Saat Ragu akan Datangnya Pertolongan Allah
Ada masa-masa dalam hidup ketika seseorang merasa doanya seperti mengetuk pintu yang belum juga terbuka.
Ia sudah berusaha.
Sudah menangis di sepertiga malam.
Sudah menahan sabar.
Sudah meminta dengan lirih dan sungguh-sungguh.
Tetapi jalan keluar belum terlihat.
Hari-hari terasa panjang. Pikiran mulai lelah. Dan hati perlahan bertanya,
“Ya Allah… kapan pertolongan itu datang?”
Di titik itulah iman manusia diuji.
Bukan saat semuanya mudah.
Bukan saat semua pintu terbuka.
Tetapi saat langit tampak diam, sementara dada penuh harapan.
Dalam keadaan seperti itu, banyak orang mulai kehilangan keyakinan. Mereka mengira doa mereka tidak didengar. Mereka menyangka penantian adalah tanda penolakan. Padahal, bisa jadi Allah sedang membimbing mereka menuju bentuk ibadah yang paling dalam: menunggu kemudahan dengan penuh keyakinan.
Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan bahwa Rasulullah ï·º bersabda:
> “Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah suka dimintai. Dan ibadah yang paling utama adalah menunggu datangnya kemudahan dari Allah.”
Betapa lembut ajaran ini.
Rasulullah ï·º tidak mengatakan bahwa ibadah paling utama hanyalah sujud panjang atau banyaknya ucapan di lisan. Beliau justru menunjukkan sebuah ibadah sunyi yang sering tidak terlihat manusia: menjaga hati agar tetap yakin ketika pertolongan belum datang.
Sebab tidak semua orang mampu bertahan dalam penantian.
Ada yang kuat dalam ibadah saat hidup lapang, tetapi rapuh ketika diuji penundaan.
Ada yang mampu tersenyum saat semua berjalan sesuai harapan, tetapi mulai buruk sangka kepada Allah ketika hidup terasa lambat.
Padahal, di situlah letak kemuliaannya.
Menunggu kemudahan dari Allah bukanlah pasif. Ia adalah bentuk penghambaan paling halus. Ia adalah seni menjaga hati agar tidak berpaling kepada selain-Nya meskipun keadaan tampak mustahil.
Menunggu yang Tidak Diam
Sebagian orang salah memahami tawakal.
Mereka mengira tawakal berarti duduk diam sambil menunggu keajaiban turun dari langit.
Padahal para nabi tidak pernah mengajarkan kemalasan.
Lihatlah kisah Hajar di lembah tandus Makkah.
Hari itu, gurun begitu sunyi.
Tidak ada pohon.
Tidak ada mata air.
Tidak ada manusia.
Hanya seorang ibu dan bayinya yang menangis kehausan.
Bayangkan dada Hajar saat itu.
Langit membakar pasir. Bayinya menangis kehausan. Persediaan air habis. Dan di hadapannya hanya bentangan padang gersang.
Tetapi Hajar tidak menyerah kepada ketakutan.
Ia berlari antara Bukit Shafa dan Marwah.
Berlari.
Bolak-balik.
Mencari air.
Mencari harapan.
Tujuh kali.
Bukankah Allah mampu langsung menurunkan Zamzam tanpa membuat Hajar berlari?
Tentu mampu.
Tetapi Allah sedang mengajarkan kepada manusia bahwa pertolongan langit sering datang setelah kaki manusia bergerak dan hati manusia bersandar penuh kepada-Nya.
Hajar berlari, tetapi hatinya tidak bergantung pada larinya.
Inilah inti tawakal.
Ikhtiar di kaki.
Ketundukan di hati.
Dan saat langkahnya mencapai titik paling lelah, Allah memancarkan Zamzam dari arah yang tak pernah disangka: dari bawah kaki bayi kecilnya.
Begitulah cara Allah bekerja.
Sering kali pertolongan datang bukan dari arah yang kita hitung.
Di Antara Laut dan Tentara
Ada saat dalam hidup ketika seseorang merasa seperti berada di ujung laut.
Di belakang ada ancaman.
Di depan tidak ada jalan.
Dan semua logika berkata:
“Selesai.”
Itulah yang dirasakan kaum Musa ketika mereka dikejar Fir’aun.
Di depan mereka Laut Merah.
Di belakang mereka pasukan bersenjata.
Orang-orang mulai panik.
“Kita akan tertangkap!”
Tetapi Musa menjawab dengan ketenangan yang melampaui logika manusia:
> “Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
Kalimat itu bukan sekadar optimisme.
Itu adalah keyakinan yang lahir dari kedekatan dengan Allah.
Musa tidak tahu bagaimana cara Allah menyelamatkan mereka.
Beliau tidak tahu laut akan terbelah.
Beliau hanya tahu satu hal:
Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya.
Dan sering kali, itulah yang dibutuhkan manusia.
Bukan mengetahui seluruh rencana Allah.
Tetapi percaya kepada-Nya meskipun belum memahami rencana itu.
Lalu tongkat dipukulkan.
Laut terbelah.
Jalan muncul di tempat yang sebelumnya tampak mustahil.
Bukankah hidup sering seperti itu?
Kita terlalu sibuk mencari jalan menurut logika kita sendiri, hingga lupa bahwa Allah mampu menciptakan jalan baru yang tidak pernah kita bayangkan.
Gua yang Sempit dan Langit yang Luas
Perhatikan pula perjalanan hijrah Rasulullah ï·º bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Mereka bersembunyi di Gua Tsur.
Musuh berada sangat dekat.
Abu Bakar cemas.
Bukan karena takut mati, tetapi karena takut Rasulullah ï·º disakiti.
Saat itu Rasulullah ï·º berkata:
> “Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.”
Betapa agung kalimat itu.
Gua itu sempit.
Tetapi hati Rasulullah ï·º luas.
Karena siapa pun yang merasa bersama Allah tidak akan benar-benar sendirian.
Perhatikan sesuatu yang sangat halus di sini.
Rasulullah ï·º tidak langsung keluar menyerang musuh.
Beliau juga tidak panik.
Beliau menunggu.
Tetapi penantian itu bukan penantian kosong.
Ia dipenuhi keyakinan.
Dipenuhi ketenangan.
Dipenuhi prasangka baik kepada Allah.
Dan benar, pertolongan datang dengan cara yang tidak biasa.
Sarang laba-laba.
Burung merpati.
Hal-hal kecil yang tampak sederhana di mata manusia, tetapi menjadi benteng besar ketika Allah menghendakinya.
Begitulah pertolongan Allah sering datang.
Kadang bukan dengan gemuruh.
Kadang hanya lewat sesuatu yang kecil, tetapi cukup untuk menyelamatkan hidup seseorang.
Mengapa Menunggu Begitu Berat?
Karena manusia menyukai kepastian.
Sedangkan iman sering tumbuh di wilayah yang tidak pasti.
Ketika doa belum terkabul, manusia mulai gelisah.
Ketika jawaban belum datang, manusia mulai lelah.
Padahal penantian adalah ruang tempat Allah sedang membentuk jiwa.
Bayangkan seorang petani.
Ia menanam benih hari ini, tetapi tidak marah karena besok pohonnya belum berbuah.
Ia memahami bahwa akar perlu tumbuh lebih dulu di dalam tanah yang gelap.
Begitu pula doa.
Ada doa yang langsung dijawab.
Ada yang ditunda.
Ada yang diganti dengan sesuatu yang lebih baik.
Dan ada doa yang sengaja dibiarkan mengetuk langit lebih lama karena Allah mencintai suara hamba-Nya.
Bukankah sering kali manusia baru benar-benar dekat kepada Allah saat ia sedang menunggu?
Saat sakit, ia lebih banyak berdoa.
Saat kesulitan, ia lebih sering menangis di malam hari.
Saat tidak punya siapa-siapa, ia lebih sungguh-sungguh bersandar kepada Tuhan.
Mungkin karena itu Allah kadang menunda.
Bukan karena tidak sayang.
Tetapi karena Allah ingin hamba itu tinggal lebih lama di pintu-Nya.
Penantian yang Membersihkan Hati
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa Allah sering menunda pertolongan agar hati manusia dibersihkan dari ketergantungan kepada selain-Nya.
Sebab terkadang manusia meminta pertolongan Allah, tetapi hatinya masih terlalu percaya kepada dunia.
Masih terlalu yakin pada uang.
Masih terlalu bergantung pada manusia.
Masih terlalu berharap pada kekuatan dirinya sendiri.
Lalu Allah membuat semua sebab itu melemah.
Agar manusia sadar:
Yang benar-benar menolong hanyalah Dia.
Karena itu, masa menunggu sebenarnya bukan ruang kosong.
Ia adalah ruang pendidikan.
Di sanalah kesombongan dihancurkan.
Di sanalah ego dilembutkan.
Di sanalah hati belajar tunduk.
Dan di sanalah manusia memahami bahwa dirinya hanyalah hamba.
Kemenangan Setelah Kesabaran
Rasulullah ï·º pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib:
> “Ketahuilah bahwa kemenangan datang bersama kesabaran. Kelapangan datang setelah kesempitan. Dan sesudah kesulitan ada kemudahan.”
Perhatikan susunannya.
Bukan kemenangan lalu sabar.
Tetapi sabar dahulu, baru kemenangan.
Karena kesabaran bukan sekadar menunggu.
Kesabaran adalah tetap berjalan meski lelah.
Tetap berharap meski belum melihat hasil.
Tetap berbaik sangka kepada Allah meski hidup terasa lambat.
Dan justru di situlah manusia ditempa menjadi lebih kuat.
Ada orang yang diberi kemenangan cepat, tetapi jiwanya rapuh.
Ada pula orang yang lama menunggu, tetapi setelah pertolongan datang, imannya menjadi sangat kokoh.
Karena penantian melahirkan kedalaman.
Ketika Langit Tampak Diam
Mungkin hari ini ada orang yang sedang membaca tulisan ini sambil membawa luka.
Ada yang sedang menunggu pekerjaan.
Menunggu kesembuhan.
Menunggu hutang lunas.
Menunggu rumah tangga membaik.
Menunggu doa yang belum juga menemukan jawabannya.
Dan mungkin diam-diam ia bertanya:
“Ya Allah, apakah Engkau masih mendengarkanku?”
Ketahuilah.
Diamnya langit bukan berarti Allah meninggalkanmu.
Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar daripada yang kau minta.
Bisa jadi Allah sedang mengajarkanmu berjalan lebih dekat kepada-Nya.
Bisa jadi Allah ingin hatimu matang sebelum menerima apa yang kau inginkan.
Karena tidak semua yang cepat itu baik.
Dan tidak semua yang lambat itu buruk.
Bukankah bayi pun memerlukan waktu di dalam rahim sebelum lahir ke dunia?
Bukankah buah memerlukan musim sebelum matang?
Bukankah malam paling gelap justru terjadi sebelum fajar datang?
Maka jangan buru-buru putus asa.
Menjadikan Penantian sebagai Ibadah
Pada akhirnya, menunggu kemudahan dari Allah adalah ibadah karena di dalamnya ada cinta, harapan, kesabaran, tawakal, dan keyakinan.
Ia adalah ibadah yang sunyi.
Tidak dilihat manusia.
Tidak dipuji banyak orang.
Tetapi sangat diketahui Allah.
Ketika seseorang tetap sujud meski doanya belum terkabul, langit menyaksikan ketulusannya.
Ketika seseorang tetap berkata “Allah cukup bagiku” meski hidup sedang sempit, para malaikat mencatat ketabahannya.
Dan ketika seseorang tetap yakin bahwa pertolongan akan datang meski semua pintu tampak tertutup, sesungguhnya ia sedang menjalankan salah satu ibadah paling mulia di sisi Allah.
Karena iman sejati bukan hanya tentang percaya bahwa Allah mampu memberi pertolongan.
Tetapi percaya bahwa Allah akan memberi pertolongan pada waktu terbaik menurut-Nya.
Maka teruslah mengetuk pintu langit.
Teruslah berdoa.
Teruslah berharap.
Jangan menyerah hanya karena jawaban belum datang hari ini.
Sebab sering kali, Allah sedang menulis kisah yang jauh lebih indah daripada yang mampu kita bayangkan.
Dan percayalah—
Tidak ada penantian seorang mukmin yang sia-sia ketika ia menunggu sambil bersandar kepada Allah.
0 komentar: