Akal Budi Tidak Terletak pada Penampilan
Banyak tanda yang dapat menjadi bukti tentang kualitas akal seseorang. Tanda-tanda itu sekilas mungkin menyerupai firasat, tetapi sesungguhnya lebih dapat dipertanggungjawabkan karena tampak melalui sikap, perkataan, dan perbuatannya.
Salah satu tanda orang yang berakal ialah kecenderungannya memilih akhlak yang mulia. Ia menjaga dirinya dari pekerjaan yang rendah menurut ukuran kehormatan dan kebijaksanaan. Bahkan ketika harus menahan lapar atau menerima ejekan, ia tetap enggan melakukan sesuatu yang dapat merendahkan martabatnya. Baginya, kehormatan diri lebih berharga daripada kesenangan sesaat.
Para hukama pernah ditanya, “Apakah bukti orang berakal?”
Jawabnya, “Perkataannya tidak banyak yang sia-sia.”
Lalu ditanyakan lagi, “Jika kita tidak mendengar perkataannya dan hanya mendengar namanya dari kejauhan, bagaimana kita dapat mengetahui kualitasnya?”
Jawabnya, “Dengan tiga perkara: mengenal utusannya, membaca tulisannya, dan melihat hadiahnya. Utusannya adalah bayang-bayang dirinya, suratnya menunjukkan susunan pikirannya, sedangkan hadiahnya menunjukkan timbangannya. Kurang atau lebihnya ketiga perkara itu dapat menjadi ukuran tentang orangnya.”
Ada hikmah yang sangat dalam di balik ungkapan tersebut. Seseorang tidak selalu harus berbicara langsung untuk memperlihatkan siapa dirinya. Cara ia mengutus orang lain, cara ia menulis, dan cara ia memberi sesuatu kepada orang lain dapat menjadi cermin dari akal, karakter, dan pertimbangannya.
Bahkan para hukama mengatakan, “Yang sebesar-besar aksi atas akal seseorang ialah caranya menghadapi orang lain.”
Memang, kehidupan sehari-hari menyediakan banyak sekali kesempatan untuk mengenali manusia. Kadang-kadang hanya dengan sekali pertemuan, kita sudah dapat menangkap sesuatu tentang watak seseorang. Bukan karena kita mengetahui seluruh dirinya, melainkan karena sikap kecil sering kali membuka jendela menuju kepribadian yang lebih dalam.
Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati: jangan sampai kita mengukur manusia hanya dari apa yang tampak di luar.
Pakaian yang gagah bukan bukti keluasan ilmu. Sepatu yang bagus bukan tanda kebijaksanaan. Penampilan yang mewah tidak selalu menunjukkan kemuliaan jiwa. Ilmu tidak terletak pada pakaian, akal tidak terletak pada baju, dan kebijaksanaan tidak terletak pada sepatu.
Tidak setiap sesuatu yang tampak putih dapat disebut lilin.
Al-Asma’i pernah menceritakan pengalamannya ketika melihat seorang tua di Basrah. Pakaian orang itu sangat indah, sikapnya tangkas, dan pengiringnya banyak. Dari penampilannya, orang mungkin akan menyangka bahwa ia seorang yang penting dan berilmu. Al-Asma’i pun berniat menguji akalnya.
Ia bertanya, “Siapakah gelar tuan?”
Orang itu menjawab dengan menyebut rangkaian gelar yang panjang dan terdengar hebat. Mendengar jawabannya, Al-Asma’i tertawa. Ia segera mengetahui bahwa pakaian, sikap, dan banyaknya pengiring tidak mampu menyembunyikan keterbatasan akal seseorang.
Kisah semacam ini mengingatkan kita bahwa nama besar tidak otomatis melahirkan pribadi besar.
Ada orang yang diberi nama tokoh-tokoh besar, tetapi tidak mendapatkan pendidikan yang sepadan dengan nama tersebut. Ada pula yang sengaja memperpanjang namanya dengan gelar-gelar yang terdengar agung, seakan-akan kemuliaan dapat dibangun hanya dengan susunan kata.
Padahal, nama hanyalah panggilan. Yang memberikan nilai kepada sebuah nama adalah kehidupan orang yang menyandangnya.
Pernah pula diceritakan tentang seorang perempuan yang menamai anaknya “Mustafa Kemal” karena berharap anaknya kelak menjadi seperti tokoh besar Turki tersebut. Akan tetapi, anak itu tidak mendapatkan pendidikan yang memadai. Ia justru disuruh menggembalakan sapi.
