Mengapa Al-Qur'an Tidak Mengisahkan Syahidnya Nabi Yahya, Melainkan Membentuk Karakternya?
Dalam tradisi Islam, Nabi Yahya dikenal sebagai seorang nabi yang syahid. Riwayat-riwayat sejarah dan tafsir menyebutkan bahwa beliau dibunuh setelah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Peristiwa itu sering dikaitkan dengan penguasa dari dinasti Herodian yang berada di bawah kekuasaan Romawi.
Namun muncul pertanyaan yang menarik.
Mengapa Al-Qur'an sama sekali tidak menceritakan peristiwa syahidnya Nabi Yahya? Mengapa justru yang ditonjolkan adalah pembentukan karakternya sejak kecil?
Jawabannya tampaknya terletak pada cara Al-Qur'an memandang sejarah. Al-Qur'an tidak menjadikan sejarah sebagai kronologi peristiwa, tetapi sebagai pendidikan iman. Yang ingin dibangun bukan sekadar pengetahuan tentang apa yang terjadi, melainkan mengapa seseorang mampu tetap teguh ketika peristiwa itu terjadi.
Karena itu, Surah Maryam tidak memulai kisah Yahya dari akhir hidupnya, tetapi dari fondasi kepribadiannya.
Allah berfirman:
«"Wahai Yahya! Peganglah Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh." Dan Kami memberikan hikmah kepadanya sejak dia masih kanak-kanak. (Maryam: 12)»
Ayat pertama langsung menunjukkan bahwa kekuatan seorang nabi bukanlah kekuatan politik atau militer, melainkan kekuatan ilmu dan komitmen terhadap wahyu. Sejak kecil Yahya telah dididik untuk memegang Taurat dengan penuh keteguhan (bi quwwah). Hikmah bahkan telah dianugerahkan kepadanya ketika masih kanak-kanak.
Tafsir menjelaskan bahwa sejak usia dini beliau lebih memilih ibadah daripada permainan. Gambaran ini menunjukkan bahwa keteguhan di masa dewasa berakar pada pendidikan ruhani sejak masa kecil.
Setelah fondasi ilmu, Al-Qur'an menyebut sifat berikutnya:
«"Kami anugerahkan kepadanya kasih sayang dari sisi Kami, kesucian, dan dia adalah seorang yang bertakwa." (Maryam: 13)»
Seorang nabi tidak hanya kuat dalam prinsip, tetapi juga lembut kepada manusia. Kata hanān menunjukkan kasih sayang yang mendalam, sedangkan zakāh menggambarkan kesucian jiwa. Ketegasan Yahya tidak lahir dari kebencian, tetapi dari hati yang penuh rahmat. Karena itu, keberaniannya menegakkan kebenaran bukanlah ambisi pribadi, melainkan buah dari ketakwaan.
Karakter berikutnya semakin memperjelas sosok beliau.
«"Dia sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong lagi durhaka." (Maryam: 14)»
Menarik bahwa Al-Qur'an menyandingkan keberanian seorang nabi dengan baktinya kepada orang tua. Seolah-olah Al-Qur'an ingin menegaskan bahwa orang yang menentang kezaliman bukanlah pribadi yang keras kepala terhadap semua orang. Sebaliknya, ia justru paling lembut kepada orang tuanya dan paling rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.
Yahya bukan seorang jabbar (penguasa yang sewenang-wenang), bukan pula 'ashiy (pembangkang terhadap Allah). Ia memiliki keberanian tanpa kesombongan.
Kemudian Al-Qur'an menutup profil Nabi Yahya dengan sebuah penghormatan yang sangat istimewa:
«"Kesejahteraan baginya pada hari dia dilahirkan, pada hari dia wafat, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali." (Maryam: 15)»
Ayat ini sama sekali tidak menjelaskan bagaimana beliau wafat. Tidak ada nama penguasa. Tidak ada rincian eksekusi. Tidak ada kronologi politik.
Yang ditegaskan justru bahwa Allah memberikan keselamatan kepadanya pada tiga fase paling menentukan dalam kehidupan manusia: saat lahir, saat wafat, dan saat dibangkitkan.
Inilah fokus Al-Qur'an.
Pelaku kejahatan sering kali tidak disebutkan namanya, tetapi karakter para nabi dijelaskan dengan sangat rinci. Sebab musuh akan berganti dari zaman ke zaman, sedangkan karakter seorang pejuang kebenaran harus diwariskan kepada setiap generasi.
Jika Al-Qur'an hanya menceritakan bahwa Yahya dibunuh oleh penguasa zalim, pembaca mungkin hanya mengenang tragedinya. Namun ketika Al-Qur'an membangun karakter Yahya sejak masa kecil—berpegang teguh pada wahyu, memiliki hikmah, penuh kasih sayang, suci jiwanya, bertakwa, berbakti kepada orang tua, rendah hati, dan tidak durhaka—maka pembaca memahami mengapa ia sanggup menghadapi tekanan sampai akhir hayat.
Dengan demikian, Surah Maryam tidak sedang mengajarkan bagaimana seorang nabi mati, tetapi bagaimana seorang nabi dibentuk.
Syahidnya Nabi Yahya menjadi konsekuensi dari karakter itu, bukan tema utamanya.
Pesan ini juga relevan bagi dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Di periode Makkah, kaum Muslim belum diperintahkan membangun kekuatan politik. Yang sedang dibangun terlebih dahulu adalah manusia-manusia berkarakter: kokoh memegang wahyu, bersih hatinya, penuh kasih sayang, rendah hati, dan tetap teguh meskipun berhadapan dengan penguasa yang zalim.
Sejarah dapat menginspirasi sesaat, tetapi karakter akan membimbing setiap zaman. Itulah sebabnya Al-Qur'an lebih banyak mengabadikan sifat-sifat Nabi Yahya daripada kronologi syahidnya.
0 komentar: