Fakta Historis: Para Pendiri Israel Sendiri Meragukan Keberlangsungan Negaranya
Perang dapat dimenangkan.
Wilayah dapat diduduki.
Kelompok perlawanan dapat dilemahkan.
Namun, apakah semua itu cukup untuk menghilangkan rasa takut terhadap masa depan sebuah negara?
Pertanyaan itulah yang menarik ketika menelusuri sejarah para pemimpin Israel. Di balik citra negara yang memiliki salah satu kekuatan militer paling modern di dunia, tersimpan kegelisahan yang justru berulang kali diungkapkan oleh para pemimpinnya sendiri.
Kegelisahan itu bukan semata-mata lahir setelah perang di Gaza atau setelah Badai Al-Aqsa pada 2023.
Jejaknya dapat ditemukan sejak dekade-dekade awal berdirinya negara tersebut.
Keraguan yang Datang dari Pendiri Negara
Salah satu kesaksian paling menarik datang dari Nahum Goldmann, mantan Presiden Organisasi Zionis Dunia.
Dalam bukunya The Jewish Paradox, Goldmann menceritakan percakapannya dengan Perdana Menteri pertama Israel, David Ben-Gurion, pada musim panas 1956.
Ben-Gurion berkata:
«"Saya mendekati usia tujuh puluh tahun. Jika Anda bertanya apakah saya akan dimakamkan di Negara Israel, saya akan menjawab ya. Dalam sepuluh atau dua puluh tahun lagi negara Yahudi mungkin masih ada."»
Namun ia melanjutkan dengan kalimat yang jauh lebih mengejutkan.
«"Jika Anda bertanya apakah putra saya, Amos, akan dimakamkan di negara Yahudi setelah kematiannya, saya hanya memberi peluang lima puluh persen."»
Goldmann kemudian bertanya,
«"Bagaimana Anda bisa tidur dengan harapan seperti itu?"»
Ben-Gurion menjawab singkat,
«"Siapa bilang saya bisa tidur?"»
Percakapan tersebut menunjukkan bahwa bahkan salah seorang arsitek utama berdirinya Israel pun pernah menyimpan keraguan mengenai keberlangsungan proyek yang sedang dibangunnya.
Kekhawatiran yang Terus Berulang
Enam dekade kemudian, kegelisahan serupa kembali muncul.
Pada tahun 2017, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan keinginannya agar Israel dapat mencapai usia seratus tahun.
Menurutnya, keberadaan negara itu tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang otomatis, tetapi harus terus dipertahankan.
Pernyataan tersebut juga dikaitkan dengan pandangan yang berkembang di sebagian kalangan mengenai sejarah negara-negara Yahudi pada masa lampau yang dinilai tidak bertahan lama.
Kekhawatiran itu kembali diungkapkan oleh mantan Perdana Menteri Ehud Barak dalam artikel yang diterbitkan harian Yedioth Ahronoth pada Mei 2022.
Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah Yahudi, sebagian besar entitas politik Yahudi tidak bertahan melewati dekade kedelapan, kecuali beberapa periode yang juga akhirnya mengalami kemunduran.
Terlepas dari benar atau tidaknya analogi sejarah tersebut, yang menarik adalah kenyataan bahwa kekhawatiran itu diungkapkan oleh tokoh-tokoh yang pernah memimpin negara itu sendiri.
Mengapa Rasa Cemas Itu Tetap Ada?
Pertanyaan berikutnya adalah, mengapa kecemasan tersebut tetap muncul meskipun Israel memiliki keunggulan militer dan teknologi yang sangat besar?
Negara itu memiliki angkatan bersenjata modern, sistem pertahanan berlapis, dukungan intelijen yang luas, serta hubungan strategis dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat.
Namun, superioritas militer tidak selalu identik dengan rasa aman.
Dalam berbagai kajian politik dan keamanan, keberlangsungan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi juga oleh stabilitas sosial, legitimasi politik, kohesi masyarakat, serta kemampuan menghadapi tantangan jangka panjang.
Karena itu, sebagian analis memandang bahwa kecemasan para pemimpin Israel lebih berkaitan dengan ketidakpastian strategis daripada sekadar ancaman militer sesaat.
Ancaman yang Bersifat Berlapis
Selama beberapa dekade terakhir, Israel menghadapi tantangan dari berbagai arah.
Di tingkat eksternal, konflik dengan Palestina, Lebanon, dan aktor-aktor regional terus berlangsung tanpa penyelesaian politik yang permanen.
Di tingkat internal, polarisasi politik, perdebatan mengenai identitas negara, serta ketegangan antara berbagai kelompok masyarakat juga menjadi perhatian banyak pengamat.
Perang yang berkepanjangan turut memperbesar tekanan terhadap ekonomi, keamanan, dan psikologi masyarakat.
Dalam konteks seperti itu, rasa aman tidak hanya bergantung pada jumlah rudal, ketebalan tembok perbatasan, atau kecanggihan teknologi pertahanan.
Pelajaran dari Sejarah
Sejarah menunjukkan bahwa banyak negara dengan kekuatan militer besar tetap menghadapi tantangan eksistensial.
Kemenangan di medan perang tidak selalu menjamin keberlangsungan sebuah negara dalam jangka panjang.
Karena itu, ketika Ben-Gurion, Netanyahu, maupun Ehud Barak mengungkapkan kekhawatiran mengenai masa depan Israel, pernyataan tersebut dapat dipahami sebagai cerminan bahwa mereka sendiri menyadari kompleksitas tantangan yang dihadapi negaranya.
Kesimpulan
Badai Al-Aqsa bukanlah peristiwa yang melahirkan kecemasan eksistensial di kalangan elite Israel.
Kecemasan itu telah muncul jauh sebelumnya.
Kesaksian David Ben-Gurion pada 1956, pernyataan Benjamin Netanyahu pada 2017, dan refleksi Ehud Barak pada 2022 menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai keberlangsungan Israel telah lama menjadi bagian dari perdebatan internal mereka.
Apakah kekhawatiran tersebut akan terbukti dalam sejarah, tentu hanya waktu yang dapat menjawabnya.
Namun, fakta bahwa para pendiri dan mantan pemimpin Israel sendiri pernah mempertanyakan masa depan negaranya merupakan bagian penting dari sejarah yang layak dicermati ketika membaca dinamika konflik di kawasan hingga hari ini.
0 komentar: