

Bagaimana mungkin telinga yang Allah berikan digunakan untuk mendengar sesuatu yang Dia murkai?

Bagaimana mungkin lisan yang Allah berikan digunakan untuk menyakiti hamba-hamba-Nya?

Bagaimana mungkin harta yang Allah titipkan digunakan untuk sesuatu yang haram?

Nikmat yang tidak disyukuri dapat berubah menjadi bencana.

Sebab masalahnya bukan hanya pada apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menggunakan apa yang kita miliki.

---

Mari Bertanya kepada Diri Sendiri

Maka sebelum kita mengakhiri renungan ini, mari duduk sejenak bersama diri kita sendiri.

Tanyakanlah:

Sudahkah aku bersyukur atas nikmat Islam?

Sudahkah aku menjaga iman yang Allah karuniakan kepadaku?

Sudahkah aku mensyukuri keluarga yang Allah berikan?

Sudahkah aku mensyukuri kesehatan sebelum kesehatan itu hilang?

Sudahkah aku menggunakan mataku untuk melihat yang halal?

Sudahkah aku menggunakan telingaku untuk mendengar kebaikan?

Sudahkah aku menggunakan lisanku untuk berkata benar?

Sudahkah aku menggunakan akalku untuk mengenal Allah?

Sudahkah aku menggunakan hartaku untuk sesuatu yang diridhai-Nya?

Sudahkah aku mensyukuri waktu yang setiap hari berlalu tanpa pernah kembali?

Dan pertanyaan yang paling penting:

Jika semua nikmat yang sedang kita nikmati hari ini adalah titipan Allah, apakah kita telah menggunakan titipan itu sesuai dengan kehendak Pemiliknya?

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita miliki.

Padahal Allah telah memberikan begitu banyak hal yang bahkan tidak pernah kita minta.

Mungkin kita terlalu sibuk mengeluhkan kekurangan.

Padahal ada jutaan nikmat yang setiap hari bekerja dalam tubuh dan kehidupan kita tanpa kita sadari.

Mungkin kita terlalu sering meminta tambahan nikmat.

Padahal kita belum selesai mensyukuri nikmat yang sudah ada.

Maka mulai hari ini, jangan hanya melihat apa yang hilang.

Lihatlah apa yang masih Allah berikan.

Jangan hanya menghitung kekurangan.

Hitunglah karunia.

Jangan menunggu musibah untuk belajar bersyukur.

Bersyukurlah sebelum kehilangan.

Jangan menunggu sakit untuk mengenal nikmat sehat.

Kenalilah kesehatan ketika tubuh masih kuat.

Jangan menunggu kehilangan iman untuk memahami nikmat Islam.

Jagalah iman sebelum ajal datang.

Dan jangan menunggu kehidupan berakhir untuk menyadari bahwa seluruh kehidupan ini adalah karunia.

Sebab pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengenali nikmat-Nya, mengakui karunia-Nya, memuji-Nya atas segala pemberian-Nya, serta menggunakan seluruh nikmat tersebut untuk menaati-Nya.

Ya Allah, jangan jadikan nikmat-Mu yang kami terima sebagai sebab kami semakin jauh dari-Mu.

Jadikanlah setiap nikmat yang Engkau berikan sebagai jalan bagi kami untuk semakin mengenal-Mu, mencintai-Mu, menaati-Mu, dan bersyukur kepada-Mu.

Amin.

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (16) Dakwah (18) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (11) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (114) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (9) Nusantara (297) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (714) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (322) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)