Yang Pasti di Tengah Ketidakpastian
Manusia memiliki akal, kekuasaan, harta, kesehatan, dan berbagai macam perbekalan untuk menjalani kehidupan. Namun, sebanyak apa pun yang kita miliki, tidak seorang pun mampu memastikan apa yang akan terjadi pada hari esok.
Seseorang mungkin telah membeli tiket kereta api untuk berangkat ke Jakarta besok pagi. Ia sehat, memiliki uang, dan segala persiapan telah dilakukan. Namun, apakah ia benar-benar pasti akan berangkat? Tidak. Bisa saja datang suatu halangan yang menyebabkan perjalanan itu tertunda atau bahkan batal.
Begitulah kehidupan dunia. Banyak hal yang kita rencanakan, tetapi tidak semuanya terjadi sebagaimana yang kita kehendaki. Masa depan berada di luar jangkauan kepastian manusia.
Ada satu hal yang pasti menimpa setiap manusia: kematian.
Namun, kematian bukanlah akhir dari keberadaan manusia. Setelah kematian akan ada kebangkitan dan kehidupan akhirat. Inilah kepastian yang berulang kali ditegaskan Allah dalam Al-Qur'an.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 7:
«“Sesungguhnya Kiamat itu pasti terjadi, tidak ada keraguan padanya, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan orang-orang yang di dalam kubur.”»
Demikian pula dalam Surah Taha ayat 15:
«“Sesungguhnya hari Kiamat itu pasti akan datang. Aku merahasiakannya agar setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.”»
Maka, di balik ketidakpastian hidup dunia, ada satu kepastian yang tidak boleh kita lupakan: kita akan mati, dibangkitkan, lalu mempertanggungjawabkan kehidupan yang pernah kita jalani.
Jika Tidak Ada Kehidupan Akhirat
Cobalah kita renungkan kehidupan manusia di dunia.
Ada orang yang menganiaya dan ada yang dianiaya. Ada yang menindas dan ada yang tertindas. Ada yang membunuh dan ada yang dibunuh. Ada yang memfitnah dan ada yang menjadi korban fitnah. Ada yang hidup dalam kemewahan, sementara yang lain menjalani hidup dalam kesusahan.
Ada manusia yang menghabiskan hidupnya dalam kebaikan, sementara ada pula yang menjadikan kejahatan sebagai jalan hidupnya.
Jika kehidupan hanya berhenti di dunia, lalu orang baik dan orang jahat sama-sama mati, sama-sama menjadi tanah, dan tidak ada kehidupan setelahnya, bagaimana keadilan memperoleh kesempurnaannya?
Tetapi kita meyakini bahwa Allah adalah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Karena itu, kehidupan dunia tidak mungkin menjadi seluruh perjalanan manusia.
Keadilan Allah akan disempurnakan di akhirat.
Setiap penganiayaan, pembunuhan, fitnah, kezaliman, dan kejahatan yang dilakukan manusia tidak akan hilang begitu saja. Setiap pelaku akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Demikian pula setiap kebaikan yang dilakukan manusia tidak akan sia-sia.
Akhirat adalah tempat ketika seluruh perbuatan diperhitungkan dan setiap manusia menerima balasan yang sesuai dengan amalnya.
Nenek Tua yang Kelaparan
Bayangkan seorang nenek tua yang hidup dalam kemiskinan. Ia tinggal bersama cucu-cucunya yang masih kecil dan telah kehilangan kedua orang tuanya.
Di belakang rumahnya terdapat sebidang tanah kecil. Dengan tenaga yang tersisa, tanah itu dicangkul dan ditanami kacang tanah. Setelah panen, kacang tersebut direbus dan dijual ke pasar.
Dari hasil kerja keras itu, ia memperoleh sedikit uang. Uang tersebut rencananya digunakan untuk membeli beras, sayur, dan lauk bagi dirinya serta cucu-cucunya.
Namun, sebelum uang itu dibelanjakan, seorang lelaki merampasnya.
Nenek itu pulang dengan tangan kosong. Ia dan cucu-cucunya harus menahan lapar, sementara orang yang merampas uangnya menikmati makanan dengan hasil kejahatan tersebut.
Pada akhirnya, nenek itu meninggal. Perampoknya pun suatu hari akan meninggal.
Pertanyaannya: apakah keduanya benar-benar berakhir pada titik yang sama?
Apakah orang yang dizalimi dan orang yang menzalimi akan sama-sama menjadi tanah, tanpa ada pengadilan dan tanpa ada pertanggungjawaban?
Hati dan akal yang sehat akan mengatakan: tidak mungkin demikian.
Keadilan Allah tidak berhenti pada batas kehidupan dunia.
Anak Kecil dan Sepeda Mininya
Renungkan pula kisah seorang petani miskin yang mempunyai seorang anak laki-laki berusia enam tahun. Anak itu sangat dicintainya. Sebagai bentuk kasih sayang, sang ayah membelikannya sebuah sepeda mini.
Betapa bahagianya sang anak. Ia berkeliling kampung dengan sepeda kesayangannya.
Namun, dalam sebuah perjalanan, seorang lelaki merampas sepeda itu dan membunuh anak tersebut. Mayatnya kemudian dibuang ke tengah belukar.
Anak itu meninggal. Pelakunya pun suatu hari akan meninggal.
Sekali lagi kita bertanya: apakah keduanya berakhir dalam keadaan yang sama?
Bagaimana mungkin seorang anak yang tidak berdosa dan seorang pembunuh yang merenggut nyawanya memperoleh akhir yang sama apabila tidak ada kehidupan setelah kematian?
Peristiwa semacam ini bukan hanya terjadi sekali. Dalam perjalanan sejarah manusia, terlalu banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban kekejaman manusia lain.
Karena itu, kehidupan akhirat bukan sekadar gagasan untuk menenangkan hati. Ia adalah bagian dari keyakinan bahwa keadilan Allah tidak pernah sia-sia.
Allah berfirman dalam Surah As-Sajdah ayat 18:
«“Apakah orang yang beriman sama dengan orang yang fasik? Mereka tidak sama.”»
Al-Qur'an berkali-kali menunjukkan bahwa kebaikan dan kejahatan tidak pernah berada pada kedudukan yang sama.
Tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Tidak sama orang yang melihat dengan orang yang buta. Tidak sama kegelapan dengan cahaya. Tidak sama kebaikan dengan kejahatan. Dan tidak sama penghuni surga dengan penghuni neraka.
Perbedaan itu pada akhirnya akan tampak secara sempurna di akhirat.
Ketika Kekuasaan Menjadi Kezaliman
Sejarah manusia juga memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat berubah menjadi alat penindasan.
Kita mengenal kisah Fir'aun dan berbagai kerajaan besar pada masa lampau. Dalam sejarah dunia kemudian muncul kekuatan-kekuatan besar yang menguasai wilayah luas, menguras kekayaan negeri jajahan, menindas rakyat, dan melancarkan peperangan.
Perang demi kekuasaan, wilayah, dan kepentingan ekonomi telah menyebabkan jutaan manusia kehilangan kehidupan. Anak-anak, perempuan, orang tua, dan orang-orang yang tidak terlibat dalam pertikaian pun menjadi korban.
Pertanyaannya kembali kepada kita:
Jika semua itu berakhir hanya dengan kematian, di mana keadilan bagi mereka yang menjadi korban?
Dan bagi mereka yang memerintahkan, merencanakan, atau melakukan kezaliman, ke mana mereka akan membawa pertanggungjawaban?
Jawabannya adalah akhirat.
Di hadapan Allah, kekuasaan dunia tidak lagi menjadi pelindung. Harta tidak dapat menyuap. Pangkat tidak dapat menyelamatkan. Tentara tidak dapat menjadi perisai.
Yang tersisa hanyalah amal.
Allah akan mengadili setiap manusia sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada perbuatan yang terlalu kecil untuk diketahui-Nya dan tidak ada kejahatan yang terlalu besar untuk diperhitungkan-Nya.
Para Nabi pun Mengalami Penderitaan
Hal yang sama dapat kita renungkan dari kehidupan para nabi dan rasul.
Mereka diutus untuk mengajak manusia kepada iman, ibadah, dan kebaikan. Namun justru banyak di antara mereka yang mengalami penderitaan, ancaman, pengusiran, bahkan pembunuhan.
Para nabi telah wafat. Orang-orang yang menzalimi mereka pun telah wafat.
Apakah kemudian semuanya selesai?
Apakah perjuangan para nabi dan kejahatan para penentangnya memiliki akhir yang sama?
Tidak.
Ada pengadilan yang lebih sempurna daripada pengadilan dunia. Ada hari ketika seluruh kebenaran menjadi nyata dan setiap manusia menerima balasan atas apa yang telah dikerjakannya.
Keadilan akhirat membuat penderitaan orang-orang saleh tidak sia-sia dan kejahatan para penzalim tidak berlalu tanpa pertanggungjawaban.
Dunia Adalah Tempat Memilih
Mengapa Allah tidak langsung menjadikan seluruh manusia baik?
Karena kehidupan dunia adalah ujian. Manusia diberi akal, hati, kehendak, dan kemampuan untuk memilih.
Allah berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 29:
«“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barang siapa yang ingin beriman, hendaklah dia beriman; dan barang siapa yang ingin kafir, biarlah dia kafir.”»
Pilihan itu bukan berarti manusia bebas dari konsekuensi. Justru karena manusia diberi pilihan, ia juga akan dimintai pertanggungjawaban.
Dunia adalah tempat menentukan arah. Akhirat adalah tempat menerima hasil perjalanan tersebut.
Karena itu, jangan tertipu oleh keadaan sementara. Orang zalim mungkin tampak menang. Orang baik mungkin tampak menderita. Orang yang jujur mungkin hidup sederhana, sementara orang yang curang tampak bergelimang kemewahan.
Namun, jangan menilai seluruh perjalanan manusia hanya dari satu bab bernama dunia.
Masih ada akhirat.
Manusia: Makhluk yang Dimuliakan
Di tengah luasnya jagat raya, manusia memiliki kedudukan yang istimewa.
Allah menciptakan alam dengan keteraturan yang menakjubkan. Langit, bumi, bintang, dan berbagai unsur kehidupan berjalan dalam ketentuan-Nya.
Allah berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 1:
«“Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”»
Allah juga menjelaskan bahwa hidup dan mati diciptakan sebagai ujian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya.
Manusia kemudian diberi kemampuan yang luar biasa. Dengan akalnya, manusia mempelajari alam, mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun kapal, menciptakan pesawat, menjelajahi bumi, bahkan menembus angkasa.
Namun kemampuan itu bukan sekadar alasan untuk berbangga. Ia adalah amanah.
Allah berfirman dalam Surah At-Tin ayat 4:
«“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”»
Dan dalam Surah Al-Isra ayat 70:
«“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”»
Kemuliaan manusia terletak bukan hanya pada kemampuan jasmaninya, tetapi juga pada akal, hati, dan kemampuan memilih jalan hidup.
Karena itu, semakin besar kemampuan manusia, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Tiga Tahap Perjalanan Manusia
Kehidupan manusia tidak berhenti pada beberapa puluh tahun di dunia.
Dalam keyakinan Islam, manusia menjalani perjalanan dari dunia, kemudian alam barzakh, lalu kehidupan akhirat.
Dunia bersifat sementara.
Barzakh adalah alam setelah kematian sebelum datangnya kebangkitan.
Akhirat adalah kehidupan yang kekal.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan sekadar:
“Berapa lama saya hidup?”
Tetapi:
“Untuk apa saya hidup, dan ke mana saya akan pergi setelah kehidupan ini?”
Ada manusia yang menggunakan seluruh kemampuan rohaninya dan jasmaninya hanya untuk mengejar kesenangan dunia. Tetapi ada pula manusia yang mencari kebahagiaan dunia sekaligus keselamatan akhirat.
Mereka beriman, bertakwa, dan berusaha memperbanyak kebaikan.
Mereka memahami bahwa dunia bukan tujuan akhir.
Dunia adalah tempat ujian. Akhirat adalah tempat kehidupan yang sebenarnya.
Jangan Sampai Kehidupan Dunia Menipu Kita
Manusia memiliki kemampuan yang luar biasa, tetapi tetap tidak mampu memastikan apa yang akan terjadi esok hari.
Kita bisa merencanakan perjalanan, tetapi tidak memastikan sampai di tujuan.
Kita bisa menjaga kesehatan, tetapi tidak menentukan kapan ajal datang.
Kita bisa mengumpulkan harta, tetapi tidak menjamin harta itu menyelamatkan kita.
Kita bisa memperoleh jabatan, tetapi tidak dapat membawa jabatan itu ke dalam kubur.
Pada akhirnya, yang kita bawa hanyalah amal.
Karena itu, kehidupan dunia seharusnya membuat kita semakin sadar, bukan semakin lalai.
Setiap kezaliman akan dipertanggungjawabkan.
Setiap kebaikan akan diperhitungkan.
Setiap air mata orang yang dizalimi diketahui Allah.
Setiap kesulitan orang yang bersabar diketahui Allah.
Setiap kebaikan yang mungkin dianggap manusia kecil tetap berada dalam pengetahuan-Nya.
Dan setiap manusia akan berdiri sendiri di hadapan-Nya.
Kehidupan yang Sesungguhnya
Kematian bukanlah akhir.
Ia adalah pintu menuju kehidupan berikutnya.
Jika kita meyakini bahwa Allah Maha Adil, maka kita harus meyakini adanya hari ketika keadilan itu disempurnakan.
Orang yang dizalimi tidak akan dilupakan.
Orang yang menzalimi tidak akan lolos.
Orang yang berbuat baik tidak akan kehilangan kebaikannya.
Orang yang memilih kejahatan akan berhadapan dengan konsekuensinya.
Maka, jangan ukur keberhasilan hidup hanya dengan apa yang terlihat hari ini.
Jangan iri kepada kemewahan orang yang memperoleh harta dengan cara yang haram.
Jangan merasa sia-sia ketika kebaikan kita belum mendapatkan penghargaan manusia.
Jangan mengira kezaliman akan berlangsung selamanya.
Sebab ada hari ketika seluruh catatan dibuka, seluruh perbuatan diperhitungkan, dan seluruh manusia berdiri di hadapan Allah.
Dunia hanya persinggahan.
Kematian adalah kepastian.
Kebangkitan adalah kepastian.
Pengadilan Allah adalah kepastian.
Dan karena kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal, maka pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan di dunia, melainkan:
«Apa yang telah kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian?»
0 komentar: