Ilusi Kebebasan dalam Jahiliyah Modern
Modernitas menjanjikan kita singgasana kebebasan yang tanpa batas, namun tanpa sadar ia sedang menuntun kita menuju penjara baru yang jerujinya terbuat dari emas dan tren.
Kita sering terjebak dalam ilusi bahwa kebebasan adalah ketiadaan otoritas, padahal realitas eksistensial manusia menunjukkan sebuah paradoks: kita tidak memiliki pilihan untuk tidak tunduk. Ketundukan adalah bagian dari desain penciptaan kita yang paling purba.
Persoalannya bukanlah "apakah kita tunduk?", melainkan "kepada siapa ketundukan itu diberikan?".
Ketika seseorang berhenti menghamba kepada Allah, ia tidak lantas menjadi merdeka; ia secara otomatis akan terjatuh pada bentuk-bentuk penghambaan lain yang jauh lebih membelenggu, merendahkan martabat, dan memeras seluruh energi hidupnya.
Ilusi Kebebasan dalam "Jahiliyah Modern"
Ketundukan kepada Allah adalah satu-satunya jalan menuju kemuliaan dan kebebasan hakiki. Dalam sistem Islam, Tauhid berfungsi sebagai kekuatan revolusioner yang memutus rantai penghambaan antar sesama manusia.
Tanpa landasan syariat Allah, sistem buatan manusia—baik politik maupun sosial—hanyalah sebuah mekanisme di mana manusia menghamba kepada manusia lainnya.
Di sana, sebagian orang tunduk kepada sebagian yang lain dalam bentuk kepatuhan buta terhadap hukum yang dirancang hanya untuk melindungi kepentingan sekelompok penguasa atau kelas sosial tertentu.
"Ketundukan kepada Allah membebaskan manusia dari ketundukan kepada yang lain-Nya dan menyelamatkannya dari menyembah hamba kepada menyembah Allah semata."
Tirani Tren dan "Tuhan" di Balik Meja Fashion
Salah satu bentuk penghambaan yang paling vulgar namun sering dianggap sebagai gaya hidup adalah ketundukan kepada industri mode. Para produsen dan perancang fashion memiliki kekuasaan yang luar biasa mengangkangi manusia modern.
Mereka memaksakan standar berpakaian, desain bangunan, hingga tata cara pesta yang sering kali tidak masuk akal. Kita melihat ironi yang menyakitkan: seorang perempuan tua yang bersikeras mengenakan pakaian terbuka yang tidak lagi selaras dengan fisiknya, atau seseorang yang rela terlihat norak dan pantas dicemooh hanya karena "perintah" tren musim ini.
Ini adalah peribadatan luar biasa kepada "tuhan-tuhan" di balik meja fashion. Data menunjukkan betapa mengerikannya biaya dari penghambaan ini. Keluarga menengah sering kali merogoh kocek hingga menghabiskan separuh penghasilan dan tenaga mereka hanya untuk membeli minyak rambut, parfum, alat kosmetik, hingga biaya perapian dan pelicinan rambut (hair straightening/perming).
Mereka dipaksa membeli berbagai merek sepatu dan aksesoris yang serasi hanya untuk memuaskan ambisi para pemilik modal yang menginvestasikan harta mereka dalam industri ini. Ini adalah penghambaan yang menghinakan, di mana kehormatan dan akhlak dikorbankan demi kepuasan kapitalis.
Biaya Tinggi Menjaga Ego Sang Thaghut
Di panggung kekuasaan, kita sering menjumpai fenomena thaghut—manusia kerdil yang mencoba mengangkat dirinya ke kedudukan ketuhanan. Sosok kehambaannya yang sebenarnya rapuh dan kerdil dipompa terus-menerus oleh "terompet dan genderang" sanjungan agar terlihat besar dan berwibawa di mata rakyat.
Ia membutuhkan kaki tangan, pengawal, dan ribuan suara pujian hanya untuk menutupi eksistensinya yang sebenarnya kosong.
Biaya operasional untuk menjaga citra palsu ini sangatlah mahal. Rakyat dipaksa membayar dengan harta, tenaga, bahkan nyawa hanya untuk menjaga ego sang penguasa agar tetap terlihat "besar".
Padahal, kekuasaan semacam ini akan langsung menyusut, mengering, dan mengecil seketika setelah tiupan sanjungan itu dihentikan. Semua jerih payah yang dihabiskan untuk memuja nama penguasa adalah pemborosan sumber daya raksasa yang seharusnya bisa digunakan untuk memakmurkan bumi.
Penjara Mental Mitos dan Takhayul
Ketika hati tidak lagi terpaut pada Tauhid, manusia akan jatuh ke dalam cengkeraman kuku-kuku khayalan, mitos, dan takhayul yang tidak berujung.
Ketakutan kepada dukun, tukang sihir, jin, atau kekuatan gaib palsu menciptakan penjara mental yang menyiksa. Energi manusia pecah belah, dan "leher mereka patah" di bawah beban ketakutan dan kegelisahan yang tidak perlu.
Ketundukan pada khayalan ini bukan sekadar masalah psikologis, melainkan sebuah krisis aqidah yang menghancurkan ciri khas kemanusiaan.
Tanpa Tauhid, manusia meluncur jatuh ke derajat binatang yang hanya hidup untuk bersenang-senang dan makan, sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur'an:
"Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka." (Q.S. Muhammad: 12).
Jihad vs. Pengorbanan untuk Berhala Modern
Terdapat perbedaan kontras antara pengorbanan dalam jihad di jalan Allah dengan pengorbanan untuk berhala modern seperti nasionalisme sempit, suku, ras, atau status sosial.
Banyak yang mengeluh bahwa jihad itu berat, padahal tuntutan dari "tuhan-tuhan duniawi" jauh lebih merusak, meletihkan, dan menghina harga diri.
Penyembah berhala modern sering kali dipaksa mengorbankan segalanya tanpa ragu, bahkan ketika kehormatan mereka bertentangan dengan tuntutan berhala tersebut. Darah ditumpahkan demi gengsi dan status sosial, sebuah pengorbanan yang penuh dengan kehinaan, kekejian, dan cela.
Sebaliknya, setiap tetes keringat dan darah dalam jihad adalah upaya untuk mengangkat derajat manusia menuju cakrawala tertinggi.
"Semua pengorbanan yang dituntut oleh jihad di jalan Allah tidak lain agar hanya Allah sajalah yang disembah di muka bumi; supaya manusia terbebas dari menyembah thaghût dan berhala."
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa Tauhid bukan sekadar urusan ritual atau perdebatan fikih, melainkan sebuah sistem pembebasan yang riil. Tauhid adalah "investasi produktif" bagi peradaban.
Jika seluruh energi, harta, dan waktu yang selama ini kita habiskan untuk menyenangkan "tuhan-tuhan kecil" dan thaghut duniawi dialihkan untuk beribadah kepada Allah semata, maka manusia akan memiliki kekuatan total untuk memakmurkan bumi dan meningkatkan mutu kehidupan.
Reklamasi kemanusiaan hanya bisa dimulai dengan menghancurkan berhala-berhala modern di dalam hati kita. Maka, berhentilah sejenak dan evaluasi diri:
Dalam sehari, berapa banyak energi dan harta yang kita habiskan hanya untuk memuaskan ambisi tren, penguasa kerdil, atau ketakutan pada mitos, dan apakah itu benar-benar memerdekakan kita?
Hanya dengan kembali pada Tauhid yang murni, kita bisa meraih kemerdekaan sejati dan berhenti menjadi hamba bagi sesama hamba.
0 komentar: