Liku-Liku Ternate Melawan Penjajah Portugis
Selama berabad-abad, perairan Nusantara adalah panggung bagi sebuah simfoni perdagangan yang tenang. Di bawah kepakan layar-layar kapal dari berbagai penjuru bumi, rempah-rempah berpindah tangan tanpa bayang-bayang moncong meriam yang dominan.
Namun, harmoni itu pecah seketika pada fajar 10 Agustus 1511. Kedatangan armada Alfonso de Albuquerque yang mengepung Malaka bukan sekadar ekspedisi dagang, melainkan sebuah aneksasi brutal yang memaksa Sultan Mahmud Shah melarikan diri ke pedalaman, hingga akhirnya ia harus membangun sisa-sisa kekuasaannya di Pulau Bintan sebelum wilayah itu pun dihancurkan pada 1526.
Kejatuhan Malaka adalah sebuah "gempa" geopolitik yang mengubah peta kekuatan Asia Tenggara selamanya. Ambisi Portugis tidak berhenti di sana; mereka terus merangsek, memburu aroma cengkeh dan pala hingga ke jantung Maluku.
Sebagai seorang pencatat sejarah, saya melihat babak ini bukan sekadar penaklukan militer, melainkan sebuah orkestrasi intrik, monopoli paksa, dan pengkhianatan yang jarang disoroti secara mendalam dalam narasi arus utama.
Hegemoni di Balik Secarik 'Cartazes'
Setelah mengamankan titik-titik krusial di Goa, Malaka, dan Hormuz, Portugis memproklamirkan kedaulatan absolut atas Samudra Hindia. Instrumen utamanya bukanlah sekadar kapal perang, melainkan selembar kertas bernama cartazes.
Ini adalah surat izin pelayaran yang wajib dimiliki setiap pedagang yang melintas. Tanpanya, kapal-kapal akan disita dan muatannya dirampas. Kebijakan ini merupakan upaya sistematis untuk memutus urat nadi perdagangan umat Islam yang membentang dari Laut Merah hingga Afrika Timur.
Perubahan ini begitu drastis sehingga sejarawan K.N. Chaudhuri menggambarkan momen tersebut sebagai akhir dari sebuah era:
"Tentu saja kedatangan Portugis di Benus Hindia (sebuah istilah arkais untuk menyebut kepulauan Indonesia) mengakhiri dengan tiba-tiba sistem pelayaran laut yang damai yang menjadi ciri-ciri yang menandai kawasan ini."
Dampaknya melampaui batas-batas samudra. Jalur rempah yang biasanya mengalir melalui Alexandria dan Venesia dipaksa berbelok menuju Lisbon dan Antwerp.
Ini bukan sekadar perpindahan pelabuhan, melainkan lahirnya ekonomi dunia baru yang berpusat di Atlantik, yang secara paksa meminggirkan perantara tradisional di Timur Tengah dan Mediterania.
Tipu Muslihat 'Feitoria' dan Kedok Sang Penyelamat
Pencarian Portugis akan "Pulau Rempah" berlanjut di bawah komando nakhoda Ismail. Namun, sejarah mencatat kontras yang menarik antara dua sosok: D'Abreu yang memilih kembali ke Malaka dengan muatan penuh, dan Francisco Serrao yang memilih melangkah lebih jauh ke dalam misteri kepulauan ini.
Pada Januari 1512, Serrao mencapai pesisir Hitu di Pulau Ambon. Ia disambut dengan tangan terbuka oleh Ampay Perdana.
Di sinilah Portugis memainkan peran sebagai "pahlawan" oportunistik. Dengan membantu penduduk lokal memenangkan pertempuran melawan kampung-kampung di Seram Barat, Portugis mendapatkan kepercayaan yang tak ternilai harganya.
Mereka diizinkan membangun feitoria atau pusat dagang sementara di Ternate dan diberikan hak monopoli cengkeh. Namun, undangan dari Sultan Ternate, Bayan Sirullah, maupun persaingan dari Sultan Tidore, Kaichil Mansur, sebenarnya adalah bagian dari catur politik lokal.
Para sultan mencoba memanfaatkan teknologi militer Portugis untuk memperkuat posisi mereka, tanpa menyadari bahwa sang "penasihat militer" baru ini menyimpan agenda yang jauh lebih gelap.
Tragedi di Takhta Ternate: Peran Nyai Chili dan Para Sultan yang Terbuang
Sejarah sering kali melupakan betapa rapuhnya kedaulatan sebuah kerajaan ketika pihak asing mulai mengatur suksesi kepemimpinan.
Di Ternate, Portugis bukan lagi sekadar tamu, melainkan "dalang" yang menentukan siapa yang boleh memegang tongkat kekuasaan. Atmosfer istana menjadi mencekam; intrik politik berubah menjadi pertumpahan darah keluarga.
Salah satu sosok sentral dalam drama ini adalah Ratu Nyai Chili Boki Raja.
Pada tahun 1529, atas desakan Portugis, saudara laki-laki Bayan Sirullah yang memerintah bersamanya dieksekusi dengan cara dipenggal. Tragisnya, badai ini tidak berhenti di sana. Keponakan laki-lakinya yang naik takhta meninggal secara misterius, sementara saudara lainnya dibuang ke Halmahera.
Sultan Tabarija, yang mencoba melawan, dipenjarakan di Malaka hingga Gowa sebelum akhirnya tewas diracun saat hendak kembali ke tanah airnya.
Ironisnya, saat kekacauan memuncak, kapten Portugis bernama Freitas mengangkat kembali Nyai Chili Boki Raja sebagai penguasa demi menjaga ketertiban yang kian goyah, menunjukkan betapa takhta Ternate telah menjadi sekadar bidak dalam permainan kekuasaan Portugis.
1570: Pembunuhan Sultan Hairun dan Meletusnya Perang Suci
Ketegangan mencapai titik didih di bawah kepemimpinan Sultan Hairun. Konflik dipicu oleh perselisihan mengenai hasil panen cengkeh di Makian—sebuah komoditas yang saat itu lebih berharga dari emas.
Pada tahun 1570, sebuah tindakan pengkhianatan yang tak termaafkan terjadi: kapten Portugis membunuh Sultan Hairun di dalam benteng mereka sendiri.
Namun, alih-alih meredam perlawanan, pembunuhan ini menjadi katalisator sosiologis yang luar biasa. Kematian Hairun menjadi isyarat bagi seluruh raja di Maluku untuk menanggalkan persaingan lama mereka.
Sebuah "perang suci" dikumandangkan. Rakyat Ternate mengepung benteng-benteng Portugis dengan kemarahan yang begitu hebat, memaksa para penjajah itu melarikan diri ke Tidore dan Ambon. Ironi sejarah ini sangat nyata: upaya Portugis untuk menghabisi seorang pemimpin justru melahirkan persatuan rakyat yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.
Kejayaan Sultan Babullah dan Bayang-Bayang Kekuatan Eropa Baru
Dari abu kematian ayahnya, Sultan Babullah bangkit sebagai pejuang tangguh yang membawa Ternate ke puncak kejayaannya. Ia mentransformasi kesultanan menjadi salah satu kerajaan Islam terbesar di Nusantara, dengan wilayah pengaruh yang membentang hingga ke Mindanao di Filipina Selatan dan Sulawesi Utara.
Babullah bukan hanya seorang militer, tetapi juga diplomat ulung yang menjalin hubungan erat dengan kerajaan Demak, Banten, dan Melayu sebagai bentuk perlawanan kolektif terhadap imperialisme.
Namun, pengusiran Portugis menciptakan kekosongan kekuasaan yang segera diendus oleh serigala-serigala Eropa lainnya. Pada 1579, Francis Drake dari Inggris mendarat di Ternate, diikuti oleh armada Belanda di bawah Jacob van Neck pada 1599.
Kedatangan mereka menandai babak baru dalam sejarah Nusantara—perpindahan tangan dari satu kekuatan kolonial ke kekuatan lain yang lebih terorganisir dalam bentuk korporasi dagang.
Meski kekuasaan politik mereka runtuh, Portugis meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sosiokultural Maluku. Sosok seperti Antonio Galvao sempat membawa periode kedamaian singkat (1536-1539) dengan membangun sekolah dan gereja, serta berhasil membaptis sejumlah bangsawan, menciptakan akar kebudayaan Barat yang masih terasa hingga kini.
Sejarah jatuhnya Nusantara ke tangan Portugis adalah pelajaran mahal tentang kedaulatan ekonomi. Sistem cartazes di masa lalu mengingatkan kita bahwa penguasaan atas jalur perdagangan adalah bentuk sejati dari kekuasaan.
Di tengah persaingan global masa kini, ketahanan sebuah bangsa diuji dari kemampuannya menjaga integritas kepemimpinan domestik dari intervensi luar.
0 komentar: