Yahudi Tidak Dimusnahkan, tetapi Dihukum Sepanjang Sejarah?
Mengapa kaum Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Luth, dan Nabi Syuaib dihancurkan hingga nyaris tidak menyisakan keturunan, sedangkan Bani Israil tetap bertahan sebagai sebuah bangsa meskipun Al-Qur'an berkali-kali mengisahkan kedurhakaan mereka?
Pertanyaan ini menarik karena memperlihatkan adanya dua pola hukuman yang berbeda dalam Al-Qur'an.
Kaum-kaum terdahulu mengalami pemusnahan total (istishāl). Peradaban mereka berakhir dalam satu peristiwa dahsyat. Yang tersisa hanyalah jejak sejarah dan puing-puing peradaban.
Sebaliknya, Bani Israil tidak mengalami pemusnahan seperti itu. Mereka tetap hidup, berkembang, dan terus muncul dalam perjalanan sejarah. Namun, Al-Qur'an menggambarkan bahwa mereka berulang kali menerima hukuman dunia yang datang silih berganti sebagai akibat dari pelanggaran terhadap perjanjian dengan Allah dan penentangan terhadap para nabi.
Apakah keberlangsungan mereka merupakan kemuliaan?
Al-Qur'an justru mengajak pembaca melihatnya dari sudut pandang lain. Keberlangsungan itu bukan otomatis menunjukkan kemuliaan, melainkan dapat dipahami sebagai keberlangsungan ujian dan pertanggungjawaban sejarah. Setiap kali mereka kembali kepada kerusakan, hukuman pun kembali menimpa mereka.
1. Hukuman Perubahan Menjadi Kera
Salah satu hukuman paling dikenal adalah peristiwa pelanggaran hari Sabat.
«"Kemudian, ketika mereka bersikeras melampaui batas terhadap apa yang dilarang, Kami berfirman kepada mereka, 'Jadilah kamu kera-kera yang hina.'" (QS. Al-A'raf: 166)»
Dalam tafsir, terdapat dua pendapat utama.
Mayoritas ulama (jumhur) memahami ayat ini sebagai perubahan fisik yang benar-benar terjadi kepada pelaku pelanggaran. Mereka tidak memiliki keturunan dan tidak hidup lama.
Sementara itu, sebagian mufasir seperti Mujahid—yang dinukil oleh Ibnu Jarir ath-Tabari dan juga dipilih oleh Tafsir Al-Manar—memahami perubahan tersebut sebagai perubahan watak dan karakter, bukan bentuk fisik.
Dengan demikian, Al-Qur'an mencatat adanya hukuman yang luar biasa, sementara rincian bentuknya menjadi wilayah ijtihad para mufasir.
2. Sebagian Dijadikan Kera dan Babi
Al-Qur'an kembali mengingatkan:
«"Orang-orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi serta menyembah tagut." (QS. Al-Ma'idah: 60)»
Menurut riwayat yang dinukil dalam Tafsir Kementerian Agama dari Ibnu Abbas, pelanggaran tersebut menyebabkan sebagian orang muda berubah menjadi kera dan sebagian orang tua menjadi babi.
Namun, sebagaimana pada ayat sebelumnya, terdapat pula mufasir yang memahaminya sebagai gambaran kerusakan moral, bukan perubahan biologis yang berlaku bagi seluruh keturunan Bani Israil.
Yang menjadi titik tekan Al-Qur'an bukan identitas etnis, melainkan besarnya konsekuensi bagi mereka yang melanggar perjanjian dengan Allah.
3. Berulang Kali Didatangkan Musuh yang Mengalahkan Mereka
Dalam QS. Al-Isra ayat 4–8, Allah mengabarkan bahwa Bani Israil akan melakukan dua kerusakan besar di bumi.
Sebagai konsekuensinya, Allah mendatangkan hamba-hamba-Nya yang kuat untuk menghancurkan kekuasaan mereka.
Setelah itu mereka kembali memperoleh kekuatan.
Namun ketika kerusakan kedua terjadi, hukuman kembali datang.
Lalu Allah menutup rangkaian ayat tersebut dengan sebuah prinsip yang sangat penting:
«"Jika kamu kembali (berbuat kerusakan), niscaya Kami kembali (mengazabmu)." (QS. Al-Isra: 8)»
Kalimat ini dipahami banyak mufasir sebagai pola yang bersifat berulang: kerusakan diikuti hukuman, lalu kesempatan kembali, kemudian hukuman kembali apabila kerusakan diulangi.
4. Benteng yang Tidak Menyelamatkan
QS. Al-Hasyr mengabadikan pengusiran Bani Nadhir.
Allah menggambarkan bagaimana mereka begitu yakin benteng-benteng mereka akan melindungi mereka.
Namun azab datang dari arah yang tidak mereka sangka.
Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka sehingga mereka sendiri ikut menghancurkan rumah-rumah mereka.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuatan pertahanan dan benteng tidak mampu menghalangi ketetapan Allah apabila suatu kaum terus membangkang.
5. Berputar-putar di Padang Tiih
Ketika menolak memasuki tanah suci pada masa Nabi Musa, Allah berfirman:
«"Sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun. Selama itu mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi." (QS. Al-Ma'idah: 26)»
Generasi yang menolak perintah Allah tidak memasuki negeri yang dijanjikan.
Mereka menjalani masa panjang tanpa arah sebagai konsekuensi atas pembangkangan mereka.
6. Perselisihan yang Terus Berulang
Al-Qur'an juga menggambarkan adanya perselisihan yang terus terjadi.
«"Orang-orang Yahudi berkata, 'Orang-orang Nasrani tidak mempunyai pegangan', dan orang-orang Nasrani berkata, 'Orang-orang Yahudi tidak mempunyai pegangan'..." (QS. Al-Baqarah: 113)»
Ayat ini menunjukkan adanya konflik keagamaan yang telah berlangsung sejak lama.
Namun, Al-Qur'an tidak berhenti pada kelompok tertentu. Ayat tersebut juga menyebut bahwa orang-orang musyrik mengucapkan hal serupa, lalu Allah menegaskan bahwa keputusan akhir berada di tangan-Nya pada Hari Kiamat.
Dua Pola Hukuman dalam Al-Qur'an
Jika dibandingkan, Al-Qur'an memperlihatkan dua bentuk hukuman terhadap kaum yang mendustakan para rasul.
Pola pertama adalah pemusnahan total sebagaimana dialami kaum Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syuaib.
Pola kedua adalah keberlangsungan suatu kaum disertai rangkaian hukuman dunia yang berulang akibat setiap kali mereka kembali melakukan kerusakan.
Dalam perspektif Al-Qur'an, kedua bentuk hukuman tersebut sama-sama berada dalam ketetapan Allah.
Adapun siapa yang menerima siksa paling berat pada akhirnya bukan ditentukan oleh penilaian manusia, melainkan oleh keputusan Allah pada Hari Kiamat. Hukuman-hukuman dunia yang disebutkan Al-Qur'an berfungsi sebagai pelajaran sejarah sekaligus peringatan agar setiap umat tidak mengulangi sebab-sebab yang mendatangkan azab tersebut.
0 komentar: