5 Pilar Penghempas Kelalaian yang Mengaburkan Tujuan Hidup
Kebanyakan manusia lalai terhadap tujuan hidup yang hendak diraih. Kelalaian itu membuat mereka tidak lagi mampu membedakan mana tujuan yang mulia dan mana tujuan yang murahan. Sebagian lain kehilangan skala prioritas, sehingga mendahulukan perkara hina dan remeh, lalu mengabaikan hal-hal yang bernilai di sisi Allah.
Kelalaian (ghaflah) inilah yang perlahan mengaburkan nilai, keteladanan, dan arah kehidupan. Akibatnya, orang-orang yang miskin nilai justru diangkat menjadi pemimpin dan panutan sosial di berbagai bidang kehidupan.
Di bidang sosial, para artis dan figur hiburan yang mempertontonkan syahwat serta kemaksiatan dijadikan idola dan kiblat gaya hidup.
Di bidang ekonomi, riba merajalela. Para rentenir dan pemilik modal menguasai pundi-pundi kekayaan, pasar, saham, obligasi, serta berbagai perangkat investasi lainnya. Sementara itu, orang-orang saleh tertinggal, tersisih, dan nyaris tidak memiliki pengaruh dalam percaturan ekonomi.
Ekonomi akhirnya dikuasai para pemimpin boneka tanpa perlawanan berarti.
Di bidang politik, muncul para pembohong, penjaja slogan, dan pembuat konsep yang bersekongkol dengan pemodal serta kekuatan asing demi mempertahankan kekuasaan. Politik pun menjadi ruang yang dijauhi oleh orang-orang bertakwa, sehingga panggung kekuasaan diisi oleh mereka yang miskin amanah dan nurani.
Kelalaian ini menyesatkan manusia. Banyak orang akhirnya menelusuri jalan-jalan setan dan gang-gang syahwat tanpa pernah merasakan kepuasan. Mereka tidak menyadari bahwa jihad adalah jalan kebenaran, dimulai dari jihad melawan hawa nafsu dan kelalaian diri sendiri.
Dalam pandangan para ulama dan pemikir Islam, kelalaian adalah akar kerusakan peradaban. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin menjelaskan bahwa ghaflah mematikan hati sehingga manusia kehilangan kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Sementara Sayyid Qutb menyebut kondisi modern ini sebagai “jahiliyah modern”, yaitu ketika manusia menyingkirkan hukum Allah dan menggantinya dengan hawa nafsu serta kepentingan dunia.
Di bidang ekonomi, pemikir ekonomi Islam seperti Umer Chapra mengkritik sistem riba dan spekulasi yang hanya memperkaya elite pemodal. Sedangkan Abul A'la Al-Maududi mengingatkan bahwa politik yang dijauhkan dari ketakwaan akan berubah menjadi alat kekuasaan para oportunis dan penjaja kepentingan.
Karena itu, kebangkitan umat tidak cukup hanya dengan kemarahan sosial atau kritik politik. Kebangkitan harus dimulai dari pembenahan tujuan hidup, kejernihan iman, dan keberanian mengembalikan Allah sebagai pusat orientasi kehidupan.
Karena itu, inilah saatnya bagi hati-hati yang telah dibukakan Allah untuk menerima agama-Nya kembali memberikan penjelasan tentang tujuan hidup yang lurus dan luhur. Tujuan hidup yang tidak sekadar mengejar dunia, tetapi juga membangun kemuliaan di hadapan Allah.
Ada lima pilar yang mampu memperbarui semangat umat, mengembalikan potret generasi salafus saleh, serta membangkitkan kembali kejayaan peradaban Islam. Lima pilar itu adalah:
1. Allah adalah tujuan kami
2. Rasul adalah teladan kami
3. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup kami
4. Jihad adalah jalan perjuangan kami
5. Syahid di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami
Lima pilar ini dikenal sebagai semboyan perjuangan yang dirumuskan oleh Hasan Al-Banna, dimana kelima pilar tersebut merupakan manifesto spiritual dan gerakan peradaban untuk menghempas kelalaian umat.
Allah adalah tujuan kami berarti memurnikan tauhid dari penyembahan terhadap materi, popularitas, kekuasaan, dan syahwat.
Rasul adalah teladan kami mengembalikan Nabi Muhammad ï·º sebagai pusat keteladanan di tengah krisis figur panutan.
Al-Qur’an adalah petunjuk hidup kami menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya bacaan ritual, tetapi pedoman kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.
Jihad adalah jalan perjuangan kami mengajarkan bahwa perubahan harus dimulai dari perjuangan melawan hawa nafsu, kebodohan, dan kezaliman.
Sedangkan syahid di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami merupakan lawan dari penyakit wahn: cinta dunia dan takut mati.
Inilah lima pilar yang menghempas kelalaian dan mengembalikan arah hidup seorang mukmin menuju kemuliaan dunia dan akhirat.
0 komentar: