Dalam Kefrustasian Muslimin, Allah Menghadirkan Orang-Orang yang Mencintai-Nya
Dalam perjalanan sejarah yang panjang, umat Islam berkali-kali melewati masa-masa gelap. Di tengah kelalaian kaum muslimin, musuh-musuh datang menguasai wilayah-wilayah penting, merampas harta, merusak kehormatan, dan menumpahkan darah mereka.
Pada setiap fase kegelapan itu, mayoritas kaum muslimin dilanda frustrasi, kehilangan semangat, dan merasa tidak memiliki harapan untuk bangkit. Namun Allah tidak pernah meninggalkan umat ini. Di tengah keterpurukan, Allah selalu menghadirkan orang-orang yang mencintai-Nya dan dicintai-Nya—para pahlawan yang bangkit melawan kezaliman, merebut kembali tanah yang dirampas, serta mengembalikan kehormatan umat yang hilang.
Ketika Pasukan Salib datang ke Timur dan merebut Yerusalem pada tahun 1099 M, mereka melakukan pembantaian besar-besaran terhadap kaum muslimin. Masjid Al-Aqsa dipenuhi darah. Rumah-rumah dijarah, para ulama dibunuh, dan kota suci itu berubah menjadi lautan penderitaan.
Di tengah kehancuran tersebut, Allah menghadirkan Nuruddin Zanki. Ia tidak hanya membangun kekuatan militer, tetapi juga membangkitkan ruh umat melalui ilmu, persatuan, dan dakwah. Dari fondasi yang dibangunnya, lahirlah seorang panglima besar bernama Shalahuddin Al-Ayyubi.
Shalahuddin menyatukan Mesir dan Syam, lalu menghancurkan kekuatan utama Tentara Salib dalam Pertempuran Hattin tahun 1187 M. Kemenangan itu membuka jalan bagi pembebasan Yerusalem setelah hampir sembilan dekade berada di bawah penjajahan Salib.
Beberapa dekade setelah itu, dunia Islam kembali diguncang bencana yang lebih mengerikan. Pasukan Tartar di bawah Hulagu Khan menghancurkan Baghdad pada tahun 1258 M. Kota yang selama berabad-abad menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam itu diratakan dengan tanah. Perpustakaan dibakar, jutaan manusia dibantai, dan sungai-sungai dikatakan menghitam oleh tinta buku serta memerah oleh darah manusia.
Kaum muslimin saat itu tenggelam dalam ketakutan. Bangsa Mongol dianggap tidak terkalahkan. Namun di tengah keputusasaan itu, Allah menghadirkan Saifuddin Qutuz bersama panglimanya, Zahir Baibars.
Dalam Pertempuran Ain Jalut tahun 1260 M, pasukan Muslim berhasil menghancurkan Mongol untuk pertama kalinya dalam sejarah. Kemenangan itu bukan hanya menyelamatkan Mesir dan Syam, tetapi juga menyelamatkan dunia Islam dari kehancuran total.
Berabad-abad kemudian, negeri-negeri muslim kembali jatuh ke tangan kolonialisme Eropa. Inggris, Prancis, Belanda, Italia, dan bangsa-bangsa penjajah lainnya merampas kekayaan negeri-negeri Islam serta berusaha memadamkan identitas umat.
Namun sekali lagi, Allah menghadirkan para pejuang dari berbagai penjuru dunia Islam.
Di Libya, Omar Mukhtar memimpin perang gerilya melawan Italia selama puluhan tahun.
Di Aljazair, Emir Abdelkader menyatukan rakyat untuk menghadapi penjajahan Prancis.
Di Jawa, Pangeran Diponegoro mengobarkan perang besar melawan Belanda.
Di Sumatra, Tuanku Imam Bonjol memimpin perlawanan panjang demi mempertahankan agama dan kehormatan umat.
Di Kaukasus, Imam Syamil berdiri menghadapi ekspansi Rusia selama puluhan tahun.
Sejarah ini menunjukkan bahwa setiap kali umat berada di titik terlemah, Allah selalu menyiapkan orang-orang yang akan membangkitkan mereka kembali.
Karena itu, apa yang harus ditumbuhkan di tengah kefrustasian kaum muslimin hari ini?
Jangan pernah berputus asa. Putus asa bukanlah akhlak seorang mukmin. Kenyataan hari ini pernah menjadi mimpi pada masa lalu, dan mimpi hari ini dapat menjadi kenyataan di masa depan.
Masih ada kesempatan waktu. Unsur-unsur keselamatan masih hidup dalam hati kaum mukminin, meskipun kerusakan dan kezaliman merajalela. Orang yang lemah tidak akan selamanya lemah, dan orang yang kuat tidak akan terus-menerus berkuasa.
Kesusahan akan berlalu. Cobaan akan berakhir. Kaum mukminin akan keluar dari ujian ini sebagaimana pedang keluar dari sarungnya: lebih bersih, lebih tajam, dan lebih kuat.
Namun semua itu tidak dicapai dengan angan-angan. Kebangkitan lahir melalui dakwah—dakwah yang membangunkan iman, menyalakan harapan, melahirkan kreativitas, dan menggerakkan kerja tanpa henti.
Nuruddin Zanki membangun madrasah sebelum membangun kemenangan. Shalahuddin menyatukan hati sebelum menyatukan wilayah. Qutuz membangkitkan keberanian sebelum mengangkat pedang.
Begitulah sunnatullah dalam sejarah.
Kebangkitan selalu dimulai dari hati yang hidup, iman yang menyala, dan manusia-manusia yang bersedia berjuang tanpa menyerah kepada keadaan.
0 komentar: