Saat Kehilangan Pekerjaan
Malam itu jalanan terasa lebih panjang dari biasanya.
Seorang wazir berjalan sendirian di tengah gurun yang mulai diselimuti dingin. Angin berembus perlahan, membawa debu-debu kecil yang menempel di ujung jubahnya. Langkahnya berat. Bukan karena perjalanan, tetapi karena pikirannya sendiri.
Baru pagi tadi sang raja memecatnya.
Sebuah kesalahan kecil—atau mungkin sebuah intrik istana—telah menghapus seluruh kehormatan yang selama ini melekat pada namanya. Orang-orang yang dulu membungkuk hormat kini mulai menjaga jarak. Pintu-pintu yang dahulu terbuka kini perlahan tertutup.
Dan yang paling menyakitkan bukanlah hilangnya jabatan.
Melainkan hilangnya perasaan aman.
Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:
> “Bagaimana hidupku besok?”
“Siapa aku tanpa jabatan ini?”
“Apa yang tersisa ketika semua penghormatan dicabut?”
Begitulah manusia.
Kita sering kali tidak sadar bahwa selama ini kita menggantungkan rasa tenang pada sesuatu yang rapuh: pekerjaan, posisi, penghasilan, atau pengakuan manusia.
Padahal semua itu bisa hilang hanya dalam satu pagi.
Wazir itu terus berjalan dengan dada yang penuh sesak. Hingga di tengah perjalanan, samar-samar ia mendengar suara seseorang melantunkan syair.
Suara itu tidak keras. Namun entah mengapa terasa menembus jauh ke dalam relung jiwanya.
> “Berbaik sangkalah kepada Allah. Dia yang kemarin memberimu kebaikan dan meluruskan kebengkokan hidupmu.”
Langkah sang wazir melambat.
Orang itu melanjutkan bait berikutnya:
> “Sesungguhnya Tuhan yang memenuhi kebutuhanmu kemarin, akan memenuhi kebutuhanmu di esok hari.”
Wazir itu terdiam.
Seakan ada sesuatu yang runtuh dalam dirinya—bukan kehancuran, melainkan runtuhnya kesombongan tersembunyi yang selama ini ia pelihara tanpa sadar.
Ia baru menyadari bahwa selama ini ia mengira istanalah yang memberinya makan.
Ia mengira singgasanalah yang menjaga hidupnya.
Ia mengira jabatan adalah sumber rezekinya.
Padahal sejak awal, bukan kursi itu yang memberinya kehidupan.
Melainkan Allah.
Air matanya jatuh perlahan.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena malu.
Malu karena selama ini ia terlalu percaya pada apa yang ada di tangannya, dan terlalu sedikit percaya pada Yang menggenggam hidupnya.
Malam itu juga, ia memberikan sepuluh ribu dirham kepada orang yang melantunkan syair tersebut.
Bukan karena bait itu indah.
Tetapi karena syair itu telah menyelamatkan jiwanya.
---
Ketika Pekerjaan Menjadi Identitas
Ada luka yang tidak terlihat saat seseorang kehilangan pekerjaan.
Luka itu bukan hanya soal hilangnya penghasilan.
Melainkan hilangnya identitas.
Sebab dalam dunia modern, manusia perlahan diajarkan untuk mendefinisikan dirinya berdasarkan profesinya.
“Aku manajer.” “Aku direktur.” “Aku pegawai.” “Aku pejabat.” “Aku pemilik perusahaan.”
Lalu ketika pekerjaan itu hilang, ia tidak hanya kehilangan gaji.
Ia merasa kehilangan dirinya sendiri.
Karena itu banyak orang tidak benar-benar hancur ketika dipecat.
Mereka hancur karena merasa tidak lagi bernilai.
Padahal nilai manusia tidak pernah ditentukan oleh kartu jabatan.
Langit tidak pernah menilai manusia berdasarkan nama kantornya.
Dan Tuhan tidak pernah mencintai seseorang karena posisi sosialnya.
Betapa banyak orang sederhana yang justru mulia di sisi-Nya.
Dan betapa banyak orang berpangkat tinggi yang sebenarnya miskin jiwanya.
Kehilangan pekerjaan sering kali hanyalah cara hidup memisahkan antara “siapa dirimu” dan “apa pekerjaanmu”.
Karena keduanya tidak selalu sama.
---
Nabi Yusuf AS: Jalan Panjang Menuju Kapasitas Diri
Lihatlah kisah Yusuf.
Bukankah hidup beliau adalah rangkaian kehilangan?
Ia kehilangan masa kecil yang tenang. Kehilangan rumah ayahnya. Kehilangan kebebasannya. Kehilangan nama baiknya. Bahkan kehilangan masa mudanya di balik penjara.
Jika dilihat sekilas, hidup Yusuf tampak seperti rentetan kemunduran.
Namun ternyata semua kehilangan itu hanyalah lorong menuju takdir yang lebih besar.
Seandainya Yusuf tidak dibuang ke sumur, ia tidak akan sampai ke Mesir.
Seandainya ia tidak dipenjara, ia tidak akan bertemu orang-orang yang menjadi jalan menuju istana.
Dan seandainya hidupnya terlalu nyaman sejak awal, mungkin kapasitas kepemimpinannya tidak pernah tumbuh.
Kadang-kadang Tuhan memang harus “mengosongkan” hidup seseorang sebelum mengisinya dengan sesuatu yang lebih besar.
Karena gelas yang penuh tidak bisa diisi lagi.
Begitu pula manusia.
Ada orang yang terlalu nyaman dengan pekerjaannya sampai lupa bertumbuh.
Ada yang terlalu menikmati rutinitas hingga lupa bahwa dirinya memiliki potensi yang lebih luas.
Lalu hidup datang mengguncangnya.
Bukan untuk menghancurkannya.
Tetapi untuk membangunkannya.
---
“Mungkin Saja”
Dalam sebuah kisah tua dari Taoisme, diceritakan seorang petani kehilangan kudanya.
Tetangganya datang dan berkata:
> “Sungguh malang nasibmu.”
Petani itu hanya menjawab pelan:
> “Mungkin saja.”
Beberapa hari kemudian, kudanya kembali sambil membawa beberapa kuda liar.
Tetangganya berkata:
> “Sungguh beruntung dirimu!”
Petani itu kembali menjawab:
> “Mungkin saja.”
Lalu putranya jatuh saat menjinakkan kuda liar hingga kakinya patah.
Tetangganya kembali berkata:
> “Sungguh musibah besar.”
Petani itu lagi-lagi menjawab:
> “Mungkin saja.”
Tidak lama kemudian perang pecah. Semua pemuda diwajibkan ikut berperang.
Namun putra sang petani tidak dipanggil karena kakinya patah.
Begitulah hidup.
Kita terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai bencana.
Padahal mungkin itu penyelamatan.
Kita terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai keberuntungan.
Padahal mungkin itu awal petaka.
Manusia hanya melihat satu halaman.
Sedangkan Tuhan melihat seluruh buku.
Karena itu kehilangan pekerjaan tidak selalu berarti kehilangan masa depan.
Kadang itu hanyalah perpindahan jalan.
Kadang itu adalah pintu yang ditutup agar kita tidak masuk ke ruangan yang salah.
---
Imam Ahmad bin Hanbal dan Kehormatan yang Tidak Bisa Dicabut
Dalam sejarah Islam, Ahmad bin Hanbal pernah kehilangan banyak hal karena mempertahankan prinsipnya.
Beliau dipenjara. Disiksa. Dijauhkan dari posisi publik.
Secara duniawi, hidupnya tampak runtuh.
Namun justru dalam masa-masa sulit itulah namanya menjadi abadi.
Penguasa yang menyiksanya telah lama hilang ditelan sejarah.
Tetapi nama Ahmad bin Hanbal terus disebut hingga hari ini.
Ada pelajaran yang sangat dalam di sana:
Jabatan bisa dicabut manusia.
Tetapi kehormatan sejati tidak bisa dicabut siapa pun.
Sebab kehormatan sejati lahir dari integritas.
Dan integritas sering kali baru terlihat saat seseorang kehilangan segalanya.
---
Ketakutan Modern: Ketika Masa Depan Terasa Gelap
Ada satu hal yang paling menakutkan saat kehilangan pekerjaan:
masa depan.
Tagihan masih berjalan. Anak harus makan. Kebutuhan hidup terus datang.
Lalu pikiran mulai dipenuhi pertanyaan:
> “Bagaimana kalau aku tidak mendapatkan pekerjaan lagi?”
“Bagaimana kalau hidupku hancur?”
“Bagaimana kalau semua ini adalah akhir?”
Namun bukankah dulu kita juga pernah takut?
Dan ternyata kita tetap hidup sampai hari ini.
Bukankah dulu kita pernah merasa tidak akan sanggup melewati suatu masalah?
Namun ternyata Allah tetap membuka jalan.
Manusia sering lupa pada sejarah pertolongannya sendiri.
Padahal hidupnya penuh dengan bukti bahwa ia telah berkali-kali diselamatkan.
Itulah mengapa syair tadi begitu dalam:
> “Tuhan yang memenuhi kebutuhanmu kemarin, akan memenuhi kebutuhanmu esok hari.”
Kalimat itu bukan sekadar penghiburan.
Ia adalah undangan untuk mengingat.
Mengingat bahwa hidup kita tidak pernah benar-benar ditopang oleh pekerjaan.
Tetapi oleh rahmat Allah yang bekerja melalui banyak jalan.
Kadang melalui pekerjaan. Kadang melalui manusia. Kadang melalui pintu yang tidak pernah kita duga.
---
Kehilangan Sebagai Pembersihan Ruang
Ada orang yang baru menemukan panggilan hidupnya setelah dipecat.
Ada yang baru memulai usaha setelah kehilangan pekerjaan.
Ada yang baru dekat dengan keluarganya setelah ritme hidupnya diperlambat.
Ada pula yang baru mengenal Tuhan dengan lebih dalam setelah dunia menjauh darinya.
Karena sering kali kesibukan membuat manusia lupa mendengar suara jiwanya sendiri.
Ia terlalu sibuk bekerja sampai lupa bertanya:
> “Apakah aku benar-benar hidup?”
“Ataukah aku hanya bertahan?”
Maka terkadang hidup memaksa seseorang berhenti.
Bukan karena Tuhan membencinya.
Tetapi karena Tuhan ingin ia melihat sesuatu yang selama ini terlewat.
Bukankah pohon pun harus kehilangan daun-daunnya sebelum tumbuh kembali?
Bukankah tanah harus dibajak sebelum ditanami?
Bukankah malam harus gelap sebelum fajar datang?
Begitulah kehidupan.
Ada fase-fase ketika sesuatu harus diambil agar sesuatu yang baru bisa tumbuh.
---
Percayalah, Hidup Tidak Berakhir Hari Ini
Mungkin hari ini seseorang kehilangan pekerjaannya.
Mungkin hari ini ia pulang dengan wajah murung dan dada penuh sesak.
Mungkin malam ini ia belum tahu bagaimana membayar kebutuhan bulan depan.
Tetapi hidup belum selesai.
Jangan jadikan satu pintu tertutup sebagai alasan untuk mengira seluruh langit ikut tertutup.
Karena sering kali, saat manusia kehilangan satu pegangan, justru saat itulah ia belajar menggenggam Tuhan lebih erat.
Dan anehnya, dari situlah ketenangan mulai lahir.
Bukan karena masalahnya selesai.
Tetapi karena ia mulai percaya:
> “Aku mungkin kehilangan pekerjaan.
Tetapi aku tidak kehilangan Tuhan.”
Dan selama Tuhan masih membersamai langkah seseorang, tidak ada jalan yang benar-benar buntu.
Maka jika hari ini hidup terasa runtuh, duduklah sejenak.
Tarik napas perlahan.
Lalu ingat kembali seluruh hari-hari ketika Allah pernah menyelamatkanmu.
Sebab Tuhan yang menjagamu kemarin, tidak mungkin lupa menjagamu hari ini.
Dan Tuhan yang memberimu rezeki kemarin, tidak akan kehabisan cara untuk memberimu rezeki esok hari.
0 komentar: