Mengubah Musibah dengan Energi Alhamdulillah
Di dalam hidup, ada musibah yang datang seperti hujan gerimis—pelan, tetapi membuat hati lembap oleh kesedihan. Ada pula musibah yang jatuh seperti petir di siang hari—menggetarkan dada, mematahkan rencana, dan membuat seseorang duduk lama dalam diam sambil bertanya:
“Kenapa harus aku?”
Di saat seperti itulah manusia biasanya terbelah menjadi dua. Sebagian tenggelam dalam ratapan hingga kehilangan arah. Sebagian lain memilih menyalakan lilin kecil di dalam hatinya, lalu berkata pelan:
“Alhamdulillah…”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi orang-orang saleh, Alhamdulillah bukan sekadar ucapan di bibir. Ia adalah energi jiwa. Ia adalah cara memandang hidup. Ia adalah jembatan agar hati tidak runtuh saat dunia berguncang.
Salah satu kisah paling indah tentang hal ini datang dari seorang hakim agung di masa awal Islam: Syuraih bin Al-Harits.
Ia diangkat menjadi qadhi pada masa Umar bin Khattab, lalu tetap dipertahankan hingga era Ali bin Abi Thalib. Selama enam puluh tahun, ia duduk di kursi peradilan. Enam puluh tahun menghadapi pertikaian manusia, air mata, tipu daya, kemarahan, dan kesedihan.
Namun, sejarah tidak paling mengingatnya karena ketajaman putusannya.
Sejarah justru mengingat bagaimana ia menghadapi musibah.
---
Suatu hari, Syuraih tertimpa sebuah musibah. Tidak disebutkan secara rinci apa bentuk musibah itu. Seolah para ulama sengaja membiarkannya samar agar setiap orang bisa memasukkan luka mereka sendiri ke dalam kisah tersebut.
Mungkin kehilangan harta.
Mungkin sakit.
Mungkin kehilangan orang tercinta.
Mungkin pengkhianatan.
Mungkin sesuatu yang membuat dada terasa sempit dan malam terasa panjang.
Tetapi yang membuat para muridnya tertegun bukan jenis musibah itu. Yang membuat mereka heran adalah reaksi Syuraih.
Ia mengucapkan:
“Alhamdulillah…”
Bukan sekali.
Empat kali.
Para sahabat dan muridnya bertanya dengan heran,
“Mengapa engkau memuji Allah sampai empat kali dalam musibah seperti ini?”
Syuraih menjawab dengan tenang:
“Alhamdulillah pertama, karena musibah ini tidak lebih besar dari yang terjadi.”
“Alhamdulillah kedua, karena Allah masih memberiku kesabaran untuk menghadapinya.”
“Alhamdulillah ketiga, karena Allah memberiku taufik untuk mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, agar aku mendapatkan pahala.”
“Dan Alhamdulillah keempat, karena musibah ini tidak menimpa agamaku.”
Jawaban itu seperti embun yang jatuh di hati yang panas.
Musibah yang sama bisa menghancurkan seseorang, tetapi bisa pula mengangkat seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah. Yang membedakan sering kali bukan jenis musibahnya, melainkan cara memandangnya.
Syuraih tidak menyangkal rasa sakit.
Ia tidak berpura-pura kuat.
Ia tidak menertawakan penderitaan.
Tetapi ia memilih untuk tidak membiarkan musibah menguasai seluruh ruang di dalam hatinya.
Ia mencari cahaya di tengah gelap.
Dan cahaya itu bernama: syukur.
Syukur yang Menyelamatkan Jiwa
Banyak orang mengira syukur hanya mungkin dilakukan ketika hidup sedang baik-baik saja.
Padahal syukur yang paling mahal justru lahir ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.
Ketika seseorang masih mampu berkata “Alhamdulillah” di tengah kehilangan, sesungguhnya ia sedang menyelamatkan dirinya sendiri dari kehancuran batin.
Sebab musibah memiliki dua wajah.
Wajah pertama adalah rasa sakit yang datang dari luar.
Wajah kedua adalah kehancuran yang tumbuh dari dalam.
Dan sering kali, kehancuran kedua jauh lebih berbahaya.
Ada orang kehilangan harta, tetapi yang menghancurkannya bukan kehilangan itu—melainkan putus asa setelahnya.
Ada orang kehilangan pekerjaan, tetapi yang mematikannya perlahan bukan PHK itu—melainkan keyakinan bahwa hidupnya telah selesai.
Ada orang kehilangan seseorang yang dicintai, tetapi yang membuat jiwanya gelap bukan kematian itu—melainkan kemarahan kepada takdir.
Syuraih memahami sesuatu yang jarang dipahami manusia:
Musibah mungkin tidak bisa selalu ditolak, tetapi hati masih bisa dipilih.
Menghitung yang Tersisa
Sikap Syuraih mengingatkan kita kepada kisah agung Urwah bin Zubair.
Suatu hari, Urwah mengalami dua musibah sekaligus.
Kakinya harus diamputasi karena penyakit gangren yang membusuk. Pada hari yang sama, putranya meninggal dunia akibat tertendang kuda.
Bayangkan hari itu.
Satu tubuh kehilangan kaki.
Satu hati kehilangan anak.
Kebanyakan manusia mungkin akan jatuh dalam ratapan panjang.
Tetapi Urwah berkata:
“Ya Allah, Engkau memberiku empat anggota tubuh, lalu Engkau mengambil satu dan menyisakan tiga. Engkau memberiku tujuh anak, lalu Engkau mengambil satu dan menyisakan enam.”
Betapa aneh logika orang-orang saleh.
Saat manusia sibuk menghitung apa yang hilang, mereka sibuk menghitung apa yang masih tersisa.
Kita sering merasa dunia runtuh karena satu pintu tertutup, padahal masih banyak pintu lain yang tetap terbuka.
Kita menangisi satu nikmat yang dicabut, sambil lupa bahwa tubuh kita masih bernapas, mata masih melihat, lidah masih bisa berzikir, dan iman masih tinggal di dada.
Musibah sering kali membesarkan apa yang hilang hingga kita lupa melihat apa yang masih ada.
Padahal, jika Allah mau, Dia bisa mengambil semuanya sekaligus.
Nabi Ayyub dan Rasa Malu kepada Allah
Dalam sejarah para nabi, tidak ada kisah kesabaran yang lebih menggetarkan daripada kisah Ayyub.
Beliau kehilangan harta.
Kehilangan keluarga.
Kehilangan kesehatan.
Tubuhnya sakit bertahun-tahun hingga manusia menjauh darinya.
Namun yang menakjubkan bukan sekadar kesabarannya.
Yang paling menggetarkan adalah rasa malunya kepada Allah.
Diriwayatkan bahwa ketika istrinya memintanya berdoa agar penyakit itu segera diangkat, Ayyub berkata dengan lembut:
“Aku telah hidup dalam kesehatan selama puluhan tahun. Apakah aku tidak malu kepada Allah jika baru beberapa tahun diuji aku sudah meminta agar ujian itu segera diangkat?”
Kalimat itu menunjukkan tingkat cinta yang luar biasa kepada Tuhan.
Bagi kebanyakan manusia, nikmat terasa seperti hak.
Tetapi bagi para nabi dan orang saleh, nikmat adalah hadiah.
Dan orang yang memahami hidup sebagai hadiah akan lebih mampu bersabar ketika sebagian hadiah itu diambil kembali.
Musibah dan Ilusi Kepemilikan
Sebenarnya, salah satu sumber penderitaan terbesar manusia adalah ilusi bahwa semua yang ia miliki benar-benar miliknya.
Rumahku.
Hartaku.
Jabatanku.
Anakku.
Tubuhku.
Padahal semuanya hanyalah titipan.
Dan titipan suatu saat akan kembali kepada Pemiliknya.
Karena itulah kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un sangat dalam maknanya.
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
Kalimat itu bukan sekadar doa kematian.
Ia adalah deklarasi spiritual.
Bahwa sejak awal kita memang tidak pernah benar-benar memiliki apa pun.
Maka ketika sesuatu pergi, sejatinya kita hanya sedang mengembalikan titipan.
Dan bukankah tidak pantas seseorang marah ketika pemilik asli mengambil kembali miliknya?
Energi Alhamdulillah
Mengapa para ulama begitu menekankan ucapan Alhamdulillah?
Karena syukur memiliki kekuatan yang aneh.
Ia mengubah arah energi jiwa.
Orang yang terus mengeluh akan merasa hidupnya semakin sempit.
Tetapi orang yang tetap bersyukur akan menemukan ruang luas bahkan di tengah penderitaan.
Secara psikologis, syukur membuat seseorang berhenti tenggelam dalam kepanikan.
Ia memaksa pikiran melihat kenyataan secara lebih utuh.
Syuraih tidak berkata:
“Aku baik-baik saja.”
Tidak.
Ia mengakui adanya musibah.
Tetapi ia juga memilih melihat bahwa:
— Musibah itu masih bisa lebih buruk.
— Ia masih diberi kesabaran.
— Ia masih bisa berharap pahala.
— Imannya masih selamat.
Inilah yang dalam psikologi modern disebut reframing—mengubah bingkai cara pandang terhadap penderitaan.
Namun para ulama telah mengajarkannya jauh sebelum istilah-istilah modern lahir.
Musibah yang Menghancurkan Agama
Perhatikan syukur keempat dari Syuraih.
“Karena musibah ini tidak menimpa agamaku.”
Inilah puncaknya.
Bagi orang-orang saleh, kehilangan dunia bukanlah tragedi terbesar.
Tragedi terbesar adalah ketika musibah membuat seseorang kehilangan imannya.
Betapa banyak manusia yang saat miskin mulai meninggalkan shalat.
Saat gagal mulai membenci takdir.
Saat sakit mulai marah kepada Allah.
Saat kehilangan pasangan mulai tenggelam dalam maksiat.
Padahal dunia hanyalah tempat singgah.
Sedangkan agama adalah bekal perjalanan panjang menuju akhirat.
Karena itu Syuraih bersyukur:
“Harta boleh hilang. Kenyamanan boleh pergi. Tetapi selama imanku masih utuh, aku belum benar-benar kalah.”
Betapa dalam kalimat itu.
Hati yang Tidak Dikuasai Keadaan
Ada sebuah kisah hikmah tentang seorang lelaki lumpuh, buta, dan tuli yang terus mengucapkan Alhamdulillah.
Seseorang bertanya kepadanya,
“Nikmat apa yang masih engkau syukuri?”
Lelaki itu menjawab,
“Aku masih memiliki hati yang mengenal Allah dan lidah yang memuji-Nya.”
Jawaban itu menampar logika manusia modern.
Hari ini manusia mudah merasa miskin hanya karena kalah gaya hidup.
Mudah merasa gagal hanya karena tidak dipuji.
Mudah merasa sengsara hanya karena rencananya tertunda.
Padahal kebahagiaan sejati bukan terletak pada kesempurnaan keadaan, tetapi pada kemampuan hati untuk tetap hidup di tengah kekurangan.
Musibah sebagai Ruang Pembersihan
Para ulama sering mengatakan bahwa musibah adalah cara Allah membersihkan hati manusia.
Kadang manusia terlalu mencintai dunia hingga lupa pulang kepada Tuhan.
Lalu Allah mengguncang hidupnya.
Bukan untuk menghancurkannya.
Tetapi untuk membangunkannya.
Ada orang yang baru rajin berdoa setelah sakit.
Ada yang baru lembut setelah gagal.
Ada yang baru mengenal tahajud setelah kehilangan.
Ada yang baru memahami arti hidup setelah dunia mengecewakannya.
Betapa sering luka justru menjadi pintu hidayah.
Karena tidak semua manusia bisa sadar saat diberi nikmat.
Sebagian baru sadar saat kehilangan.
Seni Menjadi Tenang
Pada akhirnya, kisah Syuraih mengajarkan bahwa ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah.
Ketenangan adalah kemampuan menjaga hati agar tidak tenggelam oleh masalah.
Dan salah satu rahasia terbesar ketenangan itu adalah syukur.
Bukan syukur karena hidup selalu mudah.
Tetapi syukur karena Allah tetap bersama kita bahkan saat hidup terasa sulit.
Sebab orang yang memiliki Allah sebenarnya tidak pernah benar-benar kehilangan segalanya.
Mungkin hartanya hilang.
Mungkin jabatannya jatuh.
Mungkin tubuhnya melemah.
Mungkin dunia menjauh darinya.
Tetapi selama hatinya masih mengenal Allah, ia masih memiliki sumber cahaya yang tidak bisa dipadamkan oleh apa pun.
Karena itu, ketika musibah datang, mungkin kita boleh menangis.
Boleh sedih.
Boleh merasa lelah.
Sebab para nabi pun menangis.
Namun jangan biarkan kesedihan mengusir syukur dari hati.
Sebab terkadang, satu kalimat Alhamdulillah yang lahir dari dada yang terluka lebih dicintai Allah daripada panjangnya pujian dari lisan yang tidak pernah diuji.
0 komentar: