Perlawanan Petinggi Yahudi Terhadap Zionisme Israel
Tidak jarang telontar peringatan setiap kali terjadi pelanggaran terhadap hukum internasional oleh Israel.
Di sini hanya disebutkan dua contoh yang telah diteriaki dengan keras, sebagaimana yang direnungkan oleh jutaan orang Yahudi, tetapi tanpa kekuasaan untuk mengungkapkannya di depan umum akibat inkuisisi intelektual yang dilancarkan oleh lobi israelo-Zionis.
Pada saat dilangsungkan proses pengadilan terhadap Eichman pada tahun 1960 di Jerusalem, American Council for Judaism menyatakan,
"Dewan Judaisme Amerika telah mengirimkan surat kepada Christian Herter supaya menolak pemerintah Israel untuk berbicara atas nama seluruh orang Yahudi. Dewan menyatakan bahwa Judaisme adalah masalah keagamaan, bukan kewarganegaraan." (Le Monde, 21 Juni 1960)
Saat berlangsungnya invasi Israel ke Lebanon, Profesor Benjamin Cohen dari Universitas Tel-Aviv, pada tanggal 8 Juni 1982, menulis kepada Profesor Vidal-Naquet,
"Saya menulis surat untuk Anda sambil mendengarkan radio yang baru saja mengumumkan bahwa negara kita baru saja mencapai tujuan kita di Lebanon: menjamin 'perdamaian' terhadap penduduk Galilea. Kebohongan yang setara dengan Goebbels ini membuat saya gila. Jelas bahwa perang liar ini lebih barbar dari yang sebelumnya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan serangan bom di London ataupun dengan keamanan di Galilea. Orang-orang Yahudi, putra Abraham. Orang-orang Yahudi sendiri yang merupakan korban dari banyak kekejaman, dapatkah mereka menjadi sekejam itu? Sukses terbesar dari Zionisme hanya ini: 'dejudaisasi' orang-orang Yahudi.
Kawanku, lakukan sesuatu untuk mencegah Begin dan Sharon supaya tidak mencapai tujuan ganda: penghancuran final (kata-kata yang sangat populer di sini saat ini) orang-orang Palestina sebagai bangsa dan penghancuran orang-orang Israel sebagai manusia." (Surat yang di-publikasikan dalam harian Le Monde, 19 Juni 1982, hlm. 2)
"Profesor Leibowitz menilai bahwa politik Israel di Lebanon termasuk Judeo-Nazi." (Yediot Aharonoth, 2 Juli 1982)
Itulah masalah yang timbul dari pertarungan antara keimanan Yahudi yang berdasarkan tradisi kenabian dan nasionalisme Zionis, yang didirikan atas dasar penolakan terhadap yang lain dan penyucian diri sendiri.
Semua nasionalisme membutuhkan penyucian terhadap tuntutan-tuntutannya: setelah terjadi dislokasi agama Kristen, setiap negara menganggap telah menerima warisan suci dan telah menerima pelantikan dari Tuhan.
Prancis adalah "Putri Sulung Gereja (Vatican)" yang dilengkapi dengan aksi Tuhan (Gesta Dei per Francos). Jerman berada "di atas semuanya" karena Tuhan bersamanya (Gott mit uns). Eva Peron memproklamirkan bahwa misi Argentina adalah membawa Tuhan ke bumi.
Pada tahun 1972, Perdana Menteri Afrika Selatan, Vorster, yang terkenal dengan rasisme liar "apartheid", pada gilirannya berkata, "Jangan kita lupa bahwa kita adalah rakyat Tuhan yang dibekali dengan satu misi...." Nasionalisme Zionis juga berbagi kemabukan ini dengan seluruh nasionalisme lainnya.
Orang yang cerdas sekalipun membiarkan dirinya tergoda oleh "kemabukan" ini.
Bahkan, orang yang seperti Profesor André Neher sekalipun, dalam bukunya yang indah, L'Essence du Prophétisme Esensi Kenabian', terbitan Calmann-Levi, 1992, hlm. 331, setelah menjelaskan dengan baik arti universal dari "Persekutuan": Persekutuan Tuhan dengan manusia, ia, sampai menulis,
"Israel adalah sebuah tanda luar biasa dari sejarah Ilahiah di dunia. Israel adalah poros, saraf, dan jantung dunia." (hlm. 311)
Pembicaraan yang demikian membangkitkan dengan marah "mitos Arya yang ideologinya adalah dasar dari Pan-Germanisme dan Hitlerisme. Dalam jalur ini, kita berada di antipoda dari ajaran nabi-nabi dan dari buku tulisan Martin Buber, Je et Tu 'Saya dan Kamu', yang mengesankan.
Eksklusivisme melarang dialog: kita tidak dapat "berdialog", baik dengan Hitler maupun Begin, karena superioritas rasial dan persekutuannya dengan Tuhan, tidak memungkinkan mereka mendengar orang lain.
Hal ini karena kami mempunyai kesadaran bahwa pada masa kini tidak ada pilihan lain kecuali dialog atau perang, dan bahwa dialog seperti apa yang telah kami ulang-ulangi, bahwa setiap orang memiliki kesadaran terhadap apa yang kurang pada keimanannya, dan setiap orang membutuhkan orang lain untuk melengkapi apa yang kosong dalam dirinya. Kekosongan ini merupakan kondisi yang melampaui segalanya dan dari segala nafsu yang cepat puas (yang merupakan nyawa dari segala keimanan hidup).
Antologi kami mengenai kejahatan yang dilakukan orang Zionis, terletak dalam perpanjangan usaha-usaha dari orang-orang Yahudi yang telah berupaya untuk membela satu Judaisme kenabian melawan satu Zionisme kesukuan.
Apa yang menjadi sumber energi antisemitisme bukan berasal dari kritik politik agresi, politik kebohongan, ataupun darah Zionisme Israel.
Akan tetapi dukungan tak bersyarat atas politik ini yang mengambil beberapa hal saja dari tradisi Judaisme berdasarkan interpretasi harfiah kitab suci, dalam rangka menjustifikasikan politik ini dan mengangkatnya di atas segala hukum inter nasional dengan cara mengkeramatkannya melalui mitos-mitos kemarin dan mari ini.
0 komentar: