Aduan dari Balik Pintu Rumah: Ketika Istri-Istri Sahabat Mengadu Soal Kehidupan Ranjang kepada Rasulullah
Jika seseorang hanya mengenal Islam dari kisah-kisah ibadah para sahabat, ia mungkin akan membayangkan generasi pertama Islam sebagai komunitas manusia yang siang malam hanya berpuasa, shalat, dan berzikir.
Namun ketika menelusuri hadis-hadis sahih secara lebih mendalam, muncul fakta menarik yang jarang dibahas di mimbar-mimbar keagamaan: sebagian istri sahabat justru pernah mengadu kepada Rasulullah ï·º karena terlalu lama tidak disentuh suaminya.
Aduan itu bukan perkara sepele.
Ia menyangkut hak biologis, kebutuhan emosional, dan keseimbangan rumah tangga.
Lebih menarik lagi, Rasulullah ï·º tidak pernah menganggap keluhan tersebut sebagai persoalan duniawi yang rendah nilainya. Sebaliknya, beliau turun tangan langsung menyelesaikannya.
Dari sinilah kita melihat satu sisi peradaban Islam yang sering terlupakan: Islam tidak memusuhi fitrah manusia.
Ketika Istri Utsman bin Mazh'un Datang dengan Wajah Muram
Salah satu kisah paling terkenal adalah aduan istri sahabat mulia, Utsman bin Mazh'un.
Utsman dikenal sebagai ahli ibadah. Ia memperbanyak puasa pada siang hari dan menghidupkan malam dengan qiyamul lail.
Namun di balik kesalehan itu, ada seorang istri yang perlahan kehilangan haknya.
Suatu hari, istri Utsman mendatangi rumah Rasulullah ï·º. Para istri Nabi melihat penampilannya yang tidak terurus. Wajahnya muram dan pakaiannya sederhana, jauh dari penampilan seorang perempuan yang diperhatikan suaminya.
Mereka bertanya,
"Apa yang terjadi padamu? Bukankah tidak ada lelaki Quraisy yang lebih berada daripada suamimu?"
Perempuan itu menjawab dengan kalimat yang menyimpan luka:
"Suamiku berpuasa pada siang hari dan menghidupkan malam dengan ibadah."
Kalimat itu dipahami oleh para istri Nabi. Maksudnya jelas: Utsman hampir tidak pernah mendatangi istrinya.
Berita itu sampai kepada Rasulullah ï·º.
Beliau tidak membiarkannya.
Nabi mendatangi Utsman dan mengingatkannya bahwa beliau sendiri berpuasa sekaligus berbuka, shalat sekaligus tidur, beribadah sekaligus memenuhi hak keluarga.
Riwayat menyebutkan bahwa setelah nasihat Rasulullah ï·º tersebut, kehidupan rumah tangga Utsman kembali normal. Bahkan para istri Nabi mendatangi istri Utsman sambil membawa wewangian seperti suasana pesta perkawinan.
Malam itu bukan malam biasa.
Malam itu adalah malam ketika seorang suami kembali memberikan hak istrinya.
Salman Al-Farisi Menemukan Kesedihan di Rumah Abu Darda
Peristiwa serupa terjadi di rumah sahabat besar lainnya, Abu Darda.
Suatu hari Salman Al-Farisi berkunjung ke rumah sahabat yang dipersaudarakan dengannya itu.
Yang pertama kali menarik perhatian Salman bukanlah Abu Darda, melainkan istrinya.
Perempuan itu tampak mengenakan pakaian lusuh dan tidak memperhatikan dirinya.
Salman bertanya,
"Apa yang terjadi?"
Istri Abu Darda menjawab,
"Saudaramu itu sudah tidak membutuhkan dunia."
Maksudnya jelas.
Abu Darda tenggelam dalam ibadah. Siangnya berpuasa, malamnya shalat tanpa henti.
Salman memahami persoalan yang sedang terjadi.
Ketika malam tiba dan Abu Darda hendak memulai shalat malam sejak awal malam, Salman mencegahnya.
Ia berkata:
"Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu. Tubuhmu mempunyai hak atasmu. Keluargamu mempunyai hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak akan haknya."
Salman bahkan memerintahkannya untuk tidur dan memenuhi hak istrinya.
Menjelang subuh barulah keduanya bangun untuk shalat.
Ketika peristiwa ini dilaporkan kepada Rasulullah ï·º, beliau tidak menyalahkan Salman.
Sebaliknya, beliau bersabda:
"Salman benar."
Sebuah kalimat pendek yang menjadi fondasi penting dalam fikih keluarga Islam.
Abdullah bin Amr dan Semangat Ibadah yang Terlalu Jauh
Kasus yang hampir sama terjadi pada Abdullah bin Amr bin Ash.
Ia dikenal sebagai salah satu sahabat yang paling rajin beribadah.
Ia berpuasa hampir setiap hari dan menghabiskan malam dengan membaca Al-Qur'an.
Namun setelah menikah, muncul persoalan.
Istrinya mengeluh karena hampir tidak pernah mendapatkan perhatian sebagai seorang istri.
Laporan itu sampai kepada Rasulullah ï·º.
Nabi segera mencari Abdullah dan menasihatinya.
Beliau bersabda:
"Aku berpuasa dan berbuka. Aku shalat dan tidur. Aku menikahi wanita. Barang siapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku."
Kalimat ini sering dipahami sebagai bantahan terhadap kehidupan membujang.
Padahal konteksnya lebih luas.
Rasulullah ï·º sedang mengoreksi kecenderungan sebagian sahabat yang ingin menjadi "lebih saleh" daripada tuntunan Nabi sendiri.
Aduan yang Mengungkap Sebuah Prinsip Besar
Jika ketiga kisah tersebut disusun secara berurutan, muncul pola yang menarik.
Keluhan para istri tidak pernah dianggap sebagai persoalan remeh.
Tidak ada satu pun riwayat yang menunjukkan Rasulullah ï·º berkata:
"Bersabarlah karena suamimu ahli ibadah."
Sebaliknya, Nabi selalu memanggil para suami dan mengingatkan mereka tentang hak pasangan.
Hal ini menunjukkan bahwa dalam Islam, hak biologis pasangan bukan urusan sekunder.
Ia bagian dari amanah.
Bahkan para ulama kemudian menjadikan hadis-hadis ini sebagai dasar pembahasan tentang kewajiban nafkah batin dalam rumah tangga.
Hubungan Suami Istri yang Bernilai Sedekah
Pandangan Islam tentang hubungan suami istri semakin menarik ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah ï·º mengenai pahala.
Mereka heran melihat orang-orang kaya memperoleh banyak pahala melalui sedekah.
Lalu Nabi menjelaskan bahwa pintu pahala tidak hanya melalui harta.
Beliau menyebut tasbih, tahmid, amar makruf, nahi mungkar, dan satu hal yang mengejutkan para sahabat:
"Pada kemaluan salah seorang di antara kalian terdapat sedekah."
Para sahabat terkejut.
Mereka bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah seseorang memenuhi syahwatnya lalu mendapatkan pahala?"
Nabi menjawab:
"Bagaimana pendapat kalian jika ia meletakkannya pada yang haram? Bukankah ia berdosa? Maka demikian pula jika ia meletakkannya pada yang halal, ia mendapatkan pahala."
Hadis ini mengubah cara pandang terhadap kehidupan rumah tangga.
Apa yang sering dianggap sekadar kebutuhan biologis ternyata dapat bernilai ibadah.
Rasulullah dan Keadilan terhadap Para Istrinya
Di tengah kesibukan memimpin negara, memimpin peperangan, menerima wahyu, dan mengajar umat, Rasulullah ï·º tetap memberikan perhatian besar kepada kehidupan rumah tangga.
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi pernah mendatangi seluruh istrinya dalam satu malam.
Riwayat ini sering dipahami secara sempit hanya sebagai gambaran kekuatan fisik.
Padahal para ulama menekankan makna yang lebih penting.
Hadis ini menunjukkan kesungguhan Rasulullah ï·º dalam menunaikan hak para istrinya.
Beliau tidak menjadikan kesibukan dakwah sebagai alasan untuk mengabaikan kebutuhan keluarga.
Bahkan Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa kemampuan tersebut merupakan karunia khusus dari Allah agar Rasulullah dapat berlaku adil terhadap seluruh istrinya.
Di sini terlihat keseimbangan yang sangat menarik.
Semakin besar tanggung jawab publik Rasulullah ï·º, semakin besar pula perhatian beliau terhadap hak-hak domestik.
Romantisme yang Jarang Dibahas
Ketika berbicara tentang Rasulullah ï·º, sebagian orang hanya membayangkan sosok pemimpin, panglima perang, atau kepala negara.
Padahal hadis-hadis sahih juga memperlihatkan sisi romantis beliau.
Aisyah RA menceritakan bahwa dirinya sering mandi bersama Rasulullah ï·º dari satu wadah air yang sama.
Mereka saling berebut mengambil air hingga Aisyah berkata:
"Sisakan untukku, sisakan untukku."
Gambaran ini sangat manusiawi.
Tidak ada jarak kaku antara suami dan istri.
Tidak ada kesan bahwa kesalehan harus menghilangkan kehangatan rumah tangga.
Dalam riwayat lain, Ummu Salamah menceritakan bahwa Rasulullah ï·º menciumnya saat beliau sedang berpuasa.
Riwayat-riwayat seperti ini menunjukkan bahwa kemesraan suami istri bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ketakwaan.
Justru ia menjadi bagian dari sunnah.
Islam Menolak Kependetaan
Ketika meneliti seluruh hadis di atas, tampak satu benang merah yang sangat kuat.
Islam sejak awal menolak model kehidupan kependetaan yang memusuhi fitrah manusia.
Penolakan paling tegas terlihat dalam kisah tiga pemuda yang ingin beribadah secara ekstrem.
Salah seorang berniat shalat sepanjang malam.
Yang lain ingin berpuasa sepanjang tahun.
Yang ketiga ingin menjauhi perempuan dan tidak menikah.
Ketika mendengar hal itu, Rasulullah ï·º bersabda:
"Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya. Namun aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku menikahi wanita. Barang siapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku."
Hadis ini menjadi deklarasi besar Islam tentang keseimbangan.
Kesalehan bukanlah mematikan fitrah.
Kesalehan adalah mengelola fitrah sesuai petunjuk Allah.
Adab Hubungan Suami Istri dalam Islam
Karena hubungan suami istri dipandang sebagai ibadah, Islam juga memberikan panduan etika yang rinci.
Rasulullah ï·º mengajarkan doa sebelum berhubungan.
Beliau menganjurkan adanya cumbuan dan percakapan yang menyenangkan sebelum jima'.
Beliau melarang suami memperlakukan istrinya seperti hewan.
Beliau mendorong suami memperhatikan kepuasan pasangannya.
Beliau juga menetapkan batas-batas yang tidak boleh dilanggar, seperti larangan menggauli istri saat haid dan larangan mendatangi istri melalui dubur.
Bahkan setelah hubungan selesai, Islam mengatur adab bersuci, menjaga kebersihan, dan menjaga kerahasiaan rumah tangga.
Semua ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang halal dan haram, tetapi juga tentang etika, kasih sayang, dan penghormatan terhadap pasangan.
Dari Balik Pintu Rumah Menuju Pelajaran Peradaban
Jika seluruh riwayat ini dibaca secara utuh, kita menemukan sebuah kesimpulan yang sering terlewatkan.
Peradaban Islam yang dibangun Rasulullah ï·º bukanlah peradaban yang memisahkan langit dan bumi.
Ia tidak memaksa manusia menjadi malaikat.
Ia juga tidak membiarkan manusia tenggelam dalam syahwat.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Di Madinah, seorang istri dapat mengadu kepada Rasulullah ï·º karena hak biologisnya terabaikan.
Dan pemimpin negara terbesar saat itu bersedia mendengar, menindaklanjuti, lalu membela hak perempuan tersebut.
Itulah salah satu keunikan Islam.
Di saat sebagian tradisi keagamaan memandang kebutuhan biologis sebagai sesuatu yang harus ditekan, Rasulullah ï·º justru mengajarkan bahwa hubungan suami istri yang halal dapat bernilai sedekah, menjadi sarana kasih sayang, bahkan jalan menuju pahala.
Karena itu, dalam pandangan Islam, ranjang bukanlah lawan dari masjid.
Keduanya dapat menjadi jalan menuju ridha Allah ketika ditempatkan pada posisi yang benar.
Di situlah letak keindahan ajaran Nabi Muhammad ï·º: menghadirkan keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan pemenuhan hak-hak manusia.
0 komentar: