basmalah Pictures, Images and Photos
DALAM MENGIKUTI SUNAH TERDAPAT BEKAL - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

DALAM MENGIKUTI SUNAH TERDAPAT BEKAL Sunah Rasulullah saw. memiliki kedudukan y...

DALAM MENGIKUTI SUNAH TERDAPAT BEKAL




DALAM MENGIKUTI SUNAH TERDAPAT BEKAL

Sunah Rasulullah saw. memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam kehidupan seorang muslim. Ia bukan sekadar kumpulan perkataan dan perbuatan Nabi, melainkan cermin pertama dan paling nyata dari bagaimana Islam diterapkan dalam kehidupan. Sunah menjelaskan Kitabullah, menerjemahkan ajaran Al-Qur’an ke dalam kehidupan, dan menjadi sumber kedua dalam syariat Islam.

Karena itu, jika Al-Qur’an adalah sumber perbekalan yang tidak pernah habis, maka Sunah adalah jalan untuk menggali dan menghidupkan perbekalan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum berbicara tentang bekal yang kita peroleh dengan mengikuti Sunah, kita perlu merenungkan kembali kedudukan dan urgensinya. Renungan ini semakin penting ketika pada zaman kita muncul berbagai upaya untuk mengecilkan peran Sunah, meragukan otoritasnya, bahkan memisahkan Al-Qur’an dari penjelasan Rasulullah saw.

Padahal, bagaimana mungkin seseorang mengaku menerima Islam, tetapi pada saat yang sama ragu terhadap petunjuk Rasul yang membawa dan menjelaskan Islam itu sendiri?

Mengapa Kita Harus Mengikuti Sunah?

Sikap seorang muslim terhadap Rasulullah saw. bukanlah perkara tambahan dalam keislamannya. Ia merupakan bagian dari konsekuensi iman.

Allah Swt. berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)

Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. An-Nur: 51)

Bahkan Allah memberikan ukuran yang sangat tegas mengenai iman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa: 65)

Lalu Allah mengaitkan kecintaan kepada-Nya dengan mengikuti Rasulullah saw.:

“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.’”
(QS. Ali ‘Imran: 31–32)

Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: seberapa sungguh-sungguh kita mencintai Allah jika mengikuti Rasulullah saw. masih terasa sebagai sesuatu yang berat?

Allah tidak hanya menjanjikan cinta kita kepada-Nya, tetapi juga cinta-Nya kepada kita, ketika kita mengikuti Rasulullah saw.

Maka seorang muslim yang tulus tidak seharusnya memandang Sunah sebagai beban tambahan dalam agama. Sunah justru merupakan jalan yang menunjukkan bagaimana iman diterjemahkan menjadi kehidupan.

Sunah Adalah Petunjuk Kehidupan

Jika kita benar-benar meyakini bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah dan Muhammad saw. adalah utusan Allah, maka mengikuti petunjuk beliau seharusnya menjadi sesuatu yang alami dalam kehidupan kita.

Sebab manusia membutuhkan petunjuk. Akal manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, tetapi juga memiliki keterbatasan. Pengalaman manusia terus berkembang, tetapi tidak selalu menghasilkan kebenaran. Tradisi masyarakat dapat diwariskan turun-temurun, tetapi tidak semuanya benar. Karena itu, manusia membutuhkan petunjuk dari Penciptanya.

Allah Swt. berfirman:

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Thaha: 123–124)

Dengan demikian, mengikuti Al-Qur’an dan Sunah bukan sekadar persoalan mempertahankan identitas keagamaan. Ia berkaitan dengan arah kehidupan manusia: apakah ia berjalan menuju petunjuk atau mengikuti jalan yang dibuat oleh hawa nafsu, kebiasaan, dan tekanan lingkungan.

Dalam sebuah hadis yang masyhur disebutkan:

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunahku.”

Para sahabat yang hidup bersama Rasulullah saw. memahami persoalan ini dengan sangat serius. Mereka tidak memandang perkataan dan perbuatan Nabi sebagai sesuatu yang hanya berkaitan dengan masjid atau ritual keagamaan. Mereka memperhatikan bagaimana Rasulullah berbicara, makan, tidur, bermuamalah, memimpin, mendidik, menyelesaikan perselisihan, memperlakukan keluarga, dan berinteraksi dengan masyarakat.

Mengapa?

Karena mereka memahami bahwa kehidupan Rasulullah saw. adalah kehidupan yang dibimbing wahyu.

Dari Ibadah Ritual Menuju Seluruh Kehidupan

Sering kali kita memahami ibadah hanya dalam bentuk shalat, puasa, zakat, dan haji. Padahal kehidupan seorang muslim jauh lebih luas daripada itu.

Makan, minum, tidur, bekerja, belajar, mencari nafkah, menikah, mendidik anak, bermuamalah, memimpin, bahkan cara kita berbicara kepada orang lain, semuanya dapat menjadi ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Dalam ibadah ritual, kita memahami pentingnya mengikuti tuntunan Rasulullah saw. Kita tidak melaksanakan shalat menurut selera sendiri. Kita tidak menentukan sendiri tata cara haji. Kita tidak menciptakan bentuk puasa yang kita anggap paling baik.

Lalu mengapa ketika memasuki wilayah kehidupan sehari-hari kita merasa bebas menentukan semuanya berdasarkan selera, tren, adat, atau budaya yang sedang dominan?

Bukankah kehidupan sehari-hari juga bagian dari amanah Allah?

Bayangkan sebuah perusahaan yang memproduksi sebuah alat. Perusahaan itu biasanya menyertakan petunjuk penggunaan agar alat tersebut dapat digunakan dengan benar, optimal, dan tidak cepat rusak.

Jika manusia menerima logika sederhana ini terhadap sebuah produk buatan manusia, bagaimana dengan manusia yang diciptakan oleh Allah?

Allah adalah Pencipta kita. Dia mengetahui apa yang memperbaiki dan apa yang merusak kita; apa yang membawa maslahat dan apa yang mendatangkan mudarat. Karena itu, Dia memberikan petunjuk melalui Kitab-Nya dan melalui Rasul-Nya.

Maka mengikuti Sunah bukanlah kehilangan kebebasan. Justru di dalam petunjuk itulah manusia menemukan jalan agar kebebasannya tidak berubah menjadi kesesatan.

Sunah Melahirkan Kesadaran

Ada bekal yang sangat penting dari mengikuti Sunah: kesadaran.

Ketika seseorang berusaha mengikuti Rasulullah saw. dalam berbagai aspek kehidupannya, ia tidak lagi menjalani hidup secara sembarangan. Ia mulai bertanya sebelum bertindak:

Bagaimana Rasulullah melakukan hal ini?

Bagaimana beliau berbicara dalam keadaan seperti ini?

Bagaimana beliau menghadapi orang yang berbeda pendapat?

Bagaimana beliau memperlakukan keluarga, tetangga, sahabat, bahkan orang yang memusuhinya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu melahirkan kesadaran.

Kita menjadi lebih berhati-hati terhadap ucapan dan perbuatan. Kita belajar mengoreksi diri sebelum kelak diperiksa pada hari kiamat. Kita belajar mengendalikan hawa nafsu karena tidak setiap keinginan layak diikuti.

Inilah salah satu bekal terbesar dari Sunah: disiplin jiwa.

Sunah tidak hanya memberi tahu kita apa yang harus dilakukan, tetapi juga melatih kita untuk hidup dalam kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Sunah Membentuk Masyarakat

Mengikuti Sunah juga tidak berhenti pada perubahan pribadi. Ia memiliki dampak sosial.

Setiap manusia memiliki watak, selera, dan kecenderungan yang berbeda. Jika setiap orang membangun kehidupannya hanya berdasarkan selera masing-masing, perbedaan tersebut dapat berkembang menjadi persaingan, pertentangan, bahkan konflik.

Islam menghadirkan pedoman bersama.

Ketika masyarakat memiliki nilai yang sama—dalam kejujuran, amanah, adab, keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan cara menyelesaikan persoalan—perbedaan individu tidak harus berubah menjadi perpecahan.

Masyarakat muslim ibarat bangunan yang tersusun dari batu bata. Setiap batu memiliki posisi dan fungsi masing-masing, tetapi semuanya disusun dalam satu aturan sehingga menjadi bangunan yang kokoh.

Sunah memberikan banyak contoh konkret mengenai bagaimana manusia hidup bersama: bagaimana menghormati tetangga, memperlakukan keluarga, berdagang, memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan, dan menjaga hak orang lain.

Dengan demikian, mengikuti Sunah bukan hanya membentuk individu yang saleh, tetapi juga membantu membangun masyarakat yang beradab.

Ketika Kita Kehilangan Sunah

Salah satu persoalan umat Islam hari ini bukan karena mereka tidak memiliki agama, tetapi karena sebagian nilai kehidupan mereka semakin jauh dari petunjuk agama.

Pada titik tertentu muncul perasaan bahwa kemajuan harus selalu dicari dengan meniru masyarakat lain. Tradisi sendiri dianggap terbelakang, sedangkan budaya asing dipandang sebagai simbol kemajuan.

Padahal kita perlu membedakan antara mengambil ilmu dan teknologi yang bermanfaat dengan kehilangan orientasi nilai.

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menolak ilmu, teknologi, atau kemajuan manusia. Yang perlu diwaspadai adalah ketika kita menganggap bahwa kemajuan hanya dapat dicapai dengan meninggalkan prinsip hidup yang bersumber dari wahyu.

Peradaban bukan sekadar bentuk luar. Di balik sistem sosial, ekonomi, pendidikan, keluarga, dan politik terdapat nilai dan pandangan hidup. Karena itu, meniru sebuah peradaban secara membabi buta dapat berarti menerima sebagian nilai yang berada di baliknya tanpa kita sadari.

Rasulullah saw. bersabda:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Hadis ini mengingatkan kita agar tidak kehilangan jati diri hanya karena merasa rendah diri terhadap orang lain.

Masalah umat Islam bukan karena Islam tidak memiliki pedoman kehidupan yang lengkap. Masalahnya justru sering kali karena kita semakin jauh dari pedoman tersebut.

Bukankah Allah yang menciptakan manusia adalah Yang paling mengetahui apa yang dibutuhkan manusia?

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Mulk: 14)

Apakah Mengikuti Sunah Memasung Kebebasan?

Sebagian orang mungkin bertanya: bukankah mengikuti Rasulullah saw. dalam seluruh aspek kehidupan akan membatasi kebebasan manusia?

Pertanyaan ini perlu direnungkan kembali.

Sebab kebebasan tanpa petunjuk tidak selalu menghasilkan kemerdekaan. Seseorang dapat merasa bebas, tetapi sebenarnya diperbudak oleh hawa nafsu, konsumsi, tren, tekanan sosial, atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan manusia.

Islam menawarkan bentuk kebebasan yang berbeda: manusia tidak menjadi hamba bagi sesama manusia, budaya, materi, atau hawa nafsunya. Ia menjadi hamba Allah.

Karena itu Allah berfirman:

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Rasulullah saw. bukan hanya figur untuk diteladani dalam ibadah ritual. Beliau adalah teladan dalam kehidupan: sebagai hamba Allah, suami, ayah, pemimpin, pendidik, hakim, panglima, tetangga, sahabat, dan anggota masyarakat.

Tentu, mengikuti Rasulullah tidak berarti mengubah seluruh persoalan manusia menjadi bentuk yang sama secara lahiriah. Ada perkara yang bersifat ibadah dan harus mengikuti tuntunan secara khusus, sementara ada perkara kehidupan dunia yang memiliki ruang ijtihad dan perkembangan.

Namun prinsipnya tetap: kehidupan seorang muslim tidak boleh kehilangan arah yang diberikan wahyu.

Bagaimana dengan Keaslian Sunah?

Ada pula pertanyaan lain yang lebih mendasar: apakah seluruh Sunah benar-benar dapat dipercaya?

Keraguan terhadap hadis tentu tidak dapat dijawab hanya dengan emosi. Ia harus dijawab dengan ilmu.

Para ulama hadis sejak generasi awal telah mengembangkan metode yang sangat ketat untuk meneliti riwayat. Mereka tidak sekadar mengumpulkan hadis, tetapi meneliti sanad, perawi, kesinambungan periwayatan, dan berbagai aspek yang berkaitan dengan validitas sebuah hadis.

Para imam seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan para ahli hadis lainnya mencurahkan kehidupan mereka untuk memilah riwayat-riwayat yang dapat diterima dan yang harus ditolak.

Ilmu hadis bahkan melahirkan tradisi penelitian terhadap biografi para perawi, termasuk penilaian terhadap integritas dan ketelitian mereka.

Karena itu, tidak tepat jika Sunah ditolak secara keseluruhan hanya berdasarkan anggapan bahwa hadis hanyalah cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi tanpa metode ilmiah.

Tentu, tidak semua riwayat memiliki derajat yang sama. Karena itulah ulama membedakan hadis sahih, hasan, dhaif, dan berbagai kategori lainnya. Sikap ilmiah bukanlah menerima semua riwayat secara membabi buta, tetapi juga bukan menolak Sunah secara keseluruhan hanya karena sebagian riwayat diperselisihkan.

Yang dibutuhkan adalah ilmu, kehati-hatian, dan kejujuran akademik.

Bekal yang Sebenarnya

Pada akhirnya, mengikuti Sunah bukan sekadar persoalan menambah daftar amalan. Ia adalah proses membentuk cara hidup.

Sunah mengajarkan kita bagaimana menghubungkan iman dengan tindakan, keyakinan dengan akhlak, ibadah dengan kehidupan, dan hubungan dengan Allah dengan hubungan kepada manusia.

Ia memberi kita bekal untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran.

Ketika makan, kita memiliki adab.

Ketika berbicara, kita memiliki batas.

Ketika bekerja, kita memiliki amanah.

Ketika memiliki harta, kita memiliki tanggung jawab.

Ketika memiliki kekuasaan, kita memiliki pertanggungjawaban.

Ketika menghadapi masalah, kita memiliki teladan.

Ketika berhadapan dengan manusia, kita memiliki akhlak.

Dan ketika menghadapi kehidupan secara keseluruhan, kita memiliki arah.

Karena itu, seorang muslim tidak seharusnya merasa malu dengan Sunah Nabinya. Ia justru perlu mengenalnya, memahaminya, mencintainya, dan berusaha menghidupkannya dengan ilmu dan kebijaksanaan.

Bukan karena kita ingin sekadar berbeda dari orang lain, tetapi karena kita yakin bahwa Rasulullah saw. adalah utusan Allah dan kehidupan beliau merupakan teladan yang Allah tunjukkan kepada kita.

Maka pertanyaan pentingnya bukan lagi, “Mengapa saya harus mengikuti Sunah?”

Tetapi:

“Sudah sejauh mana Sunah membentuk kehidupan saya?”

Sebab bisa jadi selama ini kita telah banyak membaca Sunah, tetapi belum banyak hidup dengannya.

Kita mengetahui bagaimana Rasulullah saw. berbicara, tetapi belum mampu menjaga lisan.

Kita mengetahui bagaimana beliau memperlakukan manusia, tetapi masih mudah menyakiti sesama.

Kita mengetahui bagaimana beliau beribadah, tetapi hati kita masih jauh dari Allah.

Di sinilah kita perlu memahami bahwa mengikuti Sunah bukan sekadar mengetahui apa yang dilakukan Rasulullah saw. Mengikuti Sunah adalah menjadikan petunjuk beliau sebagai bekal perjalanan hidup.

Dan semakin dekat seseorang kepada Sunah dengan ilmu, cinta, dan kesungguhan, semakin ia menyadari bahwa bekal terbaik dalam perjalanan menuju Allah bukanlah sekadar banyaknya pengetahuan yang ia miliki, tetapi sejauh mana pengetahuan itu membentuk kehidupannya.

Dalam mengikuti Sunah terdapat bekal.

Bekal untuk menjaga hati.

Bekal untuk mendisiplinkan jiwa.

Bekal untuk membangun keluarga.

Bekal untuk memperbaiki masyarakat.

Bekal untuk menghadapi perubahan zaman.

Dan pada akhirnya, bekal untuk menempuh perjalanan panjang menuju perjumpaan dengan Allah Swt.


0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (58) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (18) Dakwah (32) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (28) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (2) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhtilaf (2) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (341) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (118) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (314) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (753) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (1) Politik (11) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (337) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)