Suatu hari, ketika sapi itu masuk ke ladang orang lain, sang ibu berteriak keras, “Mustafa Kemal! Mustafa Kemal!”
Orang-orang yang mendengarnya mungkin terkesan oleh nama besar itu. Namun, setelah dipanggil berulang-ulang, anak tersebut menjawab dengan suara keras, “Apa!”
Ibunya pun berkata, “Sapimu telah masuk ke ladang orang!”
Kisah tersebut memang mengandung humor, tetapi di balik kelucuannya terdapat pelajaran yang serius: nama tidak akan mengangkat seseorang apabila kehidupan yang dijalaninya tidak mencerminkan nilai yang terkandung dalam nama itu.
Karena itu, jangan berharap nama baik dengan sendirinya akan memperbaiki seseorang. Justru manusialah yang harus memperbaiki dirinya sehingga nama yang disandangnya menjadi baik karena perbuatannya.
Dengan kata lain, bukan nama yang memuliakan diri, melainkan dirilah yang memuliakan nama.
Hal yang sama berlaku pada pakaian dan penampilan.
Konon, pernah ada seseorang yang naik kereta api dari Padang menuju Padang Panjang dengan penampilan yang luar biasa gagah. Ia mengenakan dua dasi, gigi emas, jas wol, sepatu, bahkan jas hujan meskipun hari sedang panas. Di tangannya terdapat lampu senter, padahal matahari sedang terang.
Ia kemudian membaca surat kabar dengan penuh kesungguhan. Kacamata berbingkai emas telah bertengger di wajahnya. Namun, surat kabar yang dibacanya ternyata terbalik.
Kisah itu kembali mengingatkan kita bahwa penampilan dapat memberikan kesan, tetapi tidak dapat menjamin isi.
Ada pula cerita tentang seseorang yang datang ke kantor pos dengan penampilan yang tampak meyakinkan. Ia mengenakan sarung kain Bugis, membawa tongkat, memakai kacamata, dan menyelipkan dua pulpen, pensil, serta notes di sakunya. Ia hendak mengambil uang dari wesel.
Pegawai pos memintanya membubuhkan tanda tangan. Ia mencoba mengelak dengan mengatakan bahwa pulpennya kehabisan tinta dan pensilnya tumpul. Pegawai itu kemudian memberinya tinta.
Pada saat itulah terungkap bahwa orang tersebut ternyata tidak dapat menulis. Akhirnya, ia harus menggunakan cap jari sebagai tanda pengesahan.
Sekali lagi, penampilan yang meyakinkan ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan yang sesungguhnya.
Maka janganlah kita terlalu mudah terpesona oleh pakaian, gelar, nama, jabatan, atau kemewahan seseorang. Semua itu mungkin menjadi bagian dari kehidupan manusia, tetapi tidak cukup untuk menjadi ukuran kedalaman akal dan budi.
Sebaliknya, orang yang benar-benar berilmu kadang-kadang justru tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan mode. Orang yang sibuk membangun pemikiran mungkin tidak sempat memikirkan bagaimana rambutnya harus ditata. Orang yang sedang bekerja untuk sesuatu yang lebih besar mungkin tidak terlalu sibuk memastikan dirinya selalu tampak mengesankan di hadapan orang lain.
Pada akhirnya, yang paling penting bukanlah bagaimana seseorang terlihat, melainkan siapa dirinya ketika penampilan itu disingkirkan.
Akal terlihat dari cara berpikir.
Ilmu terlihat dari manfaatnya.
Akhlak terlihat dari cara memperlakukan orang lain.
Kematangan terlihat dari cara menghadapi keadaan.
Dan kemuliaan seseorang terlihat dari apa yang ia lakukan ketika tidak ada orang yang sedang memujinya.
Karena itu, jangan sibuk menghias nama tetapi lupa mendidik diri. Jangan sibuk memperindah penampilan tetapi melupakan akhlak. Jangan mengejar kesan sebagai orang berilmu sementara perkataan dan perbuatan justru menunjukkan sebaliknya.
Nama boleh besar, pakaian boleh indah, gelar boleh panjang, tetapi semua itu tidak akan mampu menggantikan akal dan akhlak.
Pada akhirnya, bukan penampilan yang menentukan nilai seseorang.
Dirilah yang harus dibentuk. Akal harus dipertajam. Ilmu harus diamalkan. Akhlak harus dimuliakan.
Sebab manusia tidak menjadi mulia karena nama yang diberikan kepadanya.
Justru dirinya sendirilah yang akan membuat namanya menjadi mulia.
0 komentar: