Tsiqah kepada Allah: Kunci Ketenangan dan Pertolongan Allah
Makna Tsiqah Billah (Percaya pada Allah): Keyakinan mendalam bahwa segala ketentuan berada di genggaman Allah, serta menyadari bahwa manusia tidak memiliki kemampuan mengubah takdir-Nya.
Dengan keyakinan ini, seorang muslim berkeyakinan bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan dan menekankannya. Ketika semua makhluk meninggalkan dirinya, ketsiqahan mukmin terhadap apa yang di sisi Allah jauh lebih besar daripada apa yang ada digenggamannya.
Karena itulah, seorang mukmin tetap tenang pikirannya dan tenteram jiwanya, ketika kesusahan semakin meningkat dan rasa sakit kian berat. Sebab, yang apa yang menimpanya tidak akan pernah luput darinya. Sedangkan apa yang tidak akan menimpanya juga tidak akan pernah menimpanya.
Lihatlah ketsiqahan ibunda Nabi Musa kepada Rabb-nya ketika ia memenuhi ilham dari Allah untuk menganyutkan anaknya ke aliran sungai yang diombang-ambing oleh gelombang arus sungai Nil. Menurut Ibnu Qayyim, yang dilakukannya merupakan hakikat dari tsiqah kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.”
(Al-Qaṣaṣ [28]:7)
Ketika Nabi Musa bersama pengikutnya berlari hingga terjepit di pinggir laut. Para pengikutnya yakin akan terkejar. Namun Nabi Musa tetap yakin bahwa mereka tidak akan terkejar. Hatinya telah dipenuhi rasa tsiqah kepada Rabb-nya, yaitu pertolongan Allah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قَالَ كَلَّا ۗاِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
Dia (Musa) berkata, “Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.”
(Asy-Syu‘arā' [26]:62)
Ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api, nampaklah ketsiqahannya kepada Allah. Nabi Ibrahim mengucapkan, "Hasbiyallahu wani'mal wakil." Kalimat ini pun dikatakan ulang oleh Rasulullah saw dan para Sahabatnya saat pasukan besar dikabarkan hendak mengepungnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوْا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًاۖ وَّقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
(yaitu) mereka yang (ketika ada) orang-orang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
(Āli ‘Imrān [3]:173)
Momentum hijrah adalah ujian ketsiqahan. Ketika, kaki-kaki para pemburu Nabi berada di atas kepalanya di Gua Tsur. Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, sekiranya seorang dari mereka melihat ke bawah kedua kakinya, niscaya mereka akan melihat kita."
Nabi saw bersabda, "Bagaimana persangkaanmu wahai Abu Bakar terhadap dua orang, sedang yang ketiganya adalah Allah."
Di perang Ahzab, saat kota Madinah dikepung dari seluruh penjuru oleh tentara yang berjumlah 10.000 pasukan dari seluruh kabilah Arab. Di dalam kota, Yahudi melakukan pengkhianatan. Dalam kondisi genting ini, ketakutan berubah menjadi ketentraman. Setelah itu datanglah pertolongan Allah berupa badai, hujan besar dan petir yang memporakporandakan musuh.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَمَّا رَاَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْاَحْزَابَۙ قَالُوْا هٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَصَدَقَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ ۖوَمَا زَادَهُمْ اِلَّآ اِيْمَانًا وَّتَسْلِيْمًاۗ
Ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan (yang bersekutu) itu, mereka berkata, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.” Benarlah Allah dan Rasul-Nya. Hal itu justru makin menambah keimanan dan keislaman mereka.
(Al-Aḥzāb [33]:22)
Tsiqah kepada Allah akan mendapatkan pertolongan Allah. Tsiqah kepada Allah membuat seluruh pintu kemudahan terbuka dengan sendirinya.
Sumber:
Majdi Al-Hilali, Syarah Arkanul Baiah, Era Intermedia, 2021
0 komentar: