Zionisme Sebuah Judaisme Kafir
Sejarah manusia kerap kali hanyalah sebuah catatan panjang tentang bagaimana piala nasionalisme—sebuah minuman memabukkan yang pernah diperingatkan oleh Martin Buber—diteguk hingga habis, menyisakan kehampaan pada jiwa yang mulanya luhur.
Di tengah hiruk-pikuk sebuah bangsa mengejar keamanan fisik melalui barikade militer, muncul sebuah pertanyaan yang mengusik ketenangan kita: apakah sebuah identitas tetap bermakna jika ia hanya bertahan hidup dengan cara menanggalkan nuraninya?
Ketegangan antara aspirasi spiritual yang transenden dengan realitas politik kekuasaan yang dingin bukan sekadar dialektika masa lalu. Suara-suara kritis yang akan kita bedah di bawah ini bukan lagi sekadar catatan kaki sejarah; mereka adalah gema dari masa lalu yang kini terdengar seperti nubuat yang telah tergenapi.
Ketika Hitler Mengubah Arah Sejarah Organik
Pada mulanya, pemukiman di Palestina berkembang melalui "fase organik"—sebuah pertumbuhan alami yang selektif. Namun, arus sejarah berbelok tajam ketika persekusi Hitler memicu imigrasi massal.
Perpindahan ini bukan lagi tentang para elite yang mempersiapkan masa depan spiritual, melainkan tentang kerumunan besar yang mencari suaka melalui dominasi politik.
Tragedi intelektual terbesar di sini, sebagaimana dicatat dalam Jewish Newsletter (1958), adalah bagaimana mayoritas justru memilih untuk mengadopsi logika kekuasaan dari penindas mereka, Hitler, ketimbang nilai-nilai tradisional yang luhur.
Hitler menunjukkan sebuah premis brutal: bahwa sejarah tidak mengikuti jalan spiritual, dan bangsa yang cukup kuat dapat membunuh tanpa harus menerima hukuman.
Di tengah kegelapan ini, kelompok Ihud mencoba menawarkan mercusuar lain; mereka mengusulkan kerja sama dengan bangsa Arab untuk pembangunan di Timur Tengah sebagai sumbangan bagi kemanusiaan.
Namun, suara ini tenggelam oleh hasrat untuk mengadopsi "logika penindas"—sebuah keyakinan keliru bahwa keamanan hanya bisa tegak di atas kehancuran pihak lain.
Martin Buber dan Bahaya "Berhala" Nasionalisme Zionisme
Dalam pidatonya di Karlsbad pada tahun 1921, Martin Buber mendiagnosis nasionalisme modern sebagai sebuah "penyakit". Ia melihat identitas yang "tercabut dari akarnya" dan digantikan oleh "nafsu duniawi" yang dipinjam dari egoisme kolektif Barat abad ke-19.
Bagi Buber, mengubah identitas nasional menjadi tujuan absolut adalah bentuk penyembahan berhala yang paling berbahaya.
Ia memperingatkan dengan tajam:
"Jika roh Israel tidak lebih hanya sebagai sebuah sintesa identitas nasional kita, tidak lebih hanya sebuah justifikasi indah bagi egoisme kolektif kita, yang ditransformasikan menjadi berhala... kita yang telah menolak untuk menerima semua pangeran kecuali Penguasa Jagat, sedangkan kita seperti bangsa-bangsa lainnya dan kita minum dalam satu piala yang berisi minuman yang memabukkan bersama-sama dengan mereka."
Bagi Buber, konsep "pemilihan" (chosenness) bukanlah proklamasi superioritas, melainkan sebuah panggilan nasib untuk memikul tanggung jawab moral.
Keagungan sebuah bangsa tidak terletak pada kedaulatan negaranya, melainkan pada ketaatannya terhadap tugas kenabian.
Ketika bangsa tersebut lebih memuja negara daripada Tuhan, mereka telah melakukan penyelewengan dari spiritualitas sejati dan menjadi "sama seperti bangsa-bangsa lainnya."
Judas Magnes dan "Taurat Baru" dari Moncong Senjata
Profesor Judas Magnes, Presiden Universitas Ibrani, menyaksikan dengan ngeri bagaimana Program Biltmore 1942 mengubah Zionisme romantis yang jujur menjadi sebuah "kegilaan kekuatan fisik".
Ia menyebut fenomena ini sebagai "Judaisme Kafir"—sebuah pemujaan terhadap kekuatan material yang telah menaklukkan moralitas.
Dalam refleksinya yang pahit pada tahun 1946, Magnes menyatakan:
"Suara baru Yahudi berbicara melalui mulut bedil. Demikianlah Taurat baru tanah Israel. Dunia telah dirantai pada kegilaan kekuatan fisik."
Kritik Magnes tidak hanya tertuju pada para kombatan, tetapi juga pada "tangan yang bersedekap"—orang-orang Yahudi di diaspora, khususnya di Amerika, yang membiarkan mutasi ini terjadi melalui pasivitas mereka.
Bagi Magnes, "anastesi pemahaman moral" ini adalah awal dari atropi jiwa. Ketika moncong senjata menjadi juru bicara tunggal bagi sebuah identitas, maka nilai-nilai etika yang seharusnya menjadi pondasi keberadaan mereka telah mati rasa.
Kekhawatiran Albert Einstein Akan Kerusakan Internal
Sejalan dengan kekhawatiran Magnes, Albert Einstein pada tahun 1938 menolak gagasan tentang negara yang dibentengi oleh perbatasan dan angkatan bersenjata.
Einstein melihat bahwa menciptakan negara militeristik adalah sebuah kemunduran historis. Ia secara eksplisit menolak upaya untuk menghidupkan kembali identitas militeristik masa lalu, dengan menyatakan, "Kita bukan lagi orang-orang Yahudi dalam periode orang Macchabea."
Einstein mengkhawatirkan adanya "kerusakan internal" yang jauh lebih menghancurkan daripada ancaman eksternal mana pun. Baginya, nasionalisme sempit akan menghancurkan karakter spiritual yang telah dibangun oleh para nabi selama berabad-abad.
Jika "Taurat baru" yang disebut Magnes adalah senjata, maka Einstein melihat hal itu sebagai pembelokan dari misi utama: spiritualisasi masyarakat. Baginya, kembali ke konsep negara dalam arti politik yang kaku adalah sebuah pengkhianatan terhadap kejeniusan para nabi yang lebih mengutamakan kehidupan berdampingan secara damai.
Benang merah dari peringatan-peringatan sejarah ini sangatlah jelas: kekuasaan politik dan dominasi fisik adalah kemenangan semu jika harus dibayar dengan "kerusakan internal" jiwa.
Dari Buber yang meratapi kegagalan menyelamatkan nasionalisme dari pemujaan berhala, hingga Einstein yang menolak kembalinya semangat militeristik kaum Maccabea, semua menunjuk pada satu kebenaran pahit—bahwa kedaulatan tanpa spiritualitas hanyalah bentuk baru dari keterpurukan moral.
Sejarah telah membuktikan bahwa ketika sebuah komunitas mengabaikan tanggung jawab moral demi ambisi politik, mereka sedang membangun penjara bagi jiwa mereka sendiri.
Penyelewengan dari nilai-nilai kemanusiaan universal ini adalah harga mahal yang terus kita bayar hingga hari ini.
0 komentar: