Jihad: Cara Paling Tepat Membebaskan Palestina
Pertanyaan yang selalu dilontarkan oleh semua orang adalah:
"Lalu bagaimana caranya membebaskan Palestina?"
Dan jawabnya adalah: Cara satu-satunya adalah jihad.
Dan jihad yang dimaksudkan di sini bukanlah jihad yang bercorak nasionalis atau kebangsaan, melainkan jihad yang tiada bentuk lain selain yang pernah dikenal ummat kita yang berada di bawah sinar matahari ini, dan yang merupakan perjuangan yang memiliki risalah bagi kehidupan ummat manusia dan peran besar dalam sejarah mereka.
Ia adalah jihad fi sabilillah, suatu bentuk ibadah Islam yang suci yang tidak bisa diganti oleh puasa di siang hari dan shalat pada malamnya, sampai-sampai dalam sebuah hadits Nabi disebutkan bahwa,
"Berdiri anda dengan tegap dalam suatu barisan perang jauh lebih baik ketimbang shalat di rumah selama enam-puluh tahun."
Ia adalah jihad fi sabilillah yang merupakan kewajiban yang diperintahkan kepada ummat Islam sebagaimana perintah untuk shalat, ruku dan sujud. Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, ruku', sujud dan sembahlah Tuhanmu, lalu lakukanlah kebajikan, mudah-mudahan kamu memperoleh kemenangan. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu..." (QS, al-Hajj, 22:76-77).
"Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. at-Taubah, 9:41)
Ia adalah jihad fisabilillah yang dengan itu ummat Islam sebelum ini mampu meraih kemenangan melawan para penyembah berhala, orang-orang Majusi, Nashrani dan Yahudi, lalu sesudah itu berhasil pula meraih kemenangan melawan keganasan orang Tartar dan pasukan Salib.
Ia adalah jihad fi sabilillah yang dengan itu kita mampu memperoleh kemenangan demi kemenangan dalam Perang Badar, Perang Khaibar, Perang Yarmuk, Perang Cadisia, Perang Hiththin, Perang 'Ain Jalut, dan perang-perang lainnya yang membentang hingga ke Aljazair.
Ia adalah jihad fi sabilillah yang semangatnya mampu membuat kecil nyali kaum imperialis yang datang dari luar dan kesewenang-wenangan penguasa di dalam negeri, serta mampu mengatasi kemerosotan moral dan intelektual yang ditiupkan oleh angin puyuh peradaban materialis Barat dengan dukungan liberalisme dan sosialismenya.
Ia adalah jihad yang saat ini dan semenjak beberapa puluh tahun yang lalu telah menjadi kewajiban individual guna mengembalikan pemerintahan Islam di bumi kita dan mempersatukan ummat Islam di bawah kibaran panji al-Qur'an.
Ia adalah jihad yang kini telah diabaikan ummat Islam dan tidak pula disiapkan sarananya, sehingga mereka berhasil dilumatkan musuh di kandang mereka sendiri, lalu Allah pun menimpakan kehinaan kepada mereka sehingga musuh berhasil menancapkan kuku-kuku penjajahannya.
Dan hukum-hukum-nya yang berlaku pada masa lalu, tetap berjalan hingga masa kini, tanpa terkecuali terhadap orang-orang Yahudi, suatu bangsa yang terkenal paling penakut di dunia dan tidak patut dipandang sebelah mata itu.
Karena itu, sungguh benar firman Allah yang berbunyi:
"Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang amat pedih dan diganti-Nya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" (QS, at-Taubah, 9:39)
Ia adalah jihad yang dikumandangkan oleh orang-orang Pakistan dalam perang mereka yang terakhir melawan India yang lebih besar pasukannya dan lebih lengkap persenjataannya, sehingga mereka mampu memperlihatkan sosok yang mengagumkan di mana putra-putra Pakistan menerjuni lautan maut dengan mata tidak berkedip, sampai-sampai terbetik berita bahwa karena keimanan mereka yang demikian tinggi, suatu ghairah yang mampu mengubah ummat dari kondisi yang statis menjadi aktif dan dinamis, dari egoisme menuju pengorbanan, dari ummat yang loyo dan lelap menjadi ummat yang cinta kesyahidan dan rela menyongsong maut di jalan Allah, dari ummat yang hanya bisa membunuh waktu dan dirinya sendiri menjadi ummat yang sanggup membunuh musuh-musuhnya, dan dari ummat yang cinta harta dan takut mati menjadi ummat yang rela mengorbankan nyawanya demi kehidupan yang kekal di akhirat.
Ummat yang hidup untuk berjihad, tidak bisa tidak, pasti mengalami perubahan dalam semua aspek kehidupannya: politik, ekonomi, pendidikan, etika dan moral, kesadaran dan perilaku, persepsi dan konsepsi, sistem dan organisasi, adat dan tradisi.
Semuanya itu harus mengalami perubahan agar bisa memenuhi tuntutan jihad dan risalahnya.
Karena adanya tujuan-tujuan tertentu, maka Rasulullah saw selama tiga belas tahun berdiam di Makkah dan di situ turun sebanyak sembilan puluh surat al-Qur'an yang missinya tak lain adalah untuk mendidik jama'ah muslimah dan secara radikal mengubah pola hidup mereka dari kejahiliyahan menuju Islam, baik itu kejahiliyahan dalam akidah, moral dan perilaku maupun kejahiliyahan dalam konsepsi, menuju akidah moral dan perilaku Islam.
Semuanya itu terjadi sebelum ayat-ayat yang berkenaan dengan perintah berperang dan seruan berjihad di jalan Allah.
Maka di saat turun firman Allah yang berbunyi,
"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah di aniaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu" (QS, al-Hajj, 22:39)
Lalu berduyun-duyunlah prajurit-prajurit Allah dengan patuh menuju medan perang tanpa ada pikiran lain dalam hati mereka kecuali kemenangan atau surga.
Selain itu, jihad juga membutuhkan suatu titik-tolak untuk menuju satu bumi di mana berhala-berhala dihancurkan dan pengabdian semata-mata ditujukan kepada Allah SWT.
Pada masa Rasulullah saw, kota Madinah merupakan bumi yang dijanjikan dan landasan yang telah dipersiapkan, yang dari situ bergerak kebenaran untuk melumat kebatilan, dan dari situ pula muncul sinar ketauhidan guna membebaskan ummat manusia dari perbudakan sesama manusianya dan mengibarkan panji Allah guna meng-ungguli panji-panji thaghut.
Bertolak dari sini maka kita wajib memiliki jangkauan pemikiran yang jauh guna mempersatukan ummat untuk berjihad dalam bentuknya yang baru sama sekali, yakni kekuatan dalam perlengkapan, baik senjata maupun ekonomi dan ketangguhan dalam nilai-nilai ruhaniah dan moral.
0 komentar